
*Happy reading 📖📖 ya guys*
Tiga bulan pun telah berlalu. Sejak malam pertengkaran hebat yang terjadi antara diriku dan mama, aku tidak pernah lagi pulang ke rumah. Aku hanya memberi kabar kepada tante Fifi dan Maylin melalui Whats App.
Hubunganku dengan mama sepertinya tidak bisa diperbaiki lagi. Rasa sakit hati dan harapan yang pupus, membuat luka di hati sulit diobati. Bahkan, seiring berjalannya waktu pun mungkin tidak dapat menyembuhkannya.
Sesuai anjuran kak Sarah, dengan ditemani Deon, aku melakukan sesi terapis beberapa kali.
Disetiap sesi pertemuan, ketika aku menceritakan kisah kehidupanku juga perbuatan mama kepadaku, seolah mengorek luka lama, membuka masa lalu lagi dan membuat emosiku terkuras habis.
Tidak mudah memperbaiki hati yang sudah telanjur merasakan perih karena dikecewakan.
“Hidup ini adalah proses pembelajaran. Beberapa orang membuatmu tertawa, beberapa orang membuatmu terluka, tapi akan ada seseorang yang membuatmu tertawa di atas luka. Sesulit apa pun masalah yang kita hadapi, harus diselesaikan, bukan dihindari. Karena itu ketika seseorang mengecewakanmu, maafkanlah. Namun, jangan lupakan. Mengingatnya, tapi jangan pernah mengungkitnya. Bagaimanapun keluarga adalah salah satu hal terpenting yang kita miliki, yang tidak akan pernah berubah,” ucap kak Sarah pada saat sesi pertemuan yang terakhir.
Kak Sarah berpendapat bahwa depresiku ini berawal dari mama. Jadi, aku mesti bicara dengan mama dari hati ke hati. Masalahnya, apakah kami dapat bicara secara baik-baik tanpa bertengkar?
Mama sudah menganggapku layaknya seperti kuman sehingga beliau tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamaku. Begitu pun juga yang kurasakan terhadapnya.
“Nih, barang lo.”
Suara Maylin membuatku tersadar dari lamunan. Dia menyodorkan sebuah tas jinjing kepadaku.
Kami berdua membuat janji bertemu di Mall. Aku minta bantuan Maylin untuk sekalian membawakan beberapa pakaian yang berada di kamarku.
“Sekarang di rumah terasa sepi tanpa adanya kehadiran lo, La,” ucap Maylin sambil memasang wajah sedihnya.
“Lo datang naik apa?” tanyaku sengaja mengalihkan topik.
“Busway. Gue sudah menghubungi Darwan agar menjemput gue nanti,” jawabnya kemudian menyeruput minuman yang sudah ku pesan untuknya.
Keheningan sesaat menyeruak. Sebenarnya aku ingin menanyakan keadaan mama, tapi lidah terasa kaku menyebut satu kata itu.
Akhirnya, aku berkata, “Bagaimana kabar tante Fifi?”
“Baik. Hanya saja ….” Maylin tidak meneruskan kalimatnya. Kedua matanya sesaat memandangku lurus sebelum beralih pada minuman di tangannya.
Dahiku mengernyit. “Ada apa, Maylin?”
Maylin menghembuskan napas panjang sebelum menjawab, “Gue mengerti malam itu mama sudah keterlaluan. Terlebih mama memihak Erik berengsek, bukan lo. Juga fakta bahwa ternyata Jason meninggalkan lo karena mama yang memintanya tanpa memikirkan perasaan lo, tetapi ….”
“Mama tetap saja orang tua kita, La. Tanpa mama, kita tidak bisa hidup sampai sekarang dan melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Lo tahu sendiri, mama berjuang sendirian dengan bekerja keras untuk membiayai keburuhan hidup kita, tanpa bantuan dari suami. Menjadi ibu tunggal tidak mudah, La.”
Aku mengaduk-aduk minuman tanpa semangat. Tidak tahu bagaimana membalas ucapan Maylin.
Apa yang dikatakan Maylin memang benar, tapi hati ini sudah telanjur dilukai sedemikian parah.
“Apakah sudah tidak ada pintu maaf untuk mama, La?” tanya Maylin.
Aku menyandarkan punggung ke kursi. Berusaha mencoba tersenyum.
“Apa yang sudah terjadi tidak bisa diperbaiki lagi, Maylin. Gue dan mama … entahlah. Kami sudah kehilangan kesempatan untuk berdamai. Sebelumnya gue sering memberikan mama kesempatan itu, tapi mama tidak mau menggunakannya. Gue sudah capek, Lin. Kalau hanya gue yang berjuang, apa gunanya?”
