Silence

Silence
Bab 26



*Happy reading 📖📖 ya guys*


Setelah menghentikan mobilnya di tempat parkir yang telah disediakan Restoran, Deon turun dari mobil terlebih dahulu.


Dia berjalan memutari mobil, kemudian membuka pintu mobil untukku. Tangannya terulur ke arahku. Aku pun menyambut ulurannya dengan bibir mengulum senyum.


“Buat apa kita ke tempat mewah ini, Deon? Harganya pasti mahal. Kenapa tidak di tempat rumah makan biasa saja?” tanyaku sambil berjalan melangkah masuk.


“Namanya kencan, sesekali ke tempat yang romantis, dong!” jawab Deon santai.


“Gue tidak mau isi dompet lo langsung menipis setelah mengajak gue makan di tempat mewah ini.”


Deon tersenyum. “Tenang saja. Restoran ini milik temanku. Aku dapat voucher diskon darinya.” Dia menunjukkan dua lembar voucher* dari dalam dompetnya.


Aku mengerucutkan bibir sebelum berkata, “Teman lo banyak juga yang tajir, ya?”


Deon terkekeh geli. “Bagus, kan? Aku mendapatkan keuntungan dari keroyalan mereka dan kamu tidak perlu merasa malu memiliki kekasih seperti aku.”


Aku hanya mendengus kencang merespons perkataannya. Penyakit narsisnya kumat lagi.


Seorang Waitress mengantar kami ke salah satu meja kosong yang berada di dekat jendela. Waitress menarik kursi untukku duduk sebelum kemudian membuka lipatan napkin dan meletakkannya di atas pangkuanku.


Kubuka buku menu setelah Waitress menyodorkannya kepada kami. Sekejap kemudian, mataku membulat lebar karena terkejut melihat harga yang tertera daftar menu.


Aku mencondongkan tubuh ke depan, memanggil Deon agar mengikuti gerakanku. Kurentangkan buku menu di antara kami agar Waitress yang sedang berdiri di samping tidak mendengar perkataanku.


“Gue tidak paham tulisan yang ada di dalam menunya. Harganya juga mahal-mahal. Lebih baik kita pergi ke tempat biasa saja,” bisikku.


“Tenang saja, Sayang. Kan, aku punya voucher diskonnya.”


“Tapi, gue tidak tahu mau pesan apa yang enak. Kalau gue salah pesan dan rasanya tidak enak, jadinya mubazir, kan.”


“Biar aku yang bantu pesan untukmu.” Deon kemudian menarik tubuhnya kembali ke posisi tegak, lalu menyebut beberapa nama menu makanan yang terdengar asing di telingaku. Waitress pun bersigap mencatat pesanan.


“Lo pernah datang ke tempat ini, ya?” tanyaku setelah Waitress menuang air putih ke dalam gelas sebelum beranjak pergi meninggalkan meja kami.


“Tidak juga. Hanya beberapa kali.”


“Bersama teman lo?” tanyaku lagi.


Deon menatapku, tidak segera menjawab. Aku ingin menyuarakan pertanyaan lagi, ketika tiba-tiba terdengar suara sapaan dari seorang wanita, “Hai, Deonartus, bukan?”


Sontak aku dan Deon memalingkan kepala ke arah sumber suara. Terlihat seorang wanita bertubuh tinggi dengan rambut bergelombang cokelat kemerahan. Mengenakan gaun ketat sehingga memamerkan keindahan lekuk tubuhnya yang langsing dan kedua gunung kembarnya yang besar membuat wanita itu terlihat lebih hot.


Mata besar dan bulu matanya yang lentik, memandang Deon dengan tatapan mata yang berbinar-binar. “Sudah lama tidak bertemu. Masih ingat aku?”


Deon memicingkan matanya. Mungkin sedang mengingat-ingat nama wanita itu. “Elisa?” nada suaranya terdengar ragu.


“Namaku Airin! Kita pernah menghabiskan beberapa malam bersama. Kamu lupa namaku?” wanita itu mendengus kencang karena Deon telah salah menyebut namanya.


Aku berusaha menahan tawa. Sudah kuduga kegemarannya yang sering bergonta ganti pasangan, membuatnya tidak bisa mengingat baik nama-nama mantan kekasihnya.


