Silence

Silence
Bab 78



*Happy reading 📖📖guys*


“Jika kita sama-sama sepakat tentang investasi ini, lantas permintaan apa yang Anda inginkan sebagai gantinya Mr. Erik?” tanya Deon dengan suara rendah tapi terdengar penuh penekanan.


Erik memasang senyum lebar. “Sama seperti investor lainnya. Saya hanya ingin saham Anda.”


“Berikan proposalnya kepada Pak Deonartus,” perintah Mr. Xavier Jadison.


“Proposalnya ketinggalan di ruangan Papa tadi. Aku pergi ambil.”


Erik beranjak dari duduknya lalu hendak melangkah, tetapi terhenti ketika Mr. Xavier Jadison berkata, “Saya ingin mengubah beberapa hal persetujuan yang telah kita sepakati, Pak Deonartus. Berkasnya ada di meja ruangan saya. Tadi saya terburu-buru menyusul Anda kemari sehingga saya lupa membawanya. Bolehkah meminjam Sekretaris Anda sebentar untuk menemani Mr. Erik mengambil berkasnya?”


“Bukankah Anda memiliki Sekretaris sendiri? Mengapa Anda tidak menyuruh Sekretaris Anda yang mengambilnya?”


“Dia cuti setengah hari. Saya memintanya agar menunggu Anda datang terlebih dahulu baru boleh meninggalkan kantor.”


Melihat kedua tangan Deon terkepal erat di bawah meja, aku segera menggenggam tangannya untuk menenangkannya.


“Tidak apa-apa, Pak. Saya bersedia bantu mengambil berkasnya,” kataku sambil mengelus punggung tangannya dengan lembut.


Aku beranjak dari tempatku duduk lalu mengikuti Erik dari belakang, berjalan menuju ruangan lain.


“Masuklah!” perintah Erik ketika kami sampai di sebuah ruangan kerja yang luas.


Aku diam di tempatku berdiri. Sejenak hatiku meragu, apakah aku harus masuk ke dalam atau tidak?


“Kenapa diam di sana? Masuklah! Aku sedang mencari berkas milik Papa. Kamu baca dulu saja proposal dariku,” tukas Erik ketika melihatku hanya diam. Kemudian dia kembali sibuk mencari dari beberapa tumpukan berkas dan map yang tergeletak di atas meja.


Aku pun memutuskan melangkah masuk ke dalam. Mengambil proposal yang ditunjuk Erik tadi kepadaku.


Kubuka dan membacanya sekilas. Saking fokusnya mengamati isi proposal tersebut, aku tidak sadar kalau Erik berjalan semakin mendekatiku.


Tiba-tiba dia menarik kertas dari genggaman tanganku, kemudian mencengkeram kedua lenganku hingga tubuhku menghadapnya. Dengan cepat jarinya mengusap bagian leherku.


Aku tersentak atas perilakunya. Segera kutepis tangannya itu dengan kasar. “Apa yang telah Anda lakukan?” pekikku dengan mata melebar.


“Tolong jaga sopan santun Anda, Mr. Erik!” Nada suaraku terdengar meninggi ketika mengucapkannya.


Erik menatap nanar padaku, kemudian tertawa mengejek keras-keras. “Aku pikir kamu berbeda dengan wanita lain, Rayla. Ternyata sama saja.”


Dahiku mengernyit keheranan. Tidak mengerti maksud ucapan Erik.


“Apa yang dimiliki pria itu sehingga kamu bersedia memberikan tubuhmu kepadanya?” Suara Erik terdengar sarat emosi.


“Mengapa kamu menolak bercinta saat kita sedang berada di apartemenku? Sedangkan kamu tidak menolak pria itu, hah? Bahkan, kamu sedang mengandung anaknya, bukan?”


“A- apa? Mengandung? Maksud Anda apa?” Mataku membulat lebar. Terkesiap atas pertanyaan yang dilontarkannya tadi.


