Silence

Silence
Bab 83



*Happy reading 📖📖 guys*


Hatiku tiba-tiba dilanda kecemasan ketika bayangan di kepalaku, Xavier Jadison dan Erik yang sedang tersenyum licik melihat Deon tidak bisa berkutik, membuatku spontan melontarkan pertanyaan.


“Kalau aku bersedia bertunangan dengan syarat kamu berjanji tidak akan membalas perbuatan mereka, apakah kamu setuju?” tanyaku.


Deon cepat-cepat menggelengkan kepala. “Tidak, Sayang. Perbuatan mereka sudah membuat kesabaranku habis. Aku masih memberi mereka sedikit toleransi dengan tidak langsung menghabisinya saat itu juga.”


“Tapi bagaimana dengan besarnya penalti yang harus kamu tanggung? Juga beberapa tanah yang akan menjadi milik mereka nantinya adalah aset perusahaan. Belum lagi kamu masih harus membahasnya dengan para Direksi lainnya yang juga sebagai Investor. Bagaimana kalau mereka tidak setuju karena hal itu dapat merugikan mereka?” tanyaku dengan penuh kecemasan.


“Uang tidak menjadi masalah, Sayang. Tentang aset tanah, besok papa dan aku akan berunding terlebih dahulu. Mungkin aku langsung jatuh miskin setelah membayar penalti tersebut, tetapi kamu tidak akan meninggalkanku, kan?”


“Tentu saja!” jawabku cepat. “Aku mencintaimu bukan karena apa yang kamu punya, melainkan karena apa yang terjadi saat aku bersamamu, tetapi aku tidak rela uang hasil jerih payah kamu ludes dalam sekejap hanya untuk kenyamananku.”


Deon menggenggam kuat kedua tanganku. “Jika uang hilang masih bisa dicari, apabila kebahagiaan yang hilang, maka sulit diraih kembali. Setiap hal dalam tubuhmu itu sama berharganya dengan apa yang aku punya. Lebih baik hidup sederhana, tapi bermakna daripada hidup mewah tapi mengorbankan cinta.”


Lagi-lagi ucapan Deon membuatku tersentuh. Sudut mataku mulai digenangi air mata haru.


“Aku butuh kamu seperti jantung butuh detak. Harta benda dan emas, cahaya sinar yang dimiliki tidak sejati. Sedangkan kehadiranmu adalah satu yang kutunggu selama ini. Tanpa kehadiranmu, hidup tidak lagi bermakna. Kamulah yang menjadi sumber kebahagiaan yang berharga.” ucap Deon lagi.


Air mata terharu pun menetes dari kelopak mataku. “Kata-kata gombalanmu selalu berhasil membuatku terbuai,” ucapku sambil mengerucutkan bibir.


“Yang tadi bukan gombalan, tapi rayuan,” elak Deon cepat.


Aku memukul bahunya pelan. “Apa bedanya gombalan dengan rayuan?” cibirku. Deon tertawa terbahak-bahak. “Kalau mereka mempersulitmu atau mencari masalah lebih besar lagi terhadapmu, apa yang akan kamu lakukan? Sedangkan kamu telanjur jatuh miskin terlebih dahulu.”


Deon mengulas senyum smirk nya. “Tenang saja, Sayang. Aku sudah punya planning berikutnya. Aku tidak akan membiarkan diriku sendirian jatuh miskin. Mereka harus ikut merasakannya.”


Aku menarik napas dalam. Terkadang Deon bisa menjadi sangat keras kepala kalau dia sudah memiliki tekad. Sikapnya yang pantang menyerah inilah yang membuatnya berhasil menaklukkan diriku.


“Baiklah, terserah kamu saja, tapi kamu harus berjanji untuk berhati-hati. Aku tidak mau kamu sampai terjadi apa-apa,” ucapku akhirnya mengalah.


Deon tersenyum kecil lalu menarik tubuhku masuk ke dalam pelukannya. “Selama kamu berada di sampingku, aku akan selalu baik-baik saja.” Aku membalas pelukan hangat itu dengan erat.


“Besok sore pulang kerja aku antar kamu pulang ke rumah lalu langsung minta izin kepada tante,” ucap Deon lagi. Aku mengangguk kepala sambil tersenyum di ceruk lehernya


Kamu adalah pikiran terakhir dalam pikiranku sebelum tertidur dan pikiran pertama ketika aku bangun setiap pagi.


*****


“Bahan makanan di kulkas kosong. Sarapan pagi ini apa adanya, ya? Sudah lama kamu tidak tinggal bersamaku. Aku jadi malas mengisi kulkas,” ucap Deon sambil memberikan piring berisi egg sandwich kepadaku.


Aku menerimanya dengan bibir mengulas senyum manis. “Tidak apa-apa.” Semalam aku memutuskan untuk menginap di Apartemennya Deon.


Deon mengambil drip dari coffee maker, lalu menuang isinya ke dalam gelas, kemudian memberikannya kepadaku. Aku terus mengamati tanpa henti setiap pergerakannya dimulai dari saat menyiapkan sarapan pagi untuk kami.


Aktivitas sarapan pagi ini membuatku teringat kenangan saat aku masih tinggal bersamanya. Tiba-tiba rasa rindu datang begitu saja dan membuncah di dada. I’m back home.


Aku tidak bisa mengelak perasaan ini. Aku ingin selalu terus bersama pria yang berada di hadapanku sekarang. Aku ingin memiliki hidup yang indah bersamanya. Namun, trauma yang kumilikilah yang menjadi penghalangnya.


