
Previously....
Sosok itu tersenyum miring dalam diam, ternyata membodohi gadis yang masih labil akan perasaannya sendiri, sangatlah menyenangkan.
"Aku akan mencoba... membuat mereka kehilangan sosok yang mereka kasihi."
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter...
...(34)...
Hari-hari yang tenang di negeri Erosphire, kini tidak selamanya terpelihara. Kedamaian dan ketenangan yang biasanya selalu memenuhi udara, kini digantikan dengan bisikan dan kecurigaan terhadap satu sama lain.
Rumor tentang mahluk itu telah menyebar, rumor tentang kekuatan misterius itu telah membaur.
Kehidupan masyarakat kini tak lagi lepas dari sebuah pikiran negatif dan rasa waspada jika serangan mahluk terhina itu kembali beraksi.
Semua itu berawal dari sebuah ledakan besar yang terjadi di gedung belakang istana. Di mana terlihat sebuah sekelompok sosok yang membalut tubuh mereka dengan sebuah jubah aneh.
Ledakan itu sangat besar, membuat para penjaga langsung tergopoh-gopoh dibuatnya.
Sekelompok sosok yang tak diketahui identitasnya itu sempat mengobrak-abrik seluruh gedung belakang istana, sehingga membuat bangunan itu telah hancur sebagian.
Anehnya, ketika ada sebuah asap yang menutupi penglihatan para penjaga, tiba-tiba saja sekelompok itu hangus menghilang bak angin berlalu.
Bahkan di hari-hari selanjutnya, berbagai serangan kembali terjadi secara acak di seluruh penjuru negeri Erosphire.
Tidak hanya itu saja, sekelompok sosok misterius itu juga meninggalkan catatan yang selalu berisikan beberapa kata patah yang sama.
Tepat saat itulah, para orang-orang mulai merasa gelisah, takut, cemas, khawatir, dan yang lebih parah... para rakyat lebih mudah berpikiran buruk tentang orang-orang di sekitarnya.
Penyihir.
Rumor tentang mereka yang menyerang kerajaan telah menyebar luas bagaikan hamparan samudra, bahkan ada yang beranggapan bahwa penyihir memiliki ciri-ciri tertentu, yakni sebagai berikut.
Pertama, penyihir dapat berteleportasi sebelum mata bisa menangkap kehadiran mereka.
Kedua, jenis kelamin mereka diyakini semuanya wanita.
Ketiga, mereka bisa membunuh tanpa meninggalkan jejak apapun.
Dan terakhir... darah mereka diyakini berwarna hitam legam.
Karena merasa terancam, para rakyat tak segan mendatangi istana beramai-ramai dan mengemukakan keluhan mereka atas ancaman yang mulai menyerbu.
Akhir-akhir ini, istana selalu disibukkan dengan rapat yang membahas tentang ancaman tanpa identitas tersebut tanpa henti.
Terlebih lagi dengan desakan keluhan dari para rakyat, membuat para bangsawan yang terlibat dalam upaya penangan peristiwa menggemparkan itu sangatlah kelelahan.
Namun, selalu ada kejanggalan setiap kali penyerbuan itu terjadi. Seperti yang telah dikatakan, para kelompok penyerang itu selalu meninggalkan surat yang berisikan pesan yang sama.
Pesan yang membuat posisi seseorang terancam, pesan yang membuat posisi seseorang semakin tersudut.
Pesan... yang mampu membuat para rakyat oleng kepada keputusan yang akan menjadikan pangeran kedua sebagai pemimpin negeri selanjutnya.
Jika putra mahkota tidak kunjung diturunkan dari kandidat raja selanjutnya, maka kami akan terus menyerang seluruh kerajaan.
Itulah... isi dari pesan tersebut.
...~•~...
"Jika terus seperti ini, maka sekelompok penyihir itu akan terus menyerang negeri kita!"
"Itu benar! Kita harus cepat membuat keputusan, sebelum kita kehilangan lebih banyak nyawa!"
