
Previously....
Aku... tak bisa bernafas... Ada sesuatu yang menyangkut... di... tenggorokanku...
Hingga akhirnya aku benar-benar tak bisa merasakan apa-apa lagi setelah mataku tertutup sempurna waktu itu.
Ya, hal itulah... penyebabku bisa kembali bertemu dengannya. Penyebab aku bisa kembali terlempar ke dunia itu.
Semuanya hanya karena... cincin terkutuk.
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter...
...(2)...
"Nona!"
Hah...? Suara siapa itu...? Nona. Apa dia memanggilku?
Kenapa... seluruh tubuhku terasa sakit...? Di.. di mana aku...?
"Nona...! Syukurlah anda sudah sadar!" pekik seorang gadis dengan penuh kelegaan.
Gadis itu berada di sampingku, seraya menatapku dengan airmata yang mengalir deras.
Apa dia tengah menangis untukku? Lagipula... siapa dia ini?
"Nona...! Apa anda masih merasakan sakit?" tanyanya dengan isakan.
"Si... siapa... kau...?" Akhirnya pertanyaan itu terjatuh dari bibirku setelah sekian lama pikiranku bergelut.
Namun entah kenapa... wajahnya terasa sangat tidak asing. Seperti aku sangat sering melihat wajahnya, tapi aku tak tahu kapan lebih tepatnya.
"Sa... saya Reina, Nona. Pelayan anda," jawabnya.
Dia bilang namanya tadi Reina?
Reina...
Otakku terus bekerja, mencari nama itu di ingatanku yang paling dalam.
Tunggu dulu... Reina?! Bukankah itu adalah pelayanku di saat aku masih berada di kediaman ayahku, Viscount la Devoline??!
"Reina!" panggilku.
"Y-ya, Nona?" tanya Reina sedikit kaget karena nada suaraku yang tinggi.
"Apa benar ini kediaman Viscount la Devoline? Kediaman ayahku?" tanyaku memastikan.
Apa... aku benar-benar terlempar kembali di dunia ini? Jika begitu... maka dia...!
"Ya, anda benar, Nona. Ini adalah kediaman Tuan Viscount Christone la Devoline, ayah anda lebih tepatnya," jelas Reina membuatku ternganga.
Itu berarti aku terlempar ke waktu di mana aku belum menikah dengannya?!
"Berapa umurku sekarang?" tanyaku lagi. Aku harus memastikan semuanya secara jelas.
"Anda baru saja menginjak usia 17 tahun kemarin, Nona."
Aku mengangguk-angguk mengerti. Itu berarti aku masih dalam usia remaja. Lalu, apa di usia ini aku telah bertemu dengannya? Atau mengenalnya?
Tapi sebelum itu, ada hal yang harus kutanyakan lagi kepada Reina. Bagaimana aku bisa berada dalam keadaan seperti ini?
Karena sedari tadi aku bisa merasakan lenganku seakan ingin patah, bahkan kepalaku pun terasa pusing.
"Reina, sebenarnya apa yang terjadi padaku? Lengan dan kepalaku diperban, apa aku baru saja terjatuh?"
"Apa anda tidak ingat, Nona? Anda baru saja terjatuh dari balkon kamar anda saat hendak melarikan diri," ungkap Reina membuatku sedikit terkejut.
Oh iya, aku baru saja mengingatnya. Berarti ini adalah kejadian di mana aku berniat kabur melarikan diri dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan paman-paman bangsawan yang tua.
Lagipula, perempuan mana yang ingin dijodohkan dengan paman-paman dengan perut buncit mereka yang menjijikkan?!
"Ah... ya, aku baru mengingatnya," kataku.
"Nona, apa anda ingin sesuatu? Apa anda lapar? Saya akan membawakan anda makanan," tawar Reina membuatku mengangguk.
Karena kebetulan aku juga tengah lapar saat ini.
"Baiklah, kalau begitu saya akan mengambilkannya sekarang," pamit Reina padaku.
Saat Reina membuka pintu, di situlah ada pelayan lain yang berniat masuk ke dalam kamarku.
Pelayan itu kemudian mendekatiku dan membungkuk hormat padaku. "Nona, Tuan Viscount ingin bertemu dengan anda," ujarnya.
Entah kenapa aku menjadi sedikit gugup. Karena ayah yang aku ingat merupakan ayah yang tegas dan selalu memandang tinggi status.
"Baiklah. Kalau begitu, bisakah kau membantuku berpakaian?"
"Tentu, Nona. Saya akan membantu anda."
...~•~...
Baiklah. Tarik nafasmu dalam-dalam, Cassandra. Tidak ada hal yang perlu ditakutkan.
