The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 50 : Penobatan



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


4 bulan kemudian....


Musim dingin kini telah pergi, musim semi kini menyapa. Hamparan tanah yang awalnya berwarna putih dan pucat, kini kembali segar dan berwarna hijau ditumbuhi oleh rumput-rumputan yang berkilau ketika diterpa sinar matahari.


Bunga-bunga pun kembali berlomba-lomba menunjukkan keindahan dan keelokan mereka.


Dunia seakan berbahagia dan bergembira menyambut musim semi yang ceria.


Sebenarnya musim semi sudah memasuki bulan terakhir, sehingga bukan depan giliran musim panas lah yang menyapa.


Namun lain dengan wanita bersurai coklat satu ini, suasana hatinya muram. Dengan wajahnya yang masam, wanita itu memanyunkan bibirnya.


"Ini sudah empat bulan namun tidak ada perkembangan sama sekali!" gerutunya seraya duduk di pinggiran kolam air yang indah.


"Apa aku harus ganti rencanaku? Tapi bagaimana?! Jika aku bertindak gegabah dan terang-terangan, bisa-bisa aku akan kalah telak!"


Sudah empat bulan dia melancarkan rencana pertamanya, yaitu mengamati semua pergerakan Anastasia.


Dua anak buahnya tersebut bahkan suka mengeluh di kala mereka mendapati Anastasia bermesraan dengan kekasihnya, Pangeran Darren.


"Astaga, Bos! Anda mengutus kami menjadi pengamat adegan romantis pasangan?!"


"Bos, saya sudah tidak tahan. Lama-lama saya bisa muntah dengan segala keromantisan mereka!"


"Padahal saya juga ingin memiliki seorang kekasih yang cantik!"


"Dan imut tentunya!"


Cassandra memijat bagian tengah kedua alisnya mengingat seluruh celotehan mereka berdua.


Wanita itu sangat frustasi, memikirkan bagaimana cerita novel ini berakhir. Akhir yang bahagia atau akhir yang sedih, wanita itu sama sekali tak tahu dan bingung dibuatnya.


"Intinya aku harus bertemu Pangeran Darren dan membahas tentang kehamilan Anastasia secara tidak langsung," gumamnya.


Ya, karena sejauh dari pengamatan dua anak buahnya itu, Pangeran Darren sama sekali belum mengetahui kehamilan Anastasia.


Anastasia pun akhir-akhir ini jarang bertemu dengan Pangeran Darren, mungkin wanita itu ingin menyembunyikan kehamilannya.


Alasannya untuk apa? Apa Anastasia telah tahu bahwa anak yang dikandungnya bukan anak Arlen?


Namun, jika memang seperti itu, Anastasia ternyata sangat nekat dan bertindak gegabah.


Hal itu sama sekali tidak mencerminkan wanita bersurai pirang itu. Sepertinya bukan itu penyebabnya.


"Tapi bagaimana? Tidak mungkin aku bertemu dengan Pangeran Darren secara pribadi dan tiba-tiba membicarakan tentang kehamilan Anastasia. Dia pasti curiga," pikirnya dengan jari telunjuk di dagunya.


"Nyonya!"


"Hua!"


Byur!


Kolam air yang berada di belakangnya menjadi tempat wanita bersurai coklat itu berlabuh dan terlentang.


Sosok pelaku yang telah menyebabkan kejadian itu hanya diam. Bukan diam karena takut dimarahi, namun diam menahan tawa.


Dengan seluruh tubuhnya yang berguyurkan air, Cassandra kembali berdiri dan keluar dari kolam itu.


Tatapan tajam ia layangkan, dengan tangan yang dilipat di depan dada.


"Bagaimana caranya kau menjelaskan semua ini?" geramnya.


Elise, tak bisa lagi menahan tawanya yang telah memaksa untuk keluar dari bibirnya.


Hingga gelak tawa terdengar. "M-maafkan saya, Nyonya. S-saya benar-benar ti-tidak sengaja, haha!"


Cassandra hanya mendengus kasar terhadap pelayannya yang satu ini.


"Hehe, maafkan saya, Nyonya. Saya benar-benar tidak tahu bahwa anda akan terjatuh ke belakang seperti itu," ucap Elise masih setia diiringi kekehan kecil.


Cassandra bagaikan anak remaja yang merajuk, wanita itu memanyunkan bibirnya dengan alis yang berkerut.


"Ini, Nyonya. Saya bawakan anda buah jeruk," tawar Elise.


Sontak, wanita itu langsung merekahkan senyum dan merebut jeruk itu. "Kau memang pelayan terbaik, Elise!" pujinya.


