
Previously....
Untuk pertama kalinya, Anastasia mendapat ciuman dari seorang lelaki yang ia cintai. Ternyata, hal sederhana ini mampu mengundang kebahagiaan dan kehangatan yang berjibun ke dalam hatinya.
"Ratuku, Anastasia. Aku mencintaimu."
"Rajaku, Darren. Aku juga mencintaimu."
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter ...
...(43) ...
Setelah beberapa hari menempuh perjalanan, akhirnya para pasukan Erosphire telah sampai di markas mereka yang terletak di utara.
Segala persiapan kini telah tercantum, dan para pasukan telah mengambil posisi masing-masing berdasarkan strategi yang telah tercipta.
Sebelum pergi dan memimpin pasukan untuk menerobos pertahanan utama Nephorine, Arlen menyempatkan untuk mengobrol dengan Cassandra sejenak mengenai semuanya.
"Berhati-hatilah, kau harus meyakinkan pangeran itu," peringat lelaki beriris biru itu.
"Aku tahu. Aku tidak akan mengacaukan rencana kita," jawab Cassandra menutupi kepalanya dengan tudung.
"Kau tidak perlu melakukan ini. Karena kita juga bisa menang tanpa menjebak pangeran itu." Lagi-lagi, Arlen berusaha untuk membuat kekasihnya memikirkan matang-matang tentang semua ini.
"Jika kita hanya mengandalkan kemenangan di perang kali ini, apa yang bisa meyakinkanmu bahwa pangeran Yari tidak akan berbuat hal yang sama di kemudian hari?" terang Cassandra membuat lelaki bersurai pirang itu terdiam.
"Kita harus benar-benar mengalahkannya sampai titik penghabisan. Kau juga telah tahu tentang sosok misterius yang diam-diam selalu dekat dengan pangeran Yari seperti yang dibilang oleh Pangeran Darren, bukan?" imbuh gadis itu sembari bertanya.
"Ya. Dan kau berpikir bahwa sosok itu adalah sosok yang berusaha membaca seluruh pergerakanmu selama ini," papar Arlen membuat Cassandra mengangguk.
"Kau benar. Jika kita menjebak pangeran Yari untuk terakhir kalinya, maka mungkin saja kita dapat mengetahui dalang yang sebenarnya dari semua ini."
Cassandra menjelaskan membuat Arlen mengangguk. Tak lama, gadis itu mendekap tubuh kekar milik kekasihnya tersebut sembari menepis segala pikiran buruk yang menghampirinya.
"Berjanjilah... kau akan tetap hidup," lirih gadis itu dengan alis berkerut.
"Tentu saja. Aku akan tetap bersamamu," jawab Arlen sembari mengeratkan kalungan tangannya pada tubuh ramping gadis itu.
Bibirnya pun kini mendarat pada pucuk kepala sang gadis, dan tak jarang lelaki itu menghirup aroma menenangkan milik kekasihnya itu.
"Tenang saja, jika aku telah selesai menyelesaikan tugasku, aku akan langsung membantumu," lugas Cassandra mendongak menatap wajah lelakinya.
"Hei. Bertarung sudah menjadi sebagian dari hidupku, jadi kau tidak perlu se-khawatir itu," balas Arlen menjepit hidung gadis itu dengan senyuman samarnya yang manis.
Walaupun begitu, Cassandra tetap tak bisa tenang. Entah sudah ke-berapa kalinya Arlen mengatakan agar dirinya tenang, namun gadis itu tak henti-hentinya mencemaskan kondisi kekasihnya di saat memasuki lapangan pertarungan.
Meskipun terdengar berlebihan, namun itulah kenyataannya. Siapa yang tidak khawatir jika orang yang mereka sayangi harus menghadapi bahaya yang telah sampai di depan mata?
"My Lord, sudah saatnya," ujar seorang prajurit dari luar tenda.
Sepasang kekasih itu pun melepas tautan dekapan mereka yang dalam. Cukup lama mereka saling berpandangan, hingga akhirnya sang lelaki pun mendekatkan wajahnya pada milik kekasihnya untuk menghadiahkan kecupan di dahi.
"Jaga dirimu."
Cassandra mengangguk, kemudian pergi melewati jalur lain dari dalam tenda itu. Arlen hanya menatap dalam kepergian sang gadis, kemudian langsung mempersiapkan dirinya dan menuju ke medan pertarungan yang sudah menjadi sobat sejatinya.
...~•~...
"Kemarin, ada pria yang mengunjungiku. Dia berkata bahwa dia ingin berkerja sama denganku untuk menghancurkan kerajaanmu," ujar pangeran Naelson menyuapi dirinya sebuah anggur ungu yang segar.
Pangeran Yari menukikkan alis, apa ada orang lagi selain dirinya yang ingin menghancurkan kerajaan Erosphire?
