
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
"Jadi, apa kau tak akan kembali berbincang-bincang dengan Anastasia?" tanyaku dan pandangannya tampak setia lurus ke depan.
"Jika aku punya kau, kenapa aku harus mencari dia?"
Dia bertanya balik mampu membuatku bungkam oleh senyuman yang malu-malu terulas. Dengan segelas wine di genggamanku, aku duduk tepat di sampingnya meratapi pesta ini.
Aku mencoba mengajaknya untuk mencicipi makanan dan banyak hal lainnya, namun dia tetap menolak.
Dalam aula istana yang besar dan mewah ini, kami pun hanya berdiri diam seraya menatap indah banyaknya orang yang tengah meliuk-liuk kan lekuk tubuh mereka membentuk sebuah tarian.
Hingga akhirnya, setelah sekian lama kegiatan meratapi kami ini secara terpaksa harus terhenti di kala mendengar suara seorang gadis yang menjadi tamu yang terhormat di pesta ini.
"Cassandra!" pekiknya kegirangan sembari memanggilku dan menghamburkan pelukan.
"Oh, Duke Floniouse. Salam." Sosok itu adalah putri Veronica, yang terlihat sangat senang melihat kehadiranku.
Dia baru menyadari bahwa aku tidaklah sendirian, sehingga dia dengan anggunnya memberi salam.
"Salam, Yang Mulia," balas Arlen seraya menundukkan kepala.
"Jika anda tidak keberatan, bolehkah saya meminjam wanita cantik di sebelahmu ini?" tanya Veronica seraya menarik lenganku.
Veronica tampak menaikkan kedua alisnya. "Tenang saja, tidak akan lama. Setelah itu kalian bisa menikmati waktu kalian, hohoho~"
Apa kau tidak bisa menghilangkan kalimat hohoho itu? Sangat ambigu mendengarnya.
"Tentu, Yang Mulia. Permintaan anda adalah perintah untuk saya," jawab Arlen tampak biasa.
"Baiklah. Ayo, Cassandra," ajak Veronica dan aku pun mengangguk.
Entah Veronica mau membawaku kemana atau berbicara tentang apa, aku hanya bisa menurut.
Karena dia adalah sang putri, semua keinginannya pasti akan terkabulkan. Bahkan jika dia meminta nyawa sekalipun.
.
.
.
.
.
"Cassandra, aku punya sesuatu yang harus kuberitahukan padamu!" serunya seperti ada sesuatu yang sangat tak dapat dipercaya terjadi.
Saat ini kami tengah berada di sudut ruangan, karena Veronica mengatakan hal ini cukup privasi, dia pun membawaku menjauh dari kerumunan orang-orang.
"Ada apa, Veronica? Sepertinya sangat serius?" bingungku seraya menaikkan sebelah alisku.
"Kau pasti tidak akan percaya, Anastasia meminta maaf padaku setelah bertahun-tahun!"
Anastasia?
"Apa maksudmu? Meminta maaf untuk apa?"
Veronica tampak gemas sendiri. "Aish, kau memang terlalu baik. Apa kau lupa bahwa dia telah berkhianat pada kita? Dia meminta maaf akan hal itu!"
Aku bukan terlalu baik, aku lupa.
Namun tunggu sebentar, bahkan dia sampai meminta maaf pada Veronica? Sesuatu benar-benar janggal di sini!
Apa benar wanita berkaki dua itu benar-benar telah sadar akan kesalahannya?
Apa kali ini aku salah mengartikan niatnya?
Atau, ada niat lain?
"Jadi, dia tadi tiba-tiba menghampiriku lalu tiba-tiba menangis dan meminta maaf padaku. Tentu saja aku terkejut! Secara mendadak dia meminta maaf sambil menangis seperti itu!" cecar Veronica panjang lebar.
Sedangkan aku hanya mengangguk-angguk kepala mendengarnya seraya berpikir.
"Bagaimana menurutmu? Apa kita harus memaafkannya?" tanyanya ingin mendengar pendapatku.
Sebenernya aku ragu, namun karena dari awal prioritasku adalah berpura-pura menjadi Cassandra yang lemah, aku harus kembali berpura-pura memaafkan Anastasia.
"Bukankah kita sebagai wanita harus saling memaafkan kaumnya?" ujarku membuat Veronica tampak sedikit terkejut.
