
Previously....
Lelaki bernetra biru langit itu hanya bisa menatap dengan pandangan misterius dan tenang seperti biasa melihat tingkah aneh Cassandra.
Namun ia tak tahu, bahwa saat ini gadis itu tengah mati-matian menahan air mata yang entah kesaja tiba-tiba ingin meluncur.
Entah karena rasa sedih maupun rindu... atau kecewaan, gadis itu sama sekali tidak tahu.
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter ...
...(25) ...
Cassandra Pov
Akhirnya setelah beberapa hari kemudian sejak kami pergi ke festival terakhir, masalah penjernihan air selesai.
Keadaan kembali seperti semula, di mana air sungai telah jernih layaknya sedia kala sehingga penduduk bisa kembali menggunakannya sebagai kebutuhan hidup sehari-hari.
Bahkan beberapa terakhir, tiba-tiba saja Marquess Thrones menyuruhku untuk pindah ke penginapan yang lebih mewah sebelumnya.
Tentu aku bingung, karena menurutku Marquess itu orang yang tak peduli pada masalah orang lain dan hanya memikirkan keuntungan bagi dia sendiri.
Tapi, ini? Hanya karena masalah kecil dia rela memintaku untuk menginap di penginapan yang cukup mewah bahkan ada pelayan juga di dalamnya.
Sudahlah, yang penting sekarang semuanya benar-benar telah selesai. Selepas aku berpamitan pada penduduk beberapa saat yang lalu, aku pun menaiki sebuah kereta kuda yang akan mengantarkan kepulanganku.
Tentu saja sendirian, karena Arlen menaiki kereta pribadinya yang amat besar. Wajar saja, dia adalah penerus Duke Floniouse yang selanjutnya. Hidupnya sudah banjir dan bergelimpangan akan harta.
Lagipula, jarak antara rumah kami lumayan jauh jadi tak ada alasan bagi kami untuk pulang bersama.
Entah bagaimana caranya aku berterima kasih padanya untuk hal ini. Jika tidak ada dia, aku mungkin tidak bisa menjalankan proses penjernihan.
Jika tidak ada dia, tidak akan ada ide pembatas yang mempercepat proses penjernihan.
Dan juga... jika tidak ada dia, sudah pasti aku tidak akan pergi ke festival yang sangat menyenangkan itu.
Sepertinya hadiah ulang tahun saja tidak cukup, aku harus memikirkan cara lain untuk berterima kasih.
Tapi aku akan menyelesaikan masalah tersebut di lain hari, karena aku benar-benar ingin cepat-cepat pulang dan bermanja-manja dengan kasurku.
Tanganku pun bertumpu pada jendela kereta kuda ini dan menopang daguku. Pemandangan yang asri ini, sangat berbeda dengan dunia itu.
Dunia di mana asap dan polusi yang mematikan berkeliaran dan membaur, dunia di mana pepohonan dan rerumputan hijau adalah hal langka untuk ditemui.
Tentu saja aku tak ingin kembali ke sana lagi. Aku akan tetap menetap di sini, dan berusaha untuk mendapatkan kehidupan yang nikmat dan akhir yang bahagia.
Banyak setelah itu hal yang menghampiri pikiranku, aku pun berakhir tenggelam dalam kubangan lamunan dan mulai merasa lelah.
Semilir angin seakan membelai kelopak mataku untuk tertutup, hingga tanpa sadar aku telah mengikis kelopak- kelopak bunga tidur.
...~•~...
"Selamat datang kembali, My Lord," sapa berjibun pelayan yang bersiap menyambut kedatangan majikannya.
Lelaki itu tanpa aba-aba langsung berjalan lurus menuju masuk ke dalam rumahnya. Ia mendorong pintu masuk utama yang amat tinggi dan besar itu.
Kehadiran sosok ayah dan ibunya telah berada di ruang tamu yang sangat luas di dalam kediaman itu, menunggu kehadirannya yang telah lama menghilang ditelan kepergian.
