Silence

Silence
Bab 66



*Happy reading 📖📖guys*


Flasback On


“Rayla!” teriak Mama dari dalam rumah.


Aku bangun dari kursi tempatku duduk di teras, lalu berlari masuk ke dalam rumah. “Ada apa, Ma? Rayla sedang menunggu papa pulang.”


Mama berlutut sebelah kaki, kedua tangannya merapikan anak rambutku. “Sebentar lagi papa juga sampai rumah. Kamu tunggu di dalam saja, Sayang.”


“Rayla ingin cepat-cepat menunjukkan hasil karya Rayla pada papa.”


Tepat setelah aku mengucapkan kalimat tersebut, suara papa terdengar dari luar. Aku langsung berlari kecil menghampiri papa dan menubruk masuk dalam pelukannya.


Seperti biasa, aku selalu menyambut kepulangan papa dengan memeluknya erat.


Papa mendaratkan ciuman di pipi sambil bertanya, “Bagaimana kabar putri cantik Papa hari ini? Apakah di sekolah ada yang mengganggu kamu?”


Aku memanyunkan bibir ketika teringat perlakuan seorang kakak kelas padaku. “Papa masih ingat dengan kakak kelas Rayla yang suka usil?”


“Tentu saja. Dia masih menjahilimu?”


Aku mengangguk kepala. “Dia bilang, Rayla anak yang manis. Begitu sudah dewasa nanti, dia mau menikah dengan Rayla.”


Setelah aku menceritakan kepada mereka dengan polos, Papa dan Mama terkikik geli.


“Menikah itu apa, Papa?” tanyaku sambil memasang raut wajah tidak mengerti.


Papa tidak langsung menjawab. Malah memandang Mama dengan tatapan yang tidak ku mengerti.


“Jangan meminta bantuanku, Frans. Rayla bertanya padamu, bukan aku. Sekarang kamu bisa merasakan bagaimana pusingnya aku setiap dia bertanya tentang hal yang sulit dijelaskan untuk anak seumurnya.” Mama tertawa mengejek kepada Papa.


Papa berdeham sebentar sebelum menjawab, “Menikah itu seorang laki-laki dewasa dengan seorang perempuan dewasa tinggal bersama.”


“Kalau begitu, Rayla dewasa nanti mau menikah dengan Papa saja. Jadi, biar Rayla terus tinggal bersama Papa.”


Kali ini Papa tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapanku yang lugu. Aku menatap heran Papa. “Sampai saat itu mungkin saja kamu sudah menemukan laki-laki lain yang kamu sukai.”


Aku menggeleng-geleng kepala. “Rayla cuma mau Papa. Pokoknya Papa tidak boleh ke mana-mana sampai Rayla dewasa.”


“Baiklah, putri cantik. Papa tidak akan pergi ke mana-mana,” janji Papa.


Jari kelingking Papa dan aku saling berkaitan. Lalu Papa menggendongku dan berjalan masuk ke dapur untuk makan malam bersama. Aku mengalungkan tangan kecilku di lehernya dengan mengulas senyum lebar di bibir.


Ketika itu, aku berusia tujuh tahun.


*****


“Wah, gambarmu bagus sekali, Rayla,” puji Papa ketika melihat hasil karya menggambarku. Bibirku pun menyunggingkan senyuman lebar melihat respons dari Papa. “Kamu memang putri kebanggaan Papa.”


“Ibu guru bilang, Rayla boleh mendaftar lomba menggambar, tapi mama tidak setuju.”


Wajah Papa berkerut keheranan. “Kenapa mama tidak setuju?”


“Mama bilang, alat menggambar mesti beli sendiri. Kita tidak memiliki banyak uang untuk membeli perlengkapan menggambar. Ini Rayla menggambar dengan meminjam krayon nya teman sekelas Rayla,” ungkapku menjelaskan.


Papa tak bergeming. Tidak lama kemudian, Papa mengusap puncak kepalaku dengan lembut. “Maafkan, Papa.”


“Papa tidak perlu meminta maaf. Rayla memperlihatkan hasil karya gambar Rayla ke Papa karena hanya ingin membuat Papa bangga kepada Rayla.”


Papa membawa tubuhku masuk dalam pelukannya yang hangat. “Rayla tidak perlu melakukan apa-apa karena Rayla adalah putri Papa yang paling pintar dan paling cantik. Rayla akan selalu menjadi kebanggaan Papa. Maafkan Papa yang tidak bisa memberi kebutuhan lengkap untuk putri Papa yang cantik satu ini.”