Walaupun ayah adalah orang yang tegas dan cepat marah, kau tetap anaknya. Dia tidak mungkin menyakitinya.
Sudah berapa kali aku mengatakan hal itu untuk menenangkan diriku, namun tetap tidak berhasil.
Tanganku bergetar dengan kakiku yang mulai terasa lemas. Ketakutan mulai menyerangku, meskipun aku tak tahu kenapa aku sangat ketakutan seperti ini.
Dengan gemetar, aku mulai mengetuk pintu ruang kerja ayah lalu kembali menarik nafas dalam.
"Masuklah."
Terdengar suara yang berat dari dalam, membuatku semakin bergemetaran tapi aku berusaha untuk tenang dan mulai membuka pintu tersebut.
"Apa Ayah memanggilku?" tanyaku ketika mendapati sosok pria yang tengah membelakangiku menatap jendela.
"Ya. Mendekatlah, ada yang harus Ayah sampaikan padamu," perintahnya.
Aku hanya bisa menurut. Dengan perlahan, aku mendekat ke arahnya dan dia mulai menghadap ke arahku.
Ayah menatapku tajam. Sehingga kepalaku tertunduk begitu saja, tak berani membalas pandangannya.
"Angkat kepalamu, Cassandra."
Kuangkat kepalaku dengan ragu-ragu mengikuti perintahnya, kemudian layangan telapak tangan yang keras memukul pipiku.
Plak!
Tubuhku terhuyung hingga pangkal pahaku menampar lantai. Aku menyentuh pipiku yang terasa panas dan perih.
Belum ada pembahasan ataupun masalah yang kami bicarakan, namun sebuah tamparan sudah melayang duluan.
Apa kesalahanku, sebenarnya?
"Kau membuat Ayah malu! Apa kau tidak bisa sedikit saja menurut pada Ayah?! Apa kau tidak bisa diam dan tidak mengacaukan apapun?!"
Sebuah bentakan menggema di ruangan kerja ini, apa dia tengah membahas hal yang aku perbuat tadi malam?
"Apa kau tidak memikirkan bagaimana malunya aku ketika putriku sendiri kabur dan melarikan diri dari sebuah pesta pertunangan?! Apa kau tak memikirkan bagaimana pandangan orang-orang terhadap Ayah?!" cecar Ayah menyalahkan diriku.
Apa aku salah jika aku tidak ingin menyerahkan diriku kepada orang yang tidak aku cintai?
Apa aku salah jika aku ingin berbahagia dengan lelaki pilihanku sendiri?
"Hanya karenamu, nama baik keluarga kita menjadi tercemar. Banyak bangsawan mulai mencemooh kita, apa kau tak pernah memikirkan perasaan Ayah?! Apa kau tak pernah memikirkan bagaimana akibatnya jika kau bertindak sembarangan?!"
"Lalu bagaimana dengan Ayah sendiri? Apa Ayah pernah memikirkan perasaanku ketika Ayah ingin menikahkanku dengan pria yang tidak kukenal? Apa Ayah pernah memikirkan nya?" sergahku secara cepat.
Ayah tampak menatapku terkejut dengan wajahnya yang menyeramkan. Namun aku tak peduli, karena aku juga punya hak untuk menjalani hidupku sendiri.
"Apa Ayah pikir semua yang Ayah rencanakan untuk hidupku bisa menjamin bahwa aku bahagia? Apa Ayah pikir aku adalah boneka yang bisa menuruti seluruh keinginan Ayah?"
Nada bicaraku mulai melemah, entah kenapa hatiku terasa sangat sakit. Ketika dia mengatakan bahwa aku hanya bisa menimbulkan masalah untuknya.
Ketika dia memintaku menuruti seluruh kehendaknya yang egois. Aku manusia, aku punya perasaan. Aku punya keinginan sendiri.
Tidak seperti boneka yang akan selalu menuruti apa yang pemilik mereka hendak kan.
"Aku putrimu, Ayah. Aku mempunyai keinginanku sendiri, aku mempunyai rencana untuk hidupku sendiri. Aku ingin berbahagia, Ayah," ungkapku.
Jika dulu, aku sama sekali tidak berani menentang ayah. Aku hanya bisa menuruti kehendak ayah.
Walaupun aku terkadang suka melarikan diri dan berusaha bebas, meskipun ujung-ujungnya aku akan tetap tertangkap.
"Keluar, Ayah tidak ingin melihatmu," usirnya membelakangiku.
Aku benar-benar tidak tahu. Sebenarnya tipe anak seperti apa yang akan membuat Ayah senang.
Hal yang akan membuat Ayah tersenyum... sekali saja.
...~•~...
