
Happy reading 📖📖 guys
“Kami memasang gips di area lengan kiri pasien untuk mengurangi pergerakan serta menjaga tulang yang patah tetap berada di posisi yang tepat selama proses penyembuhan. Awalnya bisa membuat pasien merasa tidak nyaman dalam beraktivitas. Karena itu diperlukan adaptasi selama menggunakan perangkat ini.”
“Sebenarnya, tulang yang patah dapat tumbuh dan menyatu kembali dengan sendirinya. Namun, pengobatan secara medis tetap diperlukan untuk membantu tulang tumbuh di posisi yang tepat dan terhindar dari komplikasi,” ucap Dokter ortopedi menjelaskan.
“Kapan gips perlu di lepas, Dokter?” tanyaku.
“Tergantung kondisi masing-masing pasien. Jika memang tulang sudah kembali menyatu dan pasien sudah dirasa kuat untuk melakukan aktivitas sehari-hari tanpa gips, maka gips sudah boleh di lepas. Namun, apabila pasien mengalami rasa sakit terus menerus, mengalami masalah kulit, dan sebagainya, kemungkinan gips akan di lepas saat itu.”
“Kira-kira dibutuhkan berapa lama tulang dinyatakan sudah menyatu, Dok?” tanya Deon
“Pada anak bisa selama 4-10 minggu, tetapi pada orang dewasa mungkin bisa lebih. Pasalnya, anak yang mengalami patah tulang cenderung lebih cepat sembuh dibandingkan orang dewasa.”
“Setelah gips di lepas, anak saya dapat kembali beraktivitas dengan normal seperti biasa, kan, Dok?” tanya Mama dengan nada khawatir.
“Bisa, Bu. Namun, walau gips sudah di lepas, sebaiknya aktivitas pasien tetap dibatasi terlebih dahulu selama 2-3 bulan hingga tulang benar-benar pulih. Dan rehabilitasi sangat dibutuhkan untuk membantu mengurangi kekakuan serta mengembalikan kekuatan otot dan kelenturan sendi. Rehabilitasi umumnya dilakukan setelah gips dilepas.”
“Syukurlah kalau begitu,” ucap Mama dan Tante Fifi bersamaan menarik napas lega.
“Karena pasien baru saja melakukan operasi, kami tidak bisa langsung menggunakan bahan anti air untuk bagian lapisan dalamnya. Penggunaannya baru diimplementasikan ketika bengkak pada cedera sudah mulai berkurang. Oleh karena itu, diharapkan untuk menjaga kondisi gips tetap dalam keadaan kering,” pesan Dokter ortopedi.
“Kami mengerti, Dokter. Terima kasih!” ucapku.
Setelah Dokter ortopedi pergi meninggalkan kami, giliran Dokter Asha, Dokter obgyn menjelaskan. “Operasi histerektomi berjalan lancar. Karena kami tidak melakukan pengangkatan pada bagian indung telur (ovarium), maka tidak akan terjadi gangguan pada menstruasi. Pasien akan dirawat dulu secara intensif di Rumah Sakit sekitar 5-7 hari. Kami akan memantau kondisinya. ”
“Hanya saja saya khawatir pada bagian psikisnya. Umumnya, mendapati diri sendiri mengalami keguguran sudah memberikan dampak pskilogis yang serius, tetapi pasien tidak hanya mengalami keguguran, juga sekaligus kehilangan rahim dan kesempatan untuk menjadi wanita sempurna. Jika pasien tidak bisa menerima dengan baik, akan berpengaruh pada kesehatan mentalnya.”
Suara isak tangis Mama dan Tante Fifi terdengar. Membuat sudut mataku yang sudah digenangi air mata, tidak bisa ditahan lagi hingga akhirnya mengalir deras. Deon merengkuh tubuhku masuk ke dalam pelukannya tanpa mengucapkan sepatah kata.
“Dukungan dari keluarga saat ini akan sangat membantu pasien. Karena jika sakit dalam segi psikis, dapat mempengaruhi pemulihan pada fisiknya.”
“Iya, Dok. Terima kasih,” jawab Mama serak.
“Sekarang pasien akan dipindahkan ke kamar rawat. Karena pengaruh bius total dan kondisi pasien yang lemah akibat kekurangan banyak darah, kemungkinan pasien tidak sadarkan diri dalam 1-2 hari.”
“Tolong di tempatkan di kamar VIP, Dokter!” tukas Deon tiba-tiba. Membuat kami bertiga terkesiap.
“Baiklah! Perawat yang akan mengurusnya,” jawab Dokter Asya.
Kemudian memberikan beberapa pesan kepada perawat yang berada di sampingnya, lalu berjalan pergi setelah berpamitan terlebih dahulu kepada kami.
