
Happy reading 📖📖 guys
Kami duduk dalam keheningan sejak di dalam mobil sampai akhirnya kami sudah berada di salah satu coffee shop yang menyediakan area outdoor. Dengan begitu aku bisa melihat rimbunan tanaman hijau ketika aku ingin mengalihkan pandangan dari Jason.
Seorang Waitress datang membawa pesanan kami. Kali ini aku memesan iced dark chocolate mocha.
Aku pernah membaca sebuah artikel tentang makanan untuk menghilangkan stres yang nikmat dan sehat yaitu salah satunya adalah dark chocolate.
Di dalam artikel tersebut menjelaskan bahwa cokelat dapat mengurangi kadar hormon stres kortisol, khususnya dark chocolate, diketahui menurunkan tekanan darah yang memicu perasaan tenang.
Cokelat hitam ini juga mengandung lebih banyak polifenol dan flavonol, dua jenis antioksidan penting daripada beberapa jus buah. Oleh karena itu, aku mencoba memesan minuman ini agar bisa menenangkan pikiran dan membuat moodku kembali baik.
“Kenapa lo tidak mengatakan pada gue kalau lo hari ini juga akan datang ke Restoran mama? Lo cuma balas Whats App gue dengan jawaban ok. Ternyata ini maksud lo?”
Setelah kami diam dalam keheningan begitu lama, tidak ada tanda-tanda Jason akan memulai pembicaraan, akhirnya kesabaranku sudah habis. Aku pun memutuskan untuk memulai percakapan terlebih dahulu.
“Tante meminta padaku untuk merahasiakannya darimu,” ucapnya. “Kenapa kamu berbohong?”
Dahiku mengernyit, tidak mengerti maksud pertanyaannya. “Berbohong tentang apa?”
“Kekasihmu sepertinya tidak mengetahui apa-apa tentangku. Tentang masa lalu kita. Benar, kan?” Jason tersenyum sinis.
Mataku melotot tajam ke arahnya. Pertanyaannya itu membuat emosiku seketika kembali muncul. “Gue rasa itu urusan pribadi gue. Tidak ada hubungannya dengan lo!”
Kemudian Jason tertawa. Namun, suara tawanya terdengar hambar.
“Kamu tidak lupa dengan ciuman kita pada saat itu kan, Ayla? Aku bisa merasakannya kalau kamu juga masih memiliki perasaan yang sama terhadapku. Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Kira-kira bagaimana reaksi kekasihmu jika dia tahu kalau kekasihnya berciuman dengan pria yang pernah menjadi cinta pertamanya itu?”
Saat seperti ini tidak ada gunanya memberikan segudang alasan. Aku perlu mengakui kesalahan tentang kejadian pada saat itu. Seharusnya dari awal aku harus tegas padanya, juga pada diriku sendiri.
“Maafin gue, Jas. Saat itu gue tidak bisa mengontrol perasaan rindu gue terhadap lo,” akuku.
Jason menarik bibirnya dengan senyum kemenangan. “See? Kamu masih memiliki perasaan cinta padaku,” tuturnya dengan penuh percaya diri.
“Awalnya gue mengira bahwa masih ada perasaan cinta itu untuk lo, Jas. Lalu ketika kita kembali bertemu setelah kejadian ciuman itu, gue berpikir kalau gue harus memilih. Dan akhirnya pilihan gue jatuh pada Deon secara dia adalah kekasih gue saat ini …. ” Aku mengaduk iced dark chocolate mocha dengan pelan. Jason diam menyimak ucapanku.
Aku menghela napas dalam, kemudian menatap Jason dengan tegas, lalu melanjutkan kembali ucapanku. “Sampai hari ini gue baru sadar, tidak ada lagi debaran di jantung gue saat berdekatan dengan lo, Jas. Perasaan rindu saat kita kembali bertemu setelah sekian lamanya, sudah menghilang entah ke mana.”
Wajah Jason terlihat tegang. Senyumannya perlahan memudar.
Rasa sesak menyergap masuk dalam hatiku karena ucapanku selanjutnya akan menyakiti hatinya. Bagaimanapun juga Jason pernah hadir sebagai seseorang yang special dalam hatiku.
“Gue baru sadar kalau perasaan cinta gue terhadap lo sudah tidak ada lagi, Jas. Ternyata perasaan itu hanyalah sisa-sisa dari masa lalu yang belum diselesaikan. Ketika semua telah berubah menjadi jelas, tentang kita, semuanya tinggallah masa lalu. Dan gue menerima Deon bukan karena pilihan, melainkan karena gue benar-benar mencintainya. Gue menemukan cinta di hati gue untuknya. Maafkan gue, Jas! Gue keliru mengartikannya.”
