
Previously....
Pangeran itu kemudian menyeringai dengan wajah jahatnya, dan tak lama dari itu tergelak dengan sangat kuat.
Malangnya. Pangeran itu tidak tahu... bahwa dia adalah tikus yang telah masuk perangkap mematikan yang siap menjepitnya hingga dirinya hancur.
Ironisnya.
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter...
...(44)...
Di pertahanan utama, musuh semakin membanyak. Mungkin sudah ada kurang lebih 200.000 pasukan musuh yang dikerahkan.
Sedari tadi, sesosok lelaki bersurai pirang dengan matanya yang bersinar di antara cipratan darah merah kental mencoba untuk mengimbangi jumlah pasukannya.
Ia tak henti-hentinya menebas dan menangkis sembari menunggu bala bantuan datang untuk membantu dirinya dan pasukan-pasukannya.
Bahkan, lelaki itu telah menyadari menghilangkan keberadaan sahabatnya di atas dataran tinggi tempat para pemanah berdiri rapi.
Saat dia kehilangan sedikit kesadaran karena kelelahan sembari bertampu pada pedang menjulangnya yang ia tusuk ke tanah, tiba-tiba saja ada ayunan tusukan tombak yang menancap di punggung sebelah kirinya.
"Argh!" ringisnya sejenak, kemudian langsung berbalik dengan cepat mencabut pedangnya dari tanah dan menebas musuh dalam sekejap.
Arlen mengerutkan alisnya dengan gigi yang bergemeretak menahan perih yang menjalar ketika besi tajam itu seakan menari-nari di antara dagingnya.
Ketika lelaki beriris biru itu ingin menarik tombak yang menyangkut di dagingnya, mendadak kembali ada layangan tebasan yang tepat menuju dirinya.
Lelaki itu berdecak dan bersiap kembali menebas musuh yang berniat menyakitinya meskipun dia tidak tahu apakah dirinya bisa. Namun tiba-tiba, sebuah pedang lain menangkis pergerakan musuh dan langsung membasminya.
Ting!
Jleb!
Dalam sekejap, sekitar mereka menjadi berasap. Sehingga banyak musuh yang kewalahan karena kehadiran asap yang mengepul dan menggumpal itu.
Beberapa sosok kini melesat laju dan seketika banyak teriakan kesakitan yang memilukan terdengar. Banyak musuh yang tumbang dan terjatuh begitu saja di kerasnya tanah.
Karena rasa sakit yang tak tertahankan, Arlen mencoba untuk berlutut di atas tanah sembari memegangi pedang menjulangnya yang tertusuk di tanah untuk menahan massa badannya.
Ini adalah bala bantuan yang sedari tadi lelaki itu tunggu. Pasukan Cermony kini telah mengambil waktu yang tepat untuk melakukan penyerangan penghabisan.
Karena, sedari tadi Arlen dan pasukannya berusaha menahan musuh agar musuh kelelahan dan gerakannya akan menjadi lambat.
Ketika waktunya telah tepat, barulah pasukan Cermony yang terkenal akan kemampuan menyerangnya yang sangat cepat menghabisi pasukan musuh yang telah kelelahan dan kewalahan.
Sesosok orang bertudung yang menyelamatkan Arlen tadi lantas mendekati lelaki beriris biru itu, dan langsung membuka tudung yang menutupi setengah wajahnya lalu langsung terduduk mendekati lelaki bersurai pirang itu.
"Astaga, kau baik-baik saja?!" Gadis berhelai coklat itu bertanya dengan kecemasan yang bersarang di hatinya.
Untung saja dirinya tepat waktu. Jika tidak, maka tentu saja kekasihnya akan terluka lebih parah lebih dari yang bisa ia bayangkan.
"Arlen kau baik-baik saja, kan?!" teriak Cassandra hampir menitikkan air matanya.
"Ya, hanya terluka sedikit," jawab Arlen meringis. Bahkan kelopak mata lelaki itu tak bisa terbuka dan terus terpejam menahan sakit yang berjelajah.
Wajah lelaki itu sudah penuh akan luka, dan banyak darah yang awalnya segar kini telah mengering menyatu dengan kulit pucat milik lelaki beriris langit itu.
Tanpa aba-aba, Cassandra pun berdiri dan berjalan ke arah belakang kekasihnya itu untuk menarik tombak yang tertancap di punggung lelakinya.
