The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Dua Nyawa yang Dipertaruhkan



Previously....


Pangeran kedua kerajaan Erosphire itu tertawa lepas, tak lama dari itu dia pun kembali tersenyum dan bertanya.


"Tapi aku masih heran, Countess. Bagaimana bisa anda membuat para penduduk desa Cermony itu terlihat sangat seperti penyihir sungguhan?" tanya pangeran Darren tak bisa menahan rasa penasarannya.


Cassandra tersenyum penuh arti. "Ini akan menjadi cerita yang panjang. Saya harap, anda tidak akan bosan mendengarnya."


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter ...


...(35) ...


Cassandra Pov


Flashback on


Pertama, penyihir dapat berteleportasi sebelum mata bisa menangkap kehadiran mereka.


Hal ini merupakan penyamaranku yang pertama. Selama ini, aku sudah memikirkannya.


Benda yang bisa membuat orang-orang percaya bahwa penyihir 'palsu' ku itu benar-benar bisa berteleportasi seperti rumor yang tersebar.


Bom asap.


Ya, aku sudah memikirkan benda itu sejak lama. Awalnya, aku teringat akan kebiasaanku bersama adik-adikku di panti asuhan ketika kami sering menghabiskan waktu bersama.


Kami membuatnya sendiri di rumah, bahkan kami pun sering dimarahi bunda Freya ketika tertangkap basah diam-diam memainkan benda itu.


Kau bisa membuatnya dengan mudah di rumah. Kau hanya memerlukan kalium nitrat, soda kue, gula, tabung karton, pita perekat, kapas, dan sumbu kembang api.


Awalnya, aku sempat bingung bagaimana caranya aku menemukan kalium nitrat di zaman ini.


Namun untungnya aku teringat, ada bahan tradisional untuk membuat bahan kimia itu, bahan tersebut ialah guano kelelawar yang terletak di gua-gua.


Oleh karena itu, aku membut bom asap kemudian memberikannya kepada seluruh penduduk Cermony yang menyamar menjadi penyihir.


Mereka semua telah terlatih, sehingga ketika bom asap itu dilemparkan dan mengaburkan pandangan musuh, maka mereka akan dengan cepat mereka melarikan diri.


Itulah sebabnya, orang-orang mempercayai bahwa penyihir dapat berteleportasi.


Kedua, jenis kelamin mereka diyakini semuanya wanita.


Untuk hal ini, aku sengaja membiarkannya seperti itu karena aku mempunyai rencana lain yang akan ku lancarkan di masa yang akan mendatang.


Ketiga, mereka bisa membunuh tanpa meninggalkan jejak apapun.


Aku sudah mendengar semuanya, semua masyarakat Erosphire ketakutan ketika melihat beberapa penjahat yang dibunuh oleh penduduk Cermony mati tanpa ada bukti penyebab kematian yang tercantum.


Untuk hal itu, aku sangat berterimakasih kepada nona Charlina karena telah membantuku membuat penduduk Erosphire semakin ketakutan.


Beberapa hari yang lalu, siang terasa sangat terik, cahaya matahari memanggang seluruh sel kulit dan mengundang rasa pusing terhadap orang yang berada di bawah terpaannya.


Topi lebar berwarna hitam bertugas menutupi pucuk surai kepalaku, kemudian aku menurunkan tubuhku dari kerta kuda yang telah berjasa mengantar kehadiranku ke kediaman nona Charlina.


Sebelumnya aku sudah mengirim surat padanya, sehingga dia tahu bahwa aku akan datang.


Secara sopan, aku mengetuk pintu masuk utama kediamannya dan menunggu beberapa saat. Tak lama, seorang pelayan pun langsung membukakan pintu dan membungkuk ke arahku.


"Selamat siang, Countess. Lady Charlina sudah menunggu anda sejak tadi. Saya akan mengantar anda ke beliau," ujarnya kemudian menuntunku untuk bertemu nona Charlina.


