
*Happy reading 📖📖 guys*
Sebersit sinar terang menyilaukan pandangan saat aku mencoba membuka mata. Aku kembali memejamkan mata sejenak, lalu membukanya perlahan. Aroma tajam obat-obatan dan keadaan serba putih di sekitar, meyakinkanku kalau aku berada di rumah sakit.
Saat mengangkat tangan kananku, aku menemukan selang infus di sana. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari sosok Deon, tapi tidak kutemukan.
Kemudian aku teringat kalau sebelumnya berada di kantor, perdebatan yang terjadi dengan wanita itu, lalu aku terjatuh sebelum pada akhirnya semua menjadi gelap.
“Sayang, kamu sudah sadar?” Deon yang baru membuka pintu kamar, berjalan masuk dengan cepat.
“Air …,” ucapku lemas.
Deon segera mengambil gelas yang berisi air mineral untukku. Aku meminumnya dengan pelan. “Apa yang telah terjadi padaku?” tanyaku.
Deon menggenggam tanganku. “Kamu mengalami pendarahan karena terjatuh.”
“Pendarahan?” Dahiku mengerut bingung. Apakah jatuh bisa sampai mengalami pendarahan?
Tiba-tiba aku merasa wajahku disentuh. Aku menoleh, lalu Deon mengecup kilat bibirku. “Jawab pertanyaanku dengan jujur, Sayang. Sudah berapa lama kamu berhenti minum pil kontrasepsi?”
Mataku melebar karena terkejut mendengar apa yang barusan ditanyakan oleh Deon. Kenapa dia bertanya seperti itu? Dari mana dia tahu?
“Apakah itu berarti … kamu sudah siap untuk menikah?” tanya Deon lagi.
“Apa maksudmu?” Aku berusaha menutupi rasa gugup yang datang dengan berpura-pura tidak mengerti. Deon terdiam dan melihatku dengan tatapan teduh.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanyaku lagi.
Deon menarik bibirnya kemudian mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan wajahku. Tangannya mengusap kepalaku. “Kita akan segera menjadi orang tua, Sayang. Kamu hamil,” ucap Deon dengan begitu jelas. Dan aku terpaku. Hamil?
“Kenapa kamu diam saja, Sayang? Apa … kamu tidak senang akan menjadi seorang ibu?” nada suara Deon terdengar ragu-ragu.
Aku hanya diam. Tidak tahu ingin mengucapkan apa karena aku masih tidak percaya dengan apa yang kudengar.
“Sayang, kamu pernah lupa minum pil itu? Maka dari itu, kehamilan ini di luar rencana?” tanya Deon lagi, membuat alisku terangkat dan melengkung. “Aku tidak peduli kamu menyukainya atau tidak, kamu tetap harus melahirkan anak ini.”
“Aku tidak bilang akan aborsi.”
“Tapi kamu terlihat tidak menyukai berita ini,” ucap Deon sedikit emosi.
“Bukan seperti itu. Aku hanya … tidak percaya aku akan menjadi seorang ibu,” jawabku pelan.
Deon menyentuh pipiku sambil menatapku penuh kasih sayang. “Kamu tidak tahu, sekarang aku merasa menjadi pria paling beruntung. Mengetahui kenyataan, wanita yang kucintai sedang mengandung anakku, betapa bahagianya diriku.”
Rasanya aku ingin menangis saat itu juga, tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu. “Apa anak kita baik-baik saja?” tanyaku panik.
“Dokter bilang janinnya baik-baik saja sekarang, tapi kamu harus banyak istirahat dan jangan stress. Juga harus lebih berhati-hati atau kita bisa kehilangan anak kita. Trimester pertama lebih rentan.”
Aku menghela napas lega. Kemudian aku mengelus perutku yang masih rata. Beberapa tetes air mata haru mengalir dari kelopak mataku.
“Mulai sekarang, kamu harus menjaga dirimu karena ada malaikat kecil di sini. Aku akan terus berada di sampingmu. Melindungi buah cinta kita berdua. Dan aku akan menjadi Ayah yang terbaik untuknya.” Deon turut mengikuti pergerakanku, mengelus perutku kemudian mengecupnya pelan.
Deon menatapku dalam-dalam. “Aku yakin Tuhan menciptakanmu untuk aku cintai. Tuhan memilihmu dari yang lain karena tahu aku paling mencintaimu. Bisakah kamu menjadi milikku untuk kini dan selamanya?” tanyanya kemudian.