Elise menghasilkan tawa hambar. Majikannya yang satu ini selalu memujinya ketika tengah mendapat sesuatu yang menyenangkan dirinya.


"Nyonya, sebaiknya anda mandi terlebih dahulu dan ganti pakaian anda. Atau anda akan masuk angin," nasihat Elise namun tak dihiraukan oleh wanita itu.


Cassandra masih saja sibuk mengambil satu persatu daging jeruk itu dan sibuk memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Nyonya!" pekik Elise gemas lalu merampas jeruk itu.


"Ah, jerukku!!" teriak Cassandra dramatis. Seolah-olah baru saja kehilangan barang berharga. Padahal itu hanyalah buah jeruk.


"Jeruk ini saya sita, jika anda tidak segera mandi dan mengganti pakaian anda!" omel Elise.


Lantas, wanita bersurai coklat itu menggerutu. "Entah kenapa kau benar-benar seperti Ibuku," gerutunya.


"Ayo, Nyonya. Saya bantu," cengir Elise membuat Cassandra mendengus.


"Baiklah."


...🥀...


Petang telah datang, yang lambat-laun akan menjadi malam yang dingin namun indah.


Cassandra, wanita itu tengah menatap keluar jendela yang menghadap tepat pada cahaya matahari yang mulai berwarna jingga keorenan.


Hidupnya di dunia ini sangatlah rumit, berbeda dengan dunia asalnya.


Jika di dunia asalnya, wanita itu hanya akan makan, mandi, main game, tidur. Dan akan terus seperti itu.


Karena tabungan hasil kariernya di bidang film waktu itu masih tersisa sangat banyak, jadi wanita itu menjadi pengangguran dan membiayai hidupnya dengan tabungan itu.


Wanita itu sangat malas keluar, menghadapi dunia yang kejam dan kotor.


Bahkan wajah cantiknya yang sangat ia rawat waktu itu tak terurus lagi, karena yang dipikirkan wanita itu hanyalah makan dan game nya.


Dia jadi berpikir-pikir, apa ada kesempatan bagi dirinya untuk kembali ke kehidupan yang tenang dan santai itu?


Bahkan perkataan nenek yang sempat ia temui beberapa bulan lalu di desa Privillage masih ia ingat.


Nenek itu berkata tentang takdir, lalu berkata tentang pencipta dan wanita yang malang.


Bahkan terkadang wanita itu seperti wanita yang kehilangan arah, tak tahu apa yang harus dia lakukan di hari selanjutnya.


Bahaya yang mengepung dirinya pun tak ia ketahui, bagaikan orang buta yang sama sekali tak tahu apa-apa dengan keadaan sekitarnya.


Sebuah pelukan mengelilingi tubuh ramping wanita itu, membuat sang empu menoleh ke arah pelaku.


"Apa yang kau lakukan?" tanya seseorang dibelakang wanita itu.


"Tidak ada, hanya mengamati matahari yang hampir terbenam," jawabnya. "Apa Anastasia masih saja ingin mengidam?" tanya Cassandra seolah-olah telah terbiasa dengan hal itu.


"Bisakah kita tidak membicarakan dia terlebih dahulu?" Bukannya menjawab, pria itu malah bertanya balik.


Cassandra mengangguk. Kemudian kembali fokus dan hanya diam di slama dekapan erat pria itu.


"Hei, bisa kau ceritakan kenapa kau lebih memilihku daripada Anastasia?" tanya wanita itu tiba-tiba. "Bukankah Anastasia lebih cantik? Bukankah status Anastasia lebih tinggi daripada diriku? Lalu kenapa kau--"


"Aku juga tidak tahu."


Cassandra sontak menoleh kebelakang dan memutar tubuhnya menghadap pria itu.


"Saat aku pertama kali bertemu denganmu di atas pegunungan itu, jantungku tiba-tiba berdetak dengan kencang. Dan hatiku berkata, bahwa wanita itu adalah milikku," ungkap Arlen.


"Hanya karena itu? Semudah itu?"


Arlen mengangguk. Lalu pria itu bertanya. "Bagaimana denganmu? Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?"


Cassandra terdiam. Bingung harus menjawab apa. Dirinya juga tidak tahu kenapa dia bisa jatuh hati pada Arlen.


Entah sejak kapan, tiba-tiba saja dirinya mencintai Arlen, hingga merasa takut jika pria itu dalam bahaya.


Merasa sakit ketika pria itu bermalam dengan wanita selain dirinya.


"Mungkin karena kagum karena kau adalah pria yang mempunyai keberanian tinggi?" ucap Cassandra ragu.


"Keberanian tinggi?" beo Arlen.