"Tapi, Cassandra... dia telah menjadi pengganggu di rumah tanggamu bersama Duke Floniouse, bagaimana jika dia hanya berpura-pura?" ragunya sambil meneduhkan air mukanya.
Jika Veronica saja ragu, sepertinya memang wanita itu memang merencanakan sesuatu.
Aku harus berhati-hati. Karena tusukan rencana jahat seorang wanita, lebih menyakitkan daripada sebuah tusukan dari sebuah bilah pedang.
Seketika aku baru sadar bahwa keberadaan pria itu tidaklah lagi di awal dia berdiri semula, dia telah menghilang kemana, membuatku celingukan mencari sosoknya.
"Apa yang kau cari?" tanya Veronica membuatku sedikit terperangah.
"Ah, aku hanya mencari seseorang. Kurasa dia baru saja berada di sana, tapi sekarang tak tahu hilang kemana," jelasku dan Veronica mengulas senyum aneh dengan kedua alisnya yang ia naikkan.
Apa-apaan ekspresi itu, Tuan Putri?
"Hei, Cassandra. Aku lihat sepertinya kau sekarang sangat dekat dengan Duke Floniouse, apa ada sesuatu yang terjadi di antara kalian?" tanyanya menggoda seketika bayangan itu melintas di pikiranku.
Pipiku dibuat panas karenanya, dan aku tanpa sadar memalingkan wajahku dari Veronica.
"Sudah kuduga! Pasti ada sesuatu terjadi di antara kalian! Ayolah ceritakan padaku, ya ya?" mohonnya dengan mata berbinar dan bibirnya yang mengerucut.
Aku jadi tak enak, namun aku tentu tak bisa menceritakan hal itu dengannya!
"T-tidak ada sesuatu terjadi di antara kami, kenapa kau berpikiran seperti itu?" kilahku mengalihkan pandangan matanya.
"Oh? Jadi kau berbohong denganku? Kau tengah berbohong dengan seorang putri?"
Entah kenapa aku merasakan nada bicara Veronica berbeda dari sebelumnya, dan benar saja!
Di saat aku kembali memandangnya, tatapannya seolah-olah ingin membunuhku!
"Kutanya sekali lagi, apa kau tengah berbohong denganku yang merupakan seorang putri?" ancam nya dengan penuh penekanan.
Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba bertukar peran menjadi putri yang kejam?
Dan jika dia telah membawa statusnya, tentu aku tak bisa menolak.
Aku pun menghembuskan nafasku pasrah dengan kernyitan di alisku. "Hah... baiklah, aku akan memberitahukannya," pasrahku.
"Nah begitu dong, aku sudah penasaran sejak tadi," balas Veronica sudah kembali dengan senyuman yang manis di wajahnya.
Apa kau berkepribadian ganda wahai sahabatku?
"Jadi, apa kalian telah melakukan hal itu?"
Kenapa kalimatmu terdengar ambigu seperti itu?
"Melakukan itu apa maksudmu?" tanyaku dan dia tampak memutar bola matanya.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Tentu saja maksudku melakukan hubungan suami istri, apa kalian telah melakukannya?"
"Uhuk uhuk!" Aku tersedak oleh salivaku sendiri. Bagaimana bisa seorang putri menanyakan hal itu dengan nada yang begitu santainya?
"Ah, sepertinya sudah. Bagaimana? Apa itu benar-benar enak seperti yang dikatakan oleh orang-orang?"
Bagaimana bisa dia menebak sangat tepat sasaran seperti itu?! Apa ekspresi ku terlihat sangat jelas?!
"Ya, sejenis itulah. Sekarang, bisakah kita membicarakan hal lain?" balasku dan dia tampak mencebik.
"Aih, kau sangat tidak menyenangkan, Cassandra," rajuknya memanyunkan bibirnya.
Setelah itu Veronica mengajakku untuk terus berbicara padanya, setidaknya aku tidak terlalu bosan.
Namun ada sesuatu yang selalu menganggu pikiranku, dia tidak lagi terlihat di pandanganku.
Sebenarnya kemana dia?
...🥀...
"Ada apa kau memanggilku kesini, Duke? Bukankah kau seharusnya menikmati pesta ini?"
"Ternyata anda sangat pintar bersandiwara, Pangeran." Seorang pria yang menatap tajam pada lawannya yang tengah menampilkan senyum.
