
*Happy reading 📖📖 ya guys*
Aku sudah memberi tahu pak Gunawan kalau kamu cuti sampai besok. Carilah hiburan selama dua hari ini. Kalau butuh bantuan kak Sarah, jangan ragu menghubunginya. Oh ya, aku sudah menghubungi temanmu yang bernama Bella. Alamat kost sudah kuberikan padanya. Sorry, kalau aku tidak sopan karena telah menggunakan ponselmu tanpa izin darimu. Have a nice day.
PS: Panaskan bubur ayamnya kalau sudah dingin, ya.
Kubaca secarik memo dari Deon yang diletakkan di samping mangkuk bubur ayam. Harum aroma yang menguar dari bubur ayam, membuat perutku berbunyi.
Aku mengambil sendok, lalu mulai menyuap bubur itu ke dalam mulut.
“I love you, Rayla.”
Tiga kata itu terucap oleh Deon beberapa detik sebelum kami berdua masuk ke alam mimpi karena kelelahan dari permainan semalam. Entah kami sudah melakukan berapa ronde.
Sepanjang hidupku, tidak pernah sekali pun terlintas, aku bercinta dengan seorang pria yang tidak memiliki hubungan apa-apa selain berteman.
Selama ini aku dapat mengendalikan diri dengan sangat baik. Bahkan sesungguhnya, terselip perasaan takut saat bercumbu dengan kekasihku sebelumnya.
Ketika itu, otak dan tubuhku masih dapat bekerja sama. Namun, sejak kejadian malam dimana aku melepas keperawananku kepada Deon, tubuhku memberi respons yang berbeda saat aku berdekatan dengannya.
Apakah ini artinya aku menganggap Deon lebih dari sekadar teman? Entahlah, aku tidak mengerti dengan perasaanku.
Aku sangat yakin bahwa aku masih mencintai Jason. Dari dulu hingga sekarang. Tidak mungkin satu hati mencintai dua orang, kan?
Suara bel pintu tiba-tiba berbunyi. Aku menekan tombol open setelah melihat wajah Bella dan Agatha pada sebuah layar monitor yang terpasang di tembok samping pintu masuk.
Agatha dan Bella langsung menubrukkan tubuh mereka, memelukku erat-erat.
“Rayla, lo baik-baik saja? Benar sudah sembuh?” tanya Agatha. Wajahnya terlihat cemas, membuat hatiku berdesir hangat.
“Lo gila, ya, La? Kenapa lo berniat bunuh diri, sih? Memangnya kami tidak lagi penting dalam hidup lo?” tukas Bella penuh emosi.
“Kita ngobrol sambil duduk, yuk!” ajakku. Agatha dan Bella mengikuti langkah kakiku dari belakang. Mereka berdua menatap ke seluruh ruangan kostku.
“Lo tahu dari mana ada tempat kost seperti ini? Mirip Apartemen daripada kost,” tanya Bella.
“Pemiliknya adalah teman dari rekan kerja gue. Jadi, harganya dikasih murah,” jawabku.
Kedua alis mata Bella melengkung ke atas. “Yang benar? Memang berapa harganya?”
“Per bulan satu juta.”
“What?” Mereka berdua serempak berteriak dengan mulut terbuka. Aku menghela napas. Sudah kuduga mereka juga tidak akan percaya.
“Di mana rekan kerja lo itu?” tanya Agatha.
“Sudah berangkat kerja,” jawabku.
“Semalam dia menginap di sini?” tanya Bella yang kemudian kubalas dengan anggukkan kepala.
Agatha memandangku dengan tatapan khawatir. “Pria yang bernama Deon, tadi pagi sudah menceritakan sekilas tentang apa yang telah terjadi pada diri lo. Sekarang, gue mau lo cerita semuanya kepada kita. Sebenarnya apa yang telah terjadi?” tanyanya.
*****
“Tante Restin memang sudah gila! Bagaimana bisa beliau lebih berpihak pada Erik berengsek itu daripada anak kandungnya sendiri? Sudah jelas kalau Erik di sana berselingkuh!” tukas Bella setelah mendengar cerita dariku, tanpa menyembunyikan amarahnya.
“Jangan melakukan hal gila itu lagi, La. Bagaimana nanti perasaan tante Fifi dan Maylin?” Agatha menggengam tanganku erat.