"Para rakyat terus meminta pertolongan, tentu saja kita tidak bisa mengabaikan mereka begitu saja!"
"Mohon pertimbangkan, Yang Mulia!"
Berbagai desakan terus bermunculan, membuat seorang pangeran berstatuskan putra mahkota yang berada di dalam ruangan itu berdecak kesal.
Ia tak melepaskan kepalan tangannya sedari tadi, berusaha menahan emosi yang menggebu-gebu dan mengalir ke seluruh denyut nadinya.
Kenapa? Dia sendiri bahkan tidak mengenal siapa orang-orang tersebut, dan kini tiba-tiba saja sekelompok penyihir itu ingin dirinya turun dari kandidat raja selanjutnya.
Lelucon macam apa yang tengah bermain saat ini?
Raja Hamilton saat ini berpikir dengan kerutan di dahinya. Pria yang menjadi pemimpin kerajaan yang tengah dilanda ancaman itu sungguh bingung.
Di sisi lain, dia harus melindungi para rakyatnya. Dan di sisi satunya, dia juga harus memikirkan anaknya.
Tidak mungkin dia langsung saja menurunkan putra mahkota dari posisi kandidat raja selanjutnya.
Merasa tak cukup, raja Hamilton pun kembali berkata mencoba mencari pendapat yang bisa ia pertimbangkan.
"Bagaimana denganmu, Duke Floniouse? Apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi masalah ini?" tanya raja Hamilton pada lelaki bersurai pirang yang baru saja menyandang gelar barunya.
Seperti yang dijanjikan, lelaki itu mengambil haknya setelah memenuhi kewajibannya memenangkan perang antara kerajaan Erosphire dan Uraby beberapa hari yang lepas.
Dialah Duke Arlen de Floniouse. Putra pertama dari keluarga Floniouse, bintang yang telah membawa perjuangan para ksatria pemberani pada kemenangan melalui lorong penderitaan.
Arlen pun terdiam dengan pandangan menelisik dan sikap tenangnya seperti biasa, tak lama dari itu beberapa pendapatnya terucap dari bibirnya.
"Menurut saya, alangkah baiknya kita memikirkan keselamatan rakyat. Saya bukan bermaksud menyingkirkan pangeran Yari dari tahta, namun sebuah kerajaan tidak akan sanggup berdiri tanpa rakyatnya," papar lelaki itu tanpa ada nada sedikitpun dalam kalimatnya.
Keheningan melanda, para bangsawan lain yang hadir tampak mempertimbangkan. Mereka ingin berbicara, namun takut menyinggung putra mahkota.
Kemungkinan terburuk, mereka bisa kehilangan napas mereka saat itu juga.
"Saya rasa, pendapat Duke Floniouse bisa dipertimbangkan."
Tiba-tiba, pangeran lain yang hadir dalam rapat itu bersuara, mencuri seluruh perhatian untuknya.
Pangeran kedua kerajaan Erosphire, pangeran Darren Erosphire.
"Apa yang membuatmu merasa bahwa pendapat Duke Floniouse pantas dipertimbangkan?" sela pangeran Yari sarkas.
"Kumohon jangan tersinggung. Tentu saja aku tidak sembarang bicara," balas pangeran Darren dengan senyuman. "Aku hanya merasa bahwa keselamatan rakyat adalah prioritas utama kita, dan nyawa mereka sangat berharga bagi kita."
Pandangan tak suka mulai terpancar dari tatapan pangeran Yari. Ia melayangkan tatapan tajam pada pangeran Darren, begitupun Arlen.
"Maaf jika saya menyela, benar apa yang dikatakan oleh Duke Floniouse dan Yang Mulia Pangeran Darren bahwa keselamatan rakyat sangat penting, namun tentu kita tak bisa asal-asalan menentukan pemimpin selanjutnya dari negeri ini, bukankah begitu?"
Salah satu bangsawan yang berada pada pihak pangeran Yari bersuara, kembali mengundang perhatian.