“Untuk apa meminta kamar rawat VIP, Deon? Biayanya tidak murah!” tanya tante Fifi.
“Kondisi Maylin saat ini tidak memungkinkan untuk dirawat kamar biasa. Banyak hal yang telah terjadi pada dirinya. Saya rasa dia butuh ruangan yang bisa membuatnya lebih tenang untuk menghadapi semuanya,” ungkap Deon.
“Apa yang dikatakan Deon benar,” gumam mama.
“Tentang biayanya, Tante tenang saja. Saya dan Rayla bisa saling membantu,” kata Deon. “Keluarga Rayla juga berarti keluarga saya.”
Aku melihat Mama sedang menatap Deon dengan sorot mata yang sulit ku artikan. Aku menarik jaket tipis yang dipakai Deon dari belakang. Deon menoleh ke arahku. Memberikan tatapan tidak mengerti.
Aku ingin memberinya peringatan untuk tidak melanjutkan ucapannya lagi, tapi mama terlebih dulu berkata, “Terima kasih atas niat kamu, Deon. Namun, saya masih sanggup membiayai pengobatan putri saya.”
Deon menggaruk leher dengan salah satu jari tangannya. “Maaf, jika niat saya ini membuat Tante salah paham. Saya tidak bermaksud apa-apa.”
Mama membalas dengan gelengan kepala. “Fi, kita temui Brian. Aku tidak tenang atas kondisi Frida.” Mama menatap Tante Fifi yang dibalasnya dengan anggukan.
Kemudian Mama menoleh ke arahku. “Kamu pergi ke kamar rawat Maylin terlebih dahulu.”
“Iya, Ma.”
“Deon, tolong temani Rayla dulu, ya,” pinta tante Fifi.
“Pasti, Tante. Tenang saja.”
*****
Aku menatap Maylin yang sedang terbaring lemah di tempat tidur dengan wajah pucat. Tangannya dipenuhi selang infus dan obat juga transfusi darah karena Maylin kehilangan banyak darah akibat perdarahan.
Maylin masih belum sadar sejak operasi histerektomi dua hari yang lalu. Hari ini adalah hari ketiga. Padahal, dokter mengatakan kondisi Maylin sudah kembali stabil, tapi kenapa dia masih belum bangun juga?
“Rayla, nanti setelah Deon datang mengantar Fifi, kamu pulang saja dulu dan beristirahat. Biar Mama dan Fifi yang menjaga Maylin.”
Deon sedang mengantar tante Fifi pulang ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian ganti. Dia mengambil cuti tiga hari demi menemaniku dan membantu melakukan apa saja yang kami butuhkan.
Aku menggeleng kepala kuat-kuat. “Aku tidak capek, Ma.”
“Kamu sudah izin tiga hari, Rayla. Apakah atasan kamu tidak mempermasalahkan? Besok kembalilah bekerja. Ada Mama dan Fifi yang menjaga Maylin.”
“Aku sudah minta cuti seminggu, Ma. Kantor memaklumi alasan cutiku. Lagi pula, aku jarang sekali mengambil cuti.”
Mama mengusap kepala Maylin dengan lembut. Membelai wajah Maylin dengan penuh kasih sayang. Bahu Mama bergetar. Suara isak tangisnya mulai terdengar.
Aku belum pernah melihat sosok Mama yang terlihat sedang menderita seperti ini. Mama menyayangi Maylin. Mama menyayangi anak-anaknya.
Dalam menjalani hidup, setiap orang akan menemui berbagai hambatan dan rintangan. Hanya saja hambatan dan rintangan yang dihadapi oleh setiap orang tidak akan sama.
Ada yang harus menghadapi jalanan yang berkerikil, dan ada juga yang sedang berusaha menyeberangi derasnya arus sungai. Tidak jarang kita mengeluh akan beratnya rintangan hidup yang sedang kita hadapi.
Satu-satunya hal yang tidak bisa didaur ulang adalah waktu yang terbuang sia-sia. Ketika kami sibuk dengan ego masing-masing.
Ketika aku mengira bahwa Mama tidak pernah mencintai anak-anaknya. Ketika Mama memilih untuk menunjukkan kepada pria itu hingga Mama lupa meluangkan waktu kepada kami.
Berkurangnya komunikasi di antara kami hingga akhirnya membuat kami lupa seberapa pentingnya keberadaan satu sama lain di dalam hidup kami. Dan ketika kita sadar bahwa sesungguhnya rasa cinta itu masih ada adalah hal yang paling membahagiakan.
“Rayla?” panggil Mama pelan.
“Ya, Ma. Ada apa?” Aku berjalan menghampiri Mama. Berdiri di sebelahnya dengan mata tertuju pada wajah tidur Maylin.