Arlen hanya bisa menggenggam erat tanah yang ada di bawahnya bersiap-siap merasakan sakit yang akan mengejutkannya nanti.
Cassandra menggertakkan giginya sejenak, tak lama dari itu dia mengumpulkan seluruh tenaga di tangan kanannya dan menarik tombak yang tertancap tersebut hingga akhirnya berhasil tercabut dalam satu coba.
Gadis itu langsung mendekap kekasihnya ketika mendengar Arlen mengerang karena rasa perih yang berkobar di kulit beserta dagingnya.
Cassandra berusaha mengalihkan rasa sakit kekasihnya tersebut dengan dekapannya yang ia berikan.
Badan Arlen bergetar tak terkendali, membuat tangis tak bersuara milik gadis itu semakin kencang. Seolah-olah gadis tersebut juga merasakan sakit yang setara.
Dalam seperkian detik, lagi-lagi bahaya menyerang mereka. Karena merasa geram dan kesal yang berkalut, Cassandra tak bisa menahan diri dan menunjukkan seluruh hasil latihan bela dirinya selama empat tahun ini.
Musuh yang berniat menyerang mereka awalnya langsung tumbang ketika nyawanya telah menghilang karena gadis bernetra garnet tersebut.
Cassandra pun langsung melesat kencang menebas musuh dengan pedang yang tipis namun tajamnya. Entah karena apa, tiba-tiba amarah menguasainya.
"Sialan!!"
Pancaran aura membunuh tercipta jelas di matanya, sehingga kepribadian gadis itu yang awalnya sangat tidak tega menciptakan luka, kini musnah begitu saja ketika darah musuh terciprat di wajahnya dan seluruh tubuhnya yang lain.
Masih dalam kondisi yang tidak mengenakkan, Arlen mengamati seluruh Cassandra yang tergolong cepat karena gadis itu berlari dengan sangat kencang.
Namun, lelaki itu langsung melototkan matanya ketika ada sebuah serangan melaju kencang dari belakang gadis itu. Dengan cepat, Arlen langsung melesat dan menahan ayunan pedang tajam itu yang berniat melukai kekasihnya dengan perisai yang tertempel di tangan kirinya.
Tang!
Cassandra sedikit terkejut mendapati kehadiran sosok kekasihnya di belakangnya secara tiba-tiba, namun ketika gadis itu melihat sosok musuh yang pergerakannya tengah ditangkis oleh kekasihnya, gadis itu langsung kembali membunuh musuh tersebut tanpa ampun.
"Berhentilah bertindak gegabah!" peringat Arlen kesal sembari menahan lengan kekasihnya itu.
"Tapi mereka telah melukaimu! Aku tentu tak bisa diam saja!" bantah Cassandra berteriak tak terima.
Gadis itu kembali berlari membunuh musuh yang tersisa, membuat Arlen geram.
"Cassandra!" teriak lelaki itu berusaha menyadarkan gadisnya. Entah apa yang membuat kekasihnya itu tiba-tiba sangat emosional dan bertindak ceroboh seperti ini.
Tapi Cassandra seakan tak dengar, seolah-olah telinganya disumpal oleh kemarahan yang membuncah. Dan lagi-lagi, tentu saja ayunan serangan musuh kembali mengintai pergerakan gadis itu.
Layangan pedang yang tajam hampir saja menjatuhkan tangan gadis itu ke tanah, hingga Arlen cepat berlari dan menahan serangan pedang itu lalu menusuk musuh dengan pedangnya.
Seketika, lelaki bersurai pirang itu langsung menarik lengan kekasihnya dan memaksa gadis itu menghadapnya dengan kasar.
Cassandra sedikit terperangah ketika Arlen langsung membalikkan badannya untuk menatapnya.
Plak!
Lelaki bernetra biru langit itu langsung mengangkat tangannya ke udara dan menampar pipi kekasihnya hingga sang empu langsung terpelotot terkejut.
"SADARLAH, DASAR BODOH! KAU MAU MATI SIA-SIA DI SINI, HAH?! APA MEMANG ITU YANG KAU INGINKAN?!"
Bentakan itu, Cassandra tak pernah menerimanya dari sang kekasih. Tatapan penuh kemarahan itu, apa dirinya senditi yang menyebabkan tatapan mengerikan tersebut tertuju padanya...?
Astaga... apa yang baru saja dilakukannya?
"APA KAU TAK TAHU BETAPA BERBAHAYANYA PERBUATANMU ITU, CASSANDRA?!"