"Rakyat memang penting untuk membuat sebuah kerajaan berdiri, tetapi bukankah seorang pemimpin yang baik yang harus menopang segala hal untuk kerajaannya?"
Bangsawan bergelar Marquess itu kembali berbicara, namun sepertinya dia belum puas mengemukakan pendapatnya.
"Bukankah segala hal tentang kandidat ini diadakan untuk mencari pemimpin yang layak? Jika hanya karena serangan, salah satu peserta diturunkan dari gelarnya. Lantas, apa hal itu bisa disebut adil?"
Bisikan demi bisikan terdengar. Pendapat dari Marquess itu terdengar sangat meyakinkan di pendengaran mereka. Membuat raja Hamilton kembali berpikir-pikir.
"Jika kita terus menuruti kehendak musuh, bukankah mereka akan terus memeras kita?"
Pangeran Yari merasa sedikit tenang ketika mendengar pendapat itu, dan dia merasa bahwa dia sedikit terselamatkan karena cara pandangan bangsawan lain terhadapnya.
Pangeran Darren dan Arlen terdiam, mereka tidak lagi mengeluarkan kata-kata.
Hingga tak lama, sebuah pendapat terlontar dari sosok gadis bersurai coklat panjang yang sedari tadi diam mengamati seluruh perdebatan.
Perhatian, kini teralihkan pada dirinya yang mulai mengucapkan kalimat demi kalimat.
Cassandra menatap Marquess itu dengan seksama. Kemudian kembali berkata. "Anda tentu bisa berkata seperti itu karena anda adalah orang yang mempunyai keamanan tinggi. Namun, apa anda bisa bertanggung jawab dengan kematian mereka atas keadilan yang anda maksud?"
"Tapi bukankah kehidupan selalu berjalan seperti itu? Manusia akan selalu menghadapi bahaya, anda tak bisa melimpahkan alur hidup mereka dan menjadikannya sebagai tanggung jawab saya," balas Marquess tersebut.
Cassandra berdecak dalam diam. "Jadi anda akan selalu berpikir bahwa kematian rakyat sudah menjadi takdir mereka? Jadi anda akan terus berpikir bahwa kelalaian anda dalam menjaga keselamatan mereka, sudah menjadi garis takdir mereka?"
"Beraninya kau...!" geram Marquess itu sontak berdiri dengan tatapan membunuh.
Gadis bernetra garnet itu tak gentar, ia justru membalas tatapan menyalang itu tanpa ada rasa takut.
"Sudah cukup! Kami di sini tidak ditugaskan untuk mendengar perkelahian kalian," sahut raja Hamilton menengahi perdebatan mereka.
Setelah mendengar peringatan, Marquess itu langsung mendengus napas kasar. "Maafkan saya, Yang Mulia."
"Maafkan saya telah membuat keributan di rapat yang sangat penting ini, Yang Mulia," ujar Cassandra membungkukkan badan kemudian kembali duduk ketika raja Hamilton menganggukkan kepala.
"Baiklah jika begitu, apa ada yang masih ingin mengeluarkan pendapat?" tanya raja Hamilton.
Semua bangsawan kembali terdiam, ide mereka sudah terkuras karena rapat-rapat yang sudah diadakan beberapa hari yang lalu.
Mereka terdiam, enggan dan tak mampu lagi mengungkapkan ide yang tak kunjung terlintas di benak mereka.
"Saya, Yang Mulia."
Lagi-lagi, perhatian kembali terebut oleh gadis bersurai coklat panjang yang tengah mengangkat tangannya tersebut secara anggun.
"Apa anda yakin tidak akan menganggu kelancaran rapat ini lagi?" Raja Hamilton berkata.
"Ya, Yang Mulia. Saya telah belajar dari kesalahan saya." Gadis itu menundukkan kepala, kemudian mulai berbicara ketika telah mendapatkan isyarat izin.