Erik mencibir sambil melihatku sinis. “Tidak usah berpura-pura tidak mengerti, Rayla. Pria itu mengatakan kepadaku kalau kalian akan segera menikah karena kamu mengandung anaknya.”


Astaga! Sebenarnya apa saja yang telah mereka bicarakan tentangku? Kenapa Deon menciptakan kebohongan seperti itu?


“Maaf, Mr. Erik. Saya rasa urusan pribadi saya bukan urusan Anda. Lebih baik Anda segera mencari berkas yang dimaksud Mr. Xavier Jadison. Saya balik ke ruang rapat.” Aku hendak pergi, tapi Erik mencekal lenganku erat, membuat gerakanku terhenti. “Lepaskan saya!” jeritku.


“Kita masih punya urusan yang belum selesai, Beb. Aku memintamu untuk menjaga tubuh dan hatimu untukku, tapi kamu telah melanggarnya.” Erik mengunci pergerakanku dengan satu tangannya melingkar di pinggangku kuat-kuat, lalu satu tangannya lagi bergerak untuk membelai pipiku pelan-pelan hingga ke bagian leher.


Sentuhannya sontak membuatku terpekik. “Lepaskan saya sebelum saya berteriak!” sentakku penuh emosi.


Aku meronta-ronta. Berusaha lepas dari tubuhnya, tetapi usahaku tidak membuahkan hasil. Dia malah semakin menarik tubuhku masuk lebih dalam ke pelukannya.


Erik tersenyum sinis kepadaku. “Teriak saja. Ruangan ini kedap suara, Beb. Pintunya juga sudah ku kunci. Daddy membuat ruangan kerjanya kedap suara agar aktivitas diam-diam bersama Sekretarisnya tidak terdengar dari luar,” jawabnya enteng lalu terkekeh.


Ucapan Erik seperti sebuah alarm yang berbunyi di otakku. Peringatan yang membuatku mulai cemas dan waspada. Jantungku berdegup sangat cepat. Ayolah, Rayla. Putar otakmu. Cari cara supaya kamu bisa keluar dari tempat ini.


Napas Erik terlihat memburu. Matanya yang liar bergerak binal. Namun, berubah nyalang saat menurunkan pandangannya ke bagian leherku. Rahangnya mengetat.


“E- erik … tolong lepaskan aku. Ka- kamu menyakitiku,” ucapku dengan pelan.


“Kamulah yang menyakiti hatiku! Meski aku bukan orang pertama, kedua dan ketiga dalam hatimu, aku harap bisa menjadi yang terakhir dalam hati dan hidupmu! Ketika kamu menolak melakukan hal yang lebih jauh dari sekadar berciuman, aku mengerti dan menghargaimu. Namun, sekarang kenyataannya apa? Lantas apa bedanya kamu dengan wanita murahan?” bentaknya marah. Matanya menatapku nyalang dengan gigi yang saling bergemeletuk.


Refleks aku melayangkan tamparan keras padanya hingga wajah Erik terlempar ke samping.


Erik memegangi pipinya yang ditampar olehku. “Aku tidak mencintai mereka, Beb. Mereka hanya sebagai tempat untuk melepas ha sratku. Kalau kamu mau memberi apa yang kubutuhkan, sudah pasti aku tidak membutuhkan mereka.”


Mataku membulat lebar, syok mendengar ucapannya barusan.


Apa yang mama katakan ternyata benar. Pria akan mencari kepuasan di tempat lain ketika kita tidak dapat memberinya.


Aku tertawa mengejek sebelum berkata, “Apakah kamu tahu, Erik? Alasan apakah yang membuatku mau bercinta dengan kekasihku, Deonartus Surbakti?”


Rahang Erik seketika mengeras kembali.


Aku tahu seharusnya jangan memancing kemarahannya. Namun, aku yang merasa sangat sakit hati ketika Erik menyamakan diriku dengan wanita murahan, membuatku tersulut emosi.


“Karena aku mencintainya. Sedangkan terhadap mantan-mantanku yang sebelumnya, aku tidak pernah mencintai mereka,” kataku disertai tawa pelan.