Selepas keluar dari ruang kerja ayah, aku sekarang tengah mengitari rumah ini.
Rumah yang menjadi tempatku tumbuh, rumah yang menjadi tempat tinggalku, dan rumah yang menjadi saksi bisu penderitaanku.
Cat berwarna putih yang mendominasi, tiang-tiang yang kuat dan tinggi, entah kenapa aku menjadi merasa tenang.
Aku mengingat setiap inchi dari rumah ini setelah kejadian menyakitkan itu, seluruh kejadian yang terjadi padaku, aku mengingat semuanya.
Pertama kali aku bertemu dengan pria itu di pegunungan yang dihiasi oleh matahari terbenam, sosok Anastasia yang masih lugu dan belum termakan oleh dendam.
Ya, itu semua sebenarnya salahku. Andaikan aku waktu itu tidak takut dengan ancaman ayahku, aku pasti akan menolak menikahi Arlen.
Tapi... aku juga merasa bersyukur bisa mendapatkan pria sepertinya. Bisa dibilang aku sangat beruntung.
Kalau begitu, jika aku tidak ingin takdirku kemarin terulang kembali, apa itu berarti aku harus mengubah sebagian besar kisahnya?
Apa aku harus membatalkan pernikahanku terlebih dahulu? Agar Anastasia tidak membenciku.
Karena asyik dengan lamunanku, aku tak sadar ada seseorang di depanku hingga aku terjatuh.
Saat aku mendongakkan wajahku untuk melihat siapa yang aku tabrak, mataku tak bisa untuk tidak membelalak.
"Kau?"
...~•~...
Seorang pria berumur tengah mondar-mandir di ruang tamu rumahnya yang cukup mewah.
Sang empu tengah menunggu seseorang yang akan segera sampai ke kediamannya, kemudian mereka akan membincangkan kesepakatan mereka.
Tak lama ia menunggu, akhirnya sosok yang ditunggunya datang juga. Lantas, pria itu dengan sopan mempersilakan tamunya untuk duduk dan mencari posisi nyaman.
Secangkir teh terpatri di hadapan mereka, kemudian perbincangan yang akan dibahas pun kini terucap.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Viscount Devoline." Sebuah sapaan menjadi pembuka.
"Ya, sepertinya anda sedikit sibuk belakangan ini, Earl Yersey."
"Begitulah, karena putra saya yang akan meneruskan gelar ini, saya harus mengajarinya banyak hal."
"Pasti sangat melelahkan. Tapi saya yakin putra anda akan menjadi penerus yang baik," puji Viscount Devoline.
"Ya, saya yakin Thomas akan menjadi bangsawan berbakat seperti ayahnya," gelak Earl Yersey mengundang tawa antara keduanya.
Tak lama dari itu, Earl Yersey menyesap secangkir teh yang berada di hadapannya dan mulai mengaitkan kedua telapak tangannya di atas paha.
"Baiklah. Sepertinya alasan aku kemari tidak bisa aku tunda lagi. Viscount, apa anda benar-benar ingin menjalin ikatan keluarga di antara kita?" tanya Earl Yersey dengan sopan dan langsung pada inti.
Viscount Devoline tersenyum sehingga wajahnya mulai berkerut. "Tentu saja, Earl. Bukankah anda yang meminta hal ini? Saya sebagai ayah yang baik, tentu akan dengan senang hati menyerahkan putri saya pada putra anda yang bijak dan kompeten," paparnya.
"Baguslah jika begitu. Karena Thomas sudah lama menyukai Lady Cassandra, dan putraku itu sungguh keras kepala. Dia bersikeras menjadikan Lady Cassandra sebagai istrinya," jelas Earl disertai hembusan nafas lelah.
Tawa ringan kembali menghiasi Viscount bersurai coklat itu. "Putri saya sungguh beruntung bisa disukai oleh lelaki bertanggung jawab seperti Thomas."
"Kalau begitu, haruskah kita mempertemukan mereka terlebih dahulu? Agar mereka bisa mengenal lebih dalam satu sama lain. Kebetulan saya akan mengadakan pesta malam ini, apa anda dan Lady berkenan untuk datang?" saran Earl dibalas respon setuju oleh lawan bicaranya.
"Tentu saja. Sebuah kehormatan bagi kami untuk bisa menghadiri pesta yang anda adakan, Earl."
...~•~...
"Kau?"
Aku sedikit terkejut dengan lelaki yang ada di hadapanku ini. Ternyata dia sungguh jauh berbeda ketika dia telah dewasa.
"Ada apa? Kau seperti habis tengah melihat hantu merangkak saja," celetuknya.
