The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 44 : Jujurlah Padaku!



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


Dia mengurungku dalam kungkungannya, dan wajahnya kian makin mendekat.


Apa yang akan dia lakukan padaku?


Saat bibirnya kian mendekat ke permukaan leher jenjangku, aku langsung membungkam bibirnya dengan telapak tanganku.


Mata yang awalnya terlihat sayu kini kembali ke bentuk awal, disertai dengan kernyitan tak suka di alisnya.


"Aku ingin berbicara denganmu," ucapku menatapnya intens.


"Bicaralah," balasnya.


Bagaimana aku bisa bicara jika posisinya seperti ini? Dia mengkungkungku seakan takut jika aku melarikan diri.


"Bisakah kau menjauh terlebih dahulu? Aku tidak nyaman," kataku namun dia bergeming.


Hah... sepertinya dia tidak akan goyah dengan keputusannya sendiri.


"Baiklah, aku akan bicara," pasrahku. "Aku sudah mengetahui semuanya."


"Mengetahui apa?"


Kutarik nafasku sejenak, kemudian melayangkan kalimat yang sedari tadi ingin aku ucapkan. "Tentang kematian adikmu dan alasan kau menikahi Anastasia."


Matanya terpelotot seraya kungkungannya yang mulai terlepas.


"Aku memang belum mengingat semuanya, namun setidaknya aku telah mengetahuinya. Masih banyak hal yang belum kuketahui tentang kejadian yang telah terjadi antara kita. Oleh karena itu, aku ingin kau jujur padaku," ungkapku.


"Sudahlah, tak perlu membahas kejadian lama. Kau pergilah, aku ingin beristirahat," kilahnya namun aku tak gentar.


"Jangan melarikan diri, kau seperti pengecut, apa kau tahu?" pancingku. Aku sudah tak bisa bersikap tenang lagi, sudah saatnya bagiku untuk bertindak.


"Katakanlah Arlen! Jujurlah padaku!" desakku dengan nada suara mulai meninggi.


"Kau akan membenciku jika tahu kebenarannya."


"Aku tak peduli! Justru aku akan lebih membencimu jika kau terus membohongiku!"


Dia tampak diam setia dengan kernyitan di alisnya, ragu ingin mengungkap semuanya.


"Apa kau sungguh ingin mendengarnya?" tanyanya memastikan dan tanpa ragu aku langsung mengangguk.


"Dulu, adikku terbunuh tanpa diketahui siapa pelakunya. Dan, kau menjadi tersangka atas tuduhan itu."


Ya aku tahu itu, namun aku ingin mendengarnya sendiri keluar dari mulutmu.


"Aku kehilangan kendali. Mengetahui adikku telah tiada, aku seperti orang gila. Aku menjadi gelap mata, dan berakhir tidak percaya padamu."


Hatiku teriris mendengar nada bicaranya seperti itu. Kenapa dia tampak sangat sedih saat menyatakan itu?


"Apa kau tahu apa penyebab dari bekas luka sayatan dari tanganmu ini?" Dia berkata sembari menangkap tanganku dan memperlihatkan sebuah bekas luka yang terpatri.


Aku bahkan tak sadar bahwa ada bekas luka di situ. Namun, kenapa aku merasa tidak asing?


"Akulah penyebab dari bekas luka ini, Cassandra. Akulah penyebabnya."


Diam, aku hanya diam, mendengar seluruh keluh kesalnya. Padahal dia yang berkeluh kesal, namun kenapa malah mataku yang memanas hendak turun sesuatu?


Kalungan tangannya kini meraih dan mendekap tubuhku. Dia membenamkan wajahnya di ceruk leherku.


Dapat kurasakan badannya bergetar, begitupun dengan nada suaranya.


"Aku mencambukku tanpa henti, aku mengurungmu di gelapnya penjara bawah tanah. Aku melakukan itu karena kebodohanku," ungkapnya membuatku tanpa sadar menitikkan sebutir airmata.


"Bahkan aku masih ingat dirimu yang terus menangis, aku masih ingat semua luka di tubuhku atas ulahku, aku bahkan masih ingat menyedihkan nya wajahmu yang terus mengalirkan airmata."


"Di saat kau kehilangan ingatan waktu itu, jujur aku malah merasa senang. Karena aku berharap kau dapat menerimaku, aku berharap kau dapat kembali mencintaiku. Aku berharap kau tak akan pernah tahu kelakuan kejiku terhadapmu dulu."