"Ya. Saat kau waktu itu melawan pasukan Neophorine. Kau terus maju tanpa takut sedikitpun ketika berpuluh-puluh musuh siap melukai dan membunuhmu. "


"Dan kau juga sangat khawatir padaku ketika aku ingin pergi menyelinap ke markas Nephorine waktu itu, itu membuatku sangat senang."


Wanita itu menampilkan senyum tulus yang manis di wajah cantiknya yang sayunya. "Terimakasih, telah mengkhawatirkan diriku. Aku benar-benar menghargainya sepenuh hatiku."


Sebuah belaian mendarat di pipi Cassandra, membuat dirinya sedikit terkejut.


"Daritadi nada bicaramu lemah, ada sesuatu yang menganggumu?" tanya Arlen.


Cassandra hanya diam, menatap dalam netra biru langit yang jernih itu. Sama seperti langit musim semi saat ini.


"Tersenyumlah," pinta Arlen sembari menarik kedua sudut bibir wanita itu hingga membentuk senyum lebar.


"Sakit!" gaduh Cassandra karena tenaga pria itu tidak dapat dikendalikan.


"Besok malam, akan diadakan pesta penobatan Raja selanjutnya."


"Penobatan Raja?"


Arlen mengangguk. "Seluruh rakyat akan diundang, termasuk kita."


"Menurutku Pangeran Yari. Mengingat dia yang mengalahkan pasukan Nephorine waktu itu."


"Apa kau tidak curiga dengan Pangeran Yari? Tentang pendapatmu yang mengatakan bahwa dia menjadi pengkhianat untuk menjadi Raja?"


"Mau aku curiga atau tidak, jika dia memang telah dipilih rakyat untuk menjadi Raja, aku tidak akan bisa menghentikannya."


Cassandra menunduk. Wanita itu gelisah, entah kenapa ada sesuatu yang menjanggal. Namun ia tak tahu apa itu.


Mengingat pangeran Darren yang ternyata selama ini bersekongkol dengan Anastasia, membuatnya semakin bingung dan frustasi dengan semua keadaan ini.


Ia seakan tak bisa mempercayai siapapun di dunia ini. Dunia yang penuh rencana licik dan kotor.


Dunia yang dipenuhi dengan sandiwara dan kepalsuan.


"Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan," kata Arlen sambil mengusap pucuk wanita itu.


Cassandra mengangguk.


"Aku akan kembali ke ruang kerjaku. Kau kembalilah istirahat."


"Kau masih ada pekerjaan?" tanya Cassandra.


"Kenapa? Apa kau merindukanku, Cintaku?"


Wanita itu merona. "T-tidak juga," elaknya memalingkan wajah.


"Tidak juga, berarti masih ada sedikit kan?" goda Arlen.


"Dasar penggoda!" pekik wanita itu menimbulkan kekehan singkat dari sang pria.


Suara pintu yang tertutup menjadi akhir dari percakapan dan pertemuan mereka di hari itu.


Karena Cassandra yang terlelap sebelum Arlen sempat kembali berbicara pada wanita itu.


...🥀...


Cassandra Pov


Inilah yang aku tunggu-tunggu! Dengan begitu aku bisa mendekati pangeran Darren secara alami lalu memancingnya dengan percakapan tentang kehamilan Anastasia


Namun, mendengar penobatan Raja selanjutnya akan dilaksanakan, entah kenapa aku merasa sedikit gelisah di hatiku.


Sebenarnya dari kemarin aku kenapa sih?! Selalu merasa khawatir dan paranoid sendiri.


Aku mencoba menghilangkan dan menghiraukan rasa itu agar aku tidak kepikiran.


Elise sedari tadi sibuk menarik tali yang mengaitkan korset yang tengah aku pakai, sedangkan aku hanya diam menunggu dia selesai memakaikannya.


Tak lama dari itu, kini aku pun telah selesai dengan gaun panjang berwarna biru tua yang sederhana tapi elegan.


Permata-permata kecil yang bersinar menghiasi rambut coklat tuaku yang disanggul, sehingga tampak indah dan rapi.


"Kau sudah siap?"


Suara tiba-tiba saja muncul mengalihkan perhatianku dan Elise, membuat kami langsung menoleh bersamaan.


"Salam, Tuan Duke," sapa Elise hormat.


Berbeda denganku, aku langsung menghampirinya. "Ya," jawabku.


"Ayo," ajaknya.


Aku pun mengangguk dan tersenyum. Kami berjalan bersama menaiki kereta hingga akhirnya kami sampai pada tujuan.


.


.


.


.


