Silence

Silence
Bab 15



Happy reading 📖📖 ya guys


Pagi ini, ketika aku siap berangkat kerja, aku dikejutkan oleh sebuah mobil sedan yang terparkir di depan gerbang rumah dengan seorang sopir yang sedang berdiri di samping pintu mobil. Rupanya Erik bersungguh-sungguh atas ucapannya kemarin.


Aku mengirim chat kepada Erik agar besok tidak mengirim sopirnya lagi. Namun, dia tidak menerima penolakan dengan dalih rekan kerjaku, Deon, adalah sebuah ancaman baginya karena Deon memiliki peluang untuk merebut diriku darinya.


Seolah-olah aku memiliki kelebihan untuk diperebutkan pria saja. Padahal, tanpa adanya kehadiran pihak ketiga, cepat atau lambat hubungan kami juga akan berakhir.


“Sejak kapan lo mempekerjakan seorang sopir?”


Aku memutar kepalaku, menoleh ke belakang. Wajah Deon muncul dengan senyum isengnya.


Aku melengos, lalu melangkah berjalan masuk ke ruang divisi kami.


Setelah menaruh barangku di meja kerja, aku menghampiri meja Deon. “Kenapa lo tinggalin banyak kissmark di tubuh gue? Lo mau dibantai keluarga gue?” tanyaku dengan suara berbisik agar tidak didengar orang lain.


“Namanya juga lagi keenakan, La. Gue mana sadar, sih? Lagi pula, kissmark itu salah satu langkah melakukan hubungan intim,” jawab Deon cuek.


Mataku membulat lebar karena dia tidak mengecilkan suaranya. “Ssttt! Kecilkan suara lo! Lo mau orang lain mendengar soal ini?” tanyaku galak.


Deon tertawa melihat reaksiku. Membuatku semakin dongkol.


“Pagi-pagi begini kalian lagi bisik-bisik apa, sih? Tumben ….” Bram tahu-tahu sudah berada didekat kami bersama Ibu Risa yang berada di sampingnya.


Kami sekarang memanggil Risa dengan sebutan Ibu karena posisinya sekarang menjadi Kepala Akuntansi.


“Tadi gue lihat Rayla diantar sama sopir. Jadi, gue tanya sama dia sejak kapan dia mempekerjakan seorang sopir?” Deon menarik senyum jahilnya ke arahku.


Aku mengerucutkan bibir. Memang apa urusannya kalau aku punya sopir?


Tidak sengaja mataku bersirobok dengan Ibu Risa. Aku hendak memberinya salam, tapi tatapan matanya yang memancarkan rasa tidak suka kepadaku, membuatku mengurungkan niat.


What’s wrong? Apa aku sudah berbuat sesuatu yang tidak dia sukai? Aku bahkan, belum bicara apa-apa di hadapannya.


“Daripada kalian menghabiskan waktu yang tidak berguna, lebih baik kalian bersiap-siap memberikan laporan yang saya minta seminggu yang lalu. Begitu jam kerja tiba, antar laporan kalian ke ruangan saya.” Seusainya memberikan perintah, Ibu Risa berjalan pergi menuju ruangannya.


Deon menunjuk Ibu Risa dengan kepalanya. “Dia kenapa, tuh, Bram? Sedang PMS?”


Bram tertawa mengejek. “Cemburu, Bro. Kita semua tahu kalau Risa suka sama lo dan lo mengabaikan perasaannya.”


“Kenapa harus cemburu?” tanyaku tidak mengerti maksud ucapan Bram tadi.


“Lo itu lugu atau kurang peka sih, Rayla? Risa cemburu melihat lo dengan Deon sedang berduaan bisik-bisik begitu,” jawab Bram.


Kedua mataku membulat lebar. “Gue dan Deon hanya teman kerja. Memangnya kami tidak boleh mengobrol? Seperti gue sekarang sedang mengobrol dengan lo, Bram.”


“Chemistry-nya beda dong, La.”


“Tidak perlu dibahas lagi. Ada-ada saja.” Lalu aku menatap sinis Deon. “Lo kenapa tidak jadikan dia kekasih lo, Deon? Biasanya lo tidak pernah menolak kalau ada wanita yang sedang mengincar lo atau jatuh cinta kepada lo.”