"Sandiwara? Lebih tepatnya apa yang anda maksud, Duke?" tanya sosok Pangeran itu.
"Apa maksud anda dengan menyerang kami di tengah-tengah hutan?"
"Saya tak peduli dendam apa yang anda selubungkan kepada saya, namun jika anda menyentuhnya sehelai rambut saja, maka aku tak akan segan-segan," ancam sang lawan bicara dengan nada mematikan dan tatapan tajam.
"Kenapa kau selalu melindungi dan menyayangi wanita murahan itu, Tuan Duke?"
Tatapan menyalang terpancar dari netra biru langit pemilik salah satu dari kedua pria itu.
"Bukankah wanita itu adalah penyebab kematian adikmu?"
Sebuah cengkraman kuat terpatri di leher pria bersurai hitam itu, hingga dia mengernyitkan kedua alisnya karena kekuatan yang bukan main-main berasal dari kawan bicaranya.
"Anda sangat beruntung karena anda adalah Pangeran. Jika tidak, maka anda sudah pasti akan kehilangan kepala anda saat ini."
Kini cengkraman itu pun terlepas diserayai dengan tatapan yang masih menyalang tajam.
Sosok pria bernetra biru itu pun pergi dengan langkah santai meninggalkan lawan bicaranya yang tengah memegang lehernya.
"Sialan, tenaganya bukan main-main."
...🥀...
Veronica telah pergi karena ada sesuatu yang harus dilakukannya sehingga tinggallah aku sendirian.
Karena sejak sekian lama, mungkin ada satu jam lebih telah terlewat, aku benar-benar tak melihat batang hidung pria itu.
Aku telah mengelilingi seluruh aula pesta ini, tapi tetap tak menemukan jejak-jejak kehadirannya.
Aish, sebenarnya dia pergi kemana sih?!
Kini aku pun sampai di sudut yang hampir tidak ada ruang. Saat aku ingin melangkah lebih jauh, kini aku pun mendengar sebuah suara yang berada di balik dinding di sebelahku.
Sontak langkahku langsung terhenti, dan aku pun mendekatkan daun telingaku ke dinding tersebut untuk mendengar lebih jelas suara yang ada di baliknya.
"Jangan di sini sayang...."
Demi Dewa Neptunus!!
Sialan, kenapa mereka melakukan hal tidak senonoh itu di tempat seperti ini sih?!
Lagipula kenapa aku sampai di tempat seperti ini?! Lebih baik aku pergi sebelum aku muntah di tempat.
Saat aku berbalik dan berniat pergi, secara mendadak aku menubruk sesuatu hingga aku hampir terhuyung kebelakang jika tidak ada sesuatu yang melingkari pinggangku.
Saat itu juga aku sadar bahwa sesuatu yang kutumbur itu adalah seorang pria.
Dengan cepat aku berdiri secara sempurna dan menjauhkan diriku agar kalungan tangannya terlepas dari pinggangku.
"Maafkan kelalaian saya, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja." Aku mencondongkan badanku seraya menarik ujung rokku.
"Tidak apa-apa," balas sosok itu. "Anda adalah Duchess Floniouse, bukan?"
Sontak, aku mengangkat kepalaku. Dia mengenaliku? Siapa dia?
"Ya, itu benar. Kalau anda...." Aku menggantungkan kalimatku karena tak bisa mengenalinya.
"Yari, Pangeran Yari."
Pangeran?! Astaga!
"Maafkan saya, Yang Mulia. Sangat tidak sopan bagi saya tidak mengenali anda."
"Tidak perlu, Duchess. Santai saja," jawabnya membuatku sedikit lega.
Tapi ngomong-ngomong, baru kali ini aku bertemu dengan Pangeran Yari lagi setelah pesta ulang tahun Anastasia waktu itu.
"Maaf, Yang Mulia. Saya ingin bertanya, apa anda melihat keberadaan suami saya?" tanyaku tak tahu lagi di mana aku harus mencari pria itu.
"Duke Floniouse? Ya, aku sempat melihatnya. Dia pergi bersama dengan seorang wanita," ucapnya membuatku ingin bertanya lebih jauh.
"Lalu, kemana dia pergi Yang Mulia?"