"Ya, dan kaulah hantunya," ejekku padanya seraya terkekeh. "Sedang apa kau di sini, Frost?"
Ya, dia adalah Frost. Sahabat masa kecilku.
"Tidak ada, hanya ingin menemui sahabatku yang jelek ini saja," kelakarnya seraya merangkulku bahuku dari samping.
"Hei, lepaskan! Kau bau tahu!" kesalku karena dia membuat rambutku yang tertata rapi kini mulai berantakan.
"Cih, kau sombong sekali. Apa karena efek dari seorang wanita yang akan menikah kau jadi sombong?"
"Tentu saja tidak, sombong hanya karena ingin menikah, itu bukan sifat...," ucapku tenggelam di akhir.
Barusan dia bilang apa?
"Tunggu, kau barusan bilang apa?" tanyaku memastikan dengan alisku yang mulai mengerut bingung.
"Hm? Memangnya kenapa?" Frost bertanya balik.
"Sudahlah katakan saja," balasku secara cepat.
"Kau sombong?"
"Bukan, bukan yang itu. Yang satunya lagi."
"Maksudmu perkataan tentang kau wanita yang akan menikah?"
"Ya! Yang itu!" ujarku secara cepat dan sedikit berteriak. "Apa maksudmu bahwa aku adalah wanita yang akan segera menikah? Seingatku aku tak pernah berkata hal itu padamu?" tanyaku heran.
"Kau tidak tahu? Apa ayahmu tidak memberitahumu?" Frost bertanya balik membuatku semakin bingung dan mulai resah.
"Baru saja ayahmu memberitahuku, bahwa kau akan menjadi menantu Earl Yersey. Dan kau akan menikahi putranya tak lama lagi," jelasnya membuatku membulatkan kedua mataku.
Bagaimana tidak?! Aku baru saja terlempar secara tiba-tiba, lalu aku mendapat tamparan tepat setelah aku merasakan rasa sakit di sekujur tubuhku.
Sekarang? Aku akan menikah dengan lelaki asing tanpa sepengetahuanku?! Ayah sudah benar-benar keterlaluan!
"Apa maksud semua ini?! Aku tak mengetahui sedikitpun hal ini, dan ayah dengan teganya melemparku pada lelaki asing yang sama sekali tidak kuketahui," cecarku tak bisa menahan emosi yang mulai tersulut.
"Melempar? Kata itu sepertinya terlalu berlebihan--"
"Berlebihan?! Lalu tentang ayahku yang tiba-tiba saja menikahkan diriku dengan lelaki asing, apa hal itu tidak berlebihan?!"
Frost terdiam ketika aku berteriak. Ah, aku seharusnya tidak melampiaskan semua ini padanya.
"Maaf, Frost... hanya saja... ini semua terlalu berat bagiku...," lirihku.
Aku pasti sangat menyebalkan saat ini, tiba-tiba saja melampiaskan emosiku pada sahabatku yang tidak ada salah padaku.
"Tidak apa... aku mengerti. Jika aku berada di posisimu, aku pasti akan bersikap sepertimu," lontarnya membuatku tersenyum.
"Ternyata, sahabatku yang satu ini memang pengertian! Aku menyanyangimu!" seruku berpura-pura akan melayangkan kecupan padanya.
"Menjijikan! Menjauhlah dariku, dasar wanita kurang belaian!"
"Hah?! Apa kau bilang?!"
Dengan segera aku memukul bahunya dan tak lama dari itu gelak tawa kini menyertai kami.
Sudah lama, aku tidak tertawa lepas seperti ini.
"Oh ya, Frost. Apa kau mengenal lelaki dari keluarga Duke Floniouse?" tanyaku sedikit ragu.
"Keluarga Duke Floniouse? Maksudmu Arlen?"
Mendengar namanya saja, membuatku nafasku terampas begitu saja.
"Ya... Arlen. Apa kau mengenalnya?"
"Tentu saja aku mengenalnya. Dia adalah sahabatku. Kenapa? Kau suka padanya?" tebaknya tepat sasaran.
Dia kemudian mengeluarkan senyum jahil seraya menatapku dengan kedua alisnya yang terangkat.
"Jangan mengada-ada! Siapa yang menyukainya? Aku hanya ingin bertanya," sergahku secara cepat.
"Benarkah? Hanya sekedar ingin bertanya? Tidak ada maksud lain?"
"Ya. Tidak ada maksud lain, dan tolong. Berhentilah menatapku dengan wajah menjengkelkanmu itu."
Dia kembali tergelak. Namun tak lama dari itu, tiba-riba saja terdengar suara yang memanggilku.
"Nona, anda diperintahkan Tuan Viscount untuk segera menemui beliau."
...06.01.2021...