Seusai beberapa jejak kaki yang aku ciptakan di lantai kediaman ini, akhirnya nona Charlina berada tepat di hadapanku.


"Salam, Countess. Senang bertemu dengan anda, semoga berkat Dewi selalu menyertai anda," sapa nona Charlina kubalas anggukan.


Pelayan yang sempat mengantarku tadi, kini langsung mengundurkan diri kemudian menutup pintu ruangan ini.


Aku pun duduk di kursi sofa yang bersebrangan dengan nona Charlina, kemudian menyesap secangkir teh yang telah tersaji rapi untukku.


Tanpa berbasa-basi, nona Charlina pun langsung berbicara kepadaku. "Bantuan apa yang anda inginkan dari saya, Countess?"


Hampir saja aku lupa. Nona Charlina memang tipe orang yang kaku dan sangat formal dalam berbicara.


"Ah, ya benar. Aku memang ingin meminta bantuan darimu, jika kau tidak keberatan," jawabku.


Nona Charlina tersenyum. "Tentu saja tidak. Bukankah kita sudah menjadi teman cukup lama?"


"Kau benar juga," balasku kemudian meletakkan topi lebar berwarna hitam ku tepat di sampingku. "Aku ingin bertanya... apa kau bisa membuat racun yang tak meninggalkan jejak apapun?"


Dapat kulihat ekspresi bingung dan terkejut di wajah nona Charlina. Sudah pasti dia akan bereaksi seperti itu ketika mendengar permintaan anehku secara tiba-tiba.


"M-maaf? Kenapa anda tiba-tiba menanyakan tentang racun...?"


Sepertinya akan susah jika tidak menjelaskan semuanya secara tidak terperinci. Oleh karena itu, aku menjelaskan segalanya kepada nona Charlina.


Karena kepercayaanku terhadap nona Charlina sudah tidak tergoyahkan. Dan aku sangat tidak berharap, jika rasa percayaku ini dikhianati olehnya.


"Apa?! Anda ingin memberontak secara diam-diam dan menurunkan Pangeran Yari dari tahta?! Tapi kenapa?! Bagaimana jika anda ketahuan?!" teriaknya tertahan.


Sudah pasti dia akan histeris. Oleh karena itu aku langsung berusaha menenangkannya.


"Tenanglah dulu, Nona Charlina. Aku melakukan ini semua karena ada alasannya."


Lagi-lagi, aku menjelaskan semuanya terhadap nona Charlina. Seakan mengerti, nona Charlina pun setuju ingin membantuku dan memberikan sebuah racun kepadaku.


Racun yang tidak memiliki bau, racun yang tidak memiliki tekstur, racun yang tidak memiliki warna.


Seperti air jernih yang baru saja turun dari sumber mata air.


Dan terakhir... darah mereka diyakini berwarna hitam legam.


Aku tidak tahu darimana rumor itu berasal, namun setelah aku mencari beberapa informasi, ternyata itu hanyalah mitos yang telah lama ada.


Namun tidak apa, karena hal itu juga sangat berguna untukku di masa depan.


Flashback off


Cassandra Pov End


"Jadi ternyata anda memang telah memikirkannya secara matang-matang dan sejak lama," celetuk pangeran Darren.


"Tentu saja, Yang Mulia. Jika tidak, mana mungkin saya akan memulai rencana yang berisiko ini," jawab Cassandra.


Tak lama dari itu, gadis itu langsung berdiri dan membenarkan letak topi lebarnya yang sempat memiring.


"Maaf, Yang Mulia. Masih ada urusan yang harus saya selesaikan, saya pamit undur diri. Semoga berkat Dewi selalu menyertai anda," pamit Cassandra membungkukkan badannya.


"Kemana kau pergi?"


Dengan cepat Arlen bangikit, kemudian bertanya pada gadis bernetra coklat tua itu.


Cassandra menjawab. "Aku hanya akan pulang ke rumahku."


