Silence

Silence
Bab 42



Happy reading 📖📖 guys


“Baiklah. Saya rasa cukup meeting hari ini. Terima kasih. Kalian boleh kembali bekerja, kecuali Deon. Saya masih ada urusan dengan kamu.”


Pak Gunawan akhirnya menutup meeting setelah menjelaskan acara perusahaan kali ini akan menggunakan dress code dan perusahaanlah yang akan menyediakannya. Kami akan dipanggil bagian HRD untuk mengukur ukuran tubuh masing-masing.


Aku berjalan melangkah ke meja kerjaku. Sheila, Bram dan Andi, rekan kerjaku, menyusul dari belakang. Sepertinya mereka masih ingin melanjutkan gosip.


“Kali ini kantor niat banget merayakan ulang tahun perusahaan dengan mewah sampai-sampai kita semua mengenakan dress code,” ucap Bram.


“Dress code-nya tidak memungut biaya pada pegawai. Pak Surbakti memang bos paling the best dan paling royal,” ucap Andi menambahkan.


Apa yang mereka katakan benar. Pak Surbakti adalah pemilik perusahaan ini yang berarti bos besar kami. Beliau sangat memperhatikan kesejahteraan pegawainya.


Di zaman kehidupan sekarang ini, di mana rasa kepedulian antar sesama perlahan-lahan mulai mengikis, mendapatkan bos seperti Pak Surbakti adalah suatu keberuntungan yang harus disyukuri.


Tidak heran para pegawai yang bekerja di sini betah bekerja lama. Bahkan, sampai masa pensiun tiba.


“Congrats, La. Lo jadi asistennya CEO baru kita,” ucap Sheila sambil tersenyum tulus padaku.


“Apanya yang congrats? Gue lebih suka berkutat dengan laporan,” jawabku dengan wajah masam.


“Bilang saja kalau lo tidak bersedia berpisah dengan Deon,” ejek Andi sambil terkekeh geli.


“Sabar, La. Kalian hanya berpisah sembilan jam saja, kan. Setelah selesai jam kerja, kalian bisa pergi ngedate. Sabtu Minggu juga bisa. Lagipula ada baiknya kalian dipisah bagian,” ucap Bram.


Alisku berkerut naik ke atas. “Maksud lo?”


“Mungkin lo tidak berasa, La. Padahal, mata kita ini sudah sepet melototin angka-angka di komputer. Akan tetapi, melihat kemesraan antara lo dan Deon, bikin mata ini jadi makin sepet saja. Terus bagi yang masih single seperti Sheila, tuh bikin iri tahu!” jawab Bram.


“Jangan bawa-bawa nama gue, Bram! Bukannya lo yang single, tidak laku-laku? Asal lo tahu, gue sudah punya kekasih!” semprot Sheila.


“Kan, lo bisa pura-pura tidak melihat, Bram. Gue dan Deon tidak menyuruh lo menonton kemesraan kami,” jawabku dengan ketus.


“Chill out, ladies! Jangan galak begitu, dong! Hahaha ….” Bram tertawa dengan keras melihat reaksiku dan Sheila.


“Ngomong-ngomong, lo tahu tidak siapa CEO baru kita, La?” tanya Andi mengalihkan topik pembicaraan dengan rasa penasarannya.


“Kok. tanya ke gue? Ya mana gue tahu?” jawabku.


“Yah, siapa tahu lo tahu, La. Kan, lo yang mau dijadikan Asisten CEO.”


“Kalau gue tahu, gue tidak akan gelisah seperti sekarang, Ndi,” jawabku tanpa menutupi rasa cemas.


Sheila menepuk bahuku, memasang wajah cengirannya dan berkata, “Tenang saja, La. Pak Surbakti orangnya baik, kok! Anaknya pasti juga mewarisi sifat baiknya. Kalau dia tampan dan lo tidak betah jadi Asistennya, lo bisa tawarin ke gue.”


“Lo bukannya bilang sudah punya kekasih, Shel?” tanya Andi.


“Memangnya kalau sudah punya kekasih, tidak boleh jadi Asistennya CEO? Tuh, lihat Rayla! Dia juga sudah punya kekasih, kok!” protes Sheila sambil memanyunkan bibirnya.


“Kesannya kok lo mau gaet CEO baru kita, ya?” cibir Bram pada Sheila.


“Itu cuma bonus saja kalau CEO nya jatuh cinta sama gue,” jawabnya sambil tersenyum manis.