Pangeran tampak mengingat-ingat dengan netranya yang tak dapat diam. "Kalau tidak salah, mereka pergi ke arah balkon istana."
"Balkon?"
"Terimakasih Yang Mulia, maaf telah menganggu anda. Saya pamit undur diri," pamitku lalu berlari pergi ke tempat yang aku tuju.
Setelah aku berjalan sedikit jauh dengan larian kecil, aku pun sampai ke tempat tujuan awalku.
Namun yang kuterima adalah hanyalah sambutan dari angin yang berhembus kencang dan keheningan.
Tidak ada sesosok manusia pun di balkon ini. Lalu kemana dia?
Entah sudah berapa kali pertanyaan itu terus berputar-putar di pikiranku.
Jika seperti ini, jangan salahkan aku jika meninggalkanmu terlebih dahulu.
Aku lebih baik pulang lalu berendam di bak yang diisi oleh air hangat dan kulit jeruk kesukaanku!
...🥀...
Ah, akhirnya setelah perjalanan yang menguras tenaga, aku pun sampai.
Kuketuk pintu mansion ini lalu datanglah seorang pelayan membukakan pintu.
"Selamat datang, Nyonya. Apa anda ingin saya membawakan anda makan atau menyiapkan bak mandi untuk anda?" tawarnya.
"Bisakah kau siapkan air hangat untukku mandi?"
"Tentu saja, Nyonya. Saya akan menyiapkannya sekarang, kalau begitu saya pergi terlebih dahulu."
Saat dia ingin pergi aku pun langsung memanggilnya. "Tunggu dulu!"
"Ada hal lain lagi, Nyonya?" tanyanya dan aku menggeleng seraya tersenyum tipis.
"Aku hanya ingin bertanya, apa Arlen telah pulang?" tanyaku.
Dia tampak bingung dan berpikir-pikir. "Tuan Duke belum pulang, Nyonya. Saya kira, Nyonya pulang bersama dengan Tuan Duke," jelasnya.
"Begitu. Baiklah, kau boleh pergi, aku akan pergi ke kamarku," ujarku dan dia mengangguk patuh dan pergi dari pandanganku.
Aku semakin heran, sebenarnya kemana dia? Aku kira dia telah pulang terlebih dahulu bersama Anastasia, tapi ternyata bukan.
Entah kenapa aku menjadi khawatir, bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya?
Namun dia itu adalah Duke Arlen de Floniouse, dia itu adalah sosok yang sangat kuat, dia pasti bisa menjaga diri sendiri.
Saat aku tiba di lantai dua dan hendak menuju kamarku, kini mataku langsung terkunci pada sebuah pintu ruangan yang sedikit terbuka.
Bukankah itu adalah pintu kamar pria itu? Kenapa bisa terbuka? Bukankah pelayan tadi bilang bahwa dia belum pulang?
Apa dia mungkin lupa menutup pintu di saat kami akan pergi tadi?
Aish, tidak kusangka dia ternyata pelupa. Bagaimana jika ada pelayan jahat yang mencuri barang berharga dari kamarnya?
Benar-benar ceroboh!
Kudekati pintu dan hendak menarik gagangnya dan berusaha menutupnya. Namun sesuatu di dalam sana langsung menghentikan aksiku.
Pintu itu justru kubuka semakin lebar dan aku pun melangkahkan kakiku masuk kedalamnya.
Terdapat sebuah ranjang besar di hadapanku, dan seketika tenggorokanku tercekat.
Deg!
Mataku memanas dikarenakan seperti ada ribuan jarum tak kasat mata menusuk-nusuk hatiku.
Bahkan degup jantungku pun sangat keras seolah-olah tengah memukul-mukul dadaku yang kian terasa sesak.
Seluruh tubuhku lemas dan bergetar, dengan tangis yang akhirnya pecah namun tak bersuara.
Telapak tanganku bertugas membungkam mulutku yang berniat mengeluarkan sebuah isakan.
Apa ini? Apa maksud dari semua ini? Apa yang terjadi sebenarnya?
Kenapa hati ini sangat sakit?
Sepasang pria dan wanita terletak di atas permukaan ranjang itu dengan tubuh polos mereka yang hanya sehelai selimut yang melapisi.
Dan sosok pria itu, adalah sosok yang daritadi tengah aku cari keberadaannya.
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^15 Desember 2020^^^