
...I Become Wife of the Atrocious Duke...
...Her Heart Voice...
Kedua pengawal di sampingku setia mencengkram kedua lenganku dengan sangat keras hingga bisa ku rasakan tulangku seperti akan remuk.
Dapat aku lihat banyak para bangsawan yang menatapku dengan pandangan takut, jijik, tak percaya, dan bahkan pandangan mencemooh.
Sebenarnya... aku tak peduli pada siapapun kecuali pada satu orang. Di saat aku memikirkannya, di saat itulah pandangan mata kami bertemu.
Ada apa dengannya? Dia terus berteriak dan terlihat tengah mengamuk, bahkan ketika pandangan kami bertemu dia semakin menggila.
Apa dia menggila karena aku? Jika demikian, entah kenapa aku malah merasa bersalah. Tapi... aku juga melakukan ini untuknya.
Aku melakukan ini untuk kebaikan kami. Karena aku tak ingin lagi membohongi diriku sendiri dengan berpura-pura menjadi Cassandra la Devoline dan terus menerima cintanya.
Hal itu... adalah hal yang sangat tabu. Namun... aku sempat menikmatinya akhir-akhir ini. Mungkin hal ini... sudah menjadi takdirku di dunia ini.
Mungkin hal ini... adalah jalan pulangku ke dunia asalku. Apa aku telah mengambil keputusan yang tepat? Apa semua ini adalah hal yang memang seharusnya aku lakukan?
Entahlah, namun entah kenapa hatiku berkata demikian. Oleh karena itu aku melakukannya.
Kulayangkan senyum padanya. Aku tak tahu bagaimana bentuk senyumku saat ini, namun aku tetap ingin melukisnya.
Dia kembali berteriak, yang mana membuatku terasa sesak. Namun aku berusaha menepis itu semua, dan kedua pengawal di sampingku kembali menyeretku paksa menuju ke penjara bawah tanah.
Tak lama, aku pun dilemparkan begitu saja ke dalam sel yang gelap dan dingin. Seperkian saat kemudian, ada beberapa orang yang mendekatiku.
Aku tak tahu siapa mereka, tapi mereka tiba-tiba saja datang dan bertanya apakah aku membunuh Yang Mulia atau tidak.
"Katakan, apa anda yang telah membunuh Yang Mulia Raja Hari Erosphire, Duchess?"
Dia bertanya, dan aku hanya diam. Karena aku tak tahu aku harus menjawab, sebab pikiranku selalu tertuju pada sosoknya yang seperti orang gila tadi.
Bahkan... aku tak tahu apa aku harus menjawab jujur atau tidak dan berakhir dengan diam saja.
"Akh!"
Aku tak bisa menahan teriakanku ketika sebuah cambuk terlayang mengenai kulitku. Rasa panas dan perih menyerang, dan beberapa sayatan kembali tercipta hingga aku merasa lemas.
Airmataku tak bisa kutahan, rasa sakit ini begitu menyakitkan. Dinginnya angin membelai kulitku, namun bukannya merasa nyaman, tapi rasa sakit yang menjadi-jadi semakin kurasakan.
Mereka kembali menanyakan beberapa perkataan, namun aku tak bisa mendengar mereka dengan jelas. Penglihatanku buram, terhalangi dan tercekat oleh rasa sakit yang menggila.
Tak lama, kini teriakan merekalah yang akhirnya kudengar. Walaupun samar-samar, tapi aku tetap bisa mendengar teriakannya.
"Apa yang kalian lakukan padanya?!"
Dan saat itulah... aku melihat sosok tinggi dan tetap yang sepertinya tengah menendang orang-orang yang barusan menanyaiku.
"Arlen...!" Dengan suara tercekat, aku pun berhasil menyebutkan sebuah nama. Ternyata benar... sosok itu adalah dia.
"Pergi."
Itulah kata yang dapat aku dengar, dan dengan pandanganku yang buram, aku bisa melihat beberapa orang yang berlari menjauh.
"Arlen... apa yang kau lakukan di sini...?" tanyaku padanya. Tak tahu dia mendengarnya apa tidak karena suaraku yang hampir habis.
Pintu sel yang awalnya tertutup rapat kini terbuka secara paksa dan terjatuh, sehingga menimbulkan suara yang lumayan keras.
