
*Happy reading 📖📖guys*
DEON
“Pak Deonartus, kami sudah memeriksa daftar nama-nama tamu yang datang. Namun, tidak ada yang bernama Frans Pramanta,” ucap Banquet Supervisor Hotel yang memantau dan mengkoordinasi acara malam ini.
“Tidak ada?” gue membeo.
“Ya, Pak! Kami malah menemukan dua nama yang sama dengan nama belakang yang berbeda. Frans Osborn dan Frans Yuda. Bahkan, yang memiliki nama belakang Pramanta pun juga tidak kami temukan.”
Alis gue berkerut. Tidak ada yang bernama Frans Pramanta maupun yang bernama belakang Pramanta.
Kalau begitu, siapakah yang bertemu muka dengan Rayla sehingga mengingatkan dirinya tentang papanya?
“Apakah masih ada hal lain lagi yang perlu bantuan kami, Pak?”
Suara pertanyaan dari Banquet Supervisor Hotel membuat gue tersadar dari pikiran gue tadi. “Tidak ada lagi. Terima kasih.”
“Baiklah. Saya permisi.” Setelah membungkukkan badan, Banguet Supervisor Hotel pun kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Aneh! Memang, sih, gue sempat meninggalkan Rayla karena harus menyambut para tamu. Jadi, gue tidak tahu apakah dia bertemu dengan seseorang selain pria blasteran Inggris sialan itu, Frans Osborn dan putrinya.
“Deon!” Tiba-tiba Papa sudah berdiri di belakang gue. “Acara sudah selesai. Kamu panggil Mamamu dan beri tahu dia, Papa menunggunya di Lobby.”
Gue menilik kedua mata Papa. “Pa, dilihat baik-baik, ternyata kita berdua memiliki mata yang sama,” gue bergumam pelan.
Papa tertawa kecil. “Pertanyaan konyol apa itu? Tentu saja anak akan mewarisi gen dari kedua orang tuanya.”
Setelah mendengar jawaban dari papa, entah bagaimana sebuah pemikiran yang menakutkan muncul dari otak gue.
Tidak mungkin, Deonartus! Lo jangan berspekulasi yang tidak-tidak! Mana mungkin hidup Rayla ditakdirkan sekejam itu?
“Kok, malah melamun? Cepat panggil mamamu, sana!” terdengar interupsi suara Papa.
Gue mengangguk kepala, lalu berjalan cepat menuju kamar Hotel sambil mengeluarkan ponsel dan menekan opsi recent calls.
“Eh, kutu kupret! Gimana gue bisa lapor hasilnya ke lo besok pagi kalau lo telepon gue melulu?” Suara makian Leonel terdengar di telepon.
“Cari tahu juga tentang Frans Osborn.”
“Hah? Lo anak pengusaha, tapi tidak tahu siapa itu Frans Osborn? Sepertinya papa lo akan menyesali keputusannya yang menyerahkan perusahaan kepada anaknya yang buta bisnis,” balas Leonel disertai gelak tawa.
“Sialan, lo! Gue juga tahu Frans Osborn itu siapa, kampret!” semprot gue.
“Terus kenapa lo minta gue cari tahu tentangnya?”
Gue menghembuskan napas panjang. Semua orang yang bergulat dalam bidang bisnis, memang tahu tentang sepak terjang Frans Osborn, si ‘Raja Bisnis’ ini.
Namun, yang gue butuhkan adalah info mengenai kehidupan pribadi beliau. Dalam kepala gue tidak berhenti mengira-ngira kalau Frans Pramanta ada hubungannya dengan Frans Osborn.
“Gue butuh info tentang kehidupan pribadinya. Keluarganya. Kerabatnya. Semua,” ucap gue kepada Leonel.
“Besok lo mesti jelasin ke gue kenapa lo minta data tiga orang ini. Gue kenal lo, Deon. Lo tidak suka ikut campur urusan orang lain, terkecuali apabila menyangkut orang yang lo sayangi.”
“Gue tunggu lo di The R-C Hotel,” balas gue.
“Lo tidak langsung balik ke Apartemen setelah acara selesai?”
“Kekasih gue tiba-tiba sakit di tengah acara tadi. Sekarang sedang istirahat di kamar Hotel.”
Leonel tertawa terkekeh-kekeh. “Deonartus Surbakti, Playboy sejati berubah menjadi bucin.”
“Jangan ngetawain gue! Nanti giliran lo yang kena karma.”
