
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
"Astaga, anda kemana, Nyonya?" gumam Elise risau karena majikannya tersebut tak kunjung kembali kepadanya.
Pasalnya udara semakin mendingin dan dingin, ditambah dengan langit yang kunjung menggelap.
Wanita berumur itu tak henti-hentinya celingukan kesana kemari, mencoba menangkap sosok yang menjadi pusat kekhawatirannya.
"Nyonya... anda di mana? Apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanyanya khawatir tak karuan.
Tak lama dari itu, kini terdengar suara tapak kaki dan kereta yang bergerak lalu turunlah seorang wanita dari kereta sapi itu.
"Elise. Maaf, kau menunggu lama?" tanya wanita itu dengan senyum manis yang masih setia terpatri di wajah sayunya.
"Nyonya! Astaga saya sangat mengkhawatirkan anda, huwe!!" rengek Elise sembari menghamburkan pelukan pada Cassandra.
Sebuah kekehan berhasil keluar dari bibir merahnya, tangan wanita bersurai coklat itu terulur untuk menepuk pelan pundak pelayannya.
"Oh iya, Elise. Apa wanita yang sempat kehilangan tas tadi masih berada di sekitar sini?" tanya Cassandra dan Elise pun melepas pelukannya menatap wanita itu.
"Ya, dia masih di sini, Nyonya. Itu orangnya," tunjuk Elise ke arah belakang Cassandra.
Lantas, wanita bersurai coklat itu menoleh kebelakangnya dan mendapati sosok wanita tua yang tercetak jelas raut kegelisahan di wajahnya yang mulai mengerut.
"Kalian, berikan padaku tas wanita itu. Dan Peter, kau ikut denganku," titah Cassandra dan kedua manusia yang baru saja menjabat jadi bawahannya itu langsung hormat layaknya seorang prajurit.
"Baik, Bos!"
Dapat Cassandra rasakan, Elise merangkul lengannya dan berbisik. "Nyonya, siapa mereka? Kenapa mereka memanggil anda dengan julukan 'Bos'?" tanya Elise ingin tahu dan sedikit ragu.
"Ah, dia adalah pencuri yang merampas tas wanita itu tadi. Dan yang satu lagi itu kakaknya," jelas Cassandra membuat Elise kaget.
"Bagaimana bisa mereka jadi penurut seperti itu kepada anda, Nyonya?! Bagaimana anda bisa mempercayai mereka begitu saja?!" bantahnya.
"Aku hanya sedikit memberi mereka pelajaran. Jadi, rahasiakan ini untukku ya," balas wanita itu menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya.
Cassandra pun mengambil tas yang diberikan oleh Patrick dan mengajak Peter bersamanya untuk mendekati dan menemui wanita tua yang malang itu.
"Maaf, Nyonya. Ini adalah tas anda, tolong maafkan atas perbuatan teman saya terhadap anda," ucapnya menundukkan kepala seraya memberi tas itu.
"Peter, kau minta maaflah!" bisiknya mencubit lengan lelaki itu dan sebuah sujudan kini tercipta.
Peter bersujud kepada wanita tua tadi sembari melontarkan kalimat maaf untuk berkali-kali, dengan dramatisnya.
"Oh, wahai Nyonya kaya raya yang baik hati. Maafkanlah saya yang tampan dan baik hati ini yang tak sengaja khilaf mencuri tas amat berhargamu. Saya benar-benar minta maaf dari lubuk perut--eh maksud saya dari lubuk kaki-- maksud saya lubuk hati saya. Maafkanlah saya yang nista ini, wahai Nyonya!" cerocosnya panjang lebar seraya bersujud seperti tengah memohon kepada Dewa.
Tampak wanita tua itu menatap bingung lalu netranya berpindah ke arah Cassandra.
"A-ah, maaf atas perbuatan memalukan teman saya. Dia memang sedikit... tidak waras, haha," tawanya hambar diliputi sedikit rasa malu.
"Tidak bukan itu, aku hanya sedikit penasaran. Apa kau adalah Cassandra de Floniouse? Duchess Floniouse?"
Cassandra sedikit terkejut, siapa wanita tua ini? Bagaimana dia bisa mengetahui namanya?
"Maaf jika saya lancang. Namun, kalau saya boleh tahu, siapa anda?" tanyanya berniat memastikan terlebih dahulu.
"Aku adalah Countess Emerald," jawabnya namun tak cukup membuat Cassandra puas.