Tubuhku langsung tertimbun dengan dadanya yang hangat dan luas, kalungan tangannya pada tubuhku seperti sebuah sayap yang tengah memberiku kehangatan dan perlindungan.
"Aku... sangat mengkhawatirkanmu...," lirihnya berbisik padaku. Dapat kurasakan bahuku basah. Apa dia menangis?
Untuk apa airmatamu itu? Apa sebegitu pedulinya kau padaku? Hei, kumohon... jangan menangis.
Kumohon... hatiku semakin tersayat. Ketika kenyataan menimpa, bahwa airmatamu bukanlah terjatuh untukku.
"Kau tenang saja... aku baik-baik saja...," ujarku padanya. Aku harus berusaha menenangkannya, agar airmataku tidak ikut jatuh.
Aku mengusap pipinya yang halus. Pipinya... terasa hangat. Membuatku seakan tak bisa berhenti untuk menyentuhnya dan menggali kenyamaan darinya.
Tapi... rasa sakit kembali tak bisa kutahan. Sehingga rintihan kembali terlayang dari bibirku.
"M-maaf... hanya saja... seluruh tubuhku perih... ketika kau memelukku...."
Dapat kurasakan dia perlahan-lahan menjauh, dan dekapannya longgar. Aku kembali memeluknya erat, enggan untuk melepaskannya. Walaupun luka ini terus menjadi penghambat.
"Tidak... biarlah seperti ini... aku ingin tetap seperti ini... kumohon...," pintaku. Dia menurutinya, membuatku sedikit senang.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" tanyanya.
Apa yang harus kujawab? Apa harus menjawab bahwa aku terus disiksa? Lalu, ketika dia mendengarnya... dia akan kembali gila?
Aku tak mau itu terjadi. Jadi aku hanya diam. Tapi tak lama dari itu... suatu kebohongan kembali terucap dari bibirku.
"Aku tidak apa-apa... kau tenang saja...."
Senyuman kembali terlukis, tak tahu dia bisa melihatnya atau tidak.
Dia menatapku dalam, membuatku sedikit bingung. Sehingga aku mendongak untuk membalas pandangannya.
Apa yang tengah ia pikirkan?
"Arlen...?" tanyaku ketika dia tak kunjung berbicara. Telapak tangannya turun dan menyusuri kulitku. Aku tak bisa menahan ringisanku, karena luka ini sangatlah pedih.
Airmatanya kembali terjatuh setetes menurun di pipinya, hingga tak lama dari itu tangannya beralih ke tengkukku.
Jarinya menyisip di helai rambutku, kemudian menekan dan mendekatkan wajahku padanya.
Bibirnya menekan milikku, hingga aku tak bisa menolak dan hanya bisa mengalungkan tanganku di lehernya yang cukup tinggi.
"Jangan rasakan sakitmu, cukup rasakan bibirku," perintahnya. Aku hanya bisa mengangguk.
Namun tak lama dari itu, nafasku terengah-engah. Sangat susah bagiku untuk menghirup nafas sebanyak-banyaknya dalam keadaan ini.
"C-cukup... Arlen...," lirihku. Dia menjauhkan bibirnya kemudian berkata.
"Ayo pulang," katanya. Bagaimana cara aku menanggapi hal itu? Aku tertunduk, dan dapat kurasakan dia menyentuh rambutku.
"A-arlen... l-lebih baik kau pulang sendirian saja...."
"Apa maksudmu? Kau tidak mungkin aku tinggalkan sendirian di sini!" sergahnya tak percaya.
Justru membuatku semakin bimbang dan rela. "Kumohon...! Arlen... kumohon tinggalkan aku di sini...." Tangisku tak bisa kutahan, sedangkan dia hanya diam.
"Kau mencintaiku... kan?" tanyaku berusaha meyakinkannya.
"Ya, aku mencintaimu." Walaupun tahu kata itu bukan untukku, tapi aku tetap senang hingga aku tak bisa menahan senyumku.
"Maka dari itu kau mempercayaiku... bukan?"
"Ya."
Ah... berhentilah menangis. Kenapa diriku selalu begitu mudah menangis? Ternyata perasaan dan emosi, merupakan hal yang paling istimewa dari seorang manusia.
