Silence

Silence
Bab 44



Happy reading 📖📖 guys


Jason: Sabtu ini aku ingin mengajakmu ke sebuah tempat. Jam 10:30 aku jemput. Di mana alamat tinggalmu sekarang?


Aku menatap layar ponselku lama, menimbang-nimbang antara mengiyakan ajakannya atau tidak. Inbox dari Jason masuk begitu aku menyalakan kembali ponsel tadi pagi setelah semalam menonaktifkannya.


Setelah berperang antara iya atau tidak, akhirnya aku memutuskan untuk membalas pesannya.


Me: Memangnya mau ke mana?


Beberapa detik setelah aku menekan tanda sent, ponselku berdering. Mataku membulat lebar melihat tampilan nama yang muncul pada layar ponselku. Seluruh tubuhku menegang seketika.


Mama's calling.


Sejak aku memiliki benda teknologi yang canggih ini, kami hampir tidak pernah saling menghubungi. Biasanya mama meminta tante Fifi yang menyampaikan pesan untukku karena mama tahu kalau komunikasi di antara kami sangat buruk.


Jadi, sekarang mendapati mama menghubungiku terlebih dahulu, membuatku terkejut sekaligus gelisah. Ada apa? Untuk apa?


“Halo?” Aku mencoba menutupi kegugupanku dengan memilin ujung rambut.


“Apakah mama mengganggumu?”


“Tidak, Ma. Ada apa?” Dahiku berkerut, semakin bingung atas pertanyaan basa-basi mama.


“Mama minta Sabtu ini kamu ikut datang ke Restoran bersama Deon. Ada yang ingin mama bicarakan pada kalian.”


Entah mengapa terselip perasaan buruk ketika mendengar ucapan mama barusan.


“Ma, pembicaraan kita pada saat itu masih belum selesai. Kalau ada yang mau dibicarakan, bisa bicara langsung denganku. Deon tidak perlu ikut mendengarnya.”


Sesaat tidak ada suara di seberang sana. Hingga beberapa detik kemudian, mama kembali bersuara. “Lakukan perintah mama, Rayla! Jangan coba-coba merahasiakan hal ini dari Deon. Mama akan menghubunginya juga nanti.” Kemudian secara sepihak, mama memutuskan sambungan telepon begitu saja.


Aku ingin sekali menegur mama. Aku dan Maylin sama-sama anak mama. Mengapa Maylin bisa mengambil keputusan sesuka hatinya, tetapi tidak denganku?


Mama selalu ikut campur dalam urusan asmaraku. Sedangkan Maylin, dia diberi kebebasan oleh mama. Mengapa hanya aku yang diperlakukan tidak adil?


Aku teringat tentang balasan inbox untuk Jason. Aku segera mengecek apakah ada balasan darinya atau belum.


Untungnya Jason masih belum membacanya. Aku meng-unsend balasanku tadi, dan mengetik sederet kalimat.


Me: Sorry, Sabtu ini aku ada urusan dengan mama. Lain waktu, ya!


Ting! Suara inbox masuk berbunyi. Kukira balasan dari Jason. Ternyata dari Deon.


Deon: Tante Restin barusan meneleponku. Beliau mengatakan agar Sabtu ini kita berdua menemuinya di ruangan kerjanya. Aku jadi gugup. Kira-kira tante mau membahas apa, ya? Apa tante mau memberi kita restu?


Aku tertawa sinis. Mama tidak mempercayaiku. Dia langsung menghubungi Deon karena takut aku tidak akan menyampaikan pesannya.


Aku sudah berusaha memperbaiki hubungan kami dengan berkata jujur kepadanya, tapi sepertinya mama masih saja bersikap keras kepala. Masih menganggapku parasit.


Tanpa bisa dicegah, sebuah perasaan kecewa menyelinap masuk atas sikap mama.