"Salam, Ayah, Ibu. Aku telah kembali," sapa lelaki tersebut yang tengah menunduk hormat pada kedua orang tuanya.
Tentu saja sepasang suami istri yang bergelarkan Duke dan Duchess itu sangat terheran apa yang dilakukan putranya tersebut di wilayah bangsawan lain hingga hampir setengah bulan.
"Apa kau telah lupa akan tugasmu dan kehormatanmu sebagai calon Duke keluarga ini? Apa yang kau lakukan hingga menetap di wilayah orang lain selama setengah bulan? Kau pikir hidupmu hanya untuk bermain-main?" sarkas sang ayah yang tidak berefek sama sekali terhadap putranya tersebut.
"Tentu tidak, Ayah. Aku belajar untuk keperluanku di masa depan tentang proses penjernihan air. Wilayah Marquess Thrones dilanda musibah, oleh karena itu aku membantunya sekaligus menggali ilmu lebih dalam," papar lelaki bernetra aquamarine itu.
Tidak ada nada gagap, bergetar, ataupun bernada tinggi di aliran perkataannya. Semuanya seperti air sungai yang mengalir dengan tenang dan damai tak bersuara.
"Maksudmu ilmu penjernihan air tak seberapa yang diusulkan oleh putri Viscount itu? Kau sungguh membuang-buang waktu hanya untuk mempelajari ilmu dangkal seperti itu," balas ayahnya.
Lelaki itu masih tetap tenang, dia tidak peduli akan omongan dari luar.
"Apa masih ada yang ingin Ayah bicarakan? Jika tidak, maka aku akan izin untuk ke kamarku," ujarnya kemudian berlalu meninggalkan sepasang suami-istri itu.
Namun suara ayahnya kembali menginterupsi dan menghentikan langkahnya sejenak.
"Malam ini bersiap-siaplah untuk pesta perayaan ulang tahunmu. Kami telah mengundang seluruh bangsawan, setidaknya jagalah citra kita dan jangan membuat malu kami," peringat pria bergelar Duke itu.
Lelaki tadi hanya diam menatap datar depannya, tak lama dari itu satu patah kata yang terlontar dari bibirnya sanggup mengakhiri percakapan dingin mereka saat itu.
"Terserah."
Hingga lambat laun, lelaki itu pun telah menghilang dan langsung memasuki kamarnya. Seakan tak peduli sama sekali akan sekitarnya.
...~•~...
Akhirnya sampai juga! Setelah beberapa jam terlewati, aku akhirnya kembali ke kamarku.
Ah, aku sangat merindukanmu wahai kasurku! Di luar cuaca masih dingin, sehingga membuatku makin gencar bergelung dan berguling ke sana kemari dengan selimut yang membaluti seluruh tubuhku di atas permukaan kasur.
Tak lama, terdengar ketukan yang sangat menganggu suasana. Meskipun malas, aku pun tetap menjawab dan mempersilakan pengetuk tersebut masuk.
"Masuk."
Pintu berderit menghadirkan sosok Reina yang masuk secara perlahan dan sopan. Dia pun lalu membungkuk dan memberi salam padaku.
"Salam, Nona. Maaf jika saya menganggu waktu anda, namun saya diperintahkan untuk memberitahu Nona. Anda diminta oleh My Lord untuk menemui beliau di ruang kerjanya," paparnya yang mana sudah kuduga.
Ayah pasti akan memanggilku, oleh karena itu aku pun langsung berdiri dan berkata. "Baiklah, antarkan aku ke sana."
.
.
.
.
Suara pintu yang tertutup secara perlahan-lahan, seakan menjadi salam pembuka bagi percakapan yang akan datang.
Aku pun mendekati Ayah secukupnya yang masih membelakangiku kemudian membungkuk hormat padanya. "Salam, Ayah. Apa Ayah memanggilku?"
Cukup lama Ayah membelakangiku hingga akhirnya dia berbalik.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa kau bisa menyelesaikannya?" tanyanya.
"Ya, Ayah. Maaf jika aku terlalu lama membuat Ayah menunggu," jawabku tak lupa dengan kesopanan ekstra.