Erik menarik lenganku kasar. “K- kamu ….”


Aku mendengus kecil. “Kamu bisa bercinta tanpa cinta, tapi aku tidak. Buktinya aku menolakmu saat kamu menginginkan diriku, bukan? Jadi, jangan coba-coba samakan diriku dengan wanita murahan yang pernah hadir dalam hidupmu!”


Kedua tangan Erik mengepal erat. Wajahnya terlihat memerah karena marah dan urat-urat di tubuhnya yang kelihatan.


Semuanya terjadi begitu cepat. Erik secara tiba-tiba mel umat bibirku dengan kasar.


Aku meronta berusaha melepaskan diriku. Erik mendorong tubuhku hingga pinggangku yang membentur meja terasa sakit. Dia terlihat diliputi emosi dan tatapan penuh gai rah.


“He- hentikan, Erik!” Suaraku bergetar saat mengucapkannya. Kini, aku sangat ketakutan melihat sorot matanya yang seperti itu.


“Jangan takut, Beb. Aku hanya ingin mencicipi tubuhmu yang sempat tertunda karena kamu berpura-pura sok jual mahal.” Sorot matanya terlihat menyala saat mengatakannya.


“Erik, please, apa yang akan kamu lakukan dapat merusak hubungan kerjasama antar perusahaan,“ ucapku mencoba berusaha menyadarkan akal sehatnya.


“Soal itu aku tidak peduli! Aku hanya mau kamu!” tukas Erik.


Suara pintu yang tiba-tiba digedor terdengar. Erik memutar kepalanya, menatap ke arah pintu.


Merasa ada kesempatan, aku segera mendorong tubuhnya dengan kuat lalu berlari menuju pintu.


Tanganku sedikit lagi hampir meraih gagang pintu, tetapi sebuah tangan menarik rambutku sehingga tubuhku terpental ke belakang, kemudian terjatuh di lantai.


“Kamu harus memberiku kepuasan, Beb. Kalau pria itu bisa menikmati tubuhmu, mengapa aku tidak?” tukasnya enteng lalu terkekeh.


Aku beringsut mundur ketika Erik melangkah mendekatiku. Rasa takut menjalar di sekujur tubuhku. “Saatnya kita bersenang-senang, Honey,” ucapnya lagi.


Erik memegangi kedua tanganku dengan kuat sehingga aku tidak bisa bergerak sama sekali. Cengkeramannya sangat kuat. Dia mulai terus menciumku. Tangannya mengg erayangi tubuhku.


“Tidak! Erik! Aku mohon! Lepaskan aku! Jangan!” jeritku, terus meronta.


Air mataku mengalir deras. Erik tidak peduli meski aku terus merintih kesakitan sambil berteriak lepaskan.


Suara gedoran pintu dari luar semakin keras. “Deon! Deon! Tolong aku!” teriakku histeris.


Erik tertawa terbahak-bahak. “Sudah kukatakan, ruangan ini kedap suara. Berteriaklah sampai suaramu habis, Beb.”


Aku tarik tanganku saat dia lengah lalu menggigit tangannya sehingga dia berteriak kesakitan.


Segera kugunakan kesempatan itu, berlari sekuat tenaga menuju pintu. Namun, lagi-lagi dia berhasil menangkapku.


“Wanita kurang ajar!” teriaknya murka disertai tangannya menamparku.


Sesaat kepalaku berdenyut pusing karena tamparannya yang terlalu keras. Sudut bibirku sedikit robek dan mengeluarkan darah.


“Kamu tidak akan keluar dari sini sebelum kita menuntaskan permainan ini!”


“Jangan! Deon! Tolong aku! Deonn ….” Aku menangis dan menjerit sekuatnya.


Erik semakin berna psu. Kemeja kerja yang kupakai, dibuka secara paksa sehingga kancingnya terlepas dan jatuh berserakan di lantai.


Aku semakin menjerit kencang dan menangis histeris ketika Erik mengincar dadaku dan tangannya mer aba di bagian intiku.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