Silence

Silence
Bab 82



*Happy reading 📖📖 guys*


“Entahlah, Deon. Sepertinya aku harus mempertimbangkan kembali.”


Mimik wajah Deon pun terlihat semakin khawatir setelah mendengar jawabanku.


“Tidak boleh! Kamu sudah berjanji tidak akan berubah pikiran. Kamu juga bilang kalau kamu cuma mau aku di hidupmu. Apapun yang terjadi, pertunangan kita tetap dilaksanakan!” ucapnya dengan tegas.


“Erik mengucapkan satu kalimat yang membuatku teringat atas perkataan mama dulu saat kami bertengkar,” kataku sambil melirik Deon yang terlihat gusar.


“Dia bilang, seandainya saja aku bersedia melayani ha sratnya, dia tidak akan mencari wanita lain untuk melakukannya. Saat itu, aku langsung teringat perkataan mama bahwa pria akan mencari kepuasan di tempat lain ketika kita sebagai wanita tidak dapat memberinya. Aku mulai bertanya-tanya, apakah suatu saat nanti hal itu juga akan terjadi pada kita apabila ak-“


“For God's sake, Rayla! Aku bukan pria bajingan itu! Dulu aku memang suka bermain-main dengan banyak wanita, tapi itu sebelum aku jatuh cinta kepadamu!” Deon tiba-tiba menyela dengan suara yang keras, membuatku sedikit terkejut.


“Aku benar-benar mencintaimu. Apa pun yang terjadi, apa pun yang telah kamu lakukan, apa pun yang akan kamu lakukan, aku akan selalu mencintaimu, Rayla Pramanta. Aku bersumpah. Aku tidak hanya di sini untuk bagian-bagian yang indah, Rayla,” ucap Deon lirih.


Ekspresi wajahnya berubah kecewa. Aku hendak menjelaskan maksudku kepadanya, tetapi Deon terlebih dahulu bersuara.


“Kamulah yang aku inginkan dalam hidupku, tidak ada orang lain yang bisa masuk ke dalam hatiku. Aku akan melakukan yang terbaik untuk membuatmu bahagia dan membuatmu tersenyum sepanjang hari dalam hidupku. Apakah keseriusanku ini tidak terlihat jelas di matamu, Rayla? Sudah sampai sejauh ini, apakah perjuanganku masih belum cukup membuatmu untuk percaya kepadaku?” tanyanya dengan nada frustasi begitu kental terdengar dari suaranya.


Aku menatap dalam-dalam kedua mata Deon yang berkaca-kaca. “Maaf, aku tidak bersungguh-sungguh mengatakannya, Deon.”


Dia mengangkat kedua tanganku dan mencium punggung tanganku lembut. “Katakan kepadaku, Rayla. Aku harus bagaimana lagi agar kamu bisa percaya aku sepenuhnya?” tanya Deon, putus asa. Satu titik air mata lolos dari sudut matanya.


Aku langsung menggunakan jariku, menyeka air matanya itu. Ada setitik penyesalan karena kejahilanku ini telah membuat Deon menangis. “Aku tidak bersungguh-sungguh, Yang. Aku sedang bercanda.”


“Kamu tidak perlu menghindar, Rayla. Katakan semua isi hatimu sekarang kepadaku. Kalau ternyata kamu memang masih belum siap, tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu lagi. Aku akan menunggumu sampai kamu sudah benar-benar siap.”


Walaupun Deon berkata seperti itu, tapi aku bisa melihat raut kecewa di wajahnya. “Baiklah. Kamu dengar baik-baik, ya. Apa yang ku ucapkan setelah ini, semuanya berasal dari lubuk hatiku.”


Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian berkata, “Hidupku selama ini lebih banyak mengantar pada kesedihan dan air mata. Ada kalanya di saat masalah datang, aku ingin sekali memiliki sosok yang dapat menenangkan dan membantuku keluar dari masalah yang sedang dihadapi. Meskipun ada Maylin, tante Fifi, Agatha dan Bella, tapi tidak semua hal, aku bisa berbagi kepada mereka.”


“Sampai akhirnya, seseorang membantuku melewati masa-masa tersulit. Selalu mendukungku setiap saat. Dia memberiku tawa kebahagiaan yang hampir saja aku lupa bagaimana caranya tertawa.”


“Sedikit demi sedikit dia mengisi lubang yang kosong dalam diriku. Sedikit demi sedikit dia mengembalikan kepercayaan diriku bahwa akan ada seorang pria yang bisa memberiku kebahagiaan. Dan pria itu bernama Deonartus Surbakti. Menurutmu, apakah aku rela membiarkan pria ini pergi dari hidupku?” ungkapku panjang lebar.


“Tapi tadi kamu bil-“


“Sshh ….” Aku menempelkan jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan agar Deon tidak melanjutkan kata-katanya lagi. “Aku hanya bersandiwara, Yang.”