Me: Aku bilang pada mama, biar dia bicarakan saja padaku. Nanti aku akan sampaikan padamu, tapi mama bersikeras ingin kamu mendengarnya secara langsung. Mama juga tidak percaya padaku, takut aku merahasiakan permintaannya ini darimu. Makanya dia langsung menghubungimu. Apakah telepon darinya mengganggu rapat kalian?


Deon: Untungnya sedang istirahat sebentar karena Pak Bos dapat panggilan penting dari Nyonya Bos.


Me: Pak Bos dan Nyonya Bos itu orang tuamu, loh!


Deon: Hehehe … Btw, berarti tante Restin tahu kalau anak sulungnya yang satu ini memang lebih nakal, suka membangkang. Makanya tante tidak bisa percaya begitu saja.


Me: Hey! Anak sulungnya itu kekasihmu, loh!


Deon sialan! Bukannya memihakku, malah memihak mama. Kekasih macam apa dia?


Deon: Pak Bos sudah balik. Sudah dulu, ya! Lunch tunggu aku! Mmuach!


Aku tertawa geli. Deon selalu membuat perasaanku naik turun seperti roller coster. Perasaan kesal, sedih, emosi hanya dalam hitungan detik hilang begitu saja karena keusilannya.


Tidak ada yang menyangka kalau dia adalah anak bungsunya pak Surbakti. Padahal, sifatnya berkebalikan dengan pak Steven.


Ngomong-ngomong, berarti kak Sarah juga anaknya pak Surbakti, kan? Hebat! Tanpa sadar aku dikelilingi anak dari pemilik perusahaan tempatku bekerja.


Ting! Suara inbox masuk berbunyi lagi dan kali ini pesan balasan dari Jason.


Jason: Ok!


Ok? Itu saja? Mengapa aku merasa jawabannya yang pendek itu mengandung arti lain?


Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja! Jason tidak mungkin akan melakukan hal seperti menghampiriku sampai ke tempat Restoran mama. Ya, kan?


“La!” panggil Bram. Tiba-tiba dia muncul di depan meja kerjaku bersama Sheila dan Andi. “Lo tahu Deon ke mana?” tanyanya.


“Rapat bersama pak Gunawan,” jawabku sambil memandang mereka bertiga bergantian. “Ada perlu apa?”


“Kok, beberapa belakangan ini pak Gunawan lebih sering mencari Deon rapat bersama, ya? Jangan-jangan Deon mau dinaikkan pangkat ya, La?” tanya Andi.


“Kok, tanya ke gue? Tanya sama orang yang bersangkutan, dong!” Aku berpura-pura membaca kertas laporan yang ada di meja. Berharap tiga cecurut tukang gosip ini secepatnya balik ke tempat mereka masing-masing.


“Yah ... kan, lo kekasihnya. Masa lo tidak tahu?” balas Bram.


“Kita tidak pernah membahas soal pekerjaan di luar jam kerja.” Jawabanku ini membuat Bram dan Andi semakin memperolokku.


“Cie! Cie! Tahu, deh, kalau sudah berduaan cuma mau bahas tentang masa depan,” ledek Bram.


“Kalau cetak undangan, jangan lupa bagi ke kita juga ya, La,” ucap Sheila.


“Ehem!”


Refleks kami menolehkan kepala ke arah suara tersebut. Terlihat Ibu Rita sedang berdiri di belakang mereka dengan tatapan tajamnya. “Apakah laporan kalian sudah selesai? Jadi, punya banyak waktu untuk bergosip? Kalau begitu bawa ke ruangan saya sekarang!”


“Eh, Anu Bu … Masih belum selesai. Saya kerjakan sekarang juga.” Sheila dan Andi buru-buru membalikkan badan dan berjalan kembali ke tempat mereka.


Sedangkan Bram memasang cengirannya dan berkata, “Saya sedang mencari Deon, Bu. Ingin membahas masalah pajak, tapi Deon sedang rapat bersama pak Gunawan.”


