
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
"Kau menikmati waktumu dengan Pangeran?"
Menikmati waktu dengan pangeran? Bukannya jelas-jelas aku daritadi menghabiskan waktu dengan Veronica? Dan, bukankah dia seharusnya sudah pulang dengan Anastasia?
"Bukankah kau seharusnya telah pulang dengan Anastasia?" tanyaku dan dia pun mulai mendengus dan mengalihkan pandangannya dariku.
"Heh... memangnya kenapa? Kau tak ingin aku mengganggu waktu berhargamu bersama Pangeran mu itu?" Ujarnya menyindirku, yang mana membuatku tak suka dan kesal atas perkataan nya.
"Apa pedulimu? Lagipula kau juga sudah mempunyai istri yang lebih cantik dan lebih muda dariku, untuk apa lagi kau ikut campur dalam urusanku?" balasku dan dari raut wajahnya, tampaknya dia kesal.
Terlihat dari sorot netra nya yang tampak lebih dingin, rahangnya pun tampak terlihat lebih tercetak jelas dengan wajahnya yang memancarkan aura kekesalan.
Membaca raut wajah adalah keahlian ku dari dulu, aku bisa dengan mudah mengetahui bagaimana suasana hati yang mereka sembunyikan di balik ekpresi yang mereka tunjukkan.
Hmph! Dia pikir aku hanya akan diam saja seperti wanita yang rapuh dan lemah saat dia sindir seperti itu?
Tidak semudah itu, Ferguso!
"Tetap saja kau adalah istri pertamaku, kau harus bisa menjaga sikapmu sebagai Duchess di hadapan siapa pun."
Sepertinya dia tidak mau kalah berdebat denganku. Baiklah, aku akan meladeni mu, Tuan Duke yang terhormat!
"Tetap saja kau juga harus menjaga sikapmu sebagai Duke di hadapan siapa pun. Seperti apa pandangan orang terhadap seorang Duke yang mempunyai dua istri?"
Dia kemudian berjalan cepat ke arah ku dan mengikis jarak di antara kami. Bahkan punggung ku pun kini telah menyentuh dinding karena dia terus menyudutkanku.
Dia menunduk menatapku, sedangkan aku mendongak menatap nya.
"Jangan memancingku, Cassandra."
Netra biru yang menatapku tajam seperti predator yang hendak menerkam mangsanya, di tambah penekanan saat ia menyebutkan namaku, tak membuatku gentar untuk kembali membalas pandangannya dengan tatapan tajam.
Sebenarnya ada sedikit ketakutan di dalam diriku, tapi aku harus menyembunyikan itu semua di balik raut wajahku yang tenang agar aku tak terlihat seperti wanita lemah.
"Aku tidak memancingmu, aku hanya mengatakan yang sebenarnya." jawabku. "Apa kau tak pernah berpikir terlebih dahulu tentang reputasimu sebelum kau menikahi Anastasia?" lanjutku membuatnya tak dapat berkata apa-apa untuk membalas perkataanku.
"Tapi jika kau memang sangat mencintai Anastasia, aku juga tak bisa berbuat apa-apa," ujarku sambil mengangkat bahu ku sekilas.
"Bahkan kau pun tidak memikirkan perasaan ku di saat kau menikahi Anastasia, bukan? Lalu, kenapa aku harus repot-repot memikirkan perasaanmu di saat aku dekat dengan Pangeran?"
"Mau aku berbicara dengannya, mau aku menjalin cinta dengannya, itu bukanlah urusan--"
Bugh!
Tubuhku tersentak di sertai dengan bola mata ku membelalak di kala ia meninju dinding istana tepat di sebelah kepalaku. Aku benar-benar tekejut dan tak menduga dia akan melakukan hal seperti itu.
Apa aku terlalu berlebihan sampai-sampai dia seperti itu? Tapi, bukankah dia yang memulainya duluan? Jadi secara teknis, aku tidak salah!
Untung saja tidak ada pengawal di sekitar sini. Entah kemana, mereka tiba-tiba menghilang begitu saja seperti bunglon yang tengah berkamuflase.
"Jika ini bukan tempat umum, aku akan menyerangmu saat ini juga dan membuatmu tak bisa berjalan besok!"
Dapat kurasakan seluruh bulu kudukku berdiri, aku tertegun di saat kalimat lirihnya yang mengancam menusuk pendengaranku.
Tak lama, kini kereta yang aku tunggu pun akhirnya datang. Dia kemudian menjauhkan dirinya dariku, membuat aku setidaknya dapat bernafas lega.
Dia kemudian berjalan menaiki kereta itu. Tunggu dulu, bukankah itu seharusnya menjadi keretaku?
