Silence

Silence
Extra Part 1 - Boy



*Hai para readers tersayang 😊 Extra partnya baru datang, nih 🤗 Karena part ini mengandung 21+, author saranin malam hari bacanya, ya. Supaya bagi yang menjalankan puasa gak batal 🥰 Makasih banyak kakak-kakak tersayang yang sudah bersabar nunggu 🙏😘 Habis baca jangan dihapus dulu ya, masih ada extra part lainnya 😉 Happy reading 📖📖 guys*


Rayla mendorong pintu di depannya hingga terbuka. Netranya menangkap sosok pria tampan yang sedang sibuk berkutat dengan komputer dan beberapa berkas-berkas yang terlihat memenuhi meja kerjanya.


Ia menutup pintu dan menguncinya, kemudian berjalan mendekati suaminya itu.


“Kenapa bangun, Sayang?” Deon terkejut melihat istrinya datang menyusulnya.


Padahal, ia sudah memastikan istrinya terlelap terlebih dahulu, baru kemudian ia pergi ke ruang kerja untuk meneliti hasil laporan dari Leonel.


“Anak kita bisa merasakan kehadiranmu, Yang. Dia tahu papanya tidak ikut tidur bersamanya.” Rayla mendaratkan bokongnya yang padat ke atas pangkuan suaminya.


Ia mengenakan baju tidur model lingerie dengan bahan renda. Memperlihatkan kedua gunung kembarnya juga benjolan perutnya yang semakin membesar. Namun, Deon menganggap bentuk tubuh istrinya yang menjadi lebih montok itu terlihat semakin sexy di matanya.


“Berapa lama lagi kamu selesai?” Rayla bertanya dengan suara rendah dan serak. Ia menyentuh setiap inci wajah suaminya dengan jarinya tanpa terlewat.


Sentuhan sen sual dari istrinya, mulai mematikan pusat nalar dan logika pada Deon. “Tunggu aku … sebentar … lagi, Sayang,” ucap Deon dengan susah payah.


“Anakmu sudah tidak sabar, Yang….”


Tangan Rayla kini menyusup masuk ke dalam kaos yang melekat pada tubuh suaminya. Kemudian membelai dada bidang tersebut dengan jarinya, yang otomatis mengirimkan sinyal pada otak Deon dan mendorong adik kecil yang menjadi kebanggaannya pun terbangun.


“Lagipula, besok kamu akan keluar kota tiga hari. Selama itu kamu tidak bisa menengok anak kita,” ucap Rayla menambahkan.


Gairah sek sual Rayla meningkat sejak trimester kedua. Ia jadi lebih agresif dan tidak malu-malu untuk memulainya.


Dokter mengatakan kondisi ini disebabkan karena meningkatnya hormon progesteron dan estrogen yang cukup drastis. Hal itu membuat ibu hamil jadi lebih bergairah untuk melakukan hubungan intim.


Deon mulai terpancing gairah. “Kita ke sofa.” Ia pun menutup laptopnya lalu menggamit lengan istrinya.


Rayla tersenyum miring. “Apakah ruangan ini kedap suara?”


Saat ini mereka sedang berada di rumah orang tua Deon. Karena besok Deon bersama Surbakti akan pergi keluar kota selama tiga hari, Amanda meminta Rayla untuk sementara tinggal di tempat mereka.


“Siapa yang peduli? Umur mereka sudah di atas 17 tahun.” Deon membuka pengikat tali yang berada pada bagian tengah baju istrinya, lalu mulai bermain-main di sana.


Deon memperhatikan tubuh polos istrinya dengan saksama. Hanya dengan tatapan Deon, tubuh Rayla meremang oleh panasnya gairah.


“Kamu benar-benar sexy, Sayang.” Tangan Deon pun menelusuri bagian perut Rayla.


“Apanya yang sexy? Gendut ma-” suara Rayla terendam oleh bibir Deon.


Lidah Deon menari dengan lidah Rayla, saling menjelajahi setiap penjuru mulut mereka. Menyecap, mengigit, dan mengisap dengan intens.


Deon menjauhkan bibirnya. “Bukan gendut, tapi montok. Dan aku suka semua yang ada pada tubuh kamu.” Bibir Deon mengisap leher Rayla dengan kuat.


“Yang!”


Deon menghentikan aksinya. Ia memandang istrinya dengan tatapan jahil. “Apa, Sayang?”


“Cepat masukin! Kamu tidak kasihan sama anak kamu yang sudah nunggu kunjungan kamu dari tadi?” Rayla membuka mata dan menatap Deon dengan pandangan yang sudah sangat berkabut. Dadanya bergerak naik turun atas kenikmatan yang dia rasakan.


Deon menyunggingkan senyuman senang melihat istrinya yang sudah tidak sabar. Kegiatan yang tengah mereka lakukan sekarang adalah salah satu perubahan dari istrinya yang paling disukainya.


Sesungguhnya Deon dibuat pusing tujuh keliling oleh istrinya yang sedang ngidam. Ia pernah mencari info lewat internet tentang ibu hamil yang ngidam ada yang menginginkan makanan atau minuman.


Kadang kala ada juga yang ingin makan makanan manis seperti kue, cokelat, dan buah-buahan yang rasanya manis. Akan tetapi, di lain waktu juga muncul keinginan untuk makan makanan asam seperti mangga muda.


Semua hal itu tentunya bukan hal yang sulit untuk dituruti. Masalahnya, ngidam Rayla lebih sering ke hal-hal yang tidak biasa. Seperti tiba-tiba ingin makan mangga yang dipetik langsung dari pohon.