"Apa maksudmu? Siapa?" tanya pangeran Yari.
"Entahlah, walaupun dia memakai tudung yang menutupi wajahnya, namun aku bisa melihat warna rambutnya dan matanya. Matanya berwarna biru dan rambutnya pirang." Pangeran Naelson mendeskripsikan sembari mengingat.
Pangeran Yari sedikit terkejut. Rambut pirang dan mata biru? Selama ini, bangsawan yang memiliki ciri-ciri itu hanyalah Duke Floniouse.
Apa benar yang dikatakan pangeran Naelson? Apa Duke itu diam-diam juga berkhianat? Atau hal itu hanyalah gertakan semata?
"Apa yang dikatakannya padamu? Apa dia memberitahu sebuah rencana denganmu?" tanya pangeran Yari.
"Dia hanya bilang bahwa dia sebenarnya merupakan salah satu orang yang memiliki anugrah," jawab pangeran Naelson.
"Anugrah?"
"Ya. Semacam orang-orang yang memiliki kekuatan magis. Tentu saja aku tidak percaya akan hal itu," gelak pangeran Naelson.
"Apa dia mempunyai ciri-ciri yang aneh, misalnya warna darah yang berwarna hitam?" selidik pangeran Yari mulai waspada.
Karena sejauh penglihatannya, Duke Floniouse berada di pihak adiknya, yaitu pangeran Darren. Sudah pasti aneh jika pria itu tiba-tiba ingin bekerja sama dengan kerajaan Nephorine untuk menghancurkan kerajaaan Erosphire.
"Sepertinya tidak. Karena saat aku melayangkan pisauku sebagai serangan waspada kepada musuh, darah yang mengalir dari tangannya berwarna merah. Dia memang berusaha menyembunyikannya, namun aku masih bisa tetap melihat."
Pangeran Yari berpikir. Jika memang Duke Floniouse berusaha menyembunyikan hal itu, sudah pasti pria berambut pirang itu berbohong bahwa dia adalah penyihir.
Berarti sudah dipastikan, Duke Floniouse hanyalah menggertak di bawah perintah pangeran Darren.
"Kalau begitu, Pangeran. Apa sudah saatnya kita menculik Countess yang kau bicarakan itu?" Pangeran Naelson menyeringai.
Pangeran Yari lantas melihat ke arah luar jendela dan menatap langit yang terhampar luas. Matahari telah berada di utara, yang mana waktunya memang telah tepat.
"Ya. Dengan begitu, hujan panah yang direncanakan oleh Countess itu tidak akan terluncur. Dan Duke Floniouse beserta pasukannya akan mati di tangan 100.000 prajuritmu yang ada di pertahanan utama."
"Lalu bagaimana dengan adikmu itu? Apa kau akan membiarkannya saja? Karena mau bagaimanapun, dia tetaplah sainganmu," kata pangeran Naelson.
"Rekanku sedang dalam perjalanan untuk membunuhnya," jawab pangeran Yari enteng.
Kini pangeran Yari ikut melayangkan senyum mengerikan, pria itu berpikir bahwa semuanya akan berjalan seperti yang telah ia rencanakan seperti dulu.
Dan kerajaan Erosphire... akan menjadi miliknya. Tapi tidak ia ketahui... ternyata dia tengah dalam perjalanan menuju kehancuran berbekal cahaya niat kejahatannya sendiri.
...~•~...
Suara pedang yang beradu, bunyi bising dari kulit yang terobek secara brutal, dan suara jeritan kematian yang menancap di gendang telinga. Anastasia hanya bisa melihat itu semua dari kejauhan.
Saat ini, seperti yang gadis itu inginkan, ia tengah berada di depan seluruh pemanah yang akan menembakkan hujan panah.
Meskipun hal itu hanyalah bualan semata, dan tugasnya di sini hanyalah menunggu apakah dirinya akan diculik atau tidak.
Jika ia diculik dan disekap oleh musuh, maka dirinya hanya bisa berharap dan menunggu bahwa kekasihnya akan menyelamatkannya seperti yang lelaki itu bilang. Jika tidak, maka dia harus banyak-banyak bersyukur pada dewi langit.
Dia bisa melihat Arlen dari atas dataran tinggi yang ia pijak, karena dataran tinggi itu tak terlalu jauh dari pertahanan utama kerajaan Nephorine.
Lelaki beriris biru langit itu kini berlumuran darah, dan tak lupa dengan raut kesakitannya di kala pedang musuh menyayat dan menusuk kulit hingga daging tubuhnya.
Anastasia hanya berharap, semoga kekasihnya dan dua sahabatnya bisa mencapai tujuan mereka dengan berusaha sebaik mungkin dan berhati-hati.