Deon menatapku lekat. Tatapan mata yang tidak pernah dia tunjukkan selama ini. Akibatnya, seluruh tubuhku menegang seketika.


“Sepertinya gue sudah menemukan seseorang yang membuat gue hanya menginginkan dirinya seorang. Gue tidak mau wanita lainnya,” jawabnya.


Bram langsung heboh dengan memberi banyak pertanyaan kepada Deon, tapi aku tidak dapat mendengar suara Bram karena kalimat Deon tadi terus terngiang-ngiang di kepalaku.


Hingga akhirnya suara telepon masuk dari ponselku membuatku tersadar dan menyelamatkan diriku dari tatapan Deon yang sepertinya telah berhasil menghipnotisku.


“Ya, Erik!” Aku sengaja menekan nama Erik dengan nada lebih tinggi agar Deon mendengarnya sekaligus memperingatinya juga diriku sendiri, bahwa statusku masih memiliki kekasih.


Aku berjalan kembali ke meja kerja. Erik mengatakan sesuatu kepadaku, tetapi aku tidak dapat fokus mendengarnya. Aku hanya bergumam dan sesekali menjawab iya.


Deon, sialan! Apa yang sudah dia lakukan padaku malam itu selain bercinta? Ada perasaan baru yang mulai muncul dalam hatiku dan aku merasa tidak tenang.


*****


Akhir bulan adalah saat yang paling sibuk dengan pembuatan laporan laba rugi dan laporan arus kas untuk menjelaskan kondisi keuangan perusahaan, sehingga para stakeholder bisa mengetahui kondisi finansial perusahaan yang terkini dan dijadikan sebagai dasar evaluasi untuk langkah kebijakan perusahaan selanjutnya.


Karena itu, biasanya aku sibuk berlembur membuat laporan tersebut. Namun, akhir-akhir ini Erik semakin bertingkah. Komunikasi di antara kami pun memburuk. Kami menjadi lebih sering berdebat.


Erik tidak bisa menoleransi lagi tentang lembur. Dia terus menerus mengingatkan posisiku yang sebagai calon istri Erik Xavier Jadison tidak pantas bekerja hinggal larut malam.


Yang benar saja? Sebelumnya tidak menjadi masalah baginya saat dia masih berada di Indonesia. Mengapa sekarang dia tidak bisa menerimanya?


Karena sikap Erik yang sangat menyebalkan itu, membuat pekerjaanku selesai lebih beberapa hari dari tenggang waktu yang diberikan pak Gunawan.


Setiap kali berpandangan denganku, dia menatapku dengan sinis dan menusuk. Seolah-olah aku adalah kuman yang harus dibasmi.


Masalah hubunganku dengan Erik yang akhir-akhir ini memburuk, laporan telat dari tenggang waktu, dan sikap permusuhan dari ibu Risa kepadaku. Lengkaplah sudah penderitaanku saat ini.


Aku melakukan gerakan meregangkan otot tubuh yang terasa kaku karena kesibukan hari ini. Lima menit lagi jam pulang kantor tiba.


Aku sudah mendapat pesan dari pak Anto, sopir yang dipekerjakan Erik, bahwa dia sudah standbye di bawah sedang menungguku. Aku menghela napas berat.


Deon datang dengan memberiku segelas kopi hangat. “Lo terlihat kacau akhir-akhir ini. What’s wrong?” Dia menarik kursinya sampai depan mejaku.


“I don't have much time to explain.” Aku menyeruput kopi pemberiannya. Berharap tubuhku kembali terasa segar.


“Sopir pribadi lo?” Alisnya berkerut.


“Kekasih gue mengirim sopirnya mengantar jemput gue. Karena itu gue tidak bisa lagi lembur dan akhirnya tidak bisa menyelesaikan laporan gue tepat waktu,” jawabku sengit.


“Kekasih lo tipe pria yang overprotective, tapi ini yang disukai para wanita, kan? Diperhatikan oleh sang kekasih adalah hal yang paling penting bagi wanita.”


“I don’t! Gue merasa tidak bebas! Hidup ini milik gue! Hanya gue yang mengerti apa yang mau gue lakukan. Orang lain tidak bisa mengatur seenaknya!” jawabku ketus.


