Silence

Silence
Bab 40



Happy reading 📖📖 guys


Aku mengambil piring kotor dan mencucinya. Kami baru menyelesaikan sarapan pagi. Deon membuatkan omelet keju dan potato salad juga segelas strawberry soy smoothies dan secangkir coffee untukku.


“Oh ya, kantor dua bulan lagi akan menyelenggarakan acara ulang tahun. Apa kamu akan hadir?” tanyaku sambil melakukan kegiatan mencuci piring.


“Bukannya seluruh karyawan disuruh hadir?” ucap Deon berbalik tanya.


Dia berjalan ke beranda untuk membantuku menyiram bunga Baby Breath. Terlihat beberapa kuncup bunga mulai tumbuh. Membuatku tidak sabar menantikan mekarnya bunga tersebut.


“Aku sebenarnya malas ikut acara seperti itu. Selain para karyawan yang hadir, perusahaan lain yang bekerja sama dengan kantor juga ikut hadir. Akan tetapi, aku dengar gosip yang beredar, di acara itu Pak Surbakti akan memperkenalkan anaknya yang paling kecil sebagai CEO baru. Berhubung anak laki-laki pertamanya meninggal karena kecelakan, jadi posisi CEO diwariskan pada anak laki-lakinya yang terakhir.” Aku mengambil kain untuk mengelap kering kedua tanganku, kemudian berjalan ke ruang tamu.


Aku melihat Deon sedang menyiram air pada tanaman tersebut. Menatap punggung belakangnya yang tegap dan tinggi, terselip perasaan terlindungi. Punggung itulah selama beberapa bulan belakang ini menjadi tempatku untuk bersandar.


“Aku dengar dari anak-anak, mereka mengatakan anaknya Pak Surbakti itu sebenarnya sudah bekerja di dalam perusahaan itu tapi dirahasiakan di bagian mana dia bekerja,” ucapku lagi.


“Apa???” teriak Deon tiba-tiba.


Suaranya yang kencang membuatku kaget. Aku menatapnya dengan tatapan keheranan.


“So- sorry … siapa yang bikin gosip itu?” Deon melangkah masuk, menaruh botol spray di meja.


Entah mengapa aku melihat dia sepertinya sedang gugup. “Aku tidak tahu. Itu pun aku dengar dari obrolan saat makan siang. Saat itu kamu sedang sibuk diajak pak Gunawan menghadari rapat penting.”


Deon menuang air putih ke dalam gelas, lalu meneguknya dengan cepat.


“Kamu kenal anaknya pak Surbakti?” tanyaku.


Deon tiba-tiba tersedak minuman hingga dia terbatuk. Aku segera menghampirinya dan menepuk punggungnya. “Kamu kenapa, sih? Kok, sepertinya gugup banget sampai minum air putih saja tersedak?”


“Kamu tanya apakah aku kenal anaknya pak Surbakti, memang itu penting?” jawab Deon setelah dia tidak batuk lagi.


“Aku hanya tanya, Deon. Kan, kamu sudah lama bekerja di sana. Siapa tahu kamu pernah bertemu atau mungkin saja juga kenal?” Alisku berkerut. Apakah aku tidak boleh bertanya?


Deon menempelkan tubuhnya lebih rapat pada tubuhku, menghilangkan jarak di antara kami.


“Kalau kamu disuruh memilih, apa kamu akan memilihku yang hanya sebagai Staff biasa atau memilih anaknya pak Surbakti calon CEO baru?”


Aku tersenyum mendengar pertanyaan Deon. Aku mengalungkan kedua tanganku pada lehernya.


“Ya ampun, Deon. Aku bahkan, belum pernah bertemu anaknya pak Surbakti. Kenapa kamu cemburu?”


Deon mengerucutkan bibirnya. “Jawab saja pertanyaanku, Sayang.”


Aku mengangkat sebelah alis. Melihat Deon cemburu seperti itu, membuatku ingin mengerjainya sebentar. “Kamu mau dengar jawaban yang mana?”