Aku harus berusaha untuk sembuh dari trauma ini. Setiap sikapnya padaku selama kami bersama, membuat satu per satu harapan kecil tumbuh dalam nadiku. Semangat dan gairah untuk berjuang menggapai kebahagiaanku, mulai berkobar. Ya, aku harus sembuh.


*****


Gue langsung menemui papa di ruangan kerjanya begitu jam kerja telah tiba. Tentu saja gue tidak mengajak Rayla. Gue tidak mau dia tahu hasil pembicaraan ini yang pastinya bukan hal yang baik untuk didengar.


“Sampai sekarang Xavier Jadison masih belum menghubungi kita. Apakah itu pertanda beliau masih menginginkan kerja sama ini?” tanya Kak Denis. Papa yang memanggil Kak Denis ikut serta dalam pembahasan masalah ini. Sebab, Kak Denis yang mengurus langsung perjanjian kerja sama itu.


“Walaupun dia ingin melanjutkan kerja sama ini, aku tetap menolak, Pa,” tukasku lugas.


“Bagaimana dengan kondisi Rayla? Apakah dia baik-baik saja?” tanya Papa.


“Sempat bermimpi buruk, tetapi sekarang sudah lebih membaik. Beruntung kejadian kemarin tidak mengganggu psikisnya. Jika sampai itu terjadi, aku akan menuntut perbuatannya ke jalur hukum!” Sekelebat bayangan tentang kejadian kemarin, membangkitkan kembali amarah di dada gue.


Tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketuk dari luar, kemudian sosok tubuh Pak Broto, Asisten Papa, muncul dari balik pintu. “Salinan perjanjian kerja samanya sudah saya ambil, Pak,” ucap Pak Broto sambil menyerahkan sebuah berkas kepada Papa.


Keheningan sesaat menyeruak. Kertas itu diperiksa Papa dengan saksama. Tidak berapa lama kemudian, Papa menyuarakan isi perjanjian kerja sama tersebut, “Jika salah satu pihak melakukan putus kerja sama sebelum masa kontrak habis, maka dikenakan penalti sebesar 25%. Jika PT. SA yang mengajukan putus kerja sama terlebih dahulu, selain pinalti yang harus dikeluarkan, aset tanah yang berada di lokasi A, B, C, D, dan E akan menjadi milik PT. FJ,”


“Berapa biaya yang dibutuhkan untuk membayar penalti itu, Denis?” tanya Papa sambil mata memandang Kak Denis.


“Sebesar 1,5 triliun rupiah, Pa.”


“Apa?” Gue terkejut mendengar jawaban Kak Denis.


“Di atas surat pernjanjian ini menyatakan apabila pihak kita yang terlebih dahulu mengajukan putus kontrak, maka lima aset tanah ini menjadi milik mereka. Bukankah selama ini ciri khas Xavier Jadison adalah langsung meminta aset tanah terhadap rekan bisnisnya saat menandatangani kontrak?” tanya Papa lagi.


“Ya, benar, tetapi entah mengapa Xavier Jadison mengajukan persyaratannya seperti itu saat kami sedang membicarakan kontraknya, Pa.”


“Kenapa Kak Denis mau saja bekerja sama dengan orang seperti mereka?”


“Bukan mau ku, tetapi karena salah satu rekan bisnis kita tiba-tiba mengalami kebangkrutan lalu perusahaannya diambil alih oleh Xavier Jadison,” jawab Kak Denis.


“Maksudmu mereka melakukan pengambilalihan?” tanya Papa mengemukakan kesimpulannya.


“Benar. Kebetulan rekan bisnis kita itu, pemegang sahamnya yang terbesar adalah Xavier Jadison. Jadi, surat perjanjian kerja saat masih dibawah nama Direksi sebelumnya mesti diperbaharui atas nama Direksi yang baru. Saat itulah Xavier Jadison melakukan sedikit perubahan perjanjian kerja samanya.”


“Kebetulan yang mencurigakan,” tukas gue sambil tertawa mencemooh.


“Perjanjian kerja sama ini dibuat tiga tahun yang lalu. Papa pikir sama sekali tdak ada sangkut pautnya dengan Rayla karena hubungan kalian baru saja berjalan belum genap satu tahun, Deon,” jawab Papa. Gue hanya mendengus kesal. “Apakah kamu sanggup membayar penalti sebesar 1,5 triliun rupiah?”


Sialan! Xavier Jadison seperti lintah darat. Sudah meminta aset tanah juga masih minta penalti sebanyak itu.


Sebenarnya Papa ada menanamkan sedikit saham atas nama gue. Jadi, soal perkara uang tidak masalah. Hanya saja, gue tidak pernah mau menyentuh uang itu. Selama ini gue menggunakan uang dari hasil keringat sendiri.


Yah, walaupun gue ada menanam modal sedikit di organisasi rahasia Leonel, tetapi tetap saja tidak cukup menggunakan uang gue sendiri untuk menyingkirkan bedebah itu dengan membayar penalti sebanyak 1,5 triliun rupiah.


Come on! Gue bekerja sebagai Staf Akuntansi selama hampir enam tahun. Memangnya seberapa besar gaji sebagai Staf? Gue pernah bilang kalau gue tidak suka diskriminasi hanya karena gue adalah anak dari pemilik perusahaan, kan?


“Apakah aku boleh menggunakan uang saham atas namaku sendiri, Pa?” tanya gue, pelan.


Gue belum pernah mengajukan permintaan ini sebelumnya kepada Papa. Namun, demi melindungi Rayla dari bedebah itu, mau tidak mau gue harus membuang ego gue, yang selama ini berpedoman untuk berusaha sendiri tanpa menggunakan harta keluarga gue.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