
Happy reading 📖📖 ya guys
Deon bersikeras ingin mengantarku sampai ke rumah Bella. “Supaya gue tahu rumah teman lo di mana. Kalau lo kalap lagi seperti semalam, gue tahu harus ke mana membawa lo?” katanya.
Aku melipat tangan di depan dada. “Semalam gue hanya frustasi. Bukan kalap! Lo bisa bedain tidak, sih? Gue curiga lo lulus cum laude karena sedang beruntung, deh!” jawabku sinis.
“Kalau begitu, lo mau gue bawa ke sini dan kita melakukannya lagi? Gue tidak keberatan, La. Gue malah sangat menikmatinya,” balas Deon dengan senyum smirk-nya.
“Terserah lo, deh!” dengusku kesal
Sepanjang perjalanan, Deon tidak berhenti berbicara. Ada saja topik yang dia bicarakan. Dia sungguh-sungguh cerewet. Namun, aku senang karena sikapnya ini telah menghiburku.
“Apartemennya di sana,” ucapku sambil menunjuk ke sebuah gedung.
Aku melepas seatbelt begitu mobil Deon sudah berhenti di pintu masuk lobby. “Thank you for everything, Deon,” ucapku tulus.
Pintu mobil sudah terbuka setengahnya saat tiba-tiba lenganku ditarik Deon. Dahiku mengernyit.
“Jangan pernah pergi ke klub sendirian lagi. Sangat berbahaya. Kalau lo mau ke sana, hubungi gue. Gue akan menemani lo,” ucapnya dengan nada serius.
“Lalu, sebesar apa pun masalah lo, jangan jadikan one night stand sebagai pelarian. Lo bisa share masalah lo ke teman dekat lo atau gue.“
Tatapan matanya yang dalam, membuatku terhipnotis. Aku merasakan tangannya menyentuh wajahku pelan.
Beberapa saat, kami berdua hanya diam saling memandang. Tubuhku sulit digerakkan. Detak jantungku berdebar dua kali lebih cepat. Tidak! Somebody help me.
“Rayla!”
Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara memanggilku. Agatha sedang berdiri di samping mobil Deon sambil melirikku ‘siapa pria ini?’.
Aku bergegas turun dari mobil sebelum otakku kembali error karena perbuatan Deon.
“Ingat pesan gue ya, La. Sampai ketemu besok di kantor. Bye!” Kemudian Deon membawa mobilnya meninggalkan kami.
*****
“Cepat cerita, siapa pria tadi yang mengantar lo! Salah satu rekan kerja lo, ya?” tanya Agatha dengan tidak sabar.
Kami baru saja masuk ke dalam Apartemen Bella tanpa menunggunya membuka pintu. Untuk memudahkan kami keluar masuk sesuka hati, Bella memberi tahu password-nya.
“Bel, gue pinjam kaos dan celana lo, ya. Semalam gue lupa bawa baju ganti. Gue tidak boleh pulang dengan pakaian yang sedang gue pakai sekarang. Nanti gue bisa disidang tante Fifi atau Maylin.”
“Memangnya pakaian seperti apa yang lo pakai dibalik jaket itu?” tanya Bella.
Aku melepaskan jaket yang dipinjamkan Deon. Bermaksud untuk memperlihatkan mini dress yang sedang kukenakan kepada Agatha dan Bella.
Tadi, saat masih berada di Apartemen Deon, dia bersikeras memintaku memakai jaketnya.
“Dress lo terlalu sexy. Lekukan pada bagian dada sedikit terbuka. Lo mau dijadikan tontonan orang-orang di dalam lift?”
Bella dan Agatha terpekik dengan mata melebar.
“See? Maka dari itu, gue pinjam kaos dan celana lo ya, Bel,” ucapku.
Kemudian melangkah ke dalam kamar Bella dan membongkar isi lemari pakaiannya untuk mencari pakaian yang pas di tubuhku.
“Lo semalam digigit drakula mana? Drakulanya kehausan atau nafsu?” tanya Bella dengan nada jahil.
“Pria tadi ternyata selain wajahnya tampan, permainannya hebat juga ya, La,” ucap Agatha sambil terkikik geli.
Dahiku berkerut menandakan tidak paham maksud ucapan mereka.
Namun, aku memilih untuk mengabaikan mereka karena aku harus mencari pakaian yang layak agar terhindar dari interogasi panjang nanti di rumah.