“Menikahlah denganku, Rayla Pramanta. Biarkan aku menjaga kamu dan anak kita,” lanjut Deon tegas dan seperti permohonan.
Sama sekali bukan suasana lamaran yang diimpikan para wanita. Dia bahkan tidak berlutut, hanya menatapku penuh kesungguhan.
Cinta itu bukan berarti mencintai seseorang yang sempurna, tapi bagaimana mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara sempurna. Dan Deon, adalah orang yang membuktikannya padaku. Lantas, apa lagi yang kuragukan?
“I do.” Aku menangis dengan air mata terharu yang mengalir semakin deras.
Deon tersenyum. “Kamu tidak akan berjalan sendirian. Hatiku akan menjadi tempat berlindungmu dan lenganku akan menjadi rumahmu,” bisik Deon lembut sebelum mencium bibirku dengan penuh kelembutan.
*****
Hari ini aku diperbolehkan pulang ke rumah, tapi aku diminta oleh Dokter untuk melakukan antenatal care terlebih dahulu.
“Hasil tes darah, urine dan tekanan darah Ibu semuanya normal. Selanjutnya, kita lakukan pemeriksaan USG,”ucap Dokter dengan sopan.
Aku diminta untuk berbaring di atas tempat tidur. Kemudian Dokter mengoleskan gel di bagian perutku, setelahnya sebuah alat yang berbentuk mirip seperti mikrofon, yang disebut transduser, ditempelkan pada bagian perutku yang telah diolesi gel sambil di gerak-gerakkan. Lalu, sebuah gambar terpantul ke layar komputer.
“Nah, ini dia calon anaknya,” ucap Dokter dengan penuh semangat.
“Untuk trimester pertama, struktur tubuh dan sistem organ bayi baru mulai berkembang. Usia kehamilan 6-10 minggu, calon bayi masih dalam bentuk seperti gumpalan kecil. Pelan-pelan bayi akan terus berkembang hingga seutuhnya.”
“Oh….” Deon mengangguk-anggukkan kepala.
“Ada yang mau saya tanyakan, Dokter. Saya dengar, wanita hamil umumnya mengalami morning sickness. Anehnya saya tidak mengalami tanda-tanda ini, Dok,” ucapku.
“Apakah Ibu merasa mual, tapi tanpa muntah?”
Aku mengangguk. “Saya pikir mungkin asam lambung sedang naik karena terkadang-kadang saja mualnya.”
“Lebih dari 50 persen wanita hamil mengalami morning sickness, jadi sisanya ada yang tidak mengalami tanda ini sama sekali. Ada juga mual dialami tanpa muntah. Masing-masing kondisi wanita hamil bisa berbeda-beda.”
“Tunangan saya sering mengeluh sakit kepala, Dok. Kalau ini bagaimana? Apakah normal? Oh, ya, tengah malam juga sering buang air kecil,” tanya Deon cemas.
“Di awal kehamilan, sering kencing diakibatkan oleh tingginya hormon human chorionic gonadotropin (hCG). Hormon hCG menyebabkan peningkatan aliran darah ke ginjal sehingga meningkatkan produksi urine.”
“Jika usia kehamilan makin besar, ibu lebih sering buang air kecil karena kandung kemih yang tertekan oleh rahim, jadi lebih sensitif sehingga lebih sulit menahan pipis. Tidak perlu khawatir, ini adalah tanda-tanda hamil yang wajar terjadi.”
“Sedangkan migrain juga salah satu tanda hamil muda selain muntah ataupun mual. Namun, tidak semua wanita hamil akan merasakan migrain. Ada yang tidak merasakannya sama sekali atau malah membaik selama kehamilan. Ada pula yang bertambah parah selama trimester pertama.”
“Hal ini dikarenakan perubahan kadar hormon estrogen dan volume darah selama kehamilan. Meski sering terjadi pada ibu hamil, migrain tetap tidak boleh disepelekan, karena migrain juga bisa menjadi gejala seperti tekanan darah tinggi.”
“Darah tinggi yang tidak terkontrol saat hamil bisa menyebabkan ibu hamil mengalami kerusakan pada organ-organ penting, yaitu otak, otot jantung, paru-paru, ginjal, dan hati. Oleh karena itu, pemeriksaan kehamilan harus dilakukan secara rutin,” ucap Dokter menjelaskan panjang lebar.