Bahkan dia juga ikut-ikutan menurunkan airmatanya, membuatku tak bisa diam untuk mengusap airmatanya yang mengalir anggun.
"Jika begitu, Arlen.... Percayalah padaku, aku pasti akan kembali padamu. Tinggalkan aku di sini. Tunggu aku."
Kebohongan yang disertai dengan kecupan penuh perasaan, apa hal itu termasuk hal yang menyenangkan?
"Baiklah. Aku mempercayaimu, oleh karena itu secepatnya... kembalilah padaku."
Aku mengangguk, aku tak sanggup lagi untuk mengatakan kebohongan padanya yang memberikan ketulusan kepadaku.
Senyuman kulayangkan, berharap itu bisa membalas ketulusan yang ia layangkan.
...🥀...
Kembali pada masalah awal, dikatakan bahwa aku bersalah. Aku telah dicap sebagai dalang pembunuhan Yang Mulia Raja.
Yah... sudah kuduga. Hal itu pasti akan terjadi, aku tak peduli lagi. Jika aku mati atau tidak, aku tak peduli.
Lenganku kembali ditarik paksa, dan tubuhku diseret menuju tempat eksekusi akan berlangsung.
Terdapat tiang pancung tepat di hadapanku, yang membuatku sedikit bergidik ngeri.
Namun rasa takut itu langsung dikalahkan oleh rasa putus asa yang mendalam.
Tak lama, tiba-tiba saja ada seorang pria yang menerobos masuk. Dan dia langsung menghampiriku dan memutus tangan yang mencekal lenganku.
Aku sedikit terkejut, dan para pengawal mulai mengepung dan mengacungkan pedang ke arahnya. Namun anehnya dia tak terlihat takut sekali, justru ia malah berlutut dan menanyai keadaanku.
Darimana keberanianmu itu muncul?
"Arlen... apa yang kau lakukan di sini...? Bukankah sudah kubilang untuk menungguku?"
"Menunggu?! Maksudmu menunggu kau mati terpenggal di sini?!" teriaknya membuatku tersentak.
Apa kau sebegitu pedulinya padaku? Diriku yang tak bisa apa-apa, diriku yang tak memiliki keberanian sepertimu, diriku yang egois.
"Arlen...," lirihku kembali mengusap pipinya. Aku harus bagaimana agar kau tidak lagi peduli padaku?
"Tidak, kau harus pulang bersamamu. Aku tak akan melepaskanmu lagi, aku akan mengurungmu. Aku akan melindungimu, karena aku tahu kau sama sekali tidak bersalah," tegasnya.
Dia kemudian berdiri dan berbalik, seraya menyembunyikan tubuhku dibaliknya.
"Tuan Duke...! Lepaskan dia! Dia adalah pembunuh Yang Mulia Raja! Pengkhianat harus dihukum! Dia pantas mati!"
"Pantas mati? Jangan banyak bicara kau, Bangs*t."
Jleb!
Brukh!
Para pengawal yang maju terjatuh begitu saja ketika tubuh mereka tertusuk oleh pedang.
"Arlen...."
"Aku akan melindungimu."
"Arlen!" teriakku berusaha membuatnya sekaligus diriku sadar. Airmataku kembali turun, sehingga aku menunduk upaya untuk menyembunyikannya.
"Kau... percaya padaku bukan?"
"Ya. Aku sangat mempercayaimu, dan kau juga harus mempercayaiku saat ini."
Aku mendongak, menatap wajahnya untuk terakhir kalinya.
"Kau mencintaiku, bukan?" Telapak tanganmu mengusap pipinya... untuk terakhir kalinya.
Dia tersenyum. "Ya, aku sangat mencintaimu. Sehingga aku bisa menghancurkan dunia."
"Itu berarti... kau akan menerima seluruh permintaanku, bukan?"
"Ya, jika itu membuatmu senang."
"Kalau begitu... maafkan aku... Arlen." Akhirnya, waktunya telah tepat. Akhirnya... aku bisa mengatakan hal ini.
"Ap--"
Kurampas pedangnya lalu mendorong tubuhnya dengan seluruh tenaga yang tersisa hingga dia tersungkur, dan meletakkan ujung pedang ini di leherku.