"Aku akan mengantarmu," ucap lelaki bersurai pirang itu terdengar tergesa-gesa.


Sontak Cassandra sedikit kebingungan dibuatnya. "Oh... baiklah," balasnya.


Tak lama dari itu, mereka pun akhirnya berpamitan kemudian menaiki kereta kuda milik Arlen yang berada cukup jauh dari halaman istana.


...~•~...


Cassandra pun akhirnya sampai di kediamannya. Gadis itu duduk di kursi yang berada di ruang kerjanya seperti biasa untuk merilekskan tubuhnya sejenak.


Beberapa saat kemudian, iris coklatnya pun menangkap sebuah surat yang telah ia buka kemarin.


Gadis berhelai coklat itu kembali mengingat pesan yang tercantum di surat itu, kemudian tampak berpikir sejenak.


Hingga akhirnya, dia pun kembali beranjak dari tempatnya dan mulai memanggil pelayan perempuan untuk membantunya membersihkan tubuhnya dan bersiap berganti pakaian.


Dirinya harus pergi ke tempat ke mana  penulis surat itu ingin ia pergi.


Cassandra, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Setelah kejadian yang tidak mengenakkan yang terjadi di pesta ulang tahunku itu, sudah pasti kau tidak baik-baik saja.


Kemarin, aku sempat menemukan pegunungan yang memiliki pemandangan yang sangat bagus saat senja. Jika kau mau, maukah kau pergi bersamaku ke sana?


Pengunungan itu berada di wilayahku, dan berada di dekat danau yang sering kita kunjungi.


Besok senja, aku akan menunggumu. Kuharap kau benar-benar datang!


Salam,


Anastasia Emerald.


...~•~...


Seusai bersiap dan berpakaian rapi, Cassandra telah sampai ke tempat tujuan ia pergi.


Hari telah senja, dan sudah dipastikan tak lama lagi matahari akan tenggelam di hamparan langit yang tak terhitung luasnya.


Pohon-pohon yang besar dan cukup menghalangi sinar matahari, membuat suasana sedikit gelap dan menakutkan.


Banyak jurang yang curam di pegunungan ini, membuat gadis itu berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak terpeleset ke bawahnya.


Cassandra sedikit kebingungan, apa yang membuat Anastasia tiba-tiba mengajaknya kemari?


Dan, di mana pula keberadaan gadis bersurai emas itu? Ini sudah senja, tapi gadis itu tidak kunjung menunjukkan dirinya.


Cukup lama gadis berhelai coklat bergelombang itu berkeliling, hingga akhirnya sebuah pemandangan di depannya membuatnya membeku.


Apa-apaan ini?


Cassandra membelalakkan matanya ketika melihat kedua sosok yang berada di hadapannya.


Di sebuah tebing jurang yang dalam, terdapatlah sosok Anastasia yang tengah mengunci pergerakan seorang gadis yang berada di hadapannya.


Gadis itu... adalah Daisy.


"Kak Cassie... hiks.... tolong aku...," lirih Daisy ketika ditodong oleh sebuah belati yang membuatnya tak bisa berlari ke mana-mana lagi.


"Apa maksud semua ini, Anastasia Emerald?!" teriak Cassandra dengan nada tinggi kemudian berusaha mendekat ke arah Daisy secara cepat.


"Jangan bergerak!! Atau aku akan mendorong perempuan ini sekarang juga!!" ancam Anastasia berhasil membuat Cassandra kembali mematung.


Daisy hampir saja meneteskan airmatanya, namun Cassandra bisa melihat bahwa gadis bernetra biru langit itu berusaha mati-matian agar tidak menangis.


"Kenapa kau melakukan ini, Ana?" Cassandra berusaha bertanya dengan tenang, mengesampingkan seluruh pikiran buruk yang bermunculan di benaknya.