“Jangan beritahu mereka! Gue tidak mau mereka mengkhawatirkan keadaan gue!” tukasku cepat sambil memasang raut wajah memelas.
“Kalau lo tidak mau membuat mereka khawatir, lo mesti sayang sama diri lo sendiri! Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Gue paham kalau lo kecewa dan sakit hati atas perbuatan tante Restin, tapi bukan dengan cara seperti itu menyelesaikan masalah!” tutur Bella masih dengan nada intonasi tinggi.
Kepalaku menunduk. Sebulir air mata menetes keluar. Aku mengigit bibir bawah sambil terisak.
“Gue anak haram,” ungkapku kemudian dengan suara bergetar. Agatha dan Bella terkesiap mendengar pengakuanku ini.
Jujur, mengakui kenyataan pahit ini sama saja mengorek kembali luka hati yang masih belum mengering. “Orang tua gue tidak pernah menikah. Gue adalah hasil dari perselingkuhan mereka.” Air mataku sudah tidak lagi terbendung, mengalir dengan deras.
Agatha segera memberiku pelukan. Sedangkan Bella menggenggam erat tanganku. Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, aku pun menceritakan perihal tentang rahasia kedua orang tuaku.
“Kenapa lo tidak mau berbagi masalah ini kepada kita, La? Kita sahabat, bukan?” tanya Agatha dengan lembut.
Aku masih terus menangis ketika menjawab, “Gue takut ketika kalian tahu ternyata gue anak haram, persahabatan kita putus.”
“Buang jauh-jauh pikiran picik lo itu, La! Kita bersahabat bukan hanya setahun, dua tahun! Seharusnya lo sudah paham, persahabatan kita tidak mungkin putus hanya karena hal semacam itu! Memangnya kenapa kalau lo anak haram? Bukan keinginan lo terlahir sebagai anak haram, kan?” Bella berdengus sebal karena pemikiranku itu.
“Tetap saja gue takut! Gue sudah kehilangan Jason. Gue tidak mau sampai kehilangan kalian juga ….” Aku memandang mereka dengan tatapan sendu.
“Sahabat bukan tentang siapa yang telah lama lo kenal, tapi tentang siapa yang menghampiri hidup lo dan tidak pernah meninggalkan lo. Jangan pernah merasa diri lo tidak cukup baik. Karena bagi kita, lo adalah yang terbaik, La,” ucap Agatha.
Ucapan Agatha membuat tangisku semakin meledak. Mereka berdua menenangkanku dengan memeluk dan mengelus punggungku lembut.
“Bangkitlah dari kesedihan, La. Kesedihan adalah proses yang harus dilalui untuk menuju kebahagiaan,” ucap Agatha.
“Kami akan selalu berada di samping lo, La,” ucap Bella menambahkan.
Aku teringat ucapan kak Sarah pada saat aku berada di Rumah Sakit. Kak Sarah benar. Di sampingku masih ada orang yang menyayangiku. Mungkin aku harus belajar untuk membuka diri.
Sometimes your silence will not protect you - Terkadang kebisuanmu tidak dapat melindungi dirimu.
*****
Suara panggilan masuk pada ponselku berbunyi tepat saat aku dan Bella telah selesai membuat spaghetti untuk kami makan malam bersama. Malam ini Agatha dan Bella memutuskan menginap di tempatku.
Agatha melirik pada layar ponsel yang kutaruh di meja pantri.
"Deon's calling," ucapnya sambil menyerahkan ponsel kepadaku setelah menekan tanda answer.
Mataku terbelalak karena perbuatannya. Agatha membalasku dengan mengulum bibirnya tersenyum. Sedangkan Bella mengerling matanya dengan jahil kepadaku.
Aku memutar bola mata malas melihat sikap kekanak-kanakkan mereka. “Halo!”
“Aku sedang dalam perjalanan ke sana. Apakah kamu membutuhkan sesuatu untuk makan malam?” Terdengar suara Deon dari seberang sana.
Aku melirik Agatha dan Bella yang sedang menatapku dengan penasaran. “Sahabat gue masih ada di sini. Kami baru saja selesai membuat spaghetti untuk makan malam.”
“Kalau begitu, bisakah kamu buatkan satu porsi juga untukku?”