"A... apa yang kau... lakukan... Cassandra...?"
Tangisku semakin deras, isakan yang selama ini kutahan terlontar dari bibirku. Sudah cukup... aku harus mengakhiri semua ini sekarang juga...!
Aku tak ingin egois dengan menerima cintamu yang kau tujukan pada jiwa yang lain...!
"Maafkan aku... Arlen. Namun... aku melakukannya untuk kebaikanmu... aku tidak ingin egois...."
Kumohon... maafkan aku...
"Sekali lagi... maafkan aku.... Tapi... aku benar-benar harus melakukannya...."
Maafkan aku... maafkan aku.... Aku... sudah tak kuat lagi. Terimakasih... atas segalanya.
"Terimakasih.... Aku mencintaimu, Arlen de Floniouse."
Namamu... akan selalu kuingat.
"Penjaga, bawa dia!"
Pedang ini tetap setia berada di depan leherku, agar dia tak memberontak. Saat ini, aku tengah mengancamnya.
Para pengawal lain mulai menarikku secara paksa kemudian memaksaku menunduk.
Kepalaku telah berada di tengah-tengah kayu yang diberi bolongan, dengan besi tajam yang berada tepat di atasku.
Tinggal menunggu waktu saja benda itu jatuh dan memisahkan tubuhku.
"Lakukan eksekusinya."
"Jangan! Kumohon jangan... Cassandra!"
Maaf... tapi aku harus melakukannya.
"CASSANDRA!!"
Selamat tinggal....
Tanpa suara... berharap bibir yang bergerak ini bisa menyampaikan pesan dari hatiku untuknya.
"Aku mencintaimu."
...🥀...
"Hah... kenapa nasibmu sungguh tragis sekali? Kenapa takdir sangat kejam pada kalian berdua?"
Suara itu lagi. Di mana aku? Apa yang terjadi padaku? Oh... aku baru teringat. Aku baru saja mati terpenggal.
Di mana ini? Apa ini adalah surga? Atau neraka?
Entahlah, namun aku masih tetap bisa mendengar suara itu membuat terngiang-ngiang di pikiranku.
"Ternyata, tanpa ingatan hal ini tetap tak mungkin. Ini salahku, seharusnya aku juga mengembalikan ingatanmu waktu itu."
Siapa kau? Sebenarnya di mana ini? Ingatan apa yang kau maksud? Takdir siapa yang kau maksud?
"Oleh karena itu, ketahuilah semua kebenarannya. Kebetulan, kebenaran itu sudah ada di depan matamu. Galilah kebenaran itu, kemudian...."
Suara itu menggantungkan perkataannya, aku hanya bisa mendengarkan dan diam.
"Aku akan memberikan kesempatan lagi padamu. Karena cinta kalian... sangatlah manis, dan juga pahit."
Deg!
"Hah... hah...."
Di... di mana aku...? Akh! Dengan segera aku memegangi kepalaku yang terasa amat sakit, apa yang barusan terjadi padaku?
Tempat ini...
Aku mencoba kembali mengingat-ingat dengan pikiranku yang amat buram. Namun tak lama dari itu, ketidakpercayaan menghantamku.
Bukankah ini adalah kamarku?! M-m-maksudku, kamarku yang sebenarnya. Ya... tidak salah lagi. Kasur ini, benar-benar milikku.
Sebenarnya apa yang terjadi?! Lalu semua kejadian itu... apa itu semua adalah mimpi?!
Walaupun kepalaku terasa ingin pecah, namun aku tetap memaksa diriku untuk berdiri. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan melihat pantulan diriku di cermin.
Kubuka mulutku dan melihat apa yang ada di dalamnya. Hilang... gigi gerahamku tidak ada.
Itu berarti semua itu bukan mimpi! Lalu... apa yang terjadi?! Dia... apa dia benar-benar ada?
Apa itu semua itu hanyalah mimpi semata?
Oh iya...! Luka itu! Kubuka pakaian yang membalut tubuhku kemudian dengan susah payah aku melihat pantulan punggungku di cermin.
Ada... bekas sayatan itu ada! Namun anehnya bekas penggalan di leher itu tidak ada.
Lagi-lagi aku bertanya... apa yang sebenarnya terjadi?
