The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 35 : Jiwa yang Terhubung



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


Tak lama dari itu, kini aku mendengar ketukan di pintu kamarku.


Aneh, biasanya ketika malam seperti ini tidak ada yang akan mengetuk pintu kamarku.


Apa Elise yang mengetuk? Jika iya, mungkin ia butuh sesuatu dariku.


Aku pun turun dari permukaan kasurku dan berjalan melangkah pintu kemudian membukanya.


Namun siapa sangka, malah dia yang mengunjungi kamarku.


"Kau?"


Apa yang dia lakukan di sini? Saat aku ingin bertanya lebih lanjut aku sudah di bungkamnya terlebih dahulu.


Dia langsung menjatuhkan kepalanya dan membenamkan wajahnya di ceruk leherku.


Tubuhku langsung menghangat dikala ia nafas hangatnya menerpa kulitku. Tangan kekarnya kini melingkari dan melingkupi punggungku.


Karena perbedaan tinggi kami yang cukup jauh, ia sedikit membungkukkan badannya sehingga aku dengan mudah membalas pelukannya.


"Kau wangi," bisiknya membuatku dapat merasakan rasa terbakar yang mulai merambat secara perlahan-lahan.


Aku lebih memilih untuk tidak membalas perkataannya, dan aku pun berkata untuk memberinya ucapan atas apresiasiku terhadap usahanya di orang kali ini.


"Selamat, atas kerja kerasmu," ucapku. Dia hanya bergeming, sepertinya dia masih marah.


Namun, jika dia masih marah lalu kenapa dia malah memelukku erat?


"Aku pikir aku akan kehilangan nyawaku."


Dia tampak menggantung perkataannya, oleh karena itu aku hanya tetap diam untuk mendengar kelanjutan dari kalimat yang akan dia layangkan padaku.


"Namun kau dengan indahnya muncul memimpin para pemanah itu untuk meluncurkan hujan panah," paparnya dan entah kenapa itu membuat area pipiku mulai memanas.


Bahkan bayangan hangatnya bibirnya yang bertemu denganku tak bisa kuhapus dari pikiranku.


"Bagaikan bintang di malam hari yang tetap teguh memperindah langit ketika awan mendung menghalangi, seperti itulah dirimu di pandanganku waktu itu."


"T-ternyata kau puitis juga," kilahku berusaha menangkis panas yang semakin jadi di pipiku.


Tidak kusangka dia ternyata juga bisa  membuat kata-kata indah seperti itu.


"Aku hanya mengungkapkan apa yang ada di pikiranku."


Entah sudah berapa lama kami berada di posisi ini, namun nyatanya aku malah enggan untuk melepaskannya dari sisiku.


Ah, sebenarnya apa yang telah kau perbuat padaku, Arlen de Floniouse?


"Apa kau ingin mendengarkan hal lain yang kurasakan saat melihatmu?" tawarnya dan aku pun hanya diam dan mengangguk pelan.


Buktinya, aku malah ketagihan mendengarkan bagaimana pendapatnya tentang diriku, atau lebih tepatnya tentang Cassandra la Devoline.


Aku jadi merasakan nyeri di hatiku dikala aku menyadari bahwa yang seharusnya menerima ini semua adalah Cassandra la Devoline, dan bukan diriku.


Kini dia mulai melepaskan pelukan ini, dan mulai menatapku dengan tatapan yang sama persis ketika kami baru saja mendapatkan kemenangan atas semua usaha kami.


"Dinginnya salju yang terus turun, tidak berkutik menghadapi niatku yang ingin mendapatkan dan merasakan kehangatan dari cintamu."


Sungguh aku sangat malu sekaligus senang mendengarnya, selama hidupku aku tak pernah merasakan perasaan menggelitik sejauh ini.


"D-dasar penggoda," ucapku berpura-pura ketus seraya memalingkan wajahku dan mulai menghindarinya.


Aku pun mulai berjalan mendekati jendela besar yang menjadi perantaraku melihat pemandangan luar kediaman yang megah ini.


Padahal di luar kabut salju sangat lebat, namun kenapa aku malah kepanasan seperti ini?!


Kujatuhkan pangkal pahaku di atas permukaan kursi empuk yang berada dan menghadap langsung ke jendela yang aku sebutkan tadi.


Awalnya aku ingin meredakan panas yang menyelimuti seluruh tubuhku ini, namun hal itu langsung tergagalkan di kala aku mendengar suara bisikan yang membuatku meremang.


"Apa kau malu?"


Aku terkesiap saat tangannya membekap dan melilit tubuhku, sehingga aku tak bisa berlari dan hanya bisa meronta-ronta.


"Lepaskan," titahku seraya memutar kepalaku dan melempar pandangan tajam ke arahnya, namun dia hanya menaikkan sebelah sudut bibirnya.


Aku kesal, namun bukan karena dia seperti tengah mengejekku. Aku kesal karena aku tak bisa menolak mengakui bahwa dia sangat tampan dengan tampang menyebalkan seperti itu.


"Apa kau lupa dengan kesepakatan kita?" tanyanya ambigu membuatku mengernyit bingung.


Kesepakatan apa yang ia maksud? Jangan salahkan aku karena aku memang orang yang pelupa.


Namun jika ada sesuatu yang berharga bagiku, sampai kapanpun aku tidak akan melupakannya dari memoriku.


Dia tampak berdecak kesal mendengar pertanyaanku, lalu sebuah kalimat yang terlempar dari bibirnya membuatku terperanjat dengan mataku yang terpelotot.


