Silence

Silence
Bab 75



*Happy reading 📖📖guys*


Sekarang aku mengerti mengapa dia selalu berhasil memenangkan kerjasama dengan relasi bisnis baru. Karena dia dapat membuat hal-hal yang tadinya terasa tidak masuk akal kini terasa masuk akal.


“Aku heran sama kamu, deh! Dalam kepala kamu, tuh, isinya selalu hal-hal mesum. Apa kamu tidak malu sama om Surbakti?” ucapku berpura-pura kesal.


“Untuk apa malu sama papa sendiri? Papa juga pernah muda, kok! Papa pasti mengertilah kebutuhan anak muda.”


“Tapi aku yang malu, Deon. Kalau begini, kan, om Surbakti pasti tahu maksudnya kamu mengganti dengan kunci otomatis, tuh, untuk apa?” ucapku sambil cemberut.


“Papa mau aku menjadi CEO, ruangan kerjanya harus sesuai dengan kebutuhanku, dong! Kalau tidak, ya, silahkan cari kandidat CEO yang lain,” jawabnya santai.


Aku berdecak sambil menggeleng-geleng kepala atas pemikiran dan tindakannya yang seringnya di luar nalar.


Terkadang membuatku kesal, terharu sekaligus terpukau, bercampur jadi satu. “Jangan sampai om Surbakti mendengar perkataanmu barusan. Kamu langsung dipecat sebagai anaknya.”


“Masih ada istrinya yang mau mengakuiku anaknya,” jawab Deon lugas.


Tanpa menunggu lagi, Deon langsung mengul um gunung kembarku. Membuatku kembali merasakan nikmat. Deon menggendong tubuhku, lalu mendudukkan tubuhku ke atas meja kerjanya.


Sekejap ruangan yang seharusnya sejuk karena ber-full AC, terasa panas menjalar di sekujur tubuh kami. Deon menggoda tubuhku dengan jemarinya hingga membuatku merasa frustasi.


“Yaang,” desakku, sudah tidak kuat lagi menahan has rat yang menggebu-gebu.


Deon bergerak pelan, lalu semakin kencang seiring dengan suara desa hanku. Gelenyar panas dari bagian intiku membuat tubuhku semakin tidak terkontrol dan itu membuat Deon bergerak semakin brutal.


Tubuhku menggelinjang tidak keruan. Aku pun mencapai puncak kenikmatan. Tidak lama, Deon mendapatkan pelepasannya setelahku.


Kami bernapas tersengal-sengal. Keringat membasahi tubuh dan wajah kami. Deon tersenyum, lalu menunduk mencium bibirku. Aku memeluknya erat.


Berpelukan adalah hal yang paling kusukai setelah kami melakukan percintaan. Merasakan kehangatan dari tubuh satu sama lain.


“Bercinta sama kamu itu membuatku kecanduan, Sayang,” ucap Deon terasa senang.


“Sekali lagi, yuk!” Matanya terlihat berbinar-binar.


“Jam istirahat makan siang sudah mau sampai, Deon. Belum lagi masih ada pertemuan.”


“Keburu, kok! Adik kecilku bangun lagi, nih! Kalau tidak ditidurkan sekarang, nanti pertemuan di tempat Xavier Jadison bisa menjadi-jadi.”


“Dasar maniak se kss!” gerutuku.


“Tapi kamu suka, kan?” balas Deon menggodaku.


Kemudian Deon kembali memberikan kenikmatan tiada tara, membawaku untuk kesekian kalinya terbang ke surga dunia bersamanya.


*****


Tenagaku terkuras, tapi rasanya sangat puas. Aku masuk ke dalam kamar mandi untuk merapikan penampilanku.


Sekarang aku paham mengapa Deon meminta kepada om Surbakti untuk merombak ruangan ini, tempat almarhum kakaknya dulu bekerja, sesuai keinginannya. Salah satunya membuat kamar mandi ini yang tadinya tidak ada.


Pada hari pertama aku bekerja sebagai Asistennya, Deon berkata agar lebih baik aku menggunakan kamar mandi di ruangannya. Dengan begitu, aku tidak perlu berdesakan dengan karyawan lain.


Saat itu aku percaya saja atas ucapannya, tapi sekarang aku baru mengerti maksud terselubung kamar mandi ini di buat.


Inilah akibatnya memilih pria yang sebelumnya pernah menjadi Playboy, pria penakluk wanita, yang kemudian menjadi kekasihku.


Aku mengumpat saat melihat beberapa bercak kemerahan di bagian leherku. Dengan kondisi seperti ini, bagaimana aku ikut dalam pertemuan di kantor Erik?


Kerah kemejaku tidak cukup tinggi untuk menutupinya. Aku tidak membawa scarf. Aku juga tidak memiliki concealer maupun foundation untuk menyamarkan bekas ini karena aku tidak bisa make up. Aku yakin Deon sengaja membuat tanda ini agar Erik dapat melihatnya.


Aku bergegas melangkah keluar dari kamar mandi untuk memprotes perbuatannya. “Deon, kamu membuat ban-”


Perkataanku terhenti ketika melihat Deon sedang menggeledah tasku. Alisku mengernyit. “Apa yang sedang kamu lakukan, Deon? Kamu sedang mencari apa di dalam tas ku?” tanyaku heran.


“Aku sedang mencari pil yang biasa kamu minum, tapi aku tidak menemukannya. Di mana kamu menyimpannya?” tanyanya sambil menyengir menatapku.