“Pede banget lo! Kayak CEO kita bisa naksir sama lo!” ucap Andi dengan nada mengejek.


Sheila mencak-mencak, membuat Andi dan Bram tertawa terbahak-bahak. Aku hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat tingkah laku mereka.


Inilah rekan kerjaku. Selalu ramai dan ceria karena mereka senang saling memperolok satu sama lainnya.


*****


“Ternyata hamil tuh sengsara banget deh, La. Setiap pagi bangun tidur bawaannya capek. Hirup aroma apa pun langsung mual. Kalau tahu begini, mendingan gue langsung minum obat saja biar tidak jadi hamilnya.” keluh Maylin panjang lebar.


Aku melempar tas di sofa dan menaruh beberapa berkas dokumen ke meja. Deon tidak bisa pulang bersamaku.


Padahal, aku lembur hingga pukul delapan malam. Namun, dia masih bersama pak Gunawan di empat meeting bersama kolega perusahaan.


Beberapa hari belakangan ini, aku merasa pak Gunawan lebih sering mencari Deon menghadiri rapat penting.


Apakah kemampuan Deon dalam meyakinkan perusahaan lain untuk bekerja sama benar-benar sepandai itu?


“Rayla! Lo dengar gue tidak, sih?” teriak Maylin dari seberang sana.


“Iya, Gue dengar, Lin. Gue baru sampai Apartemen, nih! Mana gue belum makan malam lagi.”


Aku mencari mie instant di tempat biasa aku menaruhnya, tapi ternyata kosong. Aku mengumpat karena saat ini perutku sudah meraung keras minta di isi. Mau tidak mau aku memesan makanan secara online.


“Lin, gue kehabisan mie instan. Gue pesan makanan online dulu, ya. Besok gue telepon lo. Sekarang juga sudah malam. Cepat istirahat, ya.”


Setelah mendengar jawaban dari Maylin, aku segera memutuskan sambungan telepon dan berniat membuka aplikasi delivery food. Namun, kulihat sebuah inbox masuk dari Deon.


Deon: Meetingnya baru selesai. Setelah ini aku on the way pulang. Tolong pesankan makanan untukku juga ya.


Aku melirik sebentar pada pojok atas kanan layar. Waktu sudah menunjukkan pukul 20:45. Meeting mereka kali ini menghabiskan waktu lebih lama dibandingkan biasanya.


Deon: Aku lebih suka makan kamu, Sayang.


Aku tersenyum membaca jawabannya.


Me: Kalau begitu aku pesan salad sayur saja, ya.


Deon: Jangan dong, Sayang! Kalau makan sayuran saja, mana ada tenaga nanti ajak kamu olahraga malam?


Dasar otak mesum!


Me: Ya makanya jawab mau makan apa?


Deon: Terserah kamu, Sayang. Pesan makanan yang mengandung karbohidrat. Ingat, nanti malam kita masih mau olahraga.


Me: Aku masih belum memberikan pelajaran padamu karena saat rapat tadi, kamu tidak membantuku sama sekali menolak tawaran pak Gunawan!


Beberapa menit aku menunggu balasan dari Deon, tapi tidak kunjung datang. Padahal, dia sudah membacanya.


Akhirnya aku memutuskan membuka aplikasi delivery food dan mulai memesan. Butuh waktu tiga puluh menit pesanan baru sampai. Aku pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.


Deon sudah pulang setelah aku selesai mandi. Makanan pesananku juga sudah tiba. Aku dan Deon segera menyantap dengan lahap. Perutku sudah nagih makan dari tadi.


“Kalian meeting bukannya di tempat makan? Kenapa tidak sekalian makan di sana, sih? Nahan lapar berjam-jam memangnya kamu bisa fokus apa yang mereka bicarakan?” tanyaku sambil mendaratkan pantatku ke atas sofa.


Setelah kami selesai menghabiskan seluruhnya dan membereskan sampah, kami memutuskan istirahat terlebih dahulu di ruang tengah sambil menyeruput teh hangat yang dibuat oleh Deon.


“Ada sambil makan, sih! Tapi aku sengaja tidak makan banyak karena aku lebih senang makan bersamamu, Sayang.”


“Gombal!” gumamku sambil menyembunyikan wajahku yang memerah karena ucapan Deon barusan.


Deon tertawa kecil kemudian menarikku mendekat ke arahnya dan mengecup dahi, telinga, pipi dan akhirnya bibirku.