“Gue masih mau bersenang-senang, Bro! Tunggu menikah baru insaf! Hahaha ….”
Gue malas meladeni Leonel lebih lama. Gue pun langsung memutuskan sambungan telepon saat kedua kaki gue sudah berdiri di depan pintu kamar.
Dengan menggunakan key card, gue membuka pintu, lalu melangkah masuk ke dalam. “Ma! Kak Sarah!”
Gue melihat Mama menggunakan handuk kecil yang dibasahi dengan air dingin untuk mengkompres dahi Rayla. Sedangkan Kak Sarah terlihat sedang terlibat obrolan dengan Dokter Haldis.
“Bagaimana dengan kondisi Rayla?”
“Saya sudah memberinya paracetamol untuk menurunkan demamnya. Sepertinya Nona Rayla mengalami stres sehingga hormon kortisol membuat detak jantung lebih cepat dan pembuluh darah menyempit,” ucap Dokter Haldis menjelaskan.
“Demamnya sudah menurun, tetapi demi berjaga-jaga jika suhu tubuhnya naik lagi, Dokter Haldis sudah menyiapkan obat di atas nakas,” imbuh Mama.
Gue mengangguk-angguk, lalu mengucapkan terima kasih kepada Dokter Haldis, Mama juga Kak Sarah. Gue duduk di sisi ranjang dengan mata memandang wajah Rayla yang masih pucat.
“Kalau Rayla sudah sadar, jangan bertanya apa-apa tentang papanya. Tunggulah sampai dia sendiri yang lebih dulu mengungkit,” pesan Kak Sarah.
“Mama pulang dulu. Ada apa-apa, kabari kami,” ucap Mama sambil menepuk bahu gue dengan pelan.
“Ya, Ma. Papa sudah menunggu Mama di Lobby.”
Kemudian mereka pergi meninggalkan gue berdua bersama Rayla. Gue melanjutkan mengompres.
Kepala gue tidak berhenti membuat hipotesis antara Frans Osborn, Frans Pramanta dan Rayla. Gue berharap dugaan gue ini salah.
*****
Suara bel pintu berbunyi. Gue memeriksa kondisi Rayla terlebih dahulu yang masih sedang tidur sebelum melangkah keluar membuka pintu.
“Perut gue lapar. Belum sarapan karena buru-buru ke sini.” Leonel berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam tanpa basa-basi. Dia menaruh tiga buah amplop map penyimpanan dokumen berkas ke atas meja.
“Gue sudah memesan makanan di Room Service. Kecilkan volume suara lo. Gue tidak mau sampai kekasih gue mendengar obrolan kita,” ucap gue yang di balas Leonel dengan terkikik geli. Entah di bagian kalimat mana yang menurutnya lucu.
“Rayla Pramanta. Nama kekasih lo, bukan?” tanyanya.
Gue tidak langsung menjawab pertanyaannya. Sampai saat ini, sahabat gue belum ada yang mengenal Rayla.
ketika itu, Rayla masih belum tahu tentang identitas gue yang sebenarnya. Gue tidak mau sahabat gue tidak sengaja membocorkan rahasia tersebut.
Maka dari itu, apabila Leonel mengetahui sendiri nama Rayla, berarti dia sudah berhasil mencari tahu tentang Frans Pramanta.
“Lo mau dengar info siapa dulu? Elian Grayson Carter, Frans Pramanta atau Frans Osborn?” tanya Leonel lagi.
Sejenak gue diam berpikir sebelum menjawab, “Elian Grayson Carter.”
Membahas tentang Elian tidak perlu waktu yang lama karena gue hanya mau tahu ada hubungan apakah di antara Elian dengan Rayla? Di luar itu gue tidak tertarik.
“Tadinya gue bingung kenapa lo mau cari tahu tentang Elian ini. Sampai ketika gue menemukan nama kekasih lo, gue baru paham.” Sambil tersenyum mengejek, Leonel menyerahkan satu map amplop kepada gue.
Gue langsung membukanya dan membaca satu per satu. Dahi gue mengernyit ketika menemukan sebuah nama Frida Lewis sebagai ibu kandung dan Darwan Bimala sebagai saudara yang seibu, tapi beda ayah.
“Rayla dan Elian, mereka berdua tidak pernah menjalin hubungan lebih dari teman. Elian adalah kakak dari kekasih adiknya Rayla. Lo boleh bernapas lega sekarang,” tutur Leonel, kemudian terdengar suara tawa terkekeh-kekeh seperti mencemooh.