"Ah, maafkan aku. Aku baru ingat bahwa kau sempat kehilangan ingatan. Aku adalah Countess Emerald, ibu Anastasia," jelasnya cukup membuat mata Cassandra terbelalak.
"Ibunya Anastasia?!" pekiknya tanpa sadar dan seketika dia langsung membungkam bibirnya.
"M-maafkan saya sudah sangat tidak sopan, Countess," ucapnya menundukkan kepala.
"Tidak perlu sampai seperti itu, lagipula kau sekarang adalah Duchess, tidak baik menunduk hormat seperti itu padaku," jawab Countess.
Tak lama dari itu kini senyum lirih terpatri di wajah wanita berumur itu. "Wajar saja Arlen memilihmu dibanding Anastasia," gumamnya terdengar seperti bisikan.
"Anda bilang sesuatu, Countess?" tanya Cassandra tak terlalu begitu mendengarnya.
"Tidak ada. Aku hanya ingin mengajakmu, apa kau ingin berbincang-bincang sebentar denganku di rumahku?" ajaknya dan Cassandra tentu tak enak menolak ajakan dari wanita tua yang sangat baik dan lembut sepertinya.
Ringisan senyum pun wanita itu lontarkan. "Baiklah, Countess. Kebetulan saya tengah memiliki waktu luang, saya terima ajakan anda."
Cassandra pun mendekati Elise. "Elise, aku akan pergi kerumah Countess sejenak, kau pulanglah terlebih dahulu bersama mereka," ujarnya dan pandangannya mengarah pada dua lelaki yang berstatus sebagai anak buahnya sekarang.
"Kalian berdua, kalian bisa mengantar Elise pulang, kan? Tenang saja, Elise akan menunjukkan arah jalannya pada kalian," perintahnya membuat Elise terbelalak tak terima.
"Tapi, Nyonya!" rengeknya layaknya anak kecil.
"Siap laksanakan, Bos!" sahut Patrick dan Peter.
"Astaga, bagaimana jika aku diculik? Sungguh tega dirimu, Nyonya!" Batin Elise berteriak dramatis.
...🥀...
Cassandra Pov
Aku berjalan gontai setelah turun dari kereta kuda yang mengantarku kembali dari perjalan cukup jauh.
Seperti yang Countess Emerald katakan, beliau mengajakku untuk berbincang-bincang di rumahnya.
Awalnya dia hanya ingin berbasa-basi semata, namun tidak kusangka ternyata aku mendapat sebuah mutiara di kubangan lumpur yang kotor.
Sebuah mutiara yang menjadi kunci untuk membuka semua pintu penasaran yang hinggap di diriku.
Akhirnya aku sedikit mengetahui tentang awal dari permasalahan ini. Anastasia berubah karena merasa terkhianati, kah?
Flashback
"Maaf jika Nyonya tua ini menganggu waktumu ya, Sayang," ucap Countess Emerald penuh kelembutan.
"Ah, tidak perlu, Countess. Justru saya senang jika dapat berbincang-bincang dengan orang yang penuh kelembutan seperti Countess," balasku merendah.
"Terimakasih, aku sangat senang mendengarnya. Kalau begitu silahkan nikmati teh nya, Sayang," tawarnya dan aku dengan senang hati menerimanya.
"Terimakasih, Countess."
Aku pun mencubit gagang cangkir teh itu lalu menyesapnya dengan perlahan-lahan. Lalu dengan cantiknya kembali menaruh cangkir itu di atas permukaan piring kecil yang menjadi pemanisnya.
"Sayang, karena kau kehilangan ingatan, sepertinya aku harus memberitahu hal ini kepadamu," kata Countess membuatku mengernyitkan alis.
"Apa itu, Countess?"
Countess tampak mengeratkan kedua telapak tangannya yang mengatup, kemudian tampak mengumpulkan keberanian dan mengusir keraguan.
"Aku sebagai Ibunya Anastasia, telah menyadari bahwa Anastasia bukanlah putri kecilku yang dulu lagi," ungkap Countess membuatku semakin bingung.
Kata-katanya sangat ambigu.
"Apa maksud anda, Countess?"
Helaan nafas terlepas dari paru-paru Countess. "Anastasia, dia seperti bukan putri yang lagi kukenal. Dia, berubah menjadi seseorang yang sangat berbeda sejak kejadian itu."
Kejadian? Kejadian apa? Aku semakin penasaran dibuatnya.
"Sejak Arlen membatalkan pertunangan nya dengan Anastasia, Anastasia berubah sejak saat itu."