"Kau bilang akan menjadi milikku sepenuhnya ketika aku berhasil membawa kemenangan," ujarnya membuat tenagaku terkumpul sehingga bisa terlepas dari lilitannya.


Mataku pun ku gerakkan kesana kesini seolah-olah tengah mengingat sesuatu.


"Oh? Tidak kusangka kau ternyata seorang pembohong. Sepertinya aku terlalu tinggi menilaimu selama ini," hinanya dan aku sangat tak suka dengan hal itu.


Bahkan tatapan mengejeknya terlihat seperti sungguhan, sehingga membuatku tambah kesal.


"Pembohong? Hei, asal kau tahu, aku mengingat semuanya. Dan akan kubuktikan bahwa aku bukanlah seorang pembohong!" sergahku kesal dan berhasil membuatnya tersenyum miring sekaligus terlihat bangga.


Dalam sekejap aku memandang senyum itu, aku langsung tersadar dan merutuki diriku.


Astaga kenapa aku selalu saja gegabah di saat mengambil keputusan dan berbicara?!


Ini semua adalah triknya untuk membuatku terperangkap di dalam jebakannya!


Aku sungguh bodoh! Bodoh, bodoh, bodoh!


Dalam satu gerakan, aku pun telah berada di kungkungannya. Punggungku telah beradu dengan dinding di belakangku.


Kedua tangannya berada tepat di samping kepalaku, mencegahku untuk tidak melarikan diri selangkahpun.


Netranya tak henti-hentinya menatap milikku, dan rasa takut kini mulai menghampiri dan mencengkram kuat hatiku.


Kulipat bibirku berusaha untuk memberanikan diri dan melawan itu semua.


Ya, aku harus melawannya! Lagipula ini hanyalah kontak fisik secara biasa. Bahkan orang-orang lain pun biasa saja melakukannya dengan orang asing, lalu kenapa aku tidak?


Ketakutan ini harus dilawan, bukan dibiarkan meraja lela mengurung dan mengendalikan diri kita.


Awalnya, itulah yang terus kupikirkan agar aku bisa melawan semuanya.


Aku ketakutan, tubuhku bergetar, airmata mulai membanjiri sehingga aku menutup kedua kelopak mataku untuk menyembunyikan genangan itu.


Aku tak bisa menghilangkan sosok bajingan itu dari memoriku. Sosok itu seakan menguasai dan mengendalikanku, sama seperti ketakutan yang tengah melanda bagian terdalam dari diriku ini.


Pasrah, adalah hal yang bisa kulakukan. Keberanianku waktu itu hanyalah topeng rapuh yang bersifat sementara.


Aku mengira topeng itu dapat menyembunyikan dan menghilangkan jati diriku secara perlahan-lahan.


Namun akhirnya, jati dirilah yang akan terus menang, walaupun sifat dari jati diri itu sangatlah menyedihkan maupun mengerikan.


"Lebih baik tidak usah."


Kata-kata itu langsung menyadarkanku dan membawaku keluar dari dalamnya genangan ketakutan ini.


Kubuka kelopak mataku yang telah dihiasi butiran-butiran air dan langsung menatap punggungnya yang membelakangiku.


"Aku ingin terhubung denganmu. Aku ingin menikmatinya denganmu. Dan aku tidak ingin melakukannya atas dasar paksaan," ungkapnya membuatku seakan tengah dipukul oleh kenyataan yang sangat keras.


Keraguan, ketakutan, tersingkir ketika pukulan itu membentur diriku.


Aku ingin terhubung? Aku tidak ingin melakukannya atas dasar paksaan?


Pikiranku terus bekerja. Apa sosok bajingan itu akan mengatakan hal seperti itu saat dia memaksaku untuk menyatukan diri dengan dirinya yang menjijikan?


Saat itulah, aku baru menyadari. Sosok yang ada di hadapanku ini adalah dia. Sosok yang kejam menurut sudut pandang novel itu, sosok yang tak pernah menyakitiku sehelai rambutpun.


Dialah Arlen. Duke Arlen de Floniouse. Sosok yang sempurna, sekaligus sosok yang kucintai.


Dan dia jauh lebih tinggi dan jauh lebih baik daripada sosok bajingan itu.


Bagaimana bisa aku menganggap dan menyetarakan sosok yang kucintai dengan bajingan itu?


"Aku ingin terhubung denganmu," ungkapku membalas tatapan misterius yang ia lontarkan padaku.


Entah kenapa rasa gugup mulai melandaku, dan aku pun mulai tak tahan dengan tatapannya yang menusukku.


Cukup lama dia memandangku, dan hatiku sangat gelisah di saat dia menatapku seperti itu.


"Kuterima dengan senang hati," balasnya dan ia pun langsung melingkarkan tangan kekarnya pada pinggangku dan merengkuhku hingga tak ada jarak sedikitpun di antara kami.


Kenapa hatiku terasa bermekaran seperti bunga sakura yang hanya mekar di saat musim semi?


Apa ini adalah musim semiku? Aneh, padahal di luar sedang di landa butiran es yang membekukan kulit hingga tulang.


Tapi kenapa hatiku senantiasa terasa hangat layaknya musim semi yang disinari oleh terik matahari yang hangat?


Jiwa dan ragaku seakan tercebur dan tenggelam di dasar bagian dari dirinya yang paling dalam.


Seolah-olah aku tak bisa kembali ke permukaan, dan aku benar-benar terjatuh ke dalamnya.


Namun entah kenapa aku tidak tercekik, yang kurasakan hanyalah nyamannya berada di dalam dasar itu.


Dan pada akhirnya, jiwa dan raga kami yang taklah sempurna benar-benar telah terhubung.


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^11 Desember 2020^^^