Saat aku melangkah dan ingin duduk di atas permukaan kasurku, tiba-tiba saja aku menendang sesuatu.
Buku ini...!
Ini adalah buku yang membuatku masuk ke dalam dunia itu! Dengan tak sabaran, aku membuka buku itu dan membaca lembar demi lembar kata yang tertulis di dalamnya.
Tidak... tidak mungkin!
Tidak mungkin! Ini semua tidak mungkin! Bagaimana ini bisa terjadi?!
Airmataku turun dengan deras dengan mulutku yang membekap mulutku tak percaya.
Tidak mungkin...
Bagaimana bisa... buku ini menjadi buku diary ku di dunia itu...?!
Tidak...! Arlen...! Apa yang telah kulakukan...!
Kumohon katakan padaku ini semua tidak nyata...! Hei...! Bilanglah padaku ini semua adalah mimpi!
Kumohon... ini semua tidak mungkin....
Walaupun hatiku tak sanggup membaca kata yang ada di buku itu, namun pikiranku terus mendesakku untuk membacanya.
Semua rencanaku... pengalaman harianku... tertulis dengan tepat di situ. Membuatku kembali berderai airmata.
Jadi selama ini... Cassandra la Devoline itu adalah diriku sendiri? Selama ini... wanita yang dicintainya tetaplah aku seorang...?
Itu berarti... lelaki yang tengah menangis serta gadis yang berdaya itu adalah Arlen yang tengah menangis ketika aku jatuh ke jurang hari itu?
"Akh!"
Kepalaku terasa ingin hancur, sakit...! Apa lagi ini?
Seluruh ingatan, seluruh kejadian, tiba-tiba saja menyerang dan menerus masuk ke dalam pikiranku.
Ini... adalah memori... memori sebelum aku jatuh ke jurang waktu itu.
Aku yang bodoh difitnah oleh Anastasia, disiksa oleh Arlen, kemudian aku menjadi pendiam.
Dan hari itu, di mana Anastasia bilang ingin mengajakku berjalan-jalan. Ternyata dia mendorongku ke dalam jurang yang dalam.
Pernikahan Arlen dan Anastasia... aku mengingatnya. Bahkan hatiku sekarang bisa merasakan bagaimana sakit yang kualami waktu itu.
Kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang ingatan ini kembali padaku?
Bola mataku kembali bergerak kesana kemari membaca tulisan itu.
Namun di lembar-lembar terakhir, aku sedikit bingung. Apa ini...? Perasaanku aku tak pernah menulis kata-kata ini.
...π...
...Musim dingin pertama tanpamu......
...Tidak terasa ternyata musim dingin kembali menyapa. Hei, Cintaku. Apa kau masih ingat pertama kali kita menyatakan perasaan di tengah-tengah musim dingin?...
...Walaupun aku sempat menyerah akan nyawaku hari itu, namun semua itu terasa tidak sia-sia. Karena kau membalas cintaku dan melayangkan kecupan untukku....
...Awalnya, kukira musim dingin adalah musim keberuntunganku, namun siapa sangka ternyata musim itu adalah musim di mana aku juga akan kehilangan dirimu....
...Salju yang berada di sekitarmu menjadi merah, disertai dengan kepalamu yang menggelinding di tanah. Hal itu, menjadi mimpi burukku selama setahun ini....
...Cintaku... apa aku bisa berharap bahwa aku dapat bertemu denganmu lagi?...
...Aku sangat mencintaimu....
...π...
"Maafkan aku...! Hiks... kumohon... maafkan aku...! Apa yang sebenarnya telah kuperbuat...!"
Kalau begitu... apa aku juga bisa berharap dapat bertemu denganmu lagi?
...π...
...Musim dingin kedua tanpamu......
...Dua tahun telah berlalu. Cintaku... apa kau tak ada niatan untuk menemuiku di mimpiku?...
...Aku sangat merindukanmu. Tapi aku juga harus bertahan, ada sesuatu yang harus kulakukan....
...Tunggu aku... aku pasti akan menyusulmu. Merasakan kehangatan dari pelukanmu. Merasakan manisnya bibirmu, merasakan perasaan tulus yang kau tujukan padaku....
...Tapi sebelum itu... bisakah kau menungguku? Aku janji, secepatnya aku akan bertemu denganmu lagi....