Apa?! Jadi Arlen dan Anastasia sempat bertunangan?! Lalu apa yang membuat mereka terbatalkan?
"Lalu, apa yang membuat Arlen membatalkan pertunangannya?" tanyaku tak bisa menahan rasa penasaranku.
"Kau."
Perkataan Countess kembali membuatku terkejut. Seakan batu terkejut ini tak puas menyerangku.
"Sa... saya...?" lirihku hampir tenggelam oleh rasa tercekat.
"Ya. Arlen tiba-tiba berniat hendak menikahimu dan secara mendadak membatalkan pertunangannya dengan Anastasia," ungkap Countess.
Dan setelah itu, aku tak habis-habisnya terkejut karena semua kebenaran yang baru saja merangsek masuk paksa ke dalam pikiranku.
Aku juga tidak bisa menyalahkannya karena rasa sakit itu memang bisa menjadi pemicu dendam yang bersemayam di hatinya.
Karena aku juga baru merasakannya akhir-akhir ini, namun aku tak ingin terlalu memikirkannya dan menyelaminya terlalu dalan.
Kuhilangkan semua rasa sakit yang sempat kembali mengetuk pintu hatiku dan memaksa masuk kedalamnya.
Aku harus menemuinya, aku harus berhenti dan menyingkirkan keheningan yang tercipta beberapa hari lalu.
Aku harus jujur kali ini, hilangkan semua kegengsianmu, Cassandra!
Kau tak perlu malu, karena tubuh yang kau labuhi ini adalah tubuh Cassandra la Devoline, dan bukan tubuhmu yang sebenernya!
Saat aku baru saja melangkahkan kakiku untuk menemuinya, kini aku telah dihalang oleh wanita yang memainkan peran besar di drama ini.
"Cassandra, kau terlihat buru-buru, apa ada terjadi sesuatu?" tanyanya.
Ya, yaitu kau yang meniduri pria yang aku cintai.
"Tidak, hanya saja aku merasa gelisah. Karena aku merasa suamiku sepertinya telah bosan padaku hingga dia jatuh ke pelukan orang lain," sindirku.
Dan dia sedikit tersentak, namun tak lama dari itu air mata mengucur dari pipinya.
"Aku... aku minta maaf padamu, Cassandra...."
Sudahlah, hatiku tidak akan goyah lagi dengan tangisan palsu dari wanita sepertimu.
Hal yang wajar jika kau merasa menderita karena pengkhianatan, namun bukan hal yang wajar jika kau merusak kebahagiaan orang lain demi kepuasan untuk rasa menderita yang kau alami.
Rasa menderita harus dibasmi dan dihilangkan, bukannya ditularkan dan dilempar lalu berakhir dengan merusak kebahagiaan orang lain.
Tidak apa, jika sosok yang kau anggap sebagai penyebab rasa menderitamu merasa senang atas penderitaanmu.
Justru jika sosok itu menikmati penderitaanmu, kau harus membalasnya.
Namun lain kasus jika sosok itu tidak tahu, lain kasus jika sosok itu juga ikut menderita melihat kau menderita.
Oleh karena itu, aku tak bisa memaafkanmu kali ini. Karena kau melakukannya atas kesengajaan, bukan ketidaktahuan.
Kau pikir aku sebodoh itu untuk tidak mengetahui ekspresi palsumu yang selalu membuatku muak?
Sudah cukup aku bersikap santai, sudah cukup aku membuatmu bertindak seenaknya, kali ini aku akan benar-benar menjalani kehidupan ini dengan serius.
"Aku... aku benar-benar minta maaf.... Aku tak bisa menghentikan Arlen malam itu... aku... hiks... aku telah menghancurkan persahabatan kita lagi, Cassandra...."
"B-bagaimana bisa... kau melakukan itu? Kenapa kau setega itu, Anastasia?" tanyaku dengan airmata yang mulai bercucuran di pipiku.
Dia tampak sedikit kaget, dan aku secara lancar kembali melanjutkan aksiku. "Bukankah kau bilang bahwa kau telah menyesal...? Aku telah memaafkanmu, namun kenapa kau selalu melakukan ini padaku...?" lirihku seraya menundukkan kepalaku.
"Aku telah mengingat semuanya... Anastasia. Aku minta maaf jika aku telah merebut Arlen darimu waktu itu... namun sungguh... aku benar-benar tak tahu bahwa Arlen menyukaiku...."
Kuposisikan kedua telapak tanganku untuk menutupi wajahku, agar sandiwaraku terlihat lebih nyata.
