
Happy reading 📖📖 guys
“Ma … bagaimana … keadaan … Darwan?” tanya Maylin lagi.
Aku menatap Mama dengan tidak tenang. Sedangkan Mama menatap Maylin penuh gelisah. “Darwan … dia ….”
Maylin kembali meringis sakit. Dia meletakkan tangannya pada bagian perut dan mengelusnya. Sedetik kemudian, kedua bola matanya melebar.
“Bagian perutku sakit, Ma. Kenapa perutku sekarang rata, Ma?” tanyanya langsung.
“A- ada ja … hitan … di sana, Sayang …,” jawab Mama tersendat-sendat.
Ada rasa kecemasan dari sorot mata Maylin. Sudut matanya mulai digenangi air mata.
Dengan suara bergetar, dia kembali bertanya, “Bayiku … masih ada, kan, Ma? Dia … sehat-sehat saja, kan, di …dalam?”
Mama mulai menangis. Mama meraih tangan kanan Maylin yang tidak terluka dan meremas pelan. “Relakan bayimu, Nak. Agar bayimu dapat beristirahat dengan tenang. Kamu harus tegar.”
Seketika wajah Maylin menjadi lebih pucat. Air matanya mulai bercucuran. Kepalanya berulang kali menggeleng sambil bergumam mengatakan tidak.
Hatiku terasa perih melihat kondisi Maylin sekarang ini. Wajahku lembab karena air mata yang terus mengalir tanpa bisa berhenti.
“Apakah Darwan sudah … tahu, Ma?” tanya Maylin lagi sambil sesenggukan.
Mama terdiam. Wajah Mama juga terlihat pucat. Aku sendiri pun tidak tahu bagaimana harus menyampaikan berita mengenai Darwan kepada Maylin.
“Darwan mengajakku menikah karena aku telanjur hamil. Pernikahan kami tinggal beberapa hari lagi. Apakah dia akan membatalkan pernikahan ini, Ma? Apakah dia sudah tahu bahwa calon anak kami sudah tiada?” desak Maylin.
Aku dan Mama masih terus diam. Mama menangis tersedu-sedu sehingga tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian Tante Fifi dan Deon datang di saat yang tepat.
“Maylin? Oh, Terima kasih, Tuhan! Kamu sudah sadar.” Tante Fifi segera menghampiri Maylin dan mengelus wajah Maylin dengan penuh kasih sayang.
“Tante Fifi … anakku sudah tiada, Tante …,” ucap Maylin terisak. “Apakah Darwan masih mau menikah denganku, Tante?”
“Dokter sudah datang mengecek kondisi Maylin?” Tante Fifi bertanya sambil menatap kepadaku dan Mama bergantian. Aku menggeleng kepala.
“Biar saya yang memanggil Dokter,” kata Deon cepat. Kemudian dia pergi meninggalkan kamar.
Tante Fifi meraih tangan Maylin dari genggaman Mama. “Tunggu Dokter periksa kondisi kamu dulu, ya, Lin. Setelah itu, Tante akan mengatakan semuanya kepadamu.”
Maylin menggeleng kepalanya kuat-kuat. “Aku mau dengar sekarang, Tante!”
Tante Fifi mengelus kepala Maylin dengan lembut. “Nanti, Sayang. Sebentar lagi Dokter datang. Kita tunggu Dokter memeriksa kondisi tubuhmu terlebih dahulu.”
Sesaat Maylin terlihat ragu. Beberapa lama kemudian, dia mengangguk pasrah.
Tidak lama, Deon muncul bersama Dokter Asya dan seorang perawat. Dokter ingin mengecek kondisi luka sayatan operasi pada perut sekaligus memantau kain kasa yang dibungkus pada bagian saluran antara leher rahim untuk mengendalikan perdarahan setelah operasi histerektomi.
Perawat berkata salah satu dari kami boleh menunggu di dalam sedangkan yang lainnya diminta untuk menunggu di luar terlebih dahulu. Mama memutuskan agar Tante Fifi yang mendampingi Maylin di dalam.
