
Hai readers tersayang, terima kasih banyak ya sudah mau mendukung karyaku ini hingga sekarang🥰 Dukungan dari kalianlah yang menjadi penyemangatku terusin karya ini🤗 Yuk, tambahkan ke favorite kalian ya biar gak ketinggalan up nya❤️ Jangan lupa kasih ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️5stars dong biar semangatnya gak cmn 45 lagi tp lgsg 75 hehehe😄😝 capcus langsung aksinya deon👇 Happy reading 📖📖
DEON
“Berani sekali lo menyentuh calon istri gue, hah?” Gue menarik kerah baju Erik lalu memberinya bogem mentah.
Gue menatap garang wajah pria berengsek itu dengan napas memburu karena emosi yang meluap. Gue sudah tidak peduli lagi dengan tata krama dan bersikap sopan terhadapnya.
Erik terkekeh sambil menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. “Pantas saja Anda ketagihan bercinta dengan mantan kekasih saya. Ternyata tubuhnya benar-benar nikmat. Seharusnya saya mencicipinya terlebih dahulu sebelum Anda datang merebutnya dari saya.” Erik menggerakkan tangannya, menyentuh bibirnya disertai senyum miring.
Gue mengepalkan tangan, lalu gue mengalihkan tatapan memandang Rayla.
Napas gue tercekat, tidak bisa bernapas ketika melihat kemeja Rayla terkoyak dan kancingnya yang putus berceceran di lantai, hanya tersisa braa. Sedangkan rok sepan yang dikenakannya robek hingga nyaris terlihat underwear-nya. Rayla terlihat sedang tersengal-sengal seperti sekarat sambil meracau meminta berhenti.
“Berengsek!” geram gue. Kondisi Rayla yang seperti itu membuat gue gelap mata.
Gue berjalan maju, menyerang Erik dengan menendang perutnya hingga tubuhnya terhempas ke belakang, kemudian mendorong tubuh Erik ke lantai, lalu memberikan pukulan bertubi-tubi di wajahnya.
“Kepa rat! Bajingan! Bede bah!” Hati gue terbakar api amarah. Emosi yang sudah tersulut sebelumnya semakin menjadi begitu melihat kondisi Rayla yang hancur. Gue sangat marah.
“Berhenti!”
Gue tidak menghiraukan suara Mr. Xavier Jadison dan terus melancarkan pukulan kepada Erik. Amarah gue sudah mengepul. Bedebah ini harus mati di tangan gue!
“Hentikan sekarang juga atau saya panggil polisi!” gertak Mr. Xavier Jadison, menarik tangan gue kasar.
Napas gue tidak beraturan. Gue beranjak berdiri lalu tersenyum miring melihat wajah Erik yang penuh lebam dan robekan. “Anda ingin panggil polisi? Silahkan! Biar seluruh dunia tahu, orang macam seperti apakah kalian ini yang sebenarnya!”
Napas Erik terputus-putus. “Rayla … milik gue! Lo … yang datang … merebutnya!”
Gue membuang lud ah ke lantai dan menatap Erik dengan tatapan tajam. “Lo terlalu naif dan sombong, Erik. Yang lo lihat hanya diri lo sendiri. Lo tidak pernah memikirkan perasaan Rayla. Kesalahan yang lo buat hingga resiko inilah yang harus lo tanggung sendiri. Berlian, walau sudah tergenggam, akan jatuh terlepas juga kalau tidak dihargai.”
Erik terdiam, tidak bisa lagi berucap satu kalimat pun.
“Mr. Xavier Jadison ….” Gue menatap pria itu yang sedang membantu Erik berdiri, tetapi Erik kembali terjatuh ke lantai sambil meringis kesakitan dengan tangannya menekan pada bagian perut yang gue tendang tadi.
“Mengenai keinginan Anda menggabungkan perusahaan kita, saya menolaknya. Sedangkan hubungan kerjasama ini apakah masih dilanjutkan atau tidak, terserah Anda. Saya tidak peduli.”
“Namun, Anda harus tahu satu hal, kekacauan ini terjadi karena perbuatan putra Anda yang ingin memper kosa calon istri saya. Jika Anda ingin penyelesaian melalui jalur hukum, silahkan. Kita lihat saja, apakah kekuasaan yang Anda miliki mampu menutupi perilaku bejat putra Anda ini?” Gue tersenyum puas melihat bagaimana wajahnya yang merah padam karena amarahnya sendiri.
Gue mengalihkan tatapan kembali ke Erik. “Tentang lo yang mau jadi investor di perusahaan gue? Perusahaan gue tidak butuh tambahan investor. Lebih baik uang lo dipakai untuk beramal supaya dosa lo berkurang. Gue tidak sudi uang haram lo itu masuk ke rekening perusahaan gue,” ucap gue mencemooh.
Kemudian gue berjalan mendekati Rayla yang masih meronta-ronta dan menjerit ketakutan.
“Tidak! Jangan! Tolong!”
“Rayla … Sayang ….” Gue mengulurkan tangan untuk membelai wajah Rayla.
Namun, reaksi Rayla yang semakin menjerit ketakutan membuat hati gue terasa sakit, bagaikan teriris-iris oleh ribuan mata pisau yang tajam.
“Sayang, ini aku, Deon … Apakah kamu tidak bisa mendengar suaraku?” Gue mencoba mengusap pelan puncak kepalanya dengan lembut.
Perlahan-lahan, Rayla membuka matanya. “De … on,” panggilnya dengan suara serak.
Gue memajukan kepala mendekat padanya. Pandangan kami bertemu. Sorot matanya yang ketakutan, pelan-pelan lenyap digantikan air mata yang menetes perlahan dari kedua sudut matanya.