Alisku berkerut. “Lo tidak mau langsung pulang saja? Tenang saja. Gue di sini baik-baik saja. Kedua sahabat gue bisa menemani gue,” ucapku mencoba untuk membuatnya berubah pikiran.
Lalu terdengar suara tawa Deon dari telepon. "Sekalian aku ingin berkenalan dengan sahabatmu. Tidak apa-apa, kan?"
Tentu saja tidak apa-apa, tapi setelah adegan panas semalam yang kami lakukan, bagaimana aku harus bersikap di hadapannya?
Aku tidak bodoh maksud atas sikap Deon yang mengubah panggilan di antara kami menjadi ‘aku-kamu’.
“Suruh teman lo datang, La. Gue mau kenalan dengannya.” Tiba-tiba Bella sudah berdiri di sebelahku. Dia mengucapkannya dengan suara sedikit keras. Aku melotot tajam padanya.
“Ayolah, Rayla! Teman kamu juga katanya ingin berkenalan denganku. Izinkan, ya. Atau … kamu cemburu?”
“Idih! Pede banget lo!” kilahku cepat. “Berapa lama lagi lo sampai?” sungutku kesal karena pada akhirnya aku menuruti keinginannya.
“Kurang lebih sekitar dua puluh menit lagi.”
“Ok!” jawabku. Kemudian aku melirik Bella yang sudah duduk di salah satu kursi kosong. “Bel, buatkan satu porsi lagi, dong!”
Mata Bella melebar mendengar perintah dariku."What? Really?"
“Aku ingin makan spaghetti buatan kamu, Rayla. Rasanya pasti mengalahkan Restoran Italia di mana pun karena kamu membuatnya dengan bumbu cinta.”
Aku yakin wajahku sekarang sudah memerah. Jantungku berdebar dua kali lebih cepat.
Aku melihat bibir Bella bergerak, tapi telingaku berdenging. Tidak dapat mendengar dengan jelas ucapannya.
Lagi-lagi otak dan tubuhku berkhianat. Tahu-tahu, mulutku berkata, “Ok.”
“Good. Tunggu aku dua puluh menit lagi.” Kemudian Deon memutuskan sambungan telepon.
Aku masih diam terpaku dengan tangan masih menggenggam ponsel.
Bella menjentikkan jarinya di depan wajahku lalu bertanya, “Hello? Excuse me, Rayla! Do you hear me?”
“Y- ya?” Aku tersentak kaget karena suara cempreng Bella yang kencang.
“Muka lo merah. Kenapa?” tanya Bella. Matanya menyipit.
“Bu- bukan apa-apa,” jawabku mengelak.
Aku bergegas membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan untuk membuat satu porsi spaghetti. Telingaku menangkap suara tawa Agatha, tapi aku berpura-pura menjadi tuli.
“Gue jadi penasaran banget seperti apa wajah Deon ini? Apakah wajahnya tampan, La? Apakah permainannya di atas ranjang sama hot-nya seperti Christian Grey-nya Fifty Shades?” tanya Bella sambil memasang wajah polos.
“Shut up, Bel!” tukasku sambil mendelik kesal padanya. Bella hanya membalasku menyengir.
Aku tidak bisa membayangkan suasana seperti apa yang akan terjadi ketika Deon sudah datang. Seperti mulut Bella yang tidak ada filter-nya, dia pasti akan membuatku malu setengah mati di hadapan Deon.
“Langsung tanya saja sama orangnya, Bel. Kasihan, Rayla. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus,” tutur Agatha mengejek.
“Gue kasih peringatan kepada kalian! Jangan ngomong sembarangan di hadapan Deon, ya!” ancamku.
“Tentu saja gue tidak akan ngomong sembarangan, tapi terkadang mulut gue susah di kontrol, La. Jadi, maklumi saja kalau gue tidak sengaja ngomong lepas yang tidak-tidak, ya. Lo tahu seperti apa gue, bukan?” jawab Bella dengan santai.
“Kenapa gue bisa tahan bersahabat sama lo, sih, Bel?” rutukku kesal.
Akhirnya, aku memilih tidak menghiraukan mereka lagi. Tawa mereka berdua pun pecah. Aku hanya berharap dalam hati, semoga mereka bisa bersikap normal di hadapan Deon.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