Deon mengangguk kepalanya. Kupikir dia mengerti maksudku karena dia sendiri pun juga tidak suka diatur.


Namun, kalimat yang diucapkan olehnya kemudian membuatku bungkam.


“Tapi, La, saat lo menikah dan menjalani rumah tangga, tentunya sudut pandang lo ini harus diubah. Setelah menikah, kehidupan lo bukan sekadar ‘gue’ lagi, tapi berubah menjadi ‘kita’.”


Aku mengalihkan pandangan mataku dari Deon yang sedang menatapku lurus. Sebuah botol minum stainless steel yang terpampang di atas meja membuatku teringat pada kenangan masa lalu.


Apakah papa dan mama yang pada saat itu sedang mabuk asmara juga berpikiran demikian? Jika memang ada kata ‘kita’, mengapa berakhir dengan perpisahan?


Sesungguhnya ada satu pertanyaan yang masih mengganggu pikiranku hingga sekarang.


Namun, aku tidak berani bertanya kepada tante Fifi karena takut mendengar jawaban yang tidak ingin kudengar.


Di mana papa sekarang? Apa yang sedang dia lakukan? Papa dengan istri pertamanya belum resmi bercerai. Apakah ada kemungkinan papa kembali pada istri pertamanya? Karena itu papa memilih meninggalkan aku dan Maylin?


“La! Rayla!”


Aku tersentak, lalu menengadahkan kepala.


Deon membungkukkan tubuhnya dengan satu tangan berada di atas meja untuk menahan tubuhnya, lalu kepalanya dicondongkan ke arahku hingga menyisakan sedikit jarak di antara wajah kami berdua.


“A- apa?” jantungku tiba-tiba berdebar dengan cepat.


Jari telunjuknya menekan dahiku pelan dan berkata, “Stop overthinking, La. Tidak semua hal harus berjalan dengan lancar. Kita hanya manusia biasa yang masih memiliki banyak kekurangan. Biarkan semuanya mengalir apa adanya seperti sungai yang mengalir mengikuti arusnya. Lo butuh rileks.”


Sentuhannya membuat perasaanku terasa hangat dan tenang. “Thank’s, Deon. Gue pikir lo hanya pintar merayu wanita. Tidak disangka-sangka, lo ternyata bisa sebijak ini. Sayang sekali sikap bijak lo ini tidak digunakan saat sedang bersama kekasih lo.”


Deon tersenyum lebar. “Gue anggap itu sebagai pujian, La. And you’re welcome.”


Jam pulang kerja telah tiba. Aku bergegas merapikan barang-barang yang ada di meja. Deon juga sudah kembali ke meja kerjanya.


Aku bersiap meninggalkan meja kerja, tapi tiba-tiba Deon mencegat langkahku. Aku memandangnya dengan tatapan bertanya.


Deon mengambil dokumen dari tanganku, lalu meletakkannya kembali ke atas meja. “Belum lima menit gue mengingatkan kalau lo butuh rileks, La. Weekend digunakan untuk mencari hiburan. Bukan pekerjaan,” ucapnya.


Aku ingin membalas ucapannya, tapi apa yang dikatakannya memang benar. Aku menarik napas dalam. “Baik, Pak Deon. Terima kasih atas perhatian Bapak.”


Deon tertawa, lalu dengan jarinya mengacak rambutku.


“Apa-apaan, sih? Rambut gue jadi berantakan, nih!” protesku kesal.


Deon menautkan jarinya dan menggenggam tanganku. “Yuk, pulang!”


Genggaman tangannya membuat hatiku terasa hangat. Hubunganku dengan Deon semakin hari semakin dekat. Sekarang kami tidak lagi sekadar rekan kerja, tapi sudah menjadi teman akrab. Berteman dengannya ternyata tidak buruk.


Deon memiliki banyak cara untuk menghiburku walau aku tidak menceritakan masalahku kepadanya. Aku berharap hubungan pertemanan ini jangan sampai tumbuh perasaan lain.


Aku memang tidak akan menikah, tapi aku juga tidak mau menjadi kekasih seorang Playboy. Aku tidak ingin hatiku semakin hancur berkeping-keping.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