Kedengarannya memang mudah. Tinggal beli saja mangga muda di toko buah. Dipetik langsung dari pohon atau tidak, toh rasanya tetap sama. Sayangnya, Rayla bilang dia ingin melihat sendiri suaminya manjat ke pohon dan memetik langsung mangga itu untuknya.


Seumur hidup, Deon belum pernah memanjat pohon mana pun. Namun, demi menjaga suasana hati ibu hamil, ia pun melakukannya dan Leonel ikut kena getahnya.


Deon meminta Leonel mencari tahu, di rumah mana yang ada pohon mangga. Leonel sempat memaki pria itu, secara tidak langsung permintaannya telah menurunkan profesi bisnis rahasianya itu.


Namun, lagi-lagi Leonel tidak berkutik ketika diancam Deon akan mencabut seluruh uang yang dia tanam di sana.


“Kamu kelamaan, Yang.”


Sepasang suami istri itu pun mengerang bersamaan saat akhirnya tubuh mereka bersatu.


“You feel so good, Baby,” desis Deon sambil mengertakkan gigi.


Kemudian suasana di ruang kerja itu hanya dipenuhi suara desa han dan erangann yang erotiss dari sela-sela bibir mereka.


“Akh! Deon!” jerit Rayla sambil mengejang saat kenikmatan itu menghantam dirinya.


Deon ikut menggerung kuat menyebutkan nama wanita yang dicintainya.


Remasan kuat inti tubuh Rayla mengantarkan Deon pada puncaknya hingga gelombang itu semakin kuat dan berakhir dengan rasa yang begitu hebat.


Deon dan Rayla bernapas terengah-engah. Sambil mengambil napas dalam-dalam, kedua pasangan itu mengamati wajah masing-masing yang terlihat lelah tapi terpuaskan.


“Aku berharap anak kita tidak akan mesum seperti kamu,” ucap Rayla.


“Kamu takut anak kita menjadi Playboy atau Playgirl?” Deon tertawa kecil di antara tarikan napas. “Lebih baik nakal sebelum menikah daripada setelah menikah, Sayang.”


Rayla memasang wajah cemberutnya. Ia mengelus perutnya yang membesar. “Jangan dengarkan Papamu ini ya, Boy.”


Mata Deon memicing sedikit. “Boy?” Tidak lama kemudian, ia terkejut. “Anak kita laki-laki?”


Rayla menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Hari ini aku pergi kontrol kandungan bersama mama. Hasil pemeriksaan USG, Dokter melihat tanda yang menjadi jenis kelamin laki-laki pada anak kita.”


Deon tersenyum lebar dengan begitu bahagianya. “Kalau begitu, anak kita pasti akan sama tampannya seperti Papanya.”


Sementara itu, tidak jauh dari ruangan di mana sepasang suami istri sedang saling melepaskan gairah masing-masing, tengah duduk seorang pria sambil membaca koran di tangannya dan seorang wanita yang sedang menonton televisi.


“Pa, kenapa ruang kerjanya tidak dibuat kedap suara?” Wanita itu tidak bisa konsentrasi menonton acara televisi kesukaannya karena telinganya terganggu dengan suara kegaduhan yang dibuat anak dan menantunya.


“Besok Papi bicarakan dengan Deon.”


Amanda berdecak-decak. “Pantas saja anak itu keberatan tinggal bersama kita. Anak kamu memang mesumnya tidak tertolong.”


Surbakti hanya tertawa terbahak-bahak menanggapi Amanda.


Amanda menghela napas, lalu mematikan televisinya. “Yuk, Papi!”


Surbakti menatap heran ke arah istrinya.


“Jangan mau kalah dari mereka, Pi. Kita bikin Deonartus junior, yuk!” Amanda menarik tangan Surbakti lalu bergegas pergi menuju kamar mereka.


Surbakti terkekeh geli. “Satu ronde saja ya, Sayang. Besok pagi-pagi sekali kami sudah harus berangkat ke bandara.”


“Kalau begitu Deonartus juniornya tidak jadi-jadi, dong, Pi ….”


Surbakti mengelus wajah istrinya dengan penuh kelembutan. “Menantu kita segera lahir. Masa kamu mau saingan?”


Amanda menekuk wajahnya masam. Ia sebenarnya kesepian saat pagi hari tidak ada siapa-siapa yang menemaninya di rumah ini kecuali bibi Ijah, Asisten Rumah Tangga mereka sejak mereka menikah.


Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya. Senyum manisnya mengembang lebar. Kemudian ia membisikkan idenya itu di telinga suaminya.


“Nanti tunggu kami kembali dari luar kota, baru dibicarakan langsung pada mereka,” ucap Surbakti.


“Papi setuju dengan ide Mami?”


“Apapun itu jika dapat membuatmu bahagia, Papi akan mengabulkannya. Bahkan, minta Papi pergi ke bulan sekalipun, Papi turutin.”


Amanda tersipu-sipu malu sambil mencubit pelan perut suaminya.


“Junior punya Papi sudah bangun, nih! Kamu tidak mau bermain dengannya?” Surbakti mengerling nakal kepada Amanda.


Detik berikutnya, suhu di kamar tersebut pun sudah mulai memanas. Tempat yang menjadi saksi akan percintaan sepasang suami istri itu selama puluhan tahun.


*Jangan lupa tinggalkan Komentar, berikan Vote, like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih **🙏🤗 Loph you all 😘*