...Aku sangat mencintaimu....
...π...
Aku juga ingin bertemu denganmu. Aku juga ingin bertemu denganmu lagi...!
...π...
...Musim dingin ketiga tanpamu......
...Tujuanku baru tercapai setengah... dan tak terasa tiga tahun telah berlalu tanpa kau di sisiku....
...Maaf, Cintaku. Apa kau telah lama menungguku? Atau kau justru telah lupa padaku?...
...Namun tak apa, walaupun kau tak mengingatku, aku akan tetap mengingatmu....
...Aku akan tetap mencintaimu. Oh iya, apa sempat membaca kembali surat yang kau kirimkan di saat aku berada di medan perang....
...Membacanya membuatku semakin merindukanmu. Ah... apa kau tak bisa berkunjung ke mimpi sekali saja? Aku sangat ingin bertemu denganmu....
...Aku sangat mencintamu....
...π...
Entah sudah berapa banyak airmata ini terjatuh, namun hal itu tak kunjung berhenti.
Membaca kata demi kata yang kau tulis untukku, membuat hatiku seakan hancur berkeping-keping.
Aku... tak tahu lagi harus bagaimana.
...π...
...Musim dingin keempat tanpamu......
...Empat tahun... tujuanku sedikit lagi tercapai, Cintaku....
...Apa kau tahu? Saat aku sempat menghadiri rapat, banyak wanita yang mendekatiku....
...Bagaimana? Apa kau cemburu? Apa kau kesal? Aku ingin mendengar pendapatmu....
...Tapi tenang saja, jiwa dan ragaku akan selalu kuberikan padamu seorang. Kau tak perlu khawatir....
...Bagaimana ini? Aku tak sabar lagi ingin bertemu denganmu lagi, Cintaku....
...Andaikan saja waktu itu aku tidak bersikap lemah, mungkin kau akan tetap bersamaku selama ini....
...Jadi... maafkan aku....
...Aku sangat mencintaimu....
...π...
"Kau tidak salah... semua ini adalah kesalahanku.... Akulah yang bodoh, telah menyebabkan semua ini... aku...."
...π...
...Musim dingin kelima tanpamu......
...Cintaku, apa kau masih mengingatku? Apa kau masih ingat dengan kebersamaan kita?...
...Musim dingin tanpamu benar-benar menyakitkan bagiku, tapi aku akan tetap bertahan, demi sesuatu yang harus kulakukan....
...Aku merindukanmu. Apa kau ingat buah jeruk? Itu adalah buah kesukaanmu, dan buah itu selalu mengingatkanku padamu....
...Hari ini, adalah akhir yang ku tunggu-tunggu. Aku akan memenggal kepala Raja sialan itu, seperti yang dia lakukan kepadamu dulu....
...Hei, kenapa kau tak pernah muncul di mimpiku? Jika saja kau muncul, mungkin dengan itu rindu ini akan terobati....
...Aku merindukan suaramu, aku merindukan pelukanmu, aku merindukan segala hal tentangmu....
...Dan hari ini, akhirnya aku akan pergi menemuimu....
...Nyawa ini akan kulayangkan, demi agar dapat bertemu denganmu....
...Cintaku, sekaligus......
......pemilik jiwaku....
...π...
"Bodoh...! Kau benar-benar bodoh... Cassandra...! Kau benar-benar bodoh...! Bodoh... "
Aku memukul dadaku yang terasa sesak seolah akan mencekikku hingga mati saat itu juga.
Kau telah menyerahkan jiwamu, tapi yang kuberikan padamu hanyalah rasa sakit.
Andaikan aku bisa kembali ke dunia itu. Andaikan aku bisa kembali bertemu denganmu.
Merasakan kenyamanan dari tubuhmu yang mendekapku erat, menikmati senyum yang kau layangkan padaku.
Mendalami rasa cinta yang kau berikan padaku, membalas kesetiaanmu padaku.
Aku benar-benar ingin mengulang waktu. Aku benar-benar ingin melakukannya.
Agar aku bisa bertemu denganmu lagi... sekali saja.
Arlen de Floniouse... seluruh hidupku... akan kuserahkan padamu.
...End of Season 1...
...Her Heart Voice...
...01 Januari 2020...