“Oops, sorry. Gue lupa,” jawab Deon dengan bibir mengulas senyum manis kepada wanita itu.


Aku mengerucut bibir kesal, lalu membuang muka ke sembarang arah. Aku tidak mau berlama-lama melihat dia sedang tebar pesona.


“Sedang apa kamu di sini? Sudah lama kamu tidak muncul lagi di Golden Crown. Aku kangen …,” ucap wanita itu.


Suara centilnya membuatku merasa ingin muntah. Masih bertanya sedang apa di sini? Memangnya tujuan Restoran ini di bangun untuk apalagi selain makan?


“Gue dan kekasih gue sedang makan malam. Perkenalkan, Rayla Pramanta,” jawab Deon. Tatapannya lurus tepat ke manik mataku.


Aku langsung memasang senyum dengan sangat manis. Wanita itu menatap sekilas padaku dengan sinis, sebelum kembali menoleh pada Deon dengan tatapan memuja.


Please, deh! Apakah telinganya sudah tuli atau memang dia tidak punya urat malu? Sudah jelas Deon memperkenalkan diriku sebagai kekasihnya, tapi wanita centil ini masih berani merayu Deon di depan mataku.


“Apakah kamu tidak merindukan masa-masa ketika kita berbagi kehangatan? Kapan kita bisa have fun lagi? Kamu masih menyimpan nomor ponselku, kan?”


“Sorry, sekarang gue sudah punya kekasih,” Deon masih menatapku. Aku berpura-pura tidak melihatnya.


“Selera kamu sekarang berubah? Atau … karena sedang bosan?” tanya wanita itu dengan sinis dan tatapan meremehkan.


Aku menatapnya balik dengan tatapan tajam. Sepertinya rubah betina ini mau bermain api denganku. Dengan sengaja aku menyenggol gelas schott zwiesel yang berisikan red wine hingga jatuh tepat mengenai high heels yang dikenakannya.


“High heels-ku!” pekiknya histeris.


Wanita itu menatapku horor. “Kamu mengencani wanita tidak tahu etika seperti ini? Apa tidak salah?” Dia menudingkan jari telunjuknya yang lentik ke arahku. Wajahnya terlihat memerah karena marah.


“Tidak ada yang salah dengan kekasih gue. Bagi gue, dia adalah wanita yang perfect. Permainan kami di atas ranjang membuat gue puas. Bahkan, menjadi candu bagi gue. Tidak ada wanita lain yang bisa menandinginya.”


Jantungku berdebar dua kali lebih cepat setelah mendengar ucapan Deon. Sial!


Padahal, tadi aku merasa kesal padanya yang tebar pesona kepada mantan kekasihnya ini.


“Jadi, Airin … jangan menggoda gue lagi! Gue sudah memiliki kekasih yang gue cintai. Jika tidak ada kepentingan lagi, bisakah lo tinggalkan kami? Gue tidak mau memperburuk mood kekasih gue karena lo menggoda gue di depannya,” ucap Deon lagi, mengusir wanita itu.


Wajah wanita itu pun semakin memerah, entah karena malu atau menahan emosi. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia membalikkan badan dan melangkah pergi.


Deon memanggil Waitress untuk membersihkan lantai yang terkena tumpahan red wine serta memberiku segelas wine yang baru.


“Mantan lo semuanya model, ya? Sayangnya, cantik-cantik tapi mentalnya labil,” Aku berusaha bersikap cuek demi menutupi debaran jantung yang masih berdegup cepat.


Deon memasang senyum lebar. “Kamu mencintaiku, Rayla. Akui saja.”


“Sok tahu lo!” elakku.


“Aku tahu kalau kamu sedang cemburu. Senang rasanya mengetahui perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan.”


Aku menundukkan kepala, tidak berani menatapnya. Wajahku kini pasti sangat merah seperti kepiting rebus. Dasar, perayu ulung! Namun, apa yang dikatakannya memang benar.


Sebenarnya aku cemburu melihat wanita cantik tadi adalah salah satu mantan kekasihnya. Sempat terlintas tanya dalam benakku, bagaimana Deon bisa jatuh hati pada diriku yang sederhana ini? Padahal, mantan kekasihnya cantik bagaikan model.


Tidak berapa lama kemudian, Waitress datang membawakan pesanan kami. Aku dan Deon mulai menyantap makanan sambil mengobrol ringan.