Bibirku yang telah dibanjiri oleh airmata yang mengalir, bergetar tak kuasa menahan rasa sesak yang kurasakan di dadaku.


Tanganku tak dapat kutahan untuk membalas dekapannya, wajahku kusembunyikan di dada bidangnya yang hangat.


"Apa kau benar-benar membenciku hingga tak tahan hidup bersamaku?"


Ah, jadi inilah jawaban atas pertanyaanmu waktu itu. Inilah jawaban atas pertanyaanmu yang sempat membingungkanku waktu itu.


Namun, sebenarnya dengan siapa waktu itu bertanya? Aku atau Cassandra la Devoline?


Jika kau bertanya padaku, maka jawabannya tidak. Aku sama sekali tidak membencimu, justru aku malah sangat mencintaimu.


Rasanya seperti mau mati saat kau bermalam dengan Anastasia. Rasanya seperti mau mati di saat aku tak bisa berbuat apa-apa tentang hal itu.


"Maafkan aku, aku sangat menyesal. Kumohon, jangan membenciku," bisiknya lirih.


Kami tetap pada posisi kami, saling mendekap mencari kehangatan. Saking mendekap untuk meluncurkan ketulusan.


Tidak ada sebatang kata pun, yang mengisi keheningan menyakitkan ini.


"Apa kau masih mengingat kata-katamu?" Aku bersuara, tetap pada tubuhku yang masih berada di dalam pelukannya.


"Buktikanlah bahwa kau tidak membenci diriku, dengan menjadi milikku malam ini," ucapku menuruti perkataannya yang sempat di lontarkan padaku waktu itu.


Waktu itu aku kalang kabut ketika mendengarnya mengucapkan hal itu. Dan berbagai macam alasan aku berikan padanya.


"Bukankah aku sudah membuktikannya? Kalau begitu, tanpa kuberitahu, kau pun sudah tahu jawabannya, bukan?" lanjutku masih nyaman berada di pelukannya.


Entah kenapa, aku jadi ingin waktu berhenti sekarang. Sehingga aku bisa menikmati kenyamanan ini untuk lebih lama.


Sebelum dia kembali ke pelukan wanita yang semestinya.


Bagaimana perasaannya jika merebut seorang pria dengan tubuh yang bukan milikmu?


Aku tersenyum kecut. Bukankah dengan seperti ini aku sama saja dengan Anastasia?


Tapi setidaknya, aku telah berhasil dengan tujuan pertamaku saat aku terdampar di dunia ini?


Yaitu membuat hubungan Cassandra la Devoline dan Arlen de Floniouse kembali membaik?


Walaupun aku sempat terbawa perasaan karena kekesalanku atas perbuatannya yang terkadang menjengkelkan.


Ketika waktu yang tepat telah datang untuk membuat jalan kembali ke dunia asalku, barulah aku akan meninggalkannya.


Karena tujuanku telah tercapai, lantas apalagi alasanku untuk menetap di sini?


Aku akan melepasnya dan memberikannya kepada wanita yang semestinya. Membuatnya kembali ke dalam pelukan wanita yang semestinya.


Membiarkan cintaku pupus begitu saja.


...🥀...


Di saat aku tengah sibuk memikirkan bagaimana aku harus menjatuhkan Anastasia, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarku. 


Kututup buku diaryku lalu beranjak dari kursi ku untuk membuka pintuku.


Setelah aku membukanya, kutatap dari ujung kaki hingga kepala pria yang ada di ambang pintu ini.


"Jarang sekali kau memakai pakaian sederhana seperti ini, mau kemana?" tanyaku.


Karena biasanya dia selalu berpakaian khas dengan gelar Duke nya. Celana yang kaku, rompi yang kaku namun menambah karisma dan ketampanannya.


Ah, lupakan poin yang terakhir.


Sangat berbeda dengan sekarang, dia berpakaian kaus yang sering dipakai oleh rakyat-rakyat biasa. Begitupun celana longgar dan sepatu bootsnya.


"Ayo keluar," ajaknya membuatku menaikkan sebelah alisnya.


"Keluar? Lebih tepatnya kemana? Dan untuk apa?"


"Jika tidak mau, aku akan pergi sendiri."


"Eh, eh! Tunggu!" sergahku secara cepat menarik lengannya. Astaga, dia memang tidak suka berbasa-basi!


"Aku mau, tunggulah sebentar. Aku akan mengganti pakaianku terlebih dahulu," ucapku.


"Aku akan membantumu."