Ketika itu, aku yang tidak mengerti arti dari ucapannya hanya tersenyum semakin lebar dan memeluk tubuhnya dengan lebih erat.


*Pada saat itu*, komunikasi fisik antara diriku dengan papa merupakan hal terindah dalam kenangan hidupku.


“Papa!” Aku selalu memanggilnya dengan penuh rasa kagum. Sosoknya bagaikan pahlawan dalam hidupku.


“Papa!” Aku selalu berlari masuk dalam pelukannya. Membuatku merasa dicintai dan dihargai.


“Papa!” Sosok pria yang pertama kali aku cintai.


Flasback Off


*****


“Pak Osborn!” Suara Om Surbakti datang menginterupsi. Mereka bersalaman dengan saling menjabat tangan. “Anda datang terlambat.”


“Maafkan saya. Tadi ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. Setelah menyelesaikannya, saya langsung bergegas datang kemari.”


“Tidak apa-apa. Saya mengerti, Anda orang yang sangat sibuk,” ucap Om Surbakti.


“Sayang, kamu kenapa? Wajahmu pucat. Apakah kamu baik-baik saja?” Tiba-tiba terdengar suara bisikan Deon di telingaku.


“Pak Osborn, mari saya kenalkan putra saya. Dia menjabat sebagai CEO, menggantikan posisi putra sulung saya yang sudah meninggal.” Om Surbakti memperkenalkan Deon kepada pria itu. “Deon, Beliau ini adalah Pak Osborn. Salah satu Investor penyandang dana pada perusahaan kita.”


Deon dan Pak Osborn berjabat tangan. “Terima kasih sudah bersedia datang disela-sela kesibukan Anda, Pak Osborn. Suatu kehormatan bagi saya dapat berkenalan secara langsung dengan Anda. Saya masih harus banyak belajar. Jika saya melakukan kesalahan, jangan sungkan-sungkan menegur saya, Pak Osborn,” ucap Deon dengan sopan.


Pak Osborn tertawa tergelak-gelak. “Jangan merendahkan diri, Deonartus. Saya yakin, kemampuanmu seperti mendiang kakakmu. Kalau tidak, mana mungkin Ayahmu memberikan posisi itu kepadamu.”


“Terima kasih atas pujian Anda,” jawab Deon sambil memasang senyum yang membuat penampilannya semakin gagah dan tampan.


“Ah, Mr. Grayson Carter juga berada di sini rupanya.” Om Surbakti menoleh pada Elian.


“Deon, Mr. Grayson Carter ini adalah putra dari Mr. Carter. Salah satu relasi bisnis kita yang sudah terjalin selama sepuluh tahun.” Kemudian giliran Deon dan Elian yang saling menjabat tangan.


“Apakah Mr. Carter masih berada di London?” tanya Om Surbakti kepada Elian.


“Yes. Daddy akan berada di sana untuk beberapa waktu yang lama karena beliau harus mengurus beberapa masalah perusahaannya yang di sana.”


“Oh, begitu. Pantas saja beberapa belakangan ini, saya tidak melihat Mr. Carter saat menggelar acara rapat bersama.” Om Surbakti mengangguk-angguk kepalanya.


“Putri Anda semakin cantik saja, Pak Osborn.” Sepertinya Tante Amanda sering bertemu dengan Vlora karena beliau memberi pujian seperti itu kepada wanita itu.


“Terima kasih atas pujiannya.” Senyum Vlora terkembang di bibir cerinya. Membuat wajah cantiknya terlihat semakin mempesona.


Pak Osborn tertawa. “Jangan terlalu memujinya, Nyonya Surbakti. Saya semakin pusing melihat program diet yang dilakukannya demi menjaga tubuh agar tetap terlihat ramping.”


“Wanita memang harus menjaga penampilannya untuk pria pujaannya, Pa,” tukas Vlora dengan wajah ditekuk masam, tetapi tangannya merangkul manja.


“Papa benar-benar tidak rela melepaskan kamu untuk menikah, Vlora. Siapa lagi yang akan bergelayut manja kepada Papa seperti ini?” Pak Osborn menatap Vlora dengan tatapan penuh kasih sayang.


Kalimat-kalimat itu bagaikan ribuan jarum tajam yang menusuk hati hingga terasa perih. Melihat tatapannya kepada putrinya membuatku kesulitan menarik napas.


Ingin rasanya aku berteriak marah di hadapannya. Aku adalah anak kesayangannya. Aku lah anak yang paling dia manjakan. Menuruti hampir semua keinginanku.