Sepanjang makan malam, dia tidak berhenti membuatku tertawa. Dia selalu tahu bagaimana menghiburku.


*****


Gerakan kuat dan keras Deon mengalirkan sensasi yang menakjubkan ke seluruh bagian tubuhku. Rasa nikmatnya membuatku melayang. Hingga pada akhirnya gelombang penyatuan kami pun menyapu dengan kuat.


Deon memelukku dengan tubuh basah oleh keringat. Tubuh kami bergerak naik turun karena napas terengah-engah.


“Tubuhmu benar-benar membuatku gila, La. No one can beat you, Baby. You’re the best.”


Bibirku pun menyunggingkan senyuman lebar. “Benarkah? Dibandingkan dengan mantan-mantan lo yang sebelumnya?”


Deon melempar tubuhnya ke belakang, kembali berbaring sambil tertawa.


“Aku tidak pernah menggunakan perasaan saat bersama mereka, Sayang. Hanya kepuasan saja yang kudapat, tetapi denganmu berbeda. Tubuhmu seperti candu yang tidak bisa membuatku lepas dan selalu membuatku rindu, ingin terus mencecapnya.”


Aku menatap wajahnya dari samping. Tiba-tiba ucapan Agatha kembali terngiang di benak.


“Jason adalah masa lalu, La. Sudah saatnya lo membuka lembaran baru. Buka hati lo untuk pria lain.”


“Jangan cuma berandai-andai atau membayangkan sesuatu, La. Lakukan saja dulu. Mungkin apa yang lo lakukan itu akan berakhir bahagia. Kita tidak akan pernah tahu hasilnya sebelum kita melakukannya.”


Apakah sudah saatnya aku memberi kesempatan kepada Deon? Tetapi masih ada banyak hal yang tidak diketahuinya tentangku.


Aku mencoba jujur pada perasaanku. Aku pun memeluknya dan membenamkan wajahku di lehernya.


Kurasakan tubuh Deon terlonjak kaget atas tindakan impulsifku ini karena selama ini aku belum pernah berinisiatif melakukan pendekatan kontak fisik terlebih dahulu.


Tangan Deon mengusap lembut kepalaku. Sejenak aku menutup kedua mata. Perasaan tenang dan nyaman mengalir ke dalam hati dan tubuhku. Aku menemukan jawabannya.


“Deon, lo sudah pernah bertemu dengan mama gue, kan? Saat itu lo melihat sendiri bagaimana reaksinya terhadap lo. Jika hubungan ini dilanjutkan, apa yang akan lo lakukan kalau mama menentang hubungan kita?” tanyaku dengan rasa penasaran.


“Aku tahu, aku bukanlah pria terbaik karena sikap Playboy ku ini, tetapi aku ingin menjadi pria yang terbaik dalam hidupmu, Sayang. Kalau tante tidak mendukung hubungan kita, aku akan berusaha mengambil hatinya. Kamu tahu sendiri keahlianku dalam mengambil hati orang tidak perlu diragukan. Tidak ada orang yang tidak menyukaiku.” Deon terkekeh setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.


Aku bergerak bangun, lalu melipat kedua tanganku di atas dadanya. Pandangan mata kami bertemu. Tangan Deon mengelus lembut wajahku.


“Tidak mudah menghadapi mamaku, Deon. Mama sangat ambisius. Menginginkanku menikah dengan anak dari seorang pengusaha sedangkan kamu hanya seorang Staff biasa. Mama pasti sulit menerimamu,” tuturku menjelaskan padanya.


“Urusan tante tenang saja. Aku akan mengeluarkan semua ilmu rayuanku padanya. Aku sudah bilang, tentang urusan rayu-merayu, aku ahlinya.” Deon tertawa kecil sebelum melanjutkan kembali ucapannya dengan mimik wajah serius. “Sekarang masalah utamaku adalah apakah kamu bersedia memberiku kesempatan menjadi penyelamatmu?”


Aku tidak langsung menjawabnya. Kutatap kedua mata Deon yang juga sedang menatapku dengan lembut.


“Sebelumnya aku ingin menceritakan semuanya padamu, Deon. Setelah itu, kamu bisa memikirkannya kembali. Jika kamu memilih untuk berhenti, maka berhentilah sekarang.”


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