Kami menunggu dalam diam, tanpa terlibat obrolan satu sama lain. Entah berapa lama kami menunggu hingga tiba-tiba pintu kamar terbuka. Dokter Asya dan perawat muncul di balik pintu. Otomatis kami bergegas menghampiri Dokter.
“Bagaimana kondisi putri saya, Dokter?” tanya Mama tergesa-gesa.
“Perdarahan setelah operasi histerektomi mulai berkurang. Kami sudah mengganti kain kasa dengan pembalut. Pasien mengatakan masih terasa nyeri pada bagian sayatan. Hal ini normal karena efek bius sudah hilang sepenuhnya. Kami sudah memberikan obat pereda nyeri dan pencegah infeksi.”
“Terima kasih, Tuhan! Terima kasih, Dokter!” jawab Mama lega.
“Pasien bertanya kepada saya, apakah dia masih dapat hamil atau tidak. Saya tidak menjawabnya karena keluarga Anda mengatakan kalian sendiri yang akan menjelaskan.”
“Ya, Dokter.”
“Saran saya, jika saat Anda ingin menyampaikannya, akan lebih baik beberapa orang menunggu di luar. Beri pasien sedikit ruang untuk bisa menerimanya,” pesan Dokter Asya.
“Terima kasih atas saran, Dokter.”
“Kalau begitu, kami pamit dulu. Jika pasien terjadi apa-apa, segera panggil kami.”
Kemudian Dokter dan perawat melangkah pergi setelah kami mengucapkan terima kasih sekali lagi padanya.
Mama memintaku dan Deon untuk menunggu di luar. Sedangkan mama masuk ke dalam kamar rawat Maylin.
Aku berjalan mondar mandir di depan pintu kamar dengan gelisah sambil menggigit kuku jari tanpa sadar.
“Deon, menurutmu Maylin bisa melewati cobaan ini?” Aku tidak menggubris perkataannya tadi. “Kalau aku menjadi Maylin, aku akan memilih mengakhiri nyawaku daripada menanggung cobaan yang terlalu berat ini.”
Deon belum sempat menjawab ketika terdengar suara jeritan Maylin dari dalam. Aku bergegas berlari masuk ke dalam.
Mama dan Tante Fifi berusaha menenangkan Maylin yang sedang meronta-ronta. “Aku juga ingin menyusul mereka! Biarkan aku mencabut nyawaku sendiri! Lepaskan aku!” jerit Maylin.
“Aku panggil dokter!” Deon langsung pergi memanggil Dokter.
“Rayla! Tahan kedua kaki Maylin!” perintah Tante Fifi.
Aku menahan kedua kaki Maylin yang terus menyentak dan menendang ke sembarang arah. Tenaganya sangat kuat. Aku hampir kewalahan menghadapinya.
“Maylin, tenangkan dirimu, Sayang. Luka jahitan di tubuhmu belum seutuhnya mengering,” ucap Tante Fifi.
“Mama masih membutuhkanmu, Maylin. Apa kamu tidak kasihan dengan Mama? Pria itu sudah meninggalkan Mama begitu saja. Apakah kamu juga mau meninggalkan Mama?” ucap Mama terisak. Mama terus membelai puncak kepala Maylin.
“Aku tidak mau hidup dengan membawa kekurangan seperti ini, Ma! Aku tidak bisa hamil lagi! Untuk apa aku bertahan hidup sedangkan Darwan telah tiada?”
“Kamu masih memiliki keluarga, Maylin. Ada Mama, Tante Fifi juga Rayla,” ucap Mama lagi.
Seorang perawat datang sambil membawa sebuah suntikan. “Tolong pegang lengannya dengan kuat,” perintah perawat.
Tante Fifi kewalahan memegang tangan Maylin agar tidak sembarang bergerak. Deon dengan sigap mengambil alih tangan Maylin.