“Apakah kamu akan kembali tinggal di rumah?”
Aku tersentak, tidak mengira Mama memberiku pertanyaan seperti itu.
“Kalian belum menikah. Tidak baik tinggal bersama, Rayla. Mama tidak mau orang-orang bergunjing tentang dirimu seperti kejadian pada masa lampau Mama.” Mama meraih jari tanganku.
“Mama tahu kamu takut menikah, Rayla, tetapi tinggal seatap dengan pria yang belum berstatus menjadi suamimu juga tidak pantas.”
Aku tersenyum lemah. “Pernikahan hanyalah ikatan diri antara seorang pria dan wanita atas dasar cinta kasih secara psikologis, biologis, sosial ekonomis, demi penyempurnaan dan perkembangan pribadi masing-masing, Ma. Tidak bisa memberi jaminan selamanya akan bahagia. Buktinya banyak yang berakhir cerai.”
“Mama tidak ingin kamu mengikuti jejak Mama, Rayla.”
“Apalah arti sebuah pernikahan jika pada akhirnya berpisah? Apalah arti dari sebuah kata ‘sah’ dalam agama maupun hukum, jika kita menodainya dengan perselingkuhan? Apalah pentingnya sebuah komitmen jika salah satu di antara kita mengingkarinya?” tanyaku.
“Tinggal seatap di dalam atau di luar pernikahan, sama saja yang membekas adalah kita, para wanita, jika pada akhirnya hubungan berakhir gagal,” tuturku kemudian.
“Ya. Kamu benar. Akan tetapi, kita tinggal di negara yang mengandung budaya Timur. Mereka akan memandang rendah dirimu.”
“Tidak perlu hiraukan pergunjingan orang tentang hidup kita, Ma. Kita hidup bukan dari pandangan mereka. Penilaian mereka selamanya tidak akan pernah ada habisnya. Mereka tidak akan pernah kehabisan hal-hal untuk dipergunjingankan.”
“Entah perihal wanita yang tidak bisa memberikan anak, rumah tangga yang tidak bahagia, sepasang suami istri bercerai, menjadi janda muda, dan sebagainya. Jika mau menyebutnya satu per satu, sampai seribu malam pun tidak cukup, Ma.” tukasku panjang lebar.
Mama tertawa kecil setelah mendengar kalimat terakhirku. “Kamu mulai tertular virus kekasihmu itu.” Aku pun ikut tertawa. “Ada satu permintaan Mama. Mama harap kamu mau menepatinya.”
“Apa, Ma? Katakanlah!”
“Jika kamu masih belum bisa berkomitmen dalam ikatan pernikahan, jangan sampai membuat dirimu hamil. Mengerti?”
Bibirku mengulas senyum lebar. “Aku mengerti, Ma.” Aku memeluk mama dengan erat.
Sebenarnya aku sudah membuat sebuah keputusan. Belum kuberitahu kepada siapa pun keputusanku ini. Aku ingin mengobati trauma dengan caraku sendiri.
“Di ... mana … ini ….”
Aku dan Mama menoleh. Kelopak mata Maylin perlahan bergerak membuka. Maylin sudah sadar.
“Maylin!” pekikku dengan perasaan lega dan bersyukur. Sebulir air mata menetes keluar.
“Maylin, Sayang. Mama mengkhawatirkanmu, Nak!” ucap Mama lirih. Air matanya kembali mengalir.
“Aku … di mana?” tanya Maylin lemah.
“Di Rumah Sakit. Semalam kalian mengalami kecelakaan. Sebuah truk menabrak mobil kalian,” ucap mama memberi tahu.
Maylin merintih kesakitan ketika dia menggerakkan lengan kirinya.
“Jangan digerakkan dulu, Lin! Lengan sebelah kiri lo patah,” tukasku cepat.
“Kamu mau minum, Nak?” tanya Mama menawarkan. “Rayla, panggil Dokter!” perintah mama.
Aku mengangguk, lalu bersiap melangkah, tetapi pertanyaan Maylin berikutnya membuat langkahku terhenti.
“Darwan … bagaimana … keadaannya?”
Jantungku berdebar kencang. Seluruh tubuhku terasa tegang. Oh, Tuhan! Bagaimana cara mengatakan semuanya pada Maylin tanpa membuatnya terluka?
Hai readers, harap maklum ya klw di bab ini ada yg kurang berkenan 🙏 Bkn brarti author setuju dengan pola pikir Rayla, loh. Hanya saja, Rayla ketika masih kecil, melihat dan mendengar sendiri pertengkaran kedua orang tuanya, meninggalkan bekas luka yang tidak bisa kita lihat. Kita mungkin saja berdiri di tempat yang sama, namun jalur mana yang kita ambil, bisa saja berbeda😊
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