Ciuman kami semakin mesra sampai akhirnya aku mendorong bahunya pelan dan melepaskan bibirku dengan napas memburu.


“Aku sudah bilang kalau aku ingin membuat perhitungan denganmu, kan? Sebelum kamu menjawab pertanyaanku, jangan harap aku mau memberimu jatah, Deon,” kataku mencoba memulihkan kesadaranku.


“Mengapa kamu tidak membantuku menolak tawaran pak Gunawan? Memangnya kamu bersedia aku dipindah bagian menjadi Asisten CEO? Apa kamu tidak takut kalau aku jatuh cinta kepadanya?” tanyaku memasang wajah galak.


“Kamu sudah jatuh terperangkap dalam pesonaku, Rayla. Aku tidak perlu khawatir,” jawab Deon dengan nada penuh percaya diri.


Aku melengos. “Idih! Kamu percaya diri banget, sih? Siapa tahu CEO baru kita jauh lebih tampan dari kamu.”


Deon terkekeh geli mendengar ucapanku. “CEO baru kita sama tampannya denganku, kok!”


“Kamu tahu siapa CEO kita nanti?” tanyaku tanpa menutupi rasa penasaran. Deon hanya mengulas senyum.


Aku mendengus napas dengan keras. Kulipat kedua tangan di atas dada. “Aku tidak suka rahasia, Deon! Jangan membuatku berpikiran yang tidak-tidak! Katakan padaku seperti apa CEO kita itu? Demi Tuhan! Aku tidak mau


jadi asistennya!”


Dahi Deon mengernyit. “Kenapa tidak mau? Banyak yang ingin mengambil posisi itu, loh! Kan, ini kesempatan yang baik untuk karir kamu juga, La. Masa kamu mau jadi Staff terus, sih?”


“Aku lebih suka menghadapi laporan daripada menghadapi orang, Deon. Kan, Kamu sendiri juga tahu kalau aku bodoh dalam bersosialisasi. Menjadi Asisten CEO itu berarti harus bertemu dengan banyak orang, termasuk orang-orang penting yang akan menjadi relasi bisnis di perusahaan,” jawabku dengan nada frustasi.


Deon mengusap wajahku pelan. Dengan lembut dia menenangkan diriku. “Jangan banyak berpikir dulu, Sayang. Kamu harus berpikir positif tentang dirimu. Perusahaan tidak mungkin sembarangan memilih, jika bukan karena kamu memiliki persyaratan yang mereka butuhkan.”


Aku menatap Deon dengan cemas. “Aku tidak pandai menghadapi orang asing, Deon. Diriku yang sekarang memang berubah menjadi lebih terbuka. Itu karena ada kamu di sampingku dan mengajariku untuk berubah, tapi kalau aku menjadi Asisten CEO, kamu tidak ada di sampingku, aku harus bagaimana nanti?”


“Ssttt … jangan khawatir, Sayang. Everything gonna be alright. Aku tetap selalu ada di sampingmu.”


“Ruangan CEO berbeda dengan ruanganmu! Bagaimana bisa kamu selalu ada di sampingku? Gimana, sih kamu!” Aku mencubit pinggangnya dengan sekuat tenaga hingga dia mengaduh kesakitan.


Aku menatapnya dengan kesal. “Besok aku akan menghadap pak Gunawan. Aku bersikeras menolak posisi itu.”


Deon menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba wajahnya terlihat serius. “Kamu tidak boleh menolaknya, Sayang.”


“Kenapa tidak boleh? Hak aku mau nolak, dong!” balasku dengan galak.


“Karena aku sudah memutuskan posisi itu hanya kamu yang boleh menempatinya.”


“Hah?” Aku tidak mengerti apa hubungan keputusannya dengan keputusan perusahaan?


Deon menatap mataku dalam. Dia memasang wajahnya dengan serius. Hal yang jarang sekali ditunjukkannya pada saat kami hanya berdua.


“Aku selaku CEO baru di perusahaan ini, memutuskan Rayla Pramanta menjadi Asisten baruku. Tidak peduli keberatan atau tidak, posisi ini tidak bisa diganggu gugat.”


Mataku membulat lebar mendengar ucapannya. Mulutku menganga terbuka, tapi tidak dapat mengeluarkan suara karena saking terkejutnya.


What? Aku tidak salah dengar, kan? Aku tidak sedang bermimpi, kan? Dia … dia …


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