"Jika kau memang mau mati, maka semua rencana kita selama ini berarti sia-sia dan perjuangan mereka akan sia-sia!! Apa kau tahu itu?!"
Arlen menatap jengkel akan kelakuan kekasihnya tersebut, hingga tak lama dari itu sebuah air mata seakan menyejukkan emosinya yang sempat mendidih.
"Maaf... aku salah... aku memang bodoh...," lirih Cassandra. Tamparan itu seakan menyadarkannya, dan bentakan itu seolah-olah memperbaikinya.
Gadis itu sempat terbawa arus emosi melihat lelakinya terluka. Dirinya yang lemah, sebenarnya diam-diam menampung rasa cemas dan kekhawatiran yang menggunung dan menutupinya dengan topeng baik-baik saja miliknya yang rapuh.
"Maaf...."
"Sudahlah, tenang. Maaf, aku menamparmu," ucap Arlen kemudian mengusap singkat pucuk kepala gadisnya.
"Tidak, aku pantas mendapatkan itu sesekali," cengir Cassandra pun mendongak sembari mengusap sisa bekas air matanya.
"Kau tidak perlu khawatir berlebihan. Bukankah aku sudah bilang bahwa aku akan baik-baik saja?"
Cassandra mengangguk. "Hm." Seketika, gadis itu langsung terkesiap melihat musuh kembali ingin menyerang Arlen dari belakang, hingga gadis itu langsung menarik pedangnya dan menusuk musuh itu.
"Ana sudah ditangkap oleh musuh. Sebaiknya kau pergi menyelamatkannya, biar aku yang mengurus di sini," ujar Arlen berbalik badan.
Lantas, Cassandra pun juga menghadap belakang sehingga punggung mereka pun bersentuhan. Hal ini dilakukan agar mereka bisa menjaga belakang mereka masing-masing.
"Sebelumnya, aku sudah menyuruh Jeanne untuk menyelinap di barisan pasukan panah. Jadi jika Ana benar-benar diculik, maka Jeanne akan langsung mengabari Pangeran Darren," papar Cassandra.
"Tapi Pangeran Darren harus menjaga wilayah Erosphire. Jika tidak, maka siapa yang akan melakukannya?" tanya Arlen.
Belum sempat Cassandra ingin berbicara, tiba-tiba saja sosok yang mereka bicarakan muncul di hadapan mereka.
"Duke, Countess. Saya menerima kabar bahwa Pangeran Darren pergi menyelamatkan Lady Emerald sejak beberapa saat yang lalu," lapor Jeanne.
"Beberapa saat yang lalu? Jadi siapa yang melindungi wilayah Erosphire dari musuh?" Cassandra bingung.
"Pangeran Darren sudah menghabisi musuh yang menyerang wilayah Erosphire hingga tak ada yang tersisa," kata Jeanne.
Cassandra dan Arlen sedikit terkejut, namun mereka tetap fokus membasmi musuh yang ingin mendekati mereka.
"Semuanya?! Apa Pangeran Darren tengah dimasuki oleh suatu iblis?!" Gadis berhelai coklat itu berteriak.
"Oleh karena itu, Countess. Anda tak usah mengkhawatirkan keadaan Lady Emerald. Karena kita akan mengakhirinya sekarang juga."
Jeanne lantas mengeluarkan beberapa senjata besi tajam yang berbentuk seperti baling-baling kipas dan dipahat pas diselipkan di seluruh sela-sela jarinya sembari mengambil ancang-ancang.
Cassandra tersenyum penuh arti disusul oleh Arlen dengan peluh yang telah membanjiri seluruh tubuh mereka. "Saatnya, mengakhiri penderitaan."
~•~
Di sisi lain....
"Pangeran bodoh itu! Apa dia mempermainkan kita?! Di mana pangeran Darren?! Kenapa mereka menyuruh kita untuk membunuhnya ketika pangeran itu tidak ada di sini?!" cecar seorang lelaki dengan rambut coklat mudanya.
Gadis bersurai hitam di sampingnya hanya diam sembari mencoba mencerna situasi mereka.
Dalam seketika, gadis itu menyadari sesuatu. "Apa pangeran Darren pergi untuk menyelamatkan Countess?"
Lelaki berambut coklat muda itu melototkan matanya ketika menyadari itu. "Kau benar, mungkin dia tengah pergi menyelamatkan Countess."