Pandangan mata Maylin menyiratkan kesedihan dan kekecewaan. Aku meraih tangannya, lalu menggenggamnya.
“Sekarang tinggal lo satu-satunya di sampingnya. Gantikan gue menjaga mama, Lin. Kalau perlu bantuan apa-apa, lo bisa hubungi gue kapan saja. Namun, untuk kembali menghadapi mama? Saat ini gue tidak memiliki kekuatan lagi. Gue harap lo bisa mengerti.”
Maylin terlihat pasrah atas keputusanku. Kepalanya pun mengangguk-angguk, tanda bahwa dia mengerti. Sebulir air mata menetes keluar jatuh ke wajahnya.
Aku segera menyeka air matanya. “Jangan menangis! Kita masih bisa bertemu seperti ini. Gue masih berada di Jakarta. Bukan di planet lain.”
“Lo belum memberikan alamat kost lo,” kata Maylin mengingatkan.
“Nanti gue kirim alamatnya di Whats App.”
Tepat setelah aku memberi jawaban kepada Maylin, mataku menatap sesosok tubuh pria tinggi disertai wajah yang tampan sedang berjalan ke arah kami.
Semua wanita yang berada di sekitarnya, memandangnya dengan tatapan terpesona.
“Gue mau memperkenalkan seseorang,” ucapku kepada Maylin. Membuat dahinya mengerut keheranan.
“Sorry, jalanan macet banget. Parkiran juga penuh. Jadi, gue masih mau muter-muter cari tempat parkir,” ucap Deon menjelaskan ketika dia sudah berdiri di dekat kami.
Maylin terperanjat atas kemunculan Deon yang tiba-tiba.
Deon menarik kursi kosong yang ada di sebelahku dan menyambar gelas minumanku. Tanpa seizin dariku, dia meneguk minuman hingga habis tak bersisa.
Pandangan mata Maylin mengikuti semua pergerakan Deon hingga kemudian Maylin menatapku dengan penasaran.
“Maylin, kenalin, namanya Deon,” ucapku mulai memperkenalkan mereka berdua. “Deon, dia adik gue, Maylin.”
“Hai, Maylin. Salam kenal. Wajahmu manis juga, ya,” sapa Deon. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya sehingga meningkatkan ketampanan yang sudah dimilikinya itu.
Deon merangkul pinggangku dengan lembut, lalu berkata, “Tidak perlu cemburu, Sayang. Walaupun di depanku banyak wanita cantik berseliweran, tidak ada yang bisa merebut hatiku selain kamu. Bagiku kamu lebih cantik dengan inner beauty yang ada pada dirimu.”
Semburat merah di wajah muncul sehingga pipi terasa panas karena mendengar perkataan gombalannya.
Hubungan kami berdua semakin hari kian dekat. Sampai-sampai menjadi buah bibir oleh rekan kerja.
“Jadi, lo sekarang sudah insaf dari Playboy, Deon?”
“La, kok, lo mau sama pria Playboy ini, sih?"
Aku masih belum memberi jawaban atas pernyataan perasaannya, tetapi dasar memang dirinya yang tidak tahu malu, dia tetap gigih mendekati dan merayuku.
Bahkan, entah sudah ke berapa kalinya aku terbuai oleh rayuannya sehingga akhirnya kami berdua berakhir di atas ranjang.
Padahal, hubungan kami berdua masih belum jelas. Akan tetapi, tubuhku menikmati apa yang Deon perbuat padaku. Merasakan sentuhannya yang lembut, mampu melumpuhkan syaraf-syaraf otakku.
Maylin membuat sedikit keras bunyi batuk kecil. Aku dan Deon pun beralih menatapnya. “Jadi, hubungan kalian sekarang sepasang kekasih?”
Aku ingin menjawab pertanyaan Maylin, tetapi Deon menyuarakan terlebih dahulu. “Sedang dalam pendekatan. Bantu doa nya, ya. Semoga aku lolos seleksi dan bisa menjadi calon kakak ipar kamu,” jawabnya sambil mengerling mata ke arah Maylin.
Seketika tubuhku menegang. Aku hampir saja melupakan masalah satu ini.
Menikah. Semua orang berharap kalau hubungan asmara yang sedang dijalani bisa berlanjut ke jenjang pernikahan. Namun, tidak untuk diriku.
Bagiku menikah adalah suatu mimpi buruk. Aku tidak menginginkan pernikahan dalam hidupku.
Maylin menarik bibirnya tersenyum lebar. “Aku doakan semoga semuanya berjalan lancar. Belum ada pria yang bisa berhasil menarik Kakakku yang satu ini sampai ke pelaminan. Padahal, aku sudah kepingin banget melihat Kakakku bahagia membangun rumah tangganya.”