Aku ingin dipeluk saat seperti dulu. Aku ingin diberi perhatian olehnya saat aku sedang sakit. Aku ingin mendekapnya. Aku ingin bercengkrama lagi dengannya. Aku ingin bermanja lagi padanya. Aku merindukan saat-saat dimana kami tertawa bersama, mengobrol bersama. Aku ingin kembali menjadi putri kecilnya.


“Wah, Apakah putri Anda sudah mempunyai calon suami?” tanya Tante Amanda menatap penasaran ingin tahu.


“Bagaimana kalau putri manja saya ini dijodohkan kepada putra Anda?” Pertanyaan Pak Osborn yang tiba-tiba ini membuat Om Surbakti dan Tante Amanda terkejut.


“Papa! I already have a future husband!”


“Maaf, Pak Osborn. Saya sudah memiliki calon istri.”


Serempak Vlora dan Deon terdengar protes. Membuat Pak Osborn tertawa, lalu berkata, “Saya hanya bercanda. Jangan dianggap serius, Deonartus.”


“Gurauan Om membuat calon istrinya Pak Deonartus ketakutan hingga wajahnya terlihat pucat,” ucap Elian yang sedari tadi hanya diam mendengar obrolan mereka.


Mata abu-abunya menatapku. Bibirnya mengulas senyum kecil. “Jangan khawatir, Rayla. Berita tentang kalian akan terpampang di surat kabar besok. Om Osborn tidak akan berani memisahkan kalian berdua.”


Pria itu menggerakkan kepalanya, menoleh menatapku. “Jadi, wanita inikah calon istrimu, Deonartus?” tanyanya.


“Benar, Pak!” Deon merengkuh pinggangku erat. Kedua matanya memandang Elian tajam.


“Perkenalkan, Rayla Pramanta, kekasih saya sekaligus calon istri saya,” ucapnya sambil menekankan kalimat terakhirnya dengan lebih jelas.


Frans Osborn yang tadinya tersenyum dan tertawa bahagia, wajahnya pun berubah menjadi pias dan pucat. Reaksi yang sama pun terjadi pada Vlora Lovata Osborn yang berarti putri manjanya ini mengetahui tentang masa lalu Frans Osborn yang dipanggil papa olehnya sekarang. Reaksi mereka membuatku tertawa mengejek dalam hati.


“Nama saya Rayla Pramanta. Senang berkenalan dengan Anda, Pak Osborn.” Aku berusaha menahan rasa sakit dalam hati dengan memasang wajah datar. Menyodorkan tangan untuk berjabat tangan dengannya, tetapi pria itu hanya diam tak bergeming.


“Rayla menjabat sebagai Asisten putra saya, Pak Osborn. Kalian akan sering bertemu,” tutur Om Surbakti menjelaskan.


“Wah, kalau begitu, saya bisa sekalian bernostalgia dengan Rayla,” ucapan Elian selanjutnya membuat rahang Deon mengeras. Aura ketegangan tiba-tiba menyeliputi di antara mereka berdua.


“Apa maksud Anda, Mr. Grayson Carter? Apakah Anda mengenal calon istri saya?”


“Yes. Kami sudah saling mengenal saat saya berumur delapan belas tahun dan Rayla berumur empat belas tahun.”


Aku tidak memperhatikan wajah Deon, tetapi aku tahu bahwa dirinya sedang marah. Dia memperketat perlukannya di pinggangku.


Seharusnya aku segera menjelaskan maksud dari ucapan Elian kepada Deon. Namun, perhatianku lebih terpusat kepada wajah pria yang berada di hadapanku saat ini.


“Saya lupa kalau masih ada kesibukan lain yang harus saya lakukan. Kalau begitu, saya pamit dulu Pak Surbakti, Nyonya Surbakti. Maaf, kedatangan saya hanya bisa sebentar,” kata Pak Osborn berpamitan setelah memutus kontak mata dariku dan memalingkan pandangan pada Om Surbakti.


“Ah, Ya, terima kasih atas waktunya, Pak Osborn,” jawab Om Surbakti.


“Ayo, Vlora!” Pak Osborn memanggil putrinya sebelum berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan tempat tanpa menyambut uluran tanganku yang masih menggantung di udara.


Aku membencinya saat ini, tetapi aku merindukan semua tentangnya. Semua!


Tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan penglihatan mulai kabur, selanjutnya aku kehilangan kesadaran hingga terjatuh dalam kondisi wajah telah basah karena air mata yang jatuh bercucuran.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