Kemudian dia menoleh ke arahku dan berkata, “Rayla! Kalau Deon sudah balik, kamu hubungi Bram,” perintahnya.


“Ya, Bu!” jawabku.


Ibu Rita melirik Bram yang masih berdiri di sana. “Masih ada keperluan lain lagi, Bram?”


“Tidak ada, Bu! Kalau begitu saya balik ke tempat saya. Permisi, Bu!” pamit Bram.


Setelah Bram berjalan kembali ke mejanya, Ibu Rita berdecak dan menggeleng kepala. “Dasar! Pria tapi seperti wanita. Senang banget bergosip.”


Ibu Rita hendak melangkahkan kakinya, tetapi dia menoleh ke arahku. Kami saling bertatapan.


Aku kira dia ingin mengatakan sesuatu. Namun, tanpa mengucapkan apa-apa dia kembali melangkah pergi ke ruangannya.


Dia masih tidak menyukaiku. Baiklah, tidak apa-apa! Aku tidak peduli. Karena hari ini dia telah menyelamatkanku dari pertanyaan rekan kerjaku tadi yang semakin membuatku tidak nyaman, hanya untuk hari ini saja aku berterima kasih kepadanya.


*****


Kami berdua sampai di Restoran mama dalam waktu satu jam. Biasalah, Jakarta terkenal dengan kemacetannya.


“Penampilanku rapi, kan, Sayang? Aku gugup banget, nih!” Deon membuat gerakan merapikan kaosnya. Melihatnya gugup, timbul keinginan untuk menjahilinya.


“Seharusnya kamu pakai kemeja lengkap dengan dasi dan jas formal, Yang. Dijamin penampilan kamu 1000% ganteng, loh!” jawabku sambil tersenyum manis.


Mata deon membulat lebar. Aku segera berbalik dan melangkahkan kaki, bermaksud meninggalkannya yang sedang berdiri mematung. Aku berusaha menyembunyikan tawa.


“Tadi kamu bilang apa, Say?” tanya Deon ketika dia menghampiriku dan berjalan beriringan di sampingku.


“Aku bilang lebih bagus kalau tadi kamu mengenakan kemeja lengkap dengan dasi dan jas formal yang biasa kamu pakai pada saat rapat.”


Deon menggelengkan kepala. “Bukan yang itu ….”


Aku menghentikan langkah, menatapnya dengan tatapan tidak mengerti. “Yang mana?”


“Tadi kamu menyebutku dengan panggilan, Yang. Apakah maksudnya itu sayang?”


Dahiku semakin berkerut. “Kenapa memangnya?”


Sedetik kemudian Deon mendaratkan ciuman kilat pada bibirku, membuatku terpekik karena terkejut. “Apa yang kamu lakukan? Kita sedang berada di luar, Deon! Bagaimaana kalau sampai mama melihatnya?”


“Tante pasti mengerti anak muda, lah! Toh, sama-sama sudah delapan belas tahun ke atas. Lagipula tadi aku kaget banget dengar kamu panggil aku dengan sebutan 'Yang'. Dadaku sampai berhenti berdetak.”


“Da- dasar lebay kamu!” Wajahku terasa panas. Aku yakin pasti wajahku sudah merah seperti kepiting rebus.


Sial! Padahal, aku berniat menjahilinya. Mengapa malah dia yang membuatku jadi salah tingkah begini?


Deon tertawa melihat reaksiku. “Kamu tahu, La? Hubungan kita selama ini, belum pernah kamu memanggilku dengan sebutan 'Yang' walau satu kali pun. Makanya tadi aku sangat terharu mendengar panggilan itu keluar dari bibir mungilmu.”


Kemudian dia melingkarkan tangannya ke pinggangku dan menggiringku berjalan masuk. “Yuk! Jangan biarkan calon mertuaku menunggu terlalu lama. Tadinya dia mau memberi restu, jadi batal, deh, karena kita telat.”