Deon menggerakkan kepalanya, memandangku dengan tatapan lembut. “Tenang saja, Maylin. Calon kakak ipar kamu yang tampan ini berjanji akan membuat Kakak kamu bahagia selamanya.”
Aku menundukkan kepala. Berusaha menyembunyikan raut wajahku yang tegang. Setiap membahas tentang satu hal ini, aku selalu merasa tidak nyaman.
Pada saat berkonsultasi dengan kak Sarah, aku belum memberi tahu perihal mengenai ketakutanku akan pernikahan. Sepertinya aku perlu menghubungi kak Sarah lagi tanpa sepengetahuan Deon.
Deon dan Maylin mulai terlibat mengobrol akrab. Deon memang memiliki tipikal mudah berbaur dengan siapa saja. Dia juga bisa mengatasi sifat tabiat Bella yang barbar dan lebih keseringan hilang etika saat sedang berbicara. Pada akhirnya Bella pun kalah berdebat dengan Deon.
Peter juga terlihat menyukai Deon. Dapat dilihat dari cara mereka yang sedang mengobrol seru. Padahal, di antara aku, Agatha dan Bella, Peterlah yang paling dewasa dan tenang. Deon bisa dengan cepat beradaptasi dengan orang-orang sekitar.
“Gue turut senang kali ini lo bertemu pria yang paling hebat dibandingkan mantan-mantan lo yang sebelumnya,” ucap Agatha.
“Juga satu-satunya pria yang berhasil membuat lo ketagihan melakukan aktifitas ranjang setiap malam,” sahut Bella menimpali.
Sontak aku langsung melempar serbet ke wajah Bella. Ketika itu, aku dan Deon sedang berkumpul di rumah Agatha.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Satu jam yang lalu, Darwan telah datang menyusul kami. Mereka berdua kini memutuskan untuk meninggalkan kami karena masih ingin melanjutkan acara kencan mereka.
“Kami duluan, ya. Kak Deon jangan lupa main ke rumah. Tante Fifi pasti tidak sabar mau berkenalan dengan Kakak,” ucap Maylin sambil bangun dari tempatnya duduk.
“Aku pasti berkunjung ke sana, tetapi setelah Kakak kamu ini memberi lampu hijau,” balas Deon.
“Sepertinya Kak Deon tidak perlu berlama-lama menunggu. Rayla hanya sedang bersikap jual mahal. Maklumi saja. Wanita memang penuh drama dan sulit dimengerti,” tukas Maylin mengejek.
“Gue bukan lo yang tukang drama, Lin!” balasku dengan memutar bola mata kesal.
Kemudian Maylin dan Darwan pun pergi meninggalkan tempat.
Aku memperhatikan mereka berdua yang berjalan sambil berangkulan. Tidak bisa dimungkiri, ada sedikit perasaan iri melihat hubungan mereka berdua lancar tanpa terhalangi hambatan.
Beruntungnya Maylin karena mama tidak memperlakukan Darwan sebagaimana mama bersikap kepada Jason. Padahal, Darwan juga berasal dari keluarga sederhana. Akan tetapi, entah mengapa mama lebih suka ikut campur urusan asmaraku.
“Kita pergi dinner, yuk! Aku sudah booking sebuah Restoran Italia. Sejak kita berkencan, aku belum pernah membawamu ke tempat dinner yang romantis,” suara ajakan dari Deon membuatku tersadar dari pikiran-pikiran tadi.
“Kita masih belum resmi berkencan, Deon. Sampai kapan gue terus mengingatkan? Bibir gue mau robek karena terus mengatakan hal yang sama berulang-ulang,” gerutuku.
Deon tertawa kecil, lalu berkata, “Aku tidak akan membiarkan bibir kamu robek karena aku masih membutuhkannya, Sayang. Lain hal nya kalau aku khilaf menciummu terlalu kasar. Bibirmu seperti nikotin. Membuatku candu.“
Sontak aku langsung menginjak kakinya agak keras hingga dia berteriak kesakitan. Tanpa menoleh, aku berjalan melangkah pergi.
“Sayang, tungguin aku, dong! Kamu tega meninggalkan kekasih yang tampan ini?” teriak Deon sambil mengejarku.
Aku memutar bola mata ke atas. “Bodo amat!"
Deon mengecup pipiku kilat sebelum merengkuh pinggangku. Jantungku berdegup lebih cepat. Ada getaran aneh di relung hati karena sentuhannya.
Tanpa sadar bibirku membentuk senyum simetris diikuti dengan bagian alis dan pipi yang mengangkat.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