"Countess. Musuh sudah semakin banyak, haruskah kita meluncurkan panah kita sekarang?" tanya seorang pemanah di belakang Anastasia.
Gadis itu mengeratkan tudung berwarna putih menjuntai yang menutupi kepalanya dan seluruh helai rambutnya. Sebenarnya dia telah memakai rambut palsu yang memiliki bentuk mirip seperti helai rambut cokelat Cassandra, namun tetap saja ia was-was. Tak lupa, Anastasia sedikit menarik tudungnya agar menutupi setengah wajahnya.
Anastasia hanya mengangkat tangannya ke udara menandakan bahwa belum saatnya meluncurkan panah. Karena jika dia mengeluarkan suaranya, sudah pasti mereka akan curiga, karena suara miliknya dengan Cassandra sangat jauh berbeda.
Hingga tak lama dari itu, gadis bersurai emas tersebut sedikit tertegun ketika ada tangan yang menepuk pelan pundaknya.
Anastasia mengangguk mengerti sembari menunduk untuk menyembunyikan wajahnya, dan akhirnya mengikuti kemana pemanah itu membawanya pergi.
Cukup jauh mereka berjalan, hingga akhirnya pemanah itu berhenti dan lantas Anastasia pun terhenti juga. Tempat ini cukup sepi, dan gelap.
Dalam seperkian detik, ada sebuah tangan dengan kain yang menyekap mulut beserta hidungnya.
Anastasia terkejut, dan lambat laun, gadis itu menutup kedua kelopak matanya. Ternyata yang dikatakan Cassandra benar, musuh ingin menculik gadis itu.
Gadis bernetra hijau terang itu hanya bisa berharap, semoga kekasihnya dan sahabatnya selamat.
"Darren... Cassandra... Arlen.... Kuharap kalian baik-baik saja."
.
.
.
.
.
Sementara itu....
Di dalam ruangannya, pangeran Yari tengah bersantai sembari menunggu waktu perannya sampai. Lelaki itu tersenyum miring, sembari membayangkan bahwa takhta akan segera menjadi miliknya.
Pangeran Naelson sudah pergi sejak tadi untuk menghampiri mangsa yang mereka culik, yaitu Countess la Devoline.
Sementara dua rekannya yang lain, sedang dalam perjalanan untuk membunuh adik pertamanya, yaitu pangeran Darren. Lelaki yang akan berebut kekuasaan dengannya.
Sejak kecil, pangeran Yari sudah selalu menerima cemoohan bahwa dirinya hanyalah pangeran rendahan, putra dari seorang selir hina.
Banyak orang-orang yang telah meremehkan putra mahkota itu hanya karena dia merupakan seorang anak yang lahir dari rahim selir tak berharga.
Bahkan banyak orang yang mengejek, bahwa anak dari seorang selir tak pantas memimpin negerinya.
Oleh karena itu, pangeran Yari sangat menginginkan kekuasaan dan kekuatan. Agar tak ada lagi orang yang berani merendahkannya dan menghinanya. Dia akan membalas segala perbuatan orang-orang menjijikan itu.
Ketika tenggelam dalam lamunan, tiba-tiba saja terdengar ketukan dari pintu ruangannya.
"Yang Mulia, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda." Ksatria di luar ruangan lelaki berambut hitam itu bersuara.
Pangeran Yari lantas menolehkan kepala. Tamu? Siapa yang ingin mengunjunginya di saat seperti ini? Apa mungkin itu kedua rekannya?
Tapi untuk apa? Bukankah mereka tengah dalam perjalanan untuk membunuh adiknya?
Awalnya, pangeran Yari mengira bahwa itu adalah kedua rekannya atau pangeran Naelson. Namun siapa sangka, ternyata yang muncul bukanlah salah satu dari tersangka.
"Siapa kau?" tanya pangeran Yari tanpa berbasa-basi.
Sosok berjubah yang menutupi seluruh rambut dan setengah wajahnya itu tersenyum. "Saya bukanlah siapa-siapa, hanya seseorang yang ingin membantu Anda," jawabnya.
"Membantu? Tentang apa?"
"Tentang rencana Anda yang ingin berpura-pura menjadi pahlawan Erosphire dengan menghancurkan kerajaan itu di awal," papar sosok itu membuat pangeran Yari tersentak.
Siapa orang asing ini? Bagaimana dia bisa mengetahui segala tentang rencananya?
"Lalu tentang kerja sama Anda dengan pangeran Naelson. Hasil pertambangan kerajaan Erosphire sebagai taruhannya," imbuh sosok tersebut.
"Apa maumu?" tanya pangeran Yari menggertakkan giginya. Bahkan tulang rahangnya terpahat jelas karena emosi yang mulai membuncah.