"Bagaimana, jika kita mempercepat seleksi untuk menentukan siapa penerus raja selanjutnya, Yang Mulia?" usul gadis itu mengundang kebingungan yang melanda orang-orang yang hadir di rapat itu.
Apa hubungannya seleksi penentu raja selanjutnya dengan ancaman yang menyerang kerajaan?
"Apa maksudmu, Countess?" Raja Hamilton mulai tertarik, usulan ini sangat berbeda dari yang lain.
"Seperti yang Marquess Feron bilang sebelumnya, bahwa keadilan harus disertakan untuk menentukan siapa penerus raja selanjutnya," papar gadis itu.
"Bagaimana jika... kita menguji kemampuan dari para kandidat sekarang juga? Dengan begitu, ketika telah terputuskan siapa yang menang, barulah kita akan memihak salah satu dari mereka untuk tindakan penanganan ancaman ini," imbuhnya.
Raja Hamilton kembali berpikir, ini bukanlah hal buruk. Namun, dia harus membutuhkan contoh yang tepat agar bisa meyakini pendapat itu.
"Bisakah kau memberi contoh? Kegiatan seleksi apa yang bisa membuat para kandidat pantas untuk menjadi raja selanjutnya?" tanya raja Hamilton.
Cassandra sempat terdiam membuat suasana semakin mencekam, tak lama dari itu semua orang terperangah ketika kalimat anomali terlontar dari bibirnya.
"Perang antara Erosphire dan Nephorine, bukankah kerajaan mereka telah memberi isyarat kepada kita untuk mengadakan perang?"
Semua orang terbelalak, tidak untuk pangeran Darren begitupun Arlen. Mereka seakan tak terbawa oleh arus mencekam yang menerjang.
"Perang?! Bukankah tujuan awal kita hanyalah untuk mencari solusi atas ancaman dari para kelompok penyihir itu?!" sergah Marquess Feron tak terima.
"Ancaman yang anda bilang tidak hanya sebatas ancaman biasa. Bukankah anda sendiri yang bilang bahwa mereka adalah para kelompok penyihir? Kekuatan mereka sudah pasti di luar pemikiran kita. Andaikan mereka kesal lalu langsung meledakkan dan menghancurkan negeri ini, apa yang akan anda lakukan?" cecar gadis itu panjang lebar.
Mendengar itu, para bangsawan lain langsung bergidik ngeri. Itu benar, ini adalah ancaman yang sangat berbahaya.
Penyerbu itu adalah seorang penyihir, sudah pasti kekuatan mereka di luar nalar.
"Andaikan mereka menyebarkan racun mematikan tanpa sepengetahuan kita lalu kematian menghampiri kita semua, apa anda bisa mengatasinya?" Cassandra tak bisa berhenti bicara.
Dia harus membuat lawannya tak lagi bisa berbicara balik dan menyela dirinya.
"Menunda-nunda sesuatu lebih lama, tidak akan membuat situasi lebih baik. Harap ingat itu, Marquess," lanjut gadis itu penuh penekanan.
Bimbang, khawatir, dan takut kembali terpancar. Emosi itu lagi-lagi menguasai dan menyeruak di antara pikiran negatif yang berkeliaran.
Suasana yang awalnya biasa-biasa saja, kini bertukar menjadi sangat mencekik akibat rasa paranoid yang membanjiri.
Jika memang benar apa yang dikatakan gadis bergelar Countess itu benar, bukankah kekalahan besar telah tepat di hadapan mereka?
"Usulan Countess benar! Kita tidak bisa menunda! Mohon keputusan anda, Yang Mulia!"
"Keselamatan negeri ini sudah benar-benar terancam, kita tak bisa lagi bertindak seolah tidak terjadi apa-apa. Mohon kebijakan anda!"
"Keselamatan adalah hal yang terpenting, mohon anda mempertimbangkannya, Yang Mulia!"
Suasana yang ricuh, desakan yang beragam terdengar menusuk telinga. Ruangan itu sudah dipenuhi oleh rasa takut akan kematian.