“Saya mengerti, Dok. Terima kasih atas penjelasannya,” ucapku.
“Sama-sama. Ibu harus banyak mengonsumsi makanan bergizi, istirahat yang cukup, mengendalikan stres, dan jangan terlalu lelah. Saya buka resep vitamin prenatal untuk menunjang asupan nutrisi pada Ibu dan janin.”
“Terima kasih, Dokter,” ucapku.
“Masih ada yang mau ditanyakan lagi?” Dokter mengulas senyum ramahnya.
Aku hendak menjawab pertanyaan Dokter, tapi Deon menyela terlebih dahulu. “Apakah berhubungan sek sual saat hamil diperbolehkan, Dok?”
Aku langsung memberi cubitan keras ke pinggang Deon hingga dia meringis kesakitan. Mataku bertatapan dengannya. “Kenapa? Pertanyaan ini sangat penting, Sayang. Sehari tidak melakukannya, aku masih bisa tahan, tapi kalau sampai sembilan bulan, kasihan adik kecilku,” ucapnya dengan mata menatapku bertanya-tanya.
Aku melayangkan tatapan tajam padanya, tapi dia memasang wajah keheranan. Astaga! Sepertinya aku harus mulai mendidik sikap mesumnya yang satu ini. Jangan sampai anakku tertular kemesumannya.
Dokter tertawa pelan sebelum memberi jawaban. “Untuk saat ini ditunda dulu, Pak. Pada usia kehamilan trimester pertama sangat rawan terjadi kontraksi maupun keguguran. Apalagi Ibu baru saja mengalami pendarahan.”
“Kalau begitu, tunggu sampai kapan baru boleh, Dokter?” tanya Deon lagi.
Ya, Tuhan! Pertanyaan Deon membuat wajahku semakin merah karena malu. Seharusnya aku pakai masker saja untuk menutupi wajahku ini.
“Hubungan intim dianjurkan setelah memasuki trimester kedua. Namun, tetap pastikan Ibu berada pada posisi yang tepat agar tetap nyaman. Karena perut Ibu akan mulai membesar disebabkan ukuran janin yang semakin bertambah.” Dokter menjawab pertanyaan Deon dengan penuh kesabaran.
“Trimester kedua masuk pada minggu ke berapa, Dok?”
“Trimester pertama mulai dari 0-13 minggu, trimester kedua 14-26 minggu, dan trimester ketiga 27-40 minggu. Ibu Rayla baru akan memasuki 8 minggu. Jadi, Bapak harus bersabar untuk 5 minggu ke depan, ya.” Dokter tertawa kecil begitu mengakhiri ucapannya.
Deon langsung memperlihatkan raut wajah nelangsanya secara terang-terangan. Aku segera menghentikan sesi tanya jawab ini sebelum Deon kembali melanjutkan pertanyaan atau mengucapkan kalimat yang tidak bermanfaat untuk di dengar Dokter.
“Kalau begitu terima kasih banyak ya, Dokter. Kami pamit dahulu.”
“Kalau tidak ada masalah apa-apa, kunjungan selanjutnya pada trimester kedua,” ucap Dokter memberitahu.
Aku mengangguk lalu mengucapkan terima kasih. Baru saja aku ingin menarik tangan Deon, tetapi mulut Deon bergerak lebih cepat. Dia kembali melayangkan pertanyaan kepada Dokter.
“Usia kehamilan tunangan saya diperbolehkan bepergian naik pesawat tidak, Dok?”
Dokter menggeleng-gelengkan kepala. “Alasannya sama seperti yang tadi saya jelaskan, Pak. Waktu yang paling tepat saat usia kandungan menginjak usia 16-24 minggu. Pada periode ini, Ibu akan terhindar dari risiko kelahiran mendadak atau kelahiran prematur.”
“Begitu, ya? Padahal, saya-“
“Cukup, Deon. Pertanyaan kamu banyak banget, sih? Pasien yang lain sudah menunggu lama di luar. Ayo, keluar!” sungutku kesal.
Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih kepada Dokter, lalu cepat-cepat aku seret Deon keluar dari ruang periksa. Benar-benar memalukan! Sambil mengelus perut, aku sambil bergumam dalam hati, jangan ditiru sikap mesum Papa kamu ini, ya, Nak.
*Jangan lupa tinggalkan Komentar, berikan Vote, like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih**🙏🤗Loph you all😘*