Deon mengangkat satu alisnya. “Kamu tidak sedang menghiburku, kan?” Nada suaranya terdengar curiga.


Aku tertawa pelan. “Well, tentang Erik yang berkata seperti itu memang benar, tapi percayalah, aku tidak pernah menyamakan dirimu dengannya. Tidak perlu membandingi kalian berdua karena aku tidak pernah sekali pun mencintai Erik.”


“Astaga, Sayang. Kamu benar-benar membuatku hampir gila saking hopeless. Aku merasa frustasi, tidak tahu harus bagaimana lagi membuatmu percaya kepadaku. Sandiwara kamu yang ini, hebat! Selamat!” tukas Deon sambil berdecak-decak sebal.


Detik berikutnya Deon mel umat bibirku, tetapi hanya sebentar karena sudut bibirku yang terluka membuatku meringis kesakitan.


“Maaf, aku lupa bibirmu terluka,” ucap Deon lirih sambil mengulurkan jarinya untuk menyentuh luka itu.


“Tidak apa-apa.” Aku mengalungkan kedua tanganku ke leher Deon dan menatap matanya lebih dekat. Sedangkan Deon balas memeluk pinggangku erat.


“Pelukanmu selalu menghangatkanku di segala kondisi kehidupan yang aku jalani. Aku merasa menjadi orang yang beruntung karena bisa memilikimu, karena kamu bisa ngertiin aku di saat aku rapuh maupun jatuh, kamu dapat memahamiku apa adanya.”


Aku mengusapi wajah Deon dengan lembut. Membelai setiap inci wajah yang membuat hidupku sempurna dan hariku lebih bermakna.


“Aku beruntung memiliki seseorang yang hebat. Terima kasih karena selalu berada di sampingku. Terima kasih sudah memilihku untuk bersamamu. Terima kasih sudah mau menjadi sosok yang mau bertahan untuk menjalani lika-liku hidupku. Terima kasih untuk segalanya.”


Deon semakin mempererat pelukannya. “Sejak bertemu denganmu, aku sudah tertarik padamu. Aku masih ingat saat hari pertama kamu memperkenalkan diri, begitu sepasang mata yang tidak saling kenal, bertemu, aku memutuskan akan berteman dengannya. Sayangnya, kamu selalu menarik diri.”


“Tentu saja aku harus berhati-hati dengan Playboy,” ucapku sambil tersenyum lebar.


Deon tertawa tergelak-gelak. “Kamu tahu? Aku suka mengejek sahabatku yang sedang mabuk asmara. Sekarang malah kena batunya. Ternyata benar, kehadiranmu di awal pertemuan itu menumbuhkan rasa penasaran, sedang pertemuan kedua menumbuhkan rasa rindu, dan pertemuan selanjutnya hanya meninggalkan rasa candu.”


“Mantan Playboy satu ini tetap saja pintar menggombal,” ledekku.


“Bumbu cinta tetap harus dimasukkin, dong, Sayang. Biar rasanya lebih sedap.” Deon menyentuh hidungku dengan ujung jarinya.


Bibirnya menyunggingkan senyum simetris diikuti dengan bagian alis dan pipi yang mengangkat. “So, pertunangan kita tetap dilakukan, kan?”


“Aku ingin meraih kebahagiaanku. Apakah keinginanku ini egois?”


“Tidak sama sekali, Sayang. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan itu.” Deon mengecup keningku. “Kapan aku boleh bertemu tante, meminta izin kepada beliau kalau aku ingin mengikat anak sulungnya ke hubungan yang lebih serius.”


“Tunggu beberapa hari dulu, ya. Aku tidak mau luka robek di bibirku ini di lihat mama atau tante Fifi.”


“Mereka harus tahu seberapa bejatnya pria berengsek itu, Sayang,” tukas Deon tanpa menutupi amarah dari nada suaranya.


“Aku tidak mau menambah beban pikiran mama dan membuat mama semakin merasa menyesal karena telah membuat keputusan yang salah dengan membiarkan Erik masuk dalam kehidupanku.”


“Aku mengerti maksudmu, tetapi tante tetap harus tahu sisi keburukan Erik. Jangan sampai ketika Erik tiba-tiba menemui tante malah mengadu domba kita,” ucap Deon memberi pendapat.


Aku terdiam, merengung ucapan Deon yang masuk akal. Erik bisa saja nekat menemui mama lalu minta bantuan mama agar bisa kembali mendapatkanku. Sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiranku, tentang Erik yang masih belum bisa menerima hubungan kami yang telah berakhir.


“Kalau aku bersedia bertunangan dengan syarat kamu berjanji tidak akan membalas perbuatan mereka, apakah kamu setuju?” tanyaku tiba-tiba.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