"A-aku harap kau mengerti, Anastasia. Aku sekarang mencintai Arlen... dan Arlen juga mencintaiku...," paparku.
Kulihat dari sela-sela jariku yang menutupi wajahku, dia tampak mengepalkan kedua tangannya.
Apa perkataanku telah mengenai hatinya?
Lebih baik kuteruskan saja.
"Aku tak tahu harus bagaimana, Anastasia. Aku tahu... aku tahu bahwa kau melakukannya tanpa sengaja... namun hatiku tetap sakit, aku merasa bahwa kau seperti berpura-pura baik padaku...."
Aku terus menekannya tanpa jeda sedikitpun. "Hei, Anastasia... apa kau benar-benar membenciku...?"
Kulemaskan kakiku lalu terduduk di lantai, menangis tersedu-sedu. Yang mana semua itu palsu, demi memancing musuh.
Dapat kurasakan kini dua tangan melingkupi tubuhku lalu mendekapmu erat.
Dia menaruh dagunya di pundakku, sehingga aku tak bisa melihat wajahnya yang berada di balikku.
"Aku minta maaf jika aku telah membuatmu merasa seperti itu... Cassandra. Namun... aku benar-benar tak ingin melakukan itu dengan Arlen, aku terpaksa... Cassandra. Aku tak bisa melawan...."
Ah... sepertinya tidak semudah itu menangani musuh seperti dia. Sandiwaranya masih saja sempurna.
Sepertinya aku harus memikirkan cara lain untuk menjatuhkannya lalu menyadarkannya.
Dan aku juga harus mencari tahu, apa dia dan pria itu benar-benar bermalam bersama.
Pikiranku kini telah jernih dari kabut nyeri yang menghalangi jalan mulus pikirkanku.
Aku harus mencari tahu terlebih dahulu, sebelum aku dengan seenaknya membuat keputusan sendiri.
Aih, sejak kapan aku menjadi bijak seperti ini?
Aku takut, aku jatuh cinta pada diriku sendiri.
...🥀...
Dengan sebuah nampan yang dibebani oleh secangkir teh di permukaannya, aku berdiri di hadapan pintu kamarnya.
Rasa kalut memenuhi pikiranku, gumpalan asap ragu dan gugup menyatu dan menjanggal.
Tanganku sempat bergetar, tapi akhirnya kukepalkan juga untuk mengetuk pintu kamarnya.
Tok! Tok! Tok!
Aku menggigit bibir bawahku, astaga apa yang terjadi padaku?! Kenapa hanya ingin bertemu dengannya tubuhku langsung bereaksi seperti ini?
Sekang beberapa saat aku menunggu, akhirnya ada sahutan dari dalam.
"Masuk."
Kuraih gagang pintu itu lalu memutarnya, dan secara perlahan dan hampir tak ada suara, ku langkahkan kakiku masuk kedalam.
Sunyi, adalah kata yang bisa mendeskripsikan seluruh sifat dari dalam ruangan ini.
Bau khas pria itu yang menenangkan seketika menguar dan menyeruak ke dalam pernapasanku.
Di kala mataku menangkap sosoknya, bolamataku hampir saja melompat dari tempatnya, hingga badanku sontak berputar.
Astaga, kenapa dia bisa membiarkan orang masuk saat dia tengah bertelanjang dada?!
"Bagaimana kau bisa membiarkan orang lain masuk saat kau tengah berganti pakaian?! Apa kau sebegitunya ingin memamerkan tubuhmu?!" kesalku.
"Tidak ada orang lain yang akan mengetuk pintuku sebanyak tiga kali selain dirimu," ungkapnya.
Bagaimana bisa dia seteliti itu?
"Jadi kau pikir wajar saat kau berpakaian aku masuk?"
"Tentu saja, bukankah suami-istri tidak perlu malu terhadap satu sama lain?"
"Kalau begitu, kau tidak akan malu lagi untuk melihat seluruh tubuh Anastasia? Bukankah dia juga istrimu?"
Aku tak tahu apa yang tiba-tiba terjadi padaku, namun bibir ini tidak bisa menahan untuk mengatakan hal itu.
Tanpa kusadari, kini dia telah berada tepat di hadapanku. Aku tak bisa mundur karena pintu yang ada di belakangku.
Tak lama dari itu, kini kusadari tenyata tangannya telah merayap secara cepat meraih gagang pintu kemudian menguncinya.
Dia mengurungku dalam kungkungannya, dan wajahnya kian makin mendekat.
Apa yang akan dia lakukan padaku?
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^*18 Desembe*r 2020^^^