Satu alisku terangkat ke atas. Sambil melipat tangan di dada, aku balik bertanya padanya, “Mencari pil? Untuk apa? Bisa dijelaskan?”


Deon tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Aku mau tahu merek pil apa yang kamu konsumsi. Jika efeknya dapat merusak tubuhmu, aku mau menggantinya dengan merek yang lebih bagus dan terjamin untuk kesehatan tubuh kamu.”


Aku mendengus sebal. “Sudah kuduga kalau kamu akan membahas masalah itu lagi. Kamu tidak akan menemukannya karena aku sudah menyembunyikan pil itu dengan baik. Di tempat tersembunyi yang tidak akan terpikirkan oleh otakmu.”


Aku berjalan ke arah kursi kerjanya lalu mengambil Blazer yang masih teronggok di lantai kemudian mengenakannya kembali.


“Di tempat yang tidak terpikirkan olehku? Tapi tadi aku sambil gere pe-gere pe tubuh kamu sambil coba mencari pil itu juga tidak ada, kok!”


Pernyataan Deon barusan sontak membuatku terpekik karena terkejut. “What? Apa tadi kamu bilang?”


Mataku membelalak, tidak percaya apa yang baru saja kudengar. Deon hanya balas menyengir.


“Aku benar-benar tidak percaya. Kekasihku mer aba-r aba tubuhku hanya karena untuk mencari pil kontrasepsi?” ucapku sinis. Mataku mendelik kesal padanya.


“Cuma hari ini aku berniat seperti itu, Sayang. Sumpah! Selebihnya murni untuk membangunkan listrik,” Deon melangkah terburu-buru menghampiriku.


Aku memukul bahunya agak keras. “Listrik apa, sih?”


“Adik kecilku, lah! Memang apalagi? Selain membangkitkan listrik adikku, juga sekaligus alat menghimpun baterai untukku.” Deon menangkup wajahku lembut lalu mengecup kilat bibirku. “Kamu adalah sumber kehidupanku, Sayang.”


“Tidak usah menggombal! Aku bukan tukang listrik!” jawabku ketus. Deon merespons dengan mengerucutkan bibirnya.


“Aku masih kesal tentang kamu berniat menukar pil itu dengan pil penyubur kandungan. Benar, kan?” tukasku menuduh.


Deon tertawa terkekeh-kekeh. “Rupanya kamu sudah mengenalku secara keseluruhan, Sayang. Senang banget mendengarnya.”


Astaga! Pria ini benar-benar tidak pernah merasa malu atau mukanya setebal tembok? Dia mengakui tuduhanku padanya dengan senang?


“Deonartus Surbakti! Aku sedang kesal padamu, loh!” ucapku sambil berkacak pinggang di hadapannya. “Aku, kan, sudah bilang, bersabarlah menungguku.”


“Tadinya niat aku memang begitu, tapi aku khawatir Alien merebutmu dariku. Wajahnya yang tampan bagaikan siapa itu namanya? Yang waktu itu kamu sebut. Aris? Eres?”


“Ares! Sang Dewa Yunani.” Aku berusaha menenangkan emosi yang sudah di ubun-ubun.


“Ah, iya, betul. Ares sang dewa Yunani.”


“Satu hal lagi. Elian Grayson Carter. Berhentilah menyebutnya dengan Alien. Apakah kamu mau merusak hubungan relasi bisnis yang sudah terjalin selama sepuluh tahun gara-gara dia mendengarmu menyebut namanya dengan sebutan seperti itu?” ucapku memperingatkan.


Ya, Tuhan! Dia masih saja beranggapan Elian adalah saingan yang paling berbahaya. Seolah aku wanita sempurna yang disukai banyak pria saja.


Aku tidak secantik aktris Hollywood seperti Gal Gadot yang bertubuh tinggi dan ramping serta wajahnya yang cantik sekaligus memiliki senyuman yang memikat banyak penggemar. Aku tidak fashionable. Aku tidak bisa make up.


Bahkan, tidak bisa menggunakan eyeliner karena tangan yang gemetar saat berusaha membuat garis melengkung. Sehingga tidak dapat menghasilkan bentuk yang cantik dan rapih. Aku tidak masuk dalam kategori wanita idaman pria.


“Tuh, kamu malah menjadi juru bicaranya Alien, kan. Kalau begitu, siapa yang tidak cemburu, sih?” tutur Deon dengan nada tidak suka.


“Loh, kok, jadi menyalahkan aku, sih? Aku hanya ingatin kamu. Jangan sampai di hadapan dia, kamu memanggilnya dengan sebutan itu,” balasku dengan sewot.


“Kalau begitu kita tunangan saja!”


“Apa??” pekikku kencang. Setengah tidak percaya, aku berbalik tanya padanya, “Tu- tunangan?”


“Aku tidak bisa tenang selama jari kamu belum tersemat cincin dariku. Pria manapun masih punya peluang untuk merebutmu. Kalau kamu tidak mau ada peperangan antara aku dengan Ali-, hmm, Elian maksudku, maka kita tunangan saja dulu sambil menunggu trauma kamu sembuh,” ucapnya dengan sepasang mata yang menatapku lekat dan penuh tekad.


“Walau baru tunangan, setidaknya cincin itu menjadi bukti kamu adalah milikku dan pria lain akan langsung menyingkir tanpa berpikir dua kali,” ucapnya menambahkan.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