Senyum jengkel terpatri di wajahku. "Haha. Sangat lucu, Cintaku," ketusku dan dia tampak tersenyum.


"Kau sangat tidak menyenangkan, Cintaku."


"Sudah, cepatlah keluar! Aku benar-benar ingin mengganti pakaianku!" Aku mendorong dadanya lalu dengan cepat menutup pintu kamarku.


Ah, astaga. Kenapa semakin hari dia menjadi gencar menggodaku?!


Bahkan rasa panas di pipi ini kembali menjalar. Tidak peduli sepintar apa aku menutupinya, namun rona di pipiku selalu muncul di wajahku.


.


.


.


.


"Kau ingin berkuda di cuaca dingin seperti ini?" tanyaku tak percaya ketika dia menarikku dan mengajakku untuk menaikki kudanya.


"Tidak ada."


"Tunggu apa lagi? Naiklah," perintahnya membuatku sedikit kesal.


Beberapa hari yang lalu dia seperti putus asa ketika dia meminta maaf padaku. Ketika aku memaafkannya, dia malah bertindak seenaknya. Benar-benar!


Aku pun mencebik seraya menyilangkan kedua tanganku.


Tak lama dari itu kini kurasakan sebuah tangan mengangkat pinggangku dan dalam sekejap aku telah berada di atas punggung kuda.


Aku sempat membelalakkan mataku, dan tak lama dari itu kurasakan sesuatu hangat yang menyentuh punggungku.


"Kau membuatku kaget saja," kesalku dan dia malah mempertipis jarak di antara kami.


"Kita akan pergi ke desa Privillage," ucapnya.


"Desa Privillage? Di mana itu?" tanyaku dan dapat kudengar dia berdecak.


"Kau pikun sekali," cibirnya membuatku memanyunkan bibirku. "Desa itu adalah desa yang pernah kita kunjungi saat ada festival tomat waktu itu."


Seketika aku mengingatnya, sebenarnya apa yang dibilangnya benar, aku ini sangat pikun untuk hal sepele.


Namun aku tak akan lupa tentang tawa lepasnya yang waktu itu sempat membuatku terpesona.


Aku juga tidak akan lupa, perkataannya di saat kamu tengah hujan-hujanan waktu itu.


"Apa mereka akan mengadakan festival lempar tomat lagi?" tanyaku.


"Tidak, mereka tidak mengadakannya."


"Ah, begitu."


Selepas percakapan itu, tidak ada lagi suara yang keluar dari bibir kami.


Kami hanya diam seraya menikmati dinginnya angin yang sedang berusaha menggapai dan menusuk tulang.


...🥀...


Masih setia duduk di atas punggung kuda, kami pun melewati semeter demi semeter jalan di Desa Privillage.


Aku tak tahu dia akan membawaku kemana, namun lebih baik aku diam saja.


Iris beserta pupilku tak henti-hentinya berlari kesana kemari melihat-lihat suasana kota Privillage yang dihiasi oleh timbunan salju.


Tiba-tiba saja kuda ini berhenti, membuatku langsung memutar kepalaku menatapnya.


"Ada apa?" tanyaku.


"Kau tunggulah di sini sebentar, ada sesuatu yang harus kulakukan," ucapnya dan aku mengangguk mengerti.


Aku pun turun dari kuda ini karena kakiku keram. Kulihat sekitar, walaupun sekarang adalah musim dingin, tetap saja masih ramai orang yang berkeliaran di luar rumah.


"Wahai kau wanita yang malang, kau adalah yang terpilih untuk mengubah nasib hidup."


Apa itu? Aku pun celingukan untuk mencari asal suara tersebut. Dan senang beberapa saat aku akhirnya bisa menangkap sosok yang menghasilkan suara itu.


Seorang nenek tua yang memakai pakaian compang-camping. Sungguh menyedihkan.


Namun yang dikatakannya tadi cukup ambigu, dan dengan siapa dia berbicara?


Lebih baik aku dekati saja.


"Uhm, Nenek. Apa ada yang bisa kubantu?"


"Ah, engkau wahai wanita bernasib malang. Kenapa bisa kau mempunyai nasib yang buruk di saat kau memiliki hati selembut kapas?"


Aku sedikit bingung sekaligus takut dengan nenek tua ini. Apa dia seorang peramal? Daritadi dia selalu menyebutkan wanita malang.


"Siapa yang anda ajak berbicara sedari tadi?" tanyaku lembut.


"Kau."