Jason menarik tanganku, lalu menggenggamnya dengan erat. Kali ini aku membiarkan dia melakukannya. Aku bisa melihat tatapannya menatapku dengan penuh harapan.
“Aku yang seharusnya minta maaf padamu, Ayla. Seharusnya saat itu aku memilih untuk berjuang bersamamu. Aku sungguh pengecut dan aku sangat menyesalinya ….”
“Kamu sudah mengambil hatiku, separuh jiwaku. Aku tidak punya apa pun lagi untuk diberikan pada wanita lain. Cuma kamu yang aku cintai, Ayla!”
“Aku tidak percaya hal seperti itu. Aku salah sudah pernah melepaskanmu sekali. Kali ini aku akan berjuang agar bisa bersama denganmu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Ayla. Sampai kapan pun!” Jason terlihat serius atas ucapannya.
Seandainya ucapannya ini dia ucapkan saat empat tahun yang lalu, aku pasti menangis bahagia melihatnya yang terlihat sangat mencintaiku. Namun, sayang kondisi sekarang sudah tidak sama dibanding empat tahun yang lalu.
Waktu tidak dapat berputar kembali. Apa yang dia katakan saat ini hanya membuatku semakin sedih. Karena secinta apa pun dia kepadaku, hatiku sudah telanjur di tempati oleh pria lain.
“Kita tidak bisa, Jas,” kataku putus asa menghadapi kerasnya pendirian Jason.
“Kenapa kamu begitu ingin lepas dariku? Kamu masih mencintaiku walau hanya sedikit saja, kan?” Jason menatapku tajam. Aku bisa melihat kemarahan dan kekecewaan dari sorot matanya itu.
Aku menggelengkan kepala dengan cepat. “Kenapa, sih, lo keras kepala? Gue mencintai pria lain, Jas! Kisah kita sudah selesai. The End!”
“Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya, Ayla! Kamu milikku! Cuma milikku!”
“Jason Narendra!” Aku pun berteriak hingga membuat Jason bungkam.
Dia menatapku dengan mata yang memerah. Terlihat begitu tidak berdaya.
“Mungkin kita ditakdirkan hanya sebagai sahabat.”
“Sial! Berhenti bicara seperti itu!” geramnya.
“Lo harus menerimanya, Jas.”
“Berengsek!!” umpatnya dengan kencang sambil memukul meja hingga mengeluarkan bunyi nyaring dan semua pengunjung yang berada di sekitar kami spontan menoleh ke arah kami.
Aku sampai terlonjak dari kursi karena terkejut. Belum pernah aku melihatnya seperti ini. Dia tampak benar-benar murka. Dadanya naik turun dan napasnya memburu, aku tahu dia siap meledak saat ini karena amarah.
Dan, kehadiranku di sini hanya akan membuatnya semakin emosi. Aku harus pergi.
“Gue harap lo bisa mengerti. Saat ini gue mencintai kekasih gue, Jas. Maafkan gue yang hanya bisa melanjutkan hubungan kita sebagai sahabat. Suatu hari lo akan menemukan wanita yang lebih baik dari gue.”
Sudut mataku mulai digenangi air mata, tapi aku berusaha menahannya agar tidak mengalir. Jason masih terdiam dengan mata terpejam.
“Gue bisa pulang sendiri. Lo hati-hati nyetirnya.” Aku segera berdiri dari tempatku duduk dan ingin melangkah pergi. Namun, gerakanku terhenti ketika mendengar pertanyaan Jason.
“Tante sangat keras kepala, Ayla. Beliau sudah memutuskan tidak akan menyetujui hubunganmu dengan pria itu. Apa kamu yakin, masih ingin melanjutkannya? Bagaimana kalau kalian tidak akan pernah direstui oleh tante sampai
ke jenjang pernikahan?” Nada suaranya terdengar dingin.
Aku tersenyum kecil sebelum akhirnya menjawab, “Gue memang tidak akan menikah, Jas. Kalau lo ingin bertanya mengapa, Lo bisa tanyakan langsung kepada mama gue. Mama tahu apa alasannya.”
Kemudian aku membalikkan badan, lalu berjalan melangkah meninggalkannya.
It’s not always easy to leave behind what is familiar to take the first steps toward something new. But you can never move forward until you let the past go. Let’s forget the baggages of the past and make a new beginning. Every new beginning comes from some other beginning’s end.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