Manusia mana yang tidak akan merasa takut ketika kematian telah berada tepat di depan mereka untuk menusuk mereka?
Perasaan kacau balau, pikiran yang tidak jernih, batin yang terguncang, tentu semua itu bisa membuat manusia hancur.
Itu benar. Hal itulah yang diincar gadis bergelar Countess itu sejak awal. Di rapat-rapat permulaan, dirinya sengaja untuk diam dan tak berpendapat apapun.
Dalam diam, dia tersenyum licik ketika melihat suasana di antaranya.
Dia hanya tinggal menunggu tanggal mainnya saja. Rencana? Cassandra sudah memikirkan dan mempersiapkan hal itu sejak lama-lama sekali.
Dukungan? Dengan seorang Duke dan pangeran yang melindunginya, apalagi yang bisa ia minta?
Tanpa sadar, rapat itu kini telah berakhir dengan keputusan raja yang masih bimbang akan seluruh pendapat yang berbeda-beda.
"Untuk sementara, aku akan kembali memikirkan ini lagi. Kita akan bertemu dalam dua hari lagi dalam rapat yang sama, harap semua bisa bekerja sama. Kalian boleh keluar."
Keputusan terakhir raja menjadi penutup dari rapat yang dipenuhi oleh perdebatan itu.
...~•~...
Setelah rapat itu telah usai, Cassandra, Arlen, dan pangeran Darren kembali berbincang di sebuah tempat persembunyian rahasia mereka.
Tempat di mana seluruh alat, bahan, dan materi mereka diperlukan untuk membuat pemberontakan tersembunyi ini.
"Bagaimana bisa kau mempengaruhi orang-orang dengan begitu mudah, Countess? Aku bahkan hampir tidak mengerti apa yang sedari tadi kau bicarakan," celetuk pangeran Darren terkekeh.
Cassandra pun ikut tertawa kecil dibuatnya. "Saya hanya mengatakan apa yang ada di pikiran saya. Hanya itu saja, Yang Mulia," jawabnya.
"Benarkah? Justru aku merasa bahwa kau mungkin telah menghafal seluruh dialog yang akan kau bicarakan. Kau sangat hebat," balas pangeran Darren masih setia dengan kekehan.
"Terima kasih atas pujian anda, Yang Mulia. Saya sangat tersanjung mendengarnya." Cassandra tersenyum.
Tak lama dari itu, gadis bersurai coklat tersebut melirik lelaki pirang di sampingnya. "Apa kau tidak ingin mengatakan apapun padaku?" ujarnya terdengar merajuk.
Arlen melirik sejenak, kemudian kembali menatap lurus ke depan. "Banyak pujian yang ingin aku berikan padamu. Namun aku takut kau tak akan sanggup menerimanya," jawab lelaki itu terdengar menggoda.
Entah kenapa, tiba-tiba Cassandra merasakan panas di pipinya. Perasaan ini, selalu ia rasakan. Dan menurutnya, hal itu sangatlah manis.
"Aih, jangan saling menggoda di hadapanku. Aku merasa seperti mahluk tak kasat mata," celetuk pangeran Darren.
Cassandra merasa malu, sepertinya pangeran Darren selalu menangkap basah perlakuan memalukan mereka.
"H-haha, maafkan kami, Yang Mulia," ucap gadis itu menggaruk tulang rahangnya dengan jari telunjuk.
Pangeran Darren tergelak. "Aku hanya bercanda! Kau tidak perlu merasa malu seperti itu!"
Pangeran kedua kerajaan Erosphire itu tertawa lepas, tak lama dari itu dia pun kembali tersenyum dan bertanya.
"Tapi aku masih heran, Countess. Bagaimana bisa anda membuat para penduduk desa Cermony itu terlihat benar-benar seperti penyihir sungguhan?" tanya pangeran Darren tak bisa menahan rasa penasarannya.
Cassandra tersenyum penuh arti. "Ini akan menjadi cerita yang panjang. Saya harap, anda tidak akan bosan mendengarnya."
...06.03.2021...