“Aku di sini, Sayang.” Gue meraih jemari tangannya, kemudian mengecup punggung tangannya dengan lembut, lalu membawa tangannya itu mengusap wajah gue. “Maaf, aku baru datang sekarang menolongmu.”
Tangis Rayla pun pecah. Dia memeluk bahu gue dan menarik gue erat-erat ke sisinya. “Kamu datang … aku takut … dia … dia ….” Rayla tidak meneruskan ucapannya.
Sakit di hati gue semakin bertambah ketika mendengar Rayla yang semakin menangis tersedu-sedu. “Kita pulang,” bisik gue di dekat telinganya. Rayla menganggukkan kepalanya.
Gue membuka jas dan menggunakan jas tersebut menutupi tubuhnya Rayla, kemudian menggendongnya, lalu berjalan melangkah keluar.
Ketika akan melewati sosok yang ingin sekali gue tenggelamkan dirinya ke samudera Hindia, gue berhenti sebentar lalu mengancamnya sambil berkata, “Jangan pernah lo sentuh dan ganggu calon istri gue lagi! Gue tidak segan-segan membunuh lo saat itu juga!”
Mr. Xavier Jadison berdiri tegak sambil memandang gue tanpa rasa takut. “Pak Deonartus, Apakah Anda lupa jika kerjasama ini dibatalkan, maka pihak kalian harus membayar pinaltinya kepada saya sebesar 25%?”
“Sudah saya katakan, saya tidak peduli. Perusahaan saya sanggup membayar pinaltinya. Anda tidak perlu khawatir,” jawab gue sambil membalas tatapannya dengan tajam.
“Jangan lupa, tanah yang menjadi kesepakatan kita juga akan menjadi milik saya!”
Gue terkikik mendengar perkataannya. “Ambil saja, Mister. Harga tanah itu tidak sebanding dengan kenyamanan calon istri saya. Apapun yang Anda inginkan, akan saya kabulkan agar kita tidak perlu lagi bertatap muka. Jujur saja, saya masih belum puas memberi putra Anda pelajaran!”
Pupil mata Mr. Xavier Jadison membesar. Rahangnya mengeras. Tangannya terkepal erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Gue mengangkat ujung bibir dengan satu sisi dan diikuti dengan tatapan mata yang tajam serta alis yang terangkat sebelah. “Jika kejadian hari ini berdampak pada psikologis calon istri saya, saya tidak akan sungkan-sungkan menggugat putra Anda atas percobaan pemer kosaan yang dilakukannya kepada calon istri saya!”
“Walaupun ruangan ini tidak ada kamera cctv, tetapi kamera cctv yang terpasang di beberapa sudut ruangan lain, koridor, lift, maupun lobby akan merekam saya yang sedang berjalan keluar dari gedung ini sambil menggendong calon istri saya. Padahal saat kami datang, kondisi kami berdua dalam keadaan baik-baik saja.”
Erik tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya yang kencang membuat tubuh Rayla yang tadinya sudah tenang, kembali gemetar. Rayla semakin membenamkan wajahnya ke dada gue.
Berengsek! Gue mesti bergegas meninggalkan tempat ini untuk ketenangan Rayla.
“Kalian ingin menghapus jejak rekamannya, silahkan saja!” tukas gue seolah-olah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan bedebah itu.
“GPS yang selalu saya aktifkan di ponsel juga kamera pengintai yang terpasang di mobil saya, dapat dijadikan sebagai barang bukti bahwa hari ini dan waktu sekarang, saya bersama calon istri saya berada di gedung ini,” ucap gue, tersenyum miring kepada mereka.
Tanpa menunggu reaksi dari mereka lagi, gue pun langsung melangkah meninggalkan tempat terkutuk itu.
Begitu kami sudah sampai di parkiran, gue mendudukkan Rayla yang sedang tertidur di kursi penumpang depan mobil dengan hati-hati.
Wajah Rayla masih terlihat pucat. Gue membelai wajahnya dengan lembut. Detik berikutnya, mata gue menangkap sudut bibir Rayla berdarah karena robek.
Bedebah! Seharusnya gue langsung membunuhnya! Seharusnya gue menolak permintaan pria tua itu yang meminta Rayla pergi mengambil berkasnya! Seharusnya di tempat sarang musuh, gue harus menjaga Rayla agar terus berada di samping gue!
Kekasih macam apa yang tidak bisa melindungi wanita yang dicintainya? Padahal sering mengumbar kata-kata manis, berkata akan selalu menjaganya, tidak akan membuatnya menangis, tapi kenyataannya mana? Gue malah dengan tol olnya menjerumuskan kekasih sendiri masuk ke lubang perangkap musuh.
“Maafkan aku … Maafkan aku yang bo doh, Sayang ….” lirih gue penuh penyesalan. Tanpa sadar, setetes air mata jatuh dari pelupuk mata gue.
Gue mengambil ponsel lalu menekan sambungan keluar dan menghubungi Leonel. “Cari tahu perbuatan kriminal apa saja yang pernah dilakukan Xavier Jadison dan putranya, Erik Xavier Jadison!” perintah gue, ketika Leonel mengangkat telepon.
“Xavier Jadison? Yang benar saja lo, Bro?”
Alis gue terangkat dan melengkung ke atas. “Lo kenal?”
“Tentu saja! Dia saingan bisnis bokap gue. Gue sudah pernah cari tahu kelemahan atau perbuatan tercela apa yang pernah dilakukan orang itu, hasilnya nihil.”
“Sialan!” gue mengumpat.
“Gue enggak tahu ada masalah apa lo dengan mereka, tapi pesan gue buat lo, berhati-hatilah. Mereka sangat licik dan pintar memanipulasi. Mereka musuh yang sulit di lawan.”
Berengsek! Kalau begini, bagaimana caranya gue memberi pelajaran kepada mereka?
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