"Kalau begitu, apa kau ada hubungan khusus dengan putra dari keluarga Duke Floniouse?"
Seketika aku tersentak dalam diam, bukankah dia telah menyamar? Tidak ada seorang pun yang mengenali bahwa itu adalah Arlen. Lalu bagaimana ayah mengetahuinya?
"Maaf sebelumnya, Ayah. Tetapi kenapa Ayah tiba-tiba berkata seperti itu?" kataku.
"Ayah tahu, selama ini kalian berdua bekerja sama dalam proses penjernihan air yang kau usulkan itu bukan?"
Sial, jika aku terus membantah, akan sangat kelihatan bahwa aku membohongi ayah. Kalau seperti itu, yang ada aku bisa kembali kehilangan kepercayaan ayah.
"Ya, itu benar, Ayah. Tapi kami tidak ada memiliki hubungan khusus seperti yang Ayah bilang. Kami hanya sebatas teman yang saling membantu. Mohon Ayah jangan salah paham," cecarku.
Ayah diam sembari menatapku tanpa ekspresi. Apa dia akan memarahiku lagi? Apa dia akan menyakitiku lagi karena aku dekat-dekat dengan Arlen tanpa sepengetahuannya?
"Benarkah? Kalau begitu baguslah," ucapnya membuatku terngaga.
Tidak biasanya dia tenang seperti ini, apa kepalanya baru saja terbentur sesuatu?
"Kau tidak cocok dengan lelaki yang memiliki status sangat tinggi dan dekat dengan keluarga kerajaan seperti dia. Oleh karena itu, kau menjauhlah darinya. Setelah itu, kau bisa memilih calon suami yang memiliki gelar sedikit lebih tinggi dari kita yang bisa menaikkan derajatmu," jelasnya.
Kukira awalnya dia telah sedikit berubah akhir-akhir ini karena aku sering membantunya dan mengharumkan namaku sebagai nona bangsawan terhormat kali ini.
Tapi ayah tetap saja sama. Dia selalu menganggapku adalah propertinya yang bisa ia berikan kepada bangsawan yang lebih tinggi untuk menaikkan derajat keluarga.
Apa mengubah sudut pandang ayah terhadapku sangatlah sulit? Kenapa sesusah itu untuk ayah menganggapku lebih dari sekedar barang yang bisa ia gunakan untuk menaikkan statusnya?
Rasanya aku ingin menyerah saja.
"Maaf, Ayah. Untuk sekarang, aku tidak ingin untuk membangun sebuah keluarga. Apa aku boleh menikmati masa kebebasanku sedikit lebih lama?" tanyaku tak berniat menatapnya.
Yang kulakukan hanyalah berbicara sembari tertunduk, seperti berbicara kepada orang asing.
"Tidak masalah. Karena kau sedikit membantu ayah akhir-akhir ini, kau bisa melakukan sesuatu semaumu, asalkan tidak merugikan ayah. Tapi, ayah tidak ingin menunggu terlalu lama."
"Aku sedikit merasa lelah, Ayah. Bolehkah aku pamit sekarang dan izin kembali ke kamarku?" kataku.
"Baiklah."
"Kalau begitu, aku pamit undur diri, Ayah," pamitku kemudian mengangkat tubuh atasku yang awalnya membungkuk.
Ketika tanganku telah meraih gagang pintu dan berniat memutarnya, tiba-tiba saja suara ayah kembali menghentikan aksiku.
"Semua bangsawan diundang ke pesta perayaan ulang tahun putra Duke Floniouse di kediamannya. Kita akan pergi nanti malam. Kau sebaiknya bersiap-siap beberapa saat lagi," titahnya.
Pesta perayaan ulang tahun? Bukankah ulang tahun Arlen telah lewat beberapa hari lalu?
Ya, sudahlah. Setidaknya sebuah pesta perayaan tidak akan menimbulkan masalah. Meskipun aku tetap harus berhari-hati.
Tak ingin berlama-lama lagi di dalam ruangan ini, aku pun langsung menjawab sembari dengan helaan nafas lelah.