Gadis itu mengangguk. "Kalau begitu, kita harus segera menyusulnya. Sebelum Countess itu kabur!"
Lantas, mereka pun langsung berlari menuju ke tempat Pangeran Yari. Di mana mereka menyekap Countess yang berhasil mereka culik itu.
...~•~...
Beberapa saat yang lalu....
Pusing. Itulah yang Anastasia rasakan sekarang. Gadis itu mencoba membuka kelopak matanya perlahan-lahan dengan pandangan yang masih buram.
Dapat ia rasakan bahwa ada sesuatu yang melilit tubuhnya sangat kencang saat ini, hingga tak lama kemudian akhirnya ia pun benar-benar telah sadarkan diri.
Anastasia pun melihat betapa gelapnya ruangan yang saat ini ia tempati, bahkan gadis pun hampir tak bisa melihat apapun jika tidak ada cahaya bulan yang menelusup masuk melalui jendela.
"Kau berhasil menangkapnya?!"
"Ya, Countess yang anda bilang itu ada di ruangan ini."
Gadis bernetra hijau terang itu dapat mendengar samar-samar suara dari luar. Hingga akhirnya sebuah dobrakan pintu yang keras sedikit mengagetkan dirinya.
Dapat gadis itu lihat ada dua sosok yang mendekatinya. Salah satu dari sosok itu langsung menarik tudung yang sedari tadi terpasang di tubuhnya sehingga wajahnya terlihat.
Anastasia sedikit meringis ketika ia merasakan sosok itu menarik dagunya sangat keras hingga ia terpaksa mendongak.
"Dasar bodoh! Ini bukanlah Countess yang kumaksud! Bagaimana bisa kau salah menangkap orang?!" teriak pangeran Yari.
Ya, sosok itu adalah pangeran Yari. Lelaki berambut hitam itu baru saja menyadari semuanya beberapa saat yang lalu.
Jika benar Countess la Devoline yang mendatanginya tadi, lantas siapa yang mereka culik? Oleh karena itu, ketika pangeran Yari menyadarinya, lelaki itu langsung mendatangi tawanan palsu yang mereka tangkap.
"Kau bilang bahwa dia adalah pemipin pasukan pemanah, maka dialah orangnya! Kau bahkan tidak pernah memperlihatkan wajah Countess itu padaku, tentu saja aku tak tahu persis yang mana orangnya!!" balas pangeran Naelson tak mau kalah.
Pangeran Yari berdecak kesal, kemudian dia pun berteriak kesal. "Ck! Sialan!!"
Anastasia hanya bisa diam, dia sudah melakukan seluruh bagiannya. Yang dirinya lakukan hanyalah harus menunggu kekasihnya datang menyelamatkannya.
Tapi... apa kekasihnya itu tahu di mana dia berada sekarang? Dirinya sendiri bahkan tak tahu di mana ini.
"Lalu, bagaimana dengannya? Apa kita bunuh saja dia, atau kita lepaskan saja?" tanya Pangeran Naelson bersedekap.
Pangeran Yari sempat menatap tajam Anastasia, kemudian lelaki itu kembali berdecak dan berjalan melangkah ke luar. "Biarkan saja. Dia mungkin akan berguna nanti," ujarnya kemudian melangkah ke luar.
Lantas, Pangeran Naelson pun ikut melangkah ke luar dan suara pintu terbanting secara keras menjadi penutup.
Setidaknya Anastasia bisa bernafas sedikit lega. Namun tetap saja, gadis itu masih merasa takut.
Dirinya tengah di sebuah tempat yang tidak ia ketahui, gelap, senyap, dan sendirian.
Tanpa sadar, entah sudah berapa lama gadis itu terkurung di tempat itu dan tak bisa berbuat apa-apa. Anastasia merasa kosong dan hampa, bahkan secuil harapan rasanya sangat susah untuk mendekati gadis itu.
"Apa aku akan selamat? Apa Darren akan datang menyelamatkanku? Apa dia baik-baik saja? Apa Cassandra dan Arlen baik-baik saja?" batinnya.
Ketika terlarut dalam lamunannya, tiba-tiba saja pintu berderit. Menandakan seseorang masuk.
Dalam sekejap, mata hijau terang milik Anastasia terbelalak dengan rasa tak percaya yang tak terbendung di hatinya.
Jantung Anastasia seperti ingin berhenti berdetak, ketika melihat sosok yang masuk dan mulai mendekatinya.
...30.03.2021...