“Rayla … aku serius, nih! Aku ingin jawaban murni dari hati kamu,” ucap Deon merajuk.


Aku tertawa kecil, lalu dengan nada serius, aku berkata, “Tentu saja aku pilih kamu, Deon. Tidak peduli dengan status pekerjaanmu seperti apa. Kalau kamu teringat ucapan mama pada saat itu, jangan dimasukkan ke dalam hati. Aku memilihmu karena kamu gigih memperjuangkanku dan berhasil masuk ke dalam hatiku.”


Setelah mendengar ucapanku, tanpa aba-aba Deon menciumku dengan liar. Dia mengangkat tubuhku, lalu mendudukkan diriku pada meja makan.


Suara desa han kini menggema pada ruangan tersebut. Deon menangkap pahaku, melingkar pada pinggangnya. Lalu tangan pria itu sudah berada di dalam rokku.


“Sebentar lagi kita mau ke tempat Restoran mama, Deon …,” bisikku.


“Waktunya masih cukup untuk quickie, Sayang.” Tatapannya tajam saat jari-jarinya mulai menyingkirkan bagian tepi bawahku. Aku terkesiap saat miliknya langsung masuk ke intiku.


“Damn! Kamu selalu terasa nikmat, Sayang. Tubuhmu sudah seperti candu bagiku,” geramnya sambil menggerakkan pinggulnya.


Kami belum pernah melakukan aktifitas ini saat pagi hari dan di tempat selain ranjang.


Hal baru ini membuat kami lebih bergairah dan penuh keintiman. Sensasi kenikmatan saat miliknya yang keras berada di dalam terasa berbeda dengan biasanya.


Entah berapa kali aku mencapai pelepasan, dia sama sekali tidak berhenti, terus bergerak. Hingga ketika akhirnya dia menekan bokongnya lebih kuat padaku, aku merasakan puncak kenikmatan yang paling hebat.


“Aku lupa memakai pengaman,” desahnya sambil menempelkan keningnya pada keningku.


“Aku senang kamu bisa menerimaku apa adanya, Sayang. Aku tidak akan  melepaskanmu. Jadi, aku akan berusaha sekuat mungkin mengambil hati tante Restin. Kamu mau menunggu kan, Sayang?” ucap Deon dengan suara lembut. Aku membalasnya dengan anggukan kepala.


Deon mengecup keningku dengan penuh perasaan, lalu memelukku hangat. Jantungku berdesir hangat. Aku kembali teringat ucapan terakhir dari sahabatku.


“Tanyakan sama isi hati lo, apakah masa lalu itu sudah tidak ada lagi atau masih ada hanya saja sudah tidak lagi berguna?”


“Pastikan segala kenangan pada masa itu sudah menjadi dulu, La. Jika lo masih belum rela, sudah pasti lo tetap akan tertinggal didalamnya. Tidak adil untuk Deon.”


Ya, aku harus memilih. Aku tidak bisa terus menerus larut dalam kenangan masa lalu.


Aku memeluk Deon dengan erat. “Terima kasih sudah mencintaiku, Deon. Terima kasih mau bersedia mempertahankan aku. Terima kasih untuk segalanya,” bisikku.


Deon mendaratkan bibirnya pada bibirku dan bergerak secara perlahan, begitu memabukkan. “I need you like a heart needs a beat,” gumam Deon.


*****


“Hai! Maaf membuatmu lama menunggu,” ucap Jason sambil mendaratkan pantatnya, duduk di depanku.


Jason mengirim inbox, meminta untuk bertemu denganku tepat ketika aku mengantar Deon sampai ke Restoran mama.


Aku membalas inbox nya dengan mengatakan bertemu di salah satu coffee shop langganan kami dulu. Akhirnya di sinilah kami sekarang.


“Tidak apa-apa. Aku juga belum lama sampai. Mau pesan apa?” Aku segera melambaikan tangan, memberi tanda pada pelayan coffee.


“Ingin pesan apa?” tanya sang Waitress sambil mengambil notes dan pulpen dari saku celemeknya.


