
Happy reading 📖📖 guys
“Halo, ladies! Long time no see. Bagaimana kabar kalian selama ini?”
Kugerakkan kepala menoleh ke belakang. Tampak sosok yang selalu kurindukan selama hampir empat tahun belakang ini, berdiri dengan tegak di sana sambil menyunggingkan senyum.
Perasaan rindu yang amat sangat membuncah keluar begitu saja. Aku berlari ke arahnya dan langsung memeluk erat tubuhnya.
Sesaat kurasakan tubuhnya menegang, tapi kemudian dia membalas pelukanku dengan sama eratnya. “I’m missing you so bad …,” ucapnya lirih dan pelan.
Aku membenamkan wajahku ke dadanya dan semakin mengeratkan pelukan.
Aku terlalu merindukannya sehingga tidak dapat mengontrol perasaanku. Bahkan, aku tidak peduli dengan kehadiran Agatha dan Bella di ruangan ini.
“Ehem! Jangan lupa kalau di sini masih ada orang selain kalian, loh!” ucap Agatha tiba-tiba.
Jason melepaskan pelukan kami. Kami saling bertatapan. Senyumannya merekah di bibirnya.
Dia mengelus kepalaku lembut. Kemudian menautkan jarinya dan menggenggam tanganku, lalu menggiringku berjalan menghampiri Agatha.
“Congrats buat lo, Tha. Semoga lo sekeluarga sehat dan selalu bahagia,” ucap Jason.
“Thank you.” Agatha membalas senyum pada Jason. Matanya melirik Jason yang masih menggenggam jariku dengan erat. “Sudah lama tidak ketemu. Lo masih dinas di Sumatera?”.
“Gue minta balik sama bos. Jadi, gue tidak perlu ke sana lagi. Sudah ada pengganti gue di sana.”
Agatha memicingkan matanya sekilas. Sedangkan Bella mengernyitkan alisnya.
“Lo bakal menetap di jakarta lagi?” tanya Bella dan dibalas Jason dengan anggukkan kepala.
“Bukannya seharusnya lo ditugaskan di sana setahun?” tanya Bella lagi.
Mata Jason terlihat berbinar-binar. Senyumnya makin merekah lebih lebar.
Terakhir aku bertemu dengannya, dia tidak terlihat sebahagia sekarang ini. Apakah ada sesuatu hal baik yang membuatnya bahagia?
“Beberapa hari yang lalu gue mendapat telepon dari seseorang. Telepon itu membuat gue tanpa berpikir dua kali, langsung menghubungi bos gue dan mengatakan kalau gue tidak bisa melanjutkan dinas di sana lagi. Gue minta bos segera mencari pengganti gue di sana,” cerita Jason.
“Oh ya? Siapa yang telepon lo? Ada masalah penting?” tanya Bella ingin tahu.
Agatha melirik ke arahku dengan pandangan yang tidak bisa kutangkap artinya. Aku hanya membalas tatapannya, memasang raut wajah tidak mengerti.
“Tante Restin,” ucap Jason.
Refleks aku langsung menoleh ke arahnya. Mataku membulat lebar mendengar ucapan yang keluar dari bibirnya. Apa tadi katanya? Mama meneleponnya? Untuk apa?
“Ngomong-ngomong gue senang bisa ngelihat wajah jelek lo, Jas. Berbulan-bulan di Sumatera, tidak membuat penampilan lo berubah,” ucap Agatha tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
Jason tertawa terbahak-bahak. “Gue dan Ayla harus membahas sesuatu. Boleh pinjam Ayla nya, kan?” tanya Jason meminta persetujuan dari Agatha dan Bella.
Agatha menarik bibirnya membuat senyuman. “Sejak kapan lo kalau ada urusan dengan Rayla minta izin kita segala? Seharusnya lo minta izin langsung sama Deon,” tukasnya tanpa menyembunyikan wajah tidak sukanya.
Jason mengernyitkan alis. Raut wajahnya terlihat bingung. “Deon? Siapa?”
Agatha menggerakkan matanya ke arahku. “Tanya sama Rayla saja.”
Tiba-tiba suasana menjadi tegang. Agatha sengaja memojokkanku.
Aku tahu dia pasti menyalahkan perbuatanku tadi yang tiba-tiba memeluk pria lain, tapi Jason bukanlah pria lain. Dia adalah sahabat sekaligus cinta pertamaku.
Sejak kejadian aku mengetahui alasan dibalik Jason meninggalkanku begitu saja, perasaaan cinta yang masih tersimpan di dalam lubuk hati semakin menguat.
*****
Aku menatap sekeliling ruangan sambil mengingat kembali masa lalu. Dulu kamar ini adalah markas kami untuk berkumpul. Berbagai canda tawa riang pernah mengisi ruangan ini. Empat tahun sudah berlalu. Waktu berjalan sangat cepat.
Jason masuk dengan tangan membawa nampan yang berisi minuman dan kue. Dia menggunakan kakinya untuk menutup pintu kamar. Kemudian meletakkan hidangan di meja.
Aku segera mengambil minuman dan menyeruputnya dengan cepat untuk mengatasi kegugupanku. Saat ini jantungku berdebar dua kali lebih cepat.