"Kenapa? Kau bilang... kenapa? Apa kau tidak menyadari seluruh perbuatanmu selama ini?" Anastasia tersenyum getir, dan malah berbalik tanya.


"Apa yang telah kuperbuat, Ana? Sampai kau harus melakukan semua ini? Apa yang membuatmu ingin mencelakai temanmu sendiri, Ana?"


"Diam!! Jangan berpura-pura tidak tahu di hadapanku!! Aku sudah tahu semuanya, bahwa kau dan Arlen selama ini diam-diam mengkhianatiku!!" jerit gadis bermanik hijau itu histeris.


Emosinya, telah mengendalikan sepenuhnya. Sampai ia tak mampu berpikir secara jernih.


Cassandra bersedekap dengan melipat bibir sembari mengeratkan tautan kedua giginya, bahkan tangannya pun kini meremas kuat lengannya.


Ternyata rencananya tidak sesuai ekspektasinya. Awalnya, dia berencana ingin membuat Anastasia bersimpati kepada dirinya ketika melihat sandiwara yang mereka mainkan saat pesta ulang tahun gadis bersurai emas itu.


Namun ternyata dia terlalu menyepelekan semuanya, dia tidak bisa mengendalikan sifat Anastasia.


Dia tidak bisa membuat Anastasia jatuh ke dalam kubangan rasa bersalah, dia justru malah membuat Anastasia kembali ke dalam jurang dendam.


Jika sudah seperti ini, apalagi yang bisa ia lakukan? Apa tak ada cara agar dirinya bisa bersama lelaki yang ia sukai,  dan agar sahabatnya tidak membencinya?


Hanya ada satu cara yang tersisa. Namun untuk itu, dia harus mempertaruhkan dua nyawa.


"Ya, itu benar. Aku dan Arlen telah lama menjadi sepasang kekasih di belakangmu. Oleh karena itu kenapa? Lagipula kau dan Arlen belum menjadi tunangan, bukan?" papar Cassandra membuat Anastasia tersentak.


Bagaimana bisa sahabatnya tersebut mengaku dengan sangat enteng seperti itu?


"Kau...! Kau tahu bahwa aku menyukai Arlen, namun kau tetap menjalin hubungan dengannya di belakangku. Bagaimana bisa kau sejahat itu terhadapku, Cassandra?!" jerit Anastasia menjambak rambutnya sendiri frustrasi.


"Jahat? Dibanding dengan dirimu yang ingin menjatuhkan Daisy ke jurang, siapa yang lebih jahat di sini?" cecar Cassandra. "Lagipula, bukankah kau tahu bahwa Arlen tidak mencintaimu? Dia mencintaiku, namun kau tetap ingin memaksakan perasaanmu. Kau egois!"


"Diam!! Kau tahu apa?! Ketika kedua sahabatku mengkhianatiku, kau tidak tahu bagaimana perasaanku! Kau tidak tahu betapa menyakitkannya itu untukku!!"


Beberapa linang airmata jatuh dari pelupuk mata Anastasia. Gadis itu bisa merasakan seolah-olah tenggorokannya saat ini tengah dicekik oleh duri tajam yang menjalar.


Dadanya terasa diremukkan oleh sesuatu yang mencengkam jantungnya, membuat dirinya berusaha sangat keras untuk tetap berdiri.


"Oleh karena itu, agar Arlen membencimu, aku akan membunuhnya dan menuduhmu sebagai dalangnya. Dengan begitu, Arlen akan membencimu selamanya, dan dia akan kembali ke pelukanku," ancam Anastasia dengan senyum mengerikan dan mulai kembali maju sembari menodongkan belatinya yang tajam.


Mau tak mau, Daisy semakin tersudut dan tak lagi bisa mundur ketika dia merasakan bahwa dirinya telah sampai di ujung tebing.


Jurang yang dalam seakan telah memberi sambutan hangat untuk menerima mayatnya dan melayangkan jiwanya.


"Kak Cassie...! Kumohon tolong aku...!" pinta gadis itu putus asa.