“Satu truffled roasted Chicken, Minumannya satu avocado juice,” jawabku kemudian menutup buku menu di tanganku, lalu menatap ke arah Jason.


“Saya pesan satu spaghetti penne, Minumannya macchiato,” ucap Jason.


“Baik. Saya ulangi lagi pesanannya. Satu truffled roasted chicken dengan avocado juice minumannya. Lalu satu spaghetti penne dan macchiato. Minumannya mau dihidangkan dulu?”.


“Ya,” jawabku dan Jason bersamaan.


“Baik. Pesanan anda akan kami siapkan. Terima kasih.” Lalu Waitress pun berjalan meninggalkan tempat kami.


“Kamu masih ingat tempat ini? Dulu kita berempat sering nongkrong di tempat ini. Tempatnya tidak berubah. Masih sama dengan dulu,” ucap Jason sambil memperhatikan sekeliling.


“Ya. Banyak hal yang berubah, orang berubah, dan dunia terus bergulir tepat di luar jendela. Namun, hanya benda konkret seperti Restoran ini yang tidak mudah berubah walau waktu terus bergulir.”


Sejenak kami berdua hanyut dalam keheningan. Kami berdua seperti sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya Waitres muncul membawa pesanan minuman kami.


“Perasaanku masih tetap sama seperti dulu, Ayla. Aku masih sama dengan Jason yang dulu. Pertanyaannya sekarang … bagaimana denganmu?” tanyanya pelan. Dia menatapku penuh pengharapan.


Aku diam beberapa lama. Mencoba menelusuri lubuk hatiku yang paling dalam. Aku ingin memastikannya apakah kalimat yang akan aku katakan nanti adalah keinginan hatiku sendiri? Jason menunggu jawabanku dengan sabar.


“Jujur saja, Jason. Pada saat kamu menghilang begitu saja, aku sakit hati. Aku patah hati. Perbuatanmu menaruh luka di hatiku. Setelah apa yang dilakukan papa padaku, kamu juga melakukan hal yang sama. Aku selalu bertanya pada diriku, apa salahku? Mengapa orang-orang yang kusayangi, satu per satu memutuskan untuk meninggalkanku? Apa aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan?”


“Maafkan aku, Ayla. Ketika itu aku-”


“Aku tidak tahu kalau mama lah yang menyuruhmu untuk meninggalkanku,” ucapku langsung memotong perkataan Jason.


“Sampai suatu hari, aku bertengkar dengan mama karena masalah Erik. Saat itulah aku baru tahu dengan teganya mama membuat seseorang yang sangat mengerti diriku, pergi meninggalkanku hingga aku terluka. Dan ternyata luka ini berasal dari campur tangannya.”


“Aku sempat datang ke rumahmu, ingin langsung menemuimu, tapi tante Sartin mengatakan kalau kamu ditugaskan ke Sumatera selama setahun. Saat itu aku sangat putus asa. Semua sudah terlambat, tidak ada gunanya lagi. Aku bahkan menyalahkan mama karena dialah penyebab semua luka di hatiku.”


Jason diam mendengar ucapanku sambil menatapku. Aku menarik napas dalam sebelum mulai melanjutkan.


“Waktu yang hilang tidak akan pernah ditemukan lagi. Kita tidak bisa menebus waktu yang hilang. Kita hanya bisa melakukan yang lebih baik di masa depan. Masa lalu tidak dapat disembuhkan. Karena itu aku mencoba fokus menerima masalah dan berhenti menyalahkan orang lain. All blame is a waste of time. No matter how much fault you find with another, and regardless of how much you blame him, it will not change you, right?”


Kulihat dari kedua mata Jason, terpancar jelas rasa takut dan cemas. Namun, aku tidak peduli. Aku harus melakukan semua ini untuk tidak menyakiti hatinya.


“If you want something in your life you’ve never had. You’ll have to do something, you’ve never done. Seseorang membuat perubahan pada diriku. Dia lah yang memberiku kekuatan untuk terus melangkah ke depan dan membuatku semakin berani menghalangi batasan-batasan yang seringkali dibuat sendiri.”


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