Bella menoleh menghadap Agatha. “Pria tadi maksud lo apa, Tha?”
“Tadi Rayla diantar seorang pria ke sini. Wajahnya tampan.”
“Jadi keperawanan lo diserahkan ke pria tadi, La? Atau dia yang ambil perawan lo secara paksa?” tanya Bella lagi.
“Apaan, sih? Gue belum cerita apa-apa, jangan berasumsi dulu.” Aku mendengus kesal mendengar obrolan mereka. Yah, walaupun sebenarnya memang itu kenyataannya.
“Bukan berasumsi, Rayla. Tanda percintaan kalian terlihat sangat jelas di seluruh tubuh lo,” jawab Agatha sambil berdecak-decak.
“Tidak disangka lo bersedia lepas perawan sebelum menikah. Gila …,” lanjut Bella memasang wajah shock.
Perasaanku tiba-tiba tidak enak. “Kalian tahu dari mana?”
“Berdiri di kaca dan lo lihat sendiri!” Bella menggunakan jari telunjuknya ke arah tubuhku.
Aku segera berdiri di depan cermin besar yang berada di sebelah lemari pakaian Bella. Mataku membelalak.
Dengan tangan gemetar karena menahan emosi yang siap meledak, aku menyentuh ke setiap tanda kissmark.
Dimulai dari bagian leher hingga dada. Dasar Deon berengsek! Besok aku akan hajar dia habis-habisan. Pantas saja dia memintaku memakai jaketnya. Sialan!
Aku berjalan keluar meninggalkan kamar, lalu duduk di sofa ruang tengah.
Agatha dan Bella duduk di hadapanku. Meminta penjelasan dariku.
“What?” Pekikan suara Agatha dan Bella membuat telingaku berdenging.
“Lo gila, La! Bagaimana kalau yang lo temukan adalah pria berengsek? Atau lebih parahnya lo diperkosa! Otak lo taruh di mana, sih?” sungut Agatha murka.
“La, gue memang suka clubbing, tapi gue selalu berhati-hati dan tidak pernah pergi sendirian. Tempat itu sangat berbahaya khususnya bagi pemula seperti lo. Kenapa lo tidak menghubungi gue? Gue bisa pergi bersama lo,” protes Bella.
Agatha memberikan pelototan tajam kepada Bella. “Lo setuju Rayla masuk ke tempat laknat itu, Bel?”
“Kita semua wanita dewasa, Tha. Kita tahu apa yang sedang kita lakukan. Jadi, sudah seharusnya kita bersiap menerima resikonya. Tempat itu memang terkesan laknat seperti pemikiran lo, tapi itu juga berbalik lagi pada diri kita sendiri, kita menempatkan diri di sana sebagai apa? Sebagai orang laknat atau hanya sekadar untuk mencari hiburan?” balas Bella.
Agatha terdiam. Bella kembali menatapku dan bertanya, “Kalian pakai pengaman saat melakukannya, kan?”
Aku menggeleng. Mereka berdua terlihat ingin mengamuk, tapi aku buru-buru berkata, “Tadi pagi gue sudah minum pil kontrasepsi.” Lalu mereka berdua menghela napas lega.
Agatha berpindah duduk di sampingku. Dia menggenggam tanganku erat. “Apa yang membuat lo berpikiran untuk melakukan hal itu, La?”
Tubuhku menegang. Aku tidak siap untuk menceritakanya kepada sahabatku.
Bagaimana pemikiran mereka tentang diriku setelah mereka tahu bahwa aku adalah anak dari hasil perselingkuhan kedua orang tuaku? Apakah mereka masih mau bersahabat denganku?
Aku menundukkan kepala demi menutupi rasa takut di wajahku. “Aku hanya ingin merasakan kebebasan walaupun hanya sebentar.”
Beberapa saat kami semua hanya diam. Hingga Agatha mengucapkan sesuatu yang membuatku semakin menundukkan kepala. Menahan air mata dari kedua sudut mataku yang siap turun.
“Kalau lo sudah siap, ceritalah kepada kami, La. Kita selalu ada untuk lo. Apa pun yang terjadi, tidak akan ada yang bisa mengubah persahabatan kita.”
*****
Aku melakukan gerakan mengambil napas lalu menghembusnya sebanyak tiga kali untuk mengontrol debaran pada jantungku.