Aku menarik napas kencang. Namun, kemudian bibirku pun menyunggingkan senyuman lebar.


Mendengarnya mengatakan dua kata itu, entah mengapa dadaku berdesir hangat. Semoga saja hal baik yang akan kami dengar di dalam ruangan mama nanti.


“Masuk!” perintah Mama setelah kami mengetuk pintu.


Aku dan Deon saling bertatapan. Deon menautkan jarinya dan menggenggam tanganku erat, menyalurkan kekuatan untukku.


Aku mengambil napas dalam-dalam, lalu membuangnya. Dengan mantap aku memutar gagang pintu di hadapanku dan mendorongnya.


“Hai, Tante! Apa kabarnya?” tanya Deon dengan riang. Bibirnya mengulas senyum.


“Baik. Duduklah!” jawab Mama sambil merapikan berkas-berkas yang masih berserakan di meja.


“Ada hal apa yang ingin Mama katakan kepada kami?” tanyaku langsung setelah mendaratkan pantatku di kursi.


“Apakah itu sikap pertama yang harus ditunjukkan seorang anak kepada ibunya setelah beberapa hari tidak bertemu?”


“Mama ingin tahu kabarku? Selama ini Mama tidak pernah menanyakannya. Aku pikir Mama masih ingin bersikap seperti dulu walau kita sudah melakukan pembicaraan paling panjang saat malam dimana Darwan datang melamar Maylin secara resmi. Mengingat frekuensi kita dalam berbicara sangat minim sekali,” jawabku.


Deon menarik jari tanganku dan mengelusnya dengan lembut. “Senang mendengar hubungan Tante dan Rayla mengalami kemajuan. Yah, walau hanya sedikit, itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Kejujuran memang sangat dibutuhkan dalam sebuah hubungan,” ucapnya kemudian.


Aku sudah menceritakan kepada Deon tentang percakapan antara diriku dan Mama kala malam itu. Deon mendukung keputusanku. Dia memberiku semangat untuk mencoba memperbaiki hubungan dengan Mama.


“Kabarku baik, Ma. Aku akan dipindah bagian sebagai Asisten CEO,” ucapku.


Mama menatapku terkejut. “Oh ya? Kalau begitu kamu bisa-”


“No! Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Ma! CEO kami sudah memiliki kekasih. Aku tidak mau menjadi orang ketiga dan merusak hubungan orang,” selaku cepat.


Mama mengerucutkan bibirnya dan memasang wajah kecewanya. “Mama bahkan, belum mengatakan apa-apa.”


“Aku tahu apa yang ada di otak Mama,” Aku mencuri lirik ke arah Deon yang sedang menahan tawa.


“Baiklah, sudah cukup basa-basinya. Sekarang Mama akan memulai pembicaraan penting kita,” tutur Mama dengan nada serius.


Aku dan Deon refleks mengubah posisi duduk kami lebih tegak. Pandangan mata Mama beralih kepada Deon, “Mulai hari ini kamu tidak perlu bekerja di sini lagi, Deon. Tante tidak membutuhkan karyawan.”


“Apakah artinya Tante … ” Deon sengaja menggantung ucapannya.


Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Deon sekarang, tapi perasaanku mulai tidak enak. Aku berfirasat kalau ucapan Mama selanjutnya bukan sesuatu yang ingin kami dengar.


Mama menyerahkan sebuah amplop putih ke hadapan Deon. “Ini gajimu selama kamu bekerja. Tante tidak membutuhkan karyawan juga tidak merestui hubungan kalian.”


“Ma!” sontakku.


“Tante berhutang budi padamu karena sudah menolong nyawa Rayla. Namun, alasan ini saja tidak cukup kuat untuk mengubah keputusan Tante. Lebih baik Tante mengatakannya sekarang daripada menghabiskan waktumu dengan cuma-cuma,” ucap Mama tanpa mempedulikan reaksiku.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