Rasa kehilangan, frustasi, duka cita membuat perasaan emosional muncul hingga tubuh mengeluarkan seluruh tenaga untuk menolak menerima kenyataan.
“Lepaskan aku! Aku ingin mengakhiri hidupku!” teriak Maylin frustasi. “Suster, tolong beri aku suntik kematian. Aku mohon, Suster!” pintanya.
“Anda akan merasa tenang setelah saya menyuntik obat ini,” kata perawat setelah memberikan obat lewat suntikan pada tubuh Maylin.
Napas Maylin yang tadinya tersengal-sengal, mulai bergerak pelan. “Ma …,” panggil Maylin lemah.
“Ya, Sayang. Mama di sini.”
“Efek obat penenangnya mulai bekerja. Kalau begitu, saya pamit dulu,” ucap sang perawat.
“Terima kasih, Suster,” balas Deon.
“Sakit banget, Ma …,” gumam Maylin sambil menyentuh dadanya. Kedua matanya sebentar terpejam sebentar terbuka. Namun, air mata masih mengalir dari kelopak matanya. “Darwan … bayiku ….”
Mama hanya menangis sambil terus mengusap puncak kepala Maylin dengan lembut tanpa berkata apa-apa.
“Aku … Darwan … bayiku ….” Tidak berapa lama kemudian, Maylin memejamkan matanya. Napasnya kembali teratur.
Aku tidak dapat menahan rasa nyeri di dalam hati setelah melihat reaksi Maylin barusan. Deon memelukku tanpa mengatakan apa-apa. Aku membenamkan wajah di dadanya dan menangis dengan keras.
Aku tahu, kehidupan ibarat sebuah roda yang selalu berputar dan tidak pernah diam di satu titik saja. Akan ada yang pergi, lalu datang mengganti. Ada masa kita bisa tertawa, dan kemudian menangis. Itulah perjalanan hidup. Namun, tidak adil rasanya jika Tuhan memberikan cobaan berat seperti ini.
Tidak pantaskah Maylin mendapatkan kebahagiaan, mengingat hidup kami sejak kecil tidak bahagia? Jika kisah Maylin dan Darwan memang harus berakhir seperti ini, mengapa Tuhan menambah cobaan kepadanya dengan membuat dirinya kehilangan menjadi wanita yang sempurna lagi untuk membina masa depan yang baru?
“Ini tidak adil bagi Maylin! Tuhan terlalu kejam memberinya takdir seperti ini!” tukasku dengan suara bergetar. Aku semakin membenamkan wajahku lebih dalam.
Deon mengelus kepalaku dengan lembut. “Setiap perjalanan akan ada ujian yang memiliki dua pilihan, terus berjalan dan berhasil atau berhenti dan gagal.”
“Apakah ujian yang diberikan Tuhan dalam hidup kami masih belum cukup?” tanyaku sarkasme.
“Kalau begitu, pilihlah terus berjalan dan berhasil. Kendalikan takdirmu sendiri. Takdir manusia ada di dalam jiwanya sendiri,” jawab Deon. Aku memeluk Deon semakin erat.
“Aku akan terus berada di sampingmu. Menemanimu menjalani setiap ujian dalam hidupmu, Sayang,” bisik Deon lembut.
Aku mengangguk dan berkata, “Terima kasih, Deon!”
Tanpa kehadirannya di sampingku, mungkin saat ini aku ikut hancur seperti Maylin. Aku ketakutan saat tadi melihat Maylin meraung, menjerit disertai tangisan yang memilukan hati.
Semenjak papa meninggalkan kami, aku selalu menjaga Maylin agar tidak kembali terluka. Aku selalu berusaha memberinya kebahagiaan walau terkadang kami saling mengejek, tapi kami tahu itu adalah salah satu bentuk kasih sayang satu sama lain.
Aku juga berpikir, tidak apa-apa jika Mama membenciku, asalkan tidak membenci Maylin karena aku sangat menyayanginya. Namun, kali ini aku merasa gagal karena tidak bisa membuat Maylin terus merasakan kebahagiaan.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