Dengan penuh keberanian, kubuka pintu rumah. Setelah menutupnya, muncul Tante Fifi dan Maylin di hadapanku.
“Rayla! Kenapa tidak mengabari kami kalau kamu pergi menghadiri acara temanmu? Kami di sini mengkhawatirkanmu karena kamu tidak bisa dihubungi,” ucap Tante Fifi dengan wajah penuh kecemasan.
“Maafkan aku karena telah membuat Tante khawatir. Aku tidak akan mengulanginya lagi,” jawabku dengan perasaan bersalah.
“Tentu saja tidak boleh diulangi lagi! Kamu sudah dewasa, Rayla. Mau pergi ke mana, Tante tidak akan melarang, tapi setidaknya kabari kita kalau kamu tidak pulang ke rumah.”
Maylin menatapku dengan kesal. “Gue sampai membatalkan acara kencan dengan Darwan.”
“Sorry …,” balasku dengan wajah memelas.
“Sudah makan?” tanya Tante Fifi. Aku membalasnya dengan mengangguk. “Cepat masuk kamar dan istirahatlah.”
“Jangan sampai mama melihat lo sekarang,” tambah Maylin.
“Mama sudah pulang sejak sore tadi supaya bisa bertemu dengan kakak kamu ini, Maylin.” Mama tiba-tiba datang dari arah kamarnya.
Tante Fifi menghela napas lelah. “Restin!” tegurnya.
“Aku hanya ingin berbicara dengannya, Fi. Ayo, Rayla! Kita bicara di dalam kamar Mama.” Mama melangkah lebih dulu berjalan ke kamarnya. Aku mengikutinya di belakang.
Sudah lama sekali aku tidak masuk ke dalam kamar Mama. Aku tidak mengingatnya dengan jelas. Mungkin terakhir kali pada saat aku berusia enam belas tahun?
Aku melihat sekeliling isi kamar. Mama mengubah letak barang dan beberapa furniture diganti dengan yang baru.
Kamar ini terlihat sudah tidak sama lagi dengan dulu, ketika kami masih bisa tertawa bersama di ruangan ini.
“Fifi memberitahuku bahwa dia sudah menceritakan kepadamu tentang … pria itu,” ucap mama memulai pembicaraan. Mama bahkan tidak berani menyebut nama papa.
“Mama tidak ingin kamu menjalani hidup susah seperti Mama dulu. Oleh karena itu, Mama lebih setuju kamu menikah dengan Erik. Dia pria yang pantas untukmu.”
“Ma, aku sudah pernah bilang kalau aku dan Erik-”
“Erik memiliki segalanya, Rayla!” tukas mama menyela. Kedua matanya menatapku dengan tajam. “Kamu tidak akan hidup susah jika bersamanya.”
Aku ingin kembali protes, tapi lagi-lagi mama menyela. “Keluarga Erik memiliki banyak perusahaan, Rayla. Kamu tinggal meminta salah satu perusahaan mereka, lalu kamu tunjukkan pada pria itu. Kita bisa sukses tanpa dirinya.”
Aku mengamati raut wajah Mama yang terlihat senang dengan mata berbinar-binar saat mengucapkan kalimat itu. Mata yang menunjukkan rasa sombong, angkuh dan juga benci.
“Mama membenci papa,” tuturku.
Senyuman Mama menghilang dari wajahnya. Mama memandangku dengan tatapan tidak suka.
“Sekarang aku mengerti mengapa Mama selalu memasang wajah seperti itu kepadaku. Namun, satu hal yang tidak aku mengerti, Ma. Aku dan Maylin hanyalah korban atas perbuatan kalian. Mengapa kami harus menanggung akibatnya?”
Mama membuang muka. Dengan suara tegas berkata, “Mama tidak mau penolakan, Rayla. Mau atau tidak, kamu harus menikah dengan Erik!”
Aku memutar balik tubuh, berjalan meninggalkan kamar Mama tanpa berkata apa-apa lagi.
Komunikasi kami tidak pernah mencapai kesepakatan. Mama hanya menganggap kami sebagai alat untuk balas dendam.
Luka yang berada di dalam hatiku semakin dalam. Kurasa luka ini selamanya tidak akan bisa mengering. Apakah ini takdirku, Tuhan? Apakah aku masih sanggup menjalani takdir ini?
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