"Ramai sekali," ucapku tanpa sadar ketika kami telah sampai di pintu utama istana.


Dekorasi yang mewah, menjadi dasar dari pesta yang diadakan di istana ini.


Tiba-tiba saja tanganku ditarik olehnya lalu dia pun mengalungkan tanganku pada lengannya.


Aku sontak mendongak menatapnya, dia pun hanya berkata.


"Kau bisa tersesat."


Senyum simpul tak dapat kutahan untuk timbul, aku selalu senang ketika dia memberikan perhatian kecil seperti ini.


"Oh iya, Anastasia tidak ikut?" tanyaku tidak mendapati kehadiran wanita itu.


"Dia bilang bahwa dia tengah tidak enak badan, jadi dia tidak ikut," jelasnya dan aku mengangguk mengerti.


Kami berdua pun dengan beriringan melangkah masuk ke dalam. Banyak bangsawan yang menyapa, dan aku tersenyum sesekali membalas sapaan mereka.


Aku baru sadar, ternyata pakaian yang kamu pakai terlihat seperti pakaian couple.


Dia dengan rompi panjangnya yang berwarna biru tua dan celana kakunya yang mencapai mata kaki berwarna hitam, dan aku dengan gaun yang berwarna biru tua.


Tak lama dari itu, kini aku belum mendapati sosok Pangeran Darren, sehingga aku berniat mencarinya.


"Aku ingin mencari Putri Veronica sebentar, kau bisa menungguku di sini?" bohongku dan dia hanya mengangguk percaya.


Aku pun melangkah, mencari sosok Pangeran Darren. Setelah beberapa menit kemudian, aku tetap tak menemukan keberadaannya.


Sebenarnya di mana Pangeran itu?


Jika aku berlama-lama, Arlen pasti curiga. Sebaiknya aku kembali terlebih dahulu.


Namun sebelum itu--


"Duchess?"


Bingo! Akhirnya kau muncul juga, aku sudah mencarimu daritadi. Dengan wajah netral, aku pun berbalik menghadapnya.


"Salam, Yang Mulia. Semoga anda selalu diberkati oleh Dewi," sapaku sehormat mungkin.


"Kau juga, Duchess," balasnya. "Apa yang anda lakukan di sini, Duchess? Bukankah Tuan Duke tengah ada di sana?" tunjuk pangeran membuatku sedikit bingung.


"Ah, saya hanya ingin mengambil beberapa jamuan," bohongku.


Kami terdiam sejenak. Hingga akhirnya pangeran kembali berbicara.


"Oh iya, Duchess. Apa anda kesini hanya berdua bersama Duke?"


Secara tidak langsung dia menanyakan tentang kehadiran Anastasia. Tapi baguslah, akan terlihat lebih mulus ketika aku akan membicarakan wanita itu.


"Ya. Karena Anastasia saat ini tengah dalam kondisi yang terbilang buruk, Anastasia tidak ikut dan beristirahat di rumah."


Dapat aku lihat sedikit pergerakan ekspresi di wajahnya. Sepertinya dia mulai terpancing.


"Kondisi buruk?"


"Itu benar, Yang Mulia. Anastasia saat ini tengah mengandung, jadi kesehatannya agak sedikit menurun akhir-akhir ini," ujarku dengan wajah muram yang dibuat-buat.


"Mengandung?"


Matanya sedikit membelalak, namun tak sampai satu detik wajahnya kembali seperti semula.


"Ya, usianya telah mencapai tiga bulan lebih, Yang Mulia."


Dapat aku lihat tatapannya mulai menyalang, namun dengan cepat tertimbun dengan senyum manis.


"Kalau begitu aku ucapkan selamat pada Duke Floniouse. Lalu, semoga Duchess Floniouse juga baik-baik saja," terangnya.


"Maaf, Duchess. Aku masih ada urusan, aku harus pergi. Semoga malammu menyenangkan," pamitnya.


"Terimakasih, Yang Mulia. Anda juga," balasku dan dia berlalu.


Dia terpancing!


Karena tugasku telah selesai, sebaiknya aku kembali padanya. Aku juga tak ingin membuatnya menunggu terlalu lama.


.


.


.


.


"Lama sekali," celetuknya.


Aku hanya menyengir. "Maaf, Putri Veronica dan aku keasikan mengobrol."


"Memang kalian para wanita selalu saja lupa waktu jika sudah bergosip."


"Kami tidak bergosip!" selaku dan dia hanya tersenyum.


"Tetaplah bersamaku di sini. Penobatannya akan segera dimulai."


Baiklah, kita lihat siapa yang akan menjadi Raja selanjutnya.


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^26 Desember 2020^^^