Dia menjawab secara cepat sambil menunjukku. Aku sedikit terkejut dengan perlakuannya dengan tiba-tiba, namun aku lebih memprioritaskan rasa penasaranku kali ini.


"Aku...?"


"Ya, kau. Takdir begitu kejam, namun kau bisa menarik perhatian seorang pencipta dan melawan hukum alam."


Hukum alam? Entah kenapa semakin lama nenek ini semakin mengerikan.


"Melawan hukum alam?"


"Ya. Kemalanganmu membawa keberuntungan. Karena kau dapat menulis kembali takdirmu di atas takdir yang baru."


"Kau yang melintasi dunia dan waktu, sungguh beruntung dirimu."


Melintasi waktu?


Seketika aku mengerti apa yang tengah nenek ini sampaikan dari tadi.


"Apa nenek adalah seorang peramal? Apa nenek bisa menjelaskan apa maksud dari semua ini?"


"Aku bukanlah seorang peramal. Aku hanyalah nenek tua yang diberkahi oleh penglihatan tak biasa. Kau harus segera menyelesaikan tugasmu, dan kembali pada takdirmu sebenarnya."


Saat aku ingin bertanya lebih dalam, tiba-tiba suara berat langsung memotong perkataanku.


"Ayo," ujarnya. Sebenarnya aku ingin bertanya lebih, namun aku jadi tak enak jika membuatnya menunggu.


Lagipula, aku juga tak bisa bertanya ketika dia berada di sekitarku.


"Nenek, ambillah ini. Semoga uangku bisa sedikit membantumu," ujarku seraya memberi beberapa keping perak padanya.


"Terimakasih, kau sungguh mulia. Nenek tua ini akan selalu mengenang jasamu, cucuku."


Aku tersenyum manis, kemudian menggapai tangan pria ini. "Ayo," ajakku.


Kemudian kami pun kembali pada perjalanan kami, tak tahu perjalanan kemana lebih tepatnya.


...🥀...


"Apa yang kau pikirkan saat mengajakku ke atas pegunungan di musim dingin ini?" tanyaku tak percaya bahwa dia akan membawaku ke daerah pegunungan saat udara dingin seperti ini.


"Ini adalah tempat pertama kali kita bertemu," jawabnya membuatku langsung bungkam.


Maaf, yang bertemu denganmu waktu itu bukanlah diriku.


"Oh."


"Sudahlah, kau pasti akan suka tempat ini," ucapnya seraya menarik tanganku.


Lagi-lagi, aku hanya bisa menurutinya dan mengikuti kemana dia akan membawaku pergi.


Tidak terlalu jauh kami berjalan, hingga dia berhenti.


"Lihatlah," ujarnya membuatku mengarahkan kepalaku kemana dia menunjuk.


"Sebenarnya apa yang daritadi kau ingin tunjukkan--" Aku tak bisa untuk bersikap biasa. "--padaku."


Sebuah awan putih dan abu-abu yang bersatu, cahaya kuning kejinggaan bagaikan cat yang menyatu pada awan-awan tersebut.


Butiran salju yang turun berkilau seperti berlian di kala sinar matahari mengenai dan menyinarinya.


"Bagaimana bisa secantik ini?" gumamku tanpa sadar.


Namun, pemandangan ini tampak tidak asing. Di mana aku pernah melihat ini sebelumnya?


"Di mataku kau bahkan terlihat lebih cantik dari ini," celetuknya.


"Sepertinya kau sangat ahli menggoda wanita," balasku tak bisa memalingkan pandanganku.


"Aku bukan ahli menggoda wanita. Aku ahli menggodamu."


"Bukankah saja sama?"


"Tidak. Kau tak sama dengan wanita lain.  Kau adalah pemilik jiwaku, sedangkan wanita lain tidak."


Ah, kumohon jangan berkata seperti itu. Aku merasa sakit, di saat kau mengatakan hal itu padaku, namun ketulusanmu kau tujukan pada orang yang berbeda.


"Ini."


Aku mengarahkan pandanganku ke telapak tangannya yang tengah menyodorkan sebuah jeruk.


"Ini adalah kesukaanmu, bukan?" tanyanya.


Aku pun menampilkan senyum. "Ya, terimakasih."


Saat aku mulai memakan buah jeruk ini dengan senyuman, dia tak henti-hentinya menatapku hingga aku sedikit malu.


"Ada apa? Menatapku seperti itu," ujarku.


"Teruslah tersenyum. Karena itu adalah hal terindah yang pernah ada."


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^20 Desember 2020^^^