Sialan! Tahu begini, gue minta Leonel langsung kasih kabar malam itu juga. Gue sampai sulit tidur gara-gara berpikir yang tidak-tidak tentang Rayla dengan pria makhluk alien itu.
Leonel menyodorkan dua buah amplop map lain ke hadapan gue, setelah dia puas menertawakan gue. “Tidak ada banyak yang gue temukan tentang Frans Pramanta. Pria ini pernah bekerja di sebuah perusahaan, tetapi tidak dicantumkan nama perusahaan tersebut. Gue mencoba mencari tahu. Namun, hasilnya nihil.”
“Lalu pria ini dikabarkan tinggal bersama dengan seorang wanita dan memiliki seorang anak perempuan, Rayla Pramanta. Info tentang Frans Pramanta hanya sampai di sini. Selanjutnya, gue tidak menemukan apa-apa.”
Sambil menyimak penjelasan dari Leonel, gue membuka lembaran demi lembaran berkas yang diberikannya.
“Sedangkan Frans Osborn, kita semua sudah tahu kalau perusahaan Osborn sangat terkenal di seluruh dunia. Keluarga keturunan Osborn terus mengepakkan sayap bisnis mereka sampai saat ini, di bawah tangan Frans Osborn yang ternyata hanyalah seorang menantu,” ucap Leonel lagi.
“Menantu? Kalau begitu, apa nama belakangnya?” tanya gue. Jantung gue berdegup kencang.
Leonel tidak langsung menjawab. Dia mengeluarkan sebungkus rokok. Mengambil sebatang dan menaruh rokok itu di mulutnya, lalu membakarnya.
“Sayangnya gue tidak menemukannya. Gue dan anak buah gue sudah melakukan penyelidikan, tetapi nihil. Gue curiga Osborn melakukan sesuatu kepada pihak media untuk menghapus semua informasi terkait tentang menantunya yang dapat membuat reputasi nama Osborn turun.”
Pernyataan Leonel bukan tidak ada kemungkinan, mengingat luar biasanya pengaruh dan kekuasaan yang dimiliki Osborn.
“Gue tidak menemukan foto wajah Frans Pramanta. Bagaimanapun gue coba mencari tahu, tetap saja sulit ditemukan, seolah-olah dengan sengaja disembunyikan dari siapa pun. Lo tahu sendiri, kepakaran gue dan anak buah gue dalam menggali sebuah informasi tidak diragukan,” tutur Leonel setelah menghembuskan asap rokoknya ke udara.
Kemudian dia mencondongkan badan ke depan. Raut wajahnya terlihat serius saat berkata, “Ada satu fakta yang membuat gue curiga kalau Frans Pramanta kemungkinan besar adalah Frans Osborn.”
Gue terkesiap mendengar dugaan Leonel. “Apa itu?”
“Informasi tentang menantu Osborn, yang anehnya tidak pernah diungkit nama menantunya kepada pihak media, tiba-tiba menghilang bertepatan dengan Frans Pramanta yang berhenti bekerja dari sebuah perusahaan.” Leonel mengambil berkas dari tangan gue. Lalu dia menunjukkannya kepada gue.
Mata gue membulat lebar melihat tanggal, bulan dan tahun yang sama dalam berkas informasi Frans Pramanta dengan Frans Osborn.
“Ini hanya perkiraan gue, Deon. Masih belum dipastikan benar atau tidaknya. Frans Osborn kemungkinan adalah Frans Pramanta. Sebelum Rayla lahir, Frans Pramanta berstatus sudah memiliki istri, Auristela Allisya Osborn dan anak pertama mereka, Vlora Lovata Osborn.”
“Apa?” gue terpekik karena terkejut saat mendengar ucapan Leonel.
Gue memang curiga kalau Frans Osborn adalah Frans Pramanta, tapi dalam spekulasi gue adalah, Frans Pramanta meninggalkan keluarganya karena berselingkuh dengan salah satu putri dari keluarga Osborn.
“Ada apa, Deon? Kenapa kamu berteriak seperti itu?”
Suara yang serak dan lemah terdengar dari belakang. Membuat gue memalingkan kepala ke arah sumber suara.
Dengan wajahnya yang pucat, Rayla berjalan pelan mendekati kami. Shiitt! Rayla tidak mendengar obrolan gue dan Leonel, kan?
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