"Naiklah, atau kau mau berlama-lama di sini bersama Pangeran?" Ketusnya membuatku kesal dan sebal.
Ah sial, kalau begitu aku harus bersamanya saat perjalanan yang lumayan panjang?! Dan, bagaimana jika dia benar-benar menyerangku?!
Mau lari pun aku tak akan bisa, karena aku sama sekali tak tahu tempat ini di tambah dengan gaunku yang begitu berat dan panjang.
Tuhan! Kumohon lindungi lah hambamu yang baik hati dan cantik ini dari pria menyeramkan itu!
Hah... aku benar-benar tak suka situasi semacam ini. Kuharap kami cepat-cepat sampai, agar aku bisa merebahkan tubuhku di kasurku yang lembut itu....
Tidak seperti kursi yang tengah aku duduki saat ini. Tulang pantatku jadi sakit karena terlalu lama duduk di kursi permukaan keras ini.
Huh! Di tambah lagi dengan kehadiran nya di samping ku tak henti-henti nya membuat rasa paranoid menyerangku.
Dengan tenangnya, dia duduk sambil melipat kedua tangannya dan melihat ke arah luar jendela, membuatku kesal.
Entahlah, bukankah aku seharusnya senang jika dia tidak menghiraukan keberadaanku? Tapi kenapa aku malah kesal seperti ini?
Sungguh, aku benar-benar ingin cepat sampai sekarang!
Kami sekarang tengah berada di tengah-tengah hutan untuk menuju jalan pulang. Karena banyak pohon-pohon besar yang bertebaran di tambah angin berhembus dengan kencang, membuat tubuhkku merasa dingin dan secara refleks aku pun menggosok kedua tanganku.
Tak lama dari itu, aku merasakan ada sebuah kain yang membalut punggungku, dengan segera aku pun menoleh ke sebelahku.
"Cuaca sangat dingin, jangan sampai terkena flu. Atau kau akan sungguh merepotkanku."
Aku berdecak sebal karena perkataan pria berambut pirang ini yang tidak lembut sama sekali. Dia sama sekali tak menatapku, dia hanya melipat kedua tangannya, dan kini dia pun hanya memakai baju kemeja putih karena dia telah memberikan rompinya padaku.
Tapi setidaknya, dia juga mengkhawatirkanku, ya kan?
Ternyata suasana hatinya cepat juga berubah. Lebih baik aku tidak membuatnya kesal seperti tadi. Karena jika aku melakukannya, mungkin saja dia akan benar-benar menyerangku, dan aku tidak mau hal itu sampai terjadi!
Pokoknya, hell to the no!
Setelah beberapa menit kemudian, kini aku merasakan bahwa kereta ini sedikit linglung dan bergetar.
Apa yang terjadi? Apa keretanya habis bensin?
Aku pun melirik ke arahnya. Di lihat dari raut wajahnya, sepertinya dia juga kebingungan.
Bahkan getarannya pun semakin keras! Sebenarnya apa yang terjadi?!
"Hei, apa yang terjadi? Kenapa kereta nya bergetar seperti ini?" tanya ku padanya.
Tak sempat dia menjawab pertanyaanku, sebuah goyangan keras membuat dia terjatuh di atasku.
Aku pun membelalakkan mataku di kala bibir kami hampir bersentuhan. Hampir, oke?! Hampir!
Selang beberapa menit, kereta pun berhenti dan kusir yang mengendarai kereta ini membuka pintu kereta dan melihat posisi tidak mengenakkan kami.
"Tuan, kita dalam masalah bes--" Ucapan kusir itu pun terpotong dan seketika dia langsung memalingkan wajahnya sambil menutup kelopak matanya.
Oh ayolah, Paman! Kau bukanlah anak kecil lagi!
"Maaf, Tuan jika saya mengganggu waktu menyenangkan anda bersama Nyonya. Tapi kita benar-benar memiliki masalah yang darurat sekarang!" katanya.
Apa dia bilang? Waktu menyenangkan? Ini tidak menyenangkan sama sekali, astaga buah naga!
Dengan segera, Arlen pun kembali ke posisi awalnya, lalu bertanya dengan kursir itu seolah tak terjadi apa-apa.
Bagaimana dia bisa bersikap tenang seperti itu sedangkan aku di sini seperti cacing kepanasan karena bibirnya tadi hampir bersentuhan dengan milikku!
Tenanglah Cassandra, tenang... ini bukan waktunya untuk mempermasalahkan hal itu.
Aku pun melirik kursir itu yang melukis raut panik di wajahnya lalu dia berkata.
"Kita tengah di kepung oleh bandit-bandit, Tuan! Dan jumlah mereka melebihi empat puluh orang!"
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^3 November 2020^^^