"Baiklah, Ayah."
...~•~...
Gaun berat berwarna perpaduan antara biru tua dan muda yang mengandung banyak permata, membalut tubuhku. Aksesoris rambut yang manis dan berkilau mengapit dan membuat rambutku lebih tertata rapi.
Dengan aku yang menggandeng lengan ayah, kami berdua pun berdampingan melangkah masuk ke aula kediaman Duke Floniouse.
Sudah banyak para bangsawan yang hadir, sepertinya pesta sudah dimulai sejak tadi. Bahkan aula ini tak luput dari suara musik yang bernyanyi dan manusia yang menari.
Ayah pun menyapa beberapa bangsawan, sebagai putrinya tentu aku harus memperlihatkan tata krama yang baik dan sopan santun.
Sebuah senyuman kuukir, sebuah tawa kulayangkan, dan raut wajah bahagia kulukis. Seperti itulah kehidupan bangsawan yang sesungguhnya, mau di manapun atau kapanpun, kau harus berlagak semua baik-baik saja ketika berhadapan dengan bangsawan lain.
Namun tidak ada yang tahu, ada sebuah belati yang berguna untuk menusuk ketika kau lengah. Ya, kelicikan selalu menyertai kehidupan kami. Dan hal itu tak akan pernah punah sampai kapanpun.
Tak lama, tiba-tiba saja seorang lelaki yang menjadi bintang di acara ini muncul di hadapanku.
Seluruh pandangan selalu menyertainya, dan kini aku pun jadi ikutan menjadi pusat perhatian akibat kehadirannya.
Tentu saja, tidak ada wanita yang menyangkal ketampanan dan karisma yang dilayangkan oleh Arlen de Floniouse, calon Duke Floniouse di masa depan.
Mata birunya yang jernih dan bening, siapa yang tidak terpikat dan meleleh di saat benda itu menatapmu dalam?
Ketika rambut pirang terangnya berkilau memantulkan sinar matahari yang menyapu, siapa yang tidak terpana dibuatnya?
Belum lagi dengan proporsi tubuhnya yang mampu memikat seluruh minat wanita, dan kekayaannya yang membuat semua orang berkhayal bisa mencicipinya.
Wanita mana yang tidak akan terpana oleh pesona lelaki itu?
Sebuah uluran tangan dan ajakan penuh hormat tersuguh untukku. Dengan kepala yang ia tundukkan, lelaki itu pun berkata. "Bisakah aku mengambil kehormatan dengan berdansa denganmu, My Lady?"
Para bangsawan yang kembali berbisik, membuatku terusik. Pandanganku langsung tertuju pada ayah. Seperti biasa, ayah tidak terlalu menunjukkan banyak ekspresi. Namun aku tahu bahwa saat ini dia memerintahkanku untuk menerima ajakan ini.
"Suatu kehormatan bagi saya bisa menerima ajakan anda, My Lord," jawabku kemudian menerima uluran tangannya.
Membiarkan dia menangkap telapak tanganku dan mencium punggungnya. Tak butuh waktu lama, kami pun mulai memutari lantai dansa yang licin mengikuti jejak yang lain.
Tidak ada pembicaraan yang menyertai kami. Meskipun kami berdekatan, namun tidak ada satu pun dari bibir kami yang berbicara.
"Kukira kau tidak akan datang," celetuknya.
"Tentu saja saya akan datang, tidak mungkin saya melewatkan pesta ulang tahun anda," jawabku.
"Tak usah formal, aku tak suka," bantah nya.
"Tapi saya harus, karena banyak mata yang memandang," balasku.
"Aku tak peduli. Jangan formal terhadapku."
Sontak aku menghela nafas, dia benar-benar keras kepala. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku, namun hari ini benar-benar terasa sangat melelahkan bagiku. Bahkan untuk berbicara pun rasanya enggan.
Sehingga sampai akhir dari gerakan tarian kami, tak banyak hal yang kami bicarakan.