Aku menantikan suatu hari bisa bertemu kembali dengan Jason dan membahas masalah kami. Namun, sekarang ketika dia sudah berada di hadapanku, rasa cemas dan gugup membuatku bingung, harus di mulai dari mana percakapan kami?
“Kamu tidak penasaran tentang tante yang menghubungiku?” tanya Jason tiba-tiba memulai perbincangan.
Kami berdua memutuskan segera meninggalkan rumah Agatha karena Jason bilang ingin membicarakan hal yang penting.
Tadinya aku kira kami akan ke tempat coffee shop atau Restoran untuk membicarakannya, tapi ternyata dia membawaku ke rumahnya.
Tante Sartin menyambutku dengan sangat antusias. Bahkan, dia sempat menahanku di ruang tamu karena tante ingin mengobrol banyak denganku.
Namun, Jason segera mengatakan kalau kami ingin membahas sesuatu hal yang penting.
“Sebelum membahas itu, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan terlebih dahulu ….” Aku menarik napas dalam kemudian kembali melanjutkan ucapanku. “Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku kalau mama yang memintamu pergi dari kehidupanku?”
Jason menatapku dengan tatapan lembut. “Aku tidak ingin hubunganmu dengan tante makin memburuk. Saat itu aku juga tidak percaya pada diriku sendiri apakah aku benar pantas untukmu? Apakah aku bisa membahagiakanmu?”
“Kita saling mengenal sudah sejak remaja, Jason! Seharusnya kamu tahu kalau kamu paling mengenal diriku! Kamu tahu apa yang kusuka! Kamu tahu apa yang kutakutkan! Kamu tahu apa yang kubenci! Bahkan, kamu tahu seluruh tentang kehidupanku! Kenapa kamu masih ragu?” ucapku dengan penuh emosi.
“Aku hanya sebagai Sales Marketing, Ayla. Sedangkan calon menantu idaman tante adalah yang bisa membahagiakan kamu secara keseluruhan. Dalam artian juga dari segi materi. Dengan posisi pekerjaanku seperti itu, aku tidak masuk dalam pilihannya,” tutur Jason menjelaskan.
Mulutku sudah siap mengatakan sesuatu, tetapi Jason terlebih dulu mengatakan, “Karena itu aku berpikir lebih baik aku berusaha untuk mengejar karir terlebih dahulu. Ketika aku sudah berada diposisi jauh lebih baik daripada Sales Marketing, aku akan menemui tante dan meminta izin kepadanya untuk kembali ke dalam kehidupanmu.”
Jason menggenggam erat kedua tanganku. Matanya memandang dalam manik mataku.
“Masih ingat pertemuan terakhir kita di coffee shop? Aku sempat menemui tante Restin, memintanya untuk mempertimbangkan kebahagiaanmu dan izinkan aku untuk kembali dalam kehidupanmu. Namun, tante Restin lagi-lagi menolakku. Saat itu aku putus asa. Makanya aku menyetujui tawaran dinas ke Sumatera.”
“Lalu mengapa mama meneleponmu? Apa lagi yang dikatakannya kali ini?” tanyaku sambil mengatur debaran jantungku yang berdetak sangat cepat. Entah mengapa aku mempunyai firasat tidak enak.
Jason menggeser kursi duduknya agar lebih dekat denganku. Tangannya semakin menggenggam erat jemariku.
“Tante Restin menghubungiku, dia bilang, aku diizinkan untuk kembali ke dalam kehidupanmu. Kamu tahu bagaimana perasaanku saat mendengarnya? Bahagia, Ayla. Tidak ada hal lain yang membuatku sangat bahagia selain dapat kembali bersama denganmu. Tanpa berpikir dua kali, aku langsung menghubungi bos aku dan mengatakan kalau aku tidak bisa melanjutkan dinas di sana lagi. Kali ini aku tidak akan melepaskanmu, Ayla.”
Aku berusaha menguatkan hati untuk tidak terpengaruh atas perkataannya. Namun, hatiku seakan mengkhianati akal pikiranku.
Karena saat ini, hatiku terus menjeritkan kata-kata rindu pada Jason. Sekaligus tersentuh atas pengungkapannya.
Jason menarik jemariku ke bibirnya dan mengecup dengan lembut. Kemudian dia menarikku dekat padanya. Membuat benteng pemisah di antara kami semakin kecil. “Mari kita mulai hubungan yang baru, Ayla. Masih belum terlambat, kan?”
Mataku memanas dan pandanganku mengabur oleh air mata yang mulai turun dari kelopak mata.
Wajah Deon muncul dalam benakku. Seharusnya aku tahu harus menjawab apa. Namun, tidak kupungkiri kalau di dalam hatiku masih menyimpan rasa untuk Jason.
Oh Tuhan, Apa yang harus aku lakukan? Mengapa disaat aku sudah memutuskan untuk bersama Deon, Jason
kembali muncul membahas perasaan cinta kami yang tak pernah tersampaikan?
Pada saat diriku sedang sibuk berkecamuk dengan pikiran, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang kenyal dan lembut, menempel pada bibirku. Seketika jantungku terasa berhenti berdetak.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