Bahkan sosok ini sangat tahu detail tentang semua rencananya.
Sosok berjubah itu tergelak. "Haha! Bukankah sudah saya bilang, saya ingin membantu Anda?"
Pangeran Yari hanya bisa menahan amarah untuk tidak bersikap bodoh. "Apa yang bisa kau perbuat?"
Sosok itu tersenyum miring. "Saya hanya ingin menjadi pengikut Anda. Saya menginginkan kekuasaan, dan hidup makmur," ujar sosok itu menggeram.
Lelaki bersurai hitam bergelar pangeran itu mengernyit bingung. Meskipun saat ini kondisinya sangat diuntungkan, tetap saja sosok itu mencurigakan.
Namun jika dirinya tidak mengikuti kemauan sosok itu, sosok itu bisa saja membongkar seluruh rencananya dan memberitahukannya ke seluruh negeri Erosphire.
Sepertinya tidak ada cara lain. Yang penting dirinya harus berwaspada saja.
"Baiklah. Kuharap kau bisa menepati janji," ujar pangeran Yari menjadi penutup.
"Senang bisa bekerja sama dengan Anda." Sosok itu pun membelakangi pangeran Yari dan melangkah hendak keluar.
Di saat itu juga, pangeran Yari melempar sebuah belati pada sosok itu ke arah perutnya. Namun, sosok tersebut dengan cepat langsung menghindar dan alhasil lengannya yang terkena sayatan.
Sosok berjubah tersebut langsung menutup luka di lengan kanannya dengan telapak tangan kirinya. Tak lupa, dengan kernyitan di alis yang menandakan bahwa sosok itu tengah kesakitan.
"Apa maksudnya ini, Yang Mulia?" Sosok itu menggeram dengan nada kesal sembari menatap nyalang pangeran Yari.
"Tidak ada. Aku hanya ingin menguji kemampuanmu untuk menjadi bawahanku," jawab pangeran Yari santai.
"Baiklah, sepertinya Anda telah mendapatkan jawabannya." Sosok tersebut mendesis kemudian membuka pintu dan membantingnya keras.
Pangeran Yari kemudian langsung bergerak untuk mengikuti dan mengawasi sosok itu. Dalam diam, lelaki berambut hitam itu mengikuti pergerakan sosok tadi.
Ketika pangeran Yari tengah bersembunyi, dapat ia lihat sosok berjubah tersebut sempat terhenti sejenak mengamati sekitarnya.
Dalam sekejap, sosok itu langsung berlari sekencang mungkin. Lantas, pangeran Yari tak ingin kehilangan jejaknya dan langsung mengikutinya.
Hingga setelah cukup jauh dari markas mereka, dapat pangeran Yari lihat sosok berjubah itu berdiri dengan posisi sedikit menyerong ke kanan.
Dalam sekejap, pangeran Yari terkejut ketika melihat ada cairan hitam kental di area luka yang ia ciptakan di lengan sosok itu tadi.
Dan saat pangeran Yari terus mengamati pergerakan sosok itu, sosok berjubah tersebut langsung dikelilingi kabut asap yang sangat tebal.
Tak butuh waktu lama, mendadak sosok itu langsung menghilang seperti menyatu dengan asap tersebut.
Ketika memutarbalikan otaknya, pangeran Yari akhirnya menyadari suatu hal.
Di rumor yang beredar, penyihir memiliki darah yang berwarna hitam, dan bisa berteleportasi.
Sebelumnya, pangeran Yari sempat melihat warna rambut sosok tersebut dan wajahnya sekilas. Namun dia langsung mengetahuinya, bahwa sosok itu adalah Countess la Devoline.
"Ternyata dia adalah penyihir sesungguhnya. Itulah alasan kenapa dia bisa tahu segala rencanaku!" batin pangeran Yari.
"Ini semua menjadi masuk akal. Dia ingin aku mempercayai bahwa dia berada di pihakku, agar dia bisa membantu Darren dan menghancurkanku!"
Pangeran itu kemudian tersenyum miring. "Dasar bodoh! Dia pikir aku se-bodoh itu tidak menyadari bahwa dia adalah penyihir yang sesungguhnya? Dia bahkan membuat Duke Floniouse seolah-olah merupakan penyihir asli."
"Kau pikir semudah itu mengalahkanku Countess? Tidak akan. Karena di sini, akulah yang mengendalikan semuanya! Kalian semua tidak bisa mengalahkanku!"
Pangeran itu kemudian menyeringai dengan wajah jahatnya, dan tak lama dari itu tergelak dengan sangat kuat.
Malangnya. Pangeran itu tidak tahu... bahwa dia adalah tikus yang telah masuk perangkap mematikan yang siap menjepitnya hingga dirinya hancur.
Ironisnya.
...27.03.2021...