Entahlah, biasanya banyak hal yang kami bicarakan. Namun kali ini, suasana di antara kami terasa benar-benar dingin.
Apa karena aku masih teringat akan perintah ayah yang menyuruhku untuk tidak dekat-dekat dengannya?
"Kalau begitu, semoga berkat Dewi selalu menyertai anda, My Lord. Saya izin pamit undur diri," pamitku pada lelaki bersurai pirang ini kemudian membungkuk.
Aku langsung menghampiri ayah, dan dia pun langsung menyadari kehadiranku begitu aku tiba.
"Kau bilang tidak ada hubungan khusus di antara kalian? Lalu mengapa dia mengajakmu berdansa?" tanya ayah tak berbasa-basi.
"Aku juga tidak tahu, Ayah. Namun percayalah, seperti yang aku bilang, kami hanyalah teman," jawabku.
Sebuah helaan nafas kasar terhembus dari pernapasan ayah, dan tak lama dari itu semuanya kembali seperti awal.
Kami lanjut membalas sapaan bangsawan yang terlayang, namun tak lama dari itu kehadiran sesosok gadis berhenti pirang emas dengan baju merah mudanya pun menginterupsi.
"Salam, Viscount la Devoline. Salam, Lady Cassandra," sapanya.
Sebuah senyuman membuat terukir di bibirku. "Salam, Lady Emerald."
"Apa kalian menikmati pestanya? Bagaimana dengan dekorasinya? Apa bagus?" tanya Anastasia dengan senyum merekah dan ceria.
"Tentu saja, Lady Emerald. Dekorasinya sangatlah indah," jawabku.
"Benarkah?! Aku ikut senang, karena aku bersama Arlen lah yang telah membuat dekorasinya!" serunya.
Ada yang aneh.
"Wah, kalian ternyata mempunyai selera yang sangat bagus sehingga bisa membuat dekorasi sebagus ini," balasku.
"Terima kasih," cengirnya. "Oh ya, Lady Cassandra. Apa kau punya waktu? Aku ingin bicara sesuatu denganmu."
Tanpa keraguan, ayah pun mengizinkanku hingga akhirnya aku pun ikut pergi ke tempat ke mana Anastasia akan membawaku.
.
.
.
.
"Apa yang ingin anda bicarakan, Lady Emerald?" tanyaku.
Kami berada di belakang taman kediaman mewah ini, dan berada jauh dari aula di mana pesta diselenggarakan.
"Astaga, tak perlu formal. Kita sudah berada jauh dari ayahmu sekarang," kata Anastasia.
"Baiklah, Ana. Jadi, ingin bicara apa? tanyaku.
Anastasia pun tersenyum. "Kudengar, kau membuat proses penjernihan air di kediaman Marquess Thrones. Apa itu benar?"
Ah, apa rumor tentang itu cepat sekali menyebar? Seperti dunia hiburan saja.
"Ya... begitulah," jawabku asal.
"Aku mendengar bahwa Arlen juga pergi ke wilayah Marquess bersamaan denganmu. Apa kalian pernah bertemu?"
Apa ini? Apa dia menginterogasiku?
"Ya. Kami bertemu, dan Lord Arlen juga sempat membantuku," jawabku.
"Anu... Cassandra. Begini, aku ingin memberitahumu sesuatu, tapi bisakah kau berjanji untuk tidak memberitahu siapapun?"
"Ya. Jika kau memang tidak ingin aku memberitahu orang lain."
"Benarkah?! Terima kasih!" serunya. Tak lama dari itu, perempuan ini mendekatiku dan membisikkan sesuatu padaku.
"S-sebenarnya... aku menyukai Arlen. Dan bertepatan pada ulang tahunku tahun ini, kami akan bertunangan."
Aku terdiam. Aku hanya bingung bagaimana membalasnya.
"Cassandra. Kau dan Arlen hanya berteman, bukan?" tanya Anastasia.
Belum sempat aku membalas, dia kembali berkata.
"Oleh karena itu, bisakah kau menjauh dari Arlen mulai sekarang?"
...15.01.2021...