Cassandra mengerutkan alisnya, dia tidak bisa diam. Dia harus melakukan sesuatu, agar Daisy bisa terselamatkan.


"Jika kau benar-benar membenciku. Kenapa kau tidak membunuhku saja, Anastasia? Dengan begitu, aku akan lenyap selamanya dari dunia. Dan Arlen pasti akan kembali ke pelukanmu," cecar gadis itu membuat Daisy tidak percaya.


"Apa yang Kakak katakan?! Jangan berbicara seperti itu!!" sergah Daisy tak terima.


Anastasia terpelotot. Benar juga apa yang dikatakan sahabatnya yang memiliki surai coklat itu. Jika dirinya membunuh Cassandra, sudah pasti Arlen akan merasa kehilangan. Dengan begitu, dirinya bisa menggantikan Cassandra dan menjadi istri Arlen sepenuhnya.


Kenapa dia tidak pernah terpikirkan ini sebelumnya?


"Kau pikir aku akan percaya begitu saja dengan perkataanmu? Bagaimana jika kau ternyata membohongiku dan membawa lari dia?" Anastasia menatap nyalang Cassandra.


Gadis bernetra Emerald itu terkejut ketika melihat Cassandra mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah.


Melihat pandangan mata Cassandra, sepertinya gadis itu benar-benar menyerah.


Anastasia pun menyuruh gadis itu untuk mendekat padanya. Dan tanpa keraguan, Cassandra langsung maju mendekati dirinya.


Saat Anastasia telah mendapati Cassandra berada di dekat dirinya, dia langsung mendorong Daisy secara keras ke tanah membuat gadis beriris biru langit itu meringis.


Tak lama dari itu, Daisy langsung menjerit sekuat-kuatnya ketika kejadian mengerikan itu terjadi.


"KAK CASSIE!!!!"


...~•~ ...


"Bagaimana menurutmu, Duke Floniouse? Tidakkah menurutmu ini ide yang bagus?" tanya pangeran Yari pada lelaki bersurai pirang di sampingnya.


"Ya, saya juga merasa demikian. Jika kita membangun sebuah lahan pertanian di sini, akan sangat bagus karena cuaca dan lingkungan di tempat ini sangatlah baik," papar Arlen.


Pangeran Yari memang sempat mengajaknya ke suatu tempat di desa secara tiba-tiba karena lelaki bergelarkan pangeran itu ingin mendengar pendapatnya.


Percakapan yang santai, harus terhenti ketika ada sebuah suara yang memekakkan telinga ditimbulkan oleh sebuah kembang api yang tengah meluncur laju dan meledak di langit senja.


Jika orang lain kebingungan kenapa ada kembang api yang terluncur di senja hari, maka tidak untuk lelaki beriris biru langit tersebut.


Matanya langsung menatap nyalang langit, dengan rasa cemas yang langsung menyeruak ke dalam dirinya.


Ia tahu apa maksud kembang api itu.


Itu adalah... tanda dari kekasihnya. Kekasihnya bilang kepadanya, jika gadis itu dalam bahaya, maka gadis itu akan mengirimkan sinyal kepadanya melalui kembang api.


Oleh karena itu, pikirannya langsung berkalut. Dengan gelombang tsunami ketakutan yang kini menerjang dirinya sehingga membuat jiwanya terguncang.


Tanpa peduli akan sekitarnya, dia langsung melesat berlari menuju ke tempat sang kekasih. Dirinya tak ingin kehilangan alasan hidupnya untuk kedua kalinya.


Emosinya kini bagaikan sebuah angin topan, tak terkendali dan terasa seperti akan menghancurkan dan merobek-robek dirinya.


Lelaki itu meneriakkan nama kekasihnya dalam benaknya dengan dirinya yang berlari sangat kencang untuk segera menyelamatkan gadisnya.


"Cassandra!!"


...09.03.2021...