Silence

Silence
Bab 27



*Happy reading 📖📖 ya guys*


“Oleh karena itu, aku tidak pernah punya keinginan untuk menikah. Jadi, kalau kamu ingin memiliki hubungan khusus denganku, kita hanya bisa menjadi sepasang kekasih. Namun, untuk lanjut ke jenjang pernikahan … aku tidak akan pernah siap, Deon,” ucapku mengakhiri cerita.


Selama aku bercerita, Deon hanya diam mendengarkan. Sekali pun tidak menyela. Jarinya terus mengusap wajah dan kepalaku bergantian dengan lembut.


“Aku mengerti, La. Melihat dan mendengar langsung pertengkaran kedua orang tuamu ketika itu, sedikit banyak pasti akan menimbulkan trauma. Apalagi pada saat itu kamu masih dini. Akan tetapi, kamu tahu kalau ketakutan harus dihadapi, bukan? Kalau tidak selamanya terus menjadi bayang-bayang sepanjang hidupmu.”


“Aku tahu. Hanya saja … aku takut gagal … aku takut anakku mengalami hal yang sama denganku.”


Deon memeluk tubuhku dengan erat. Bibirnya mengecup keningku lembut. “Tidak apa-apa. Aku akan menemanimu melawan ketakutan itu. Aku tidak akan berjanji manis kepadamu, La. Namun, aku akan membuktikannya kepadamu.”


“Bagaimana kalau sampai kapan pun aku tidak pernah bisa menerima lamaranmu untuk menikah?” tanyaku pesimis.


“Pernikahan hanyalah ikatan diri antara seorang pria dan wanita atas dasar cinta kasih secara psikologis, biologis, sosial ekonomis, demi penyempurnaan dan perkembangan pribadi masing-masing. Jika kamu masih belum siap untuk menikah, it's ok. Tentu saja bohong kalau aku mengatakan bersedia menjadi kekasihmu selamanya tanpa menikah, La. Aku tidak munafik. Aku menginginkan sebuah keluarga dimana di dalamnya ada kehadiranmu dan anak-anakku,” jawab Deon.


Aku sudah akan mengatakan sesuatu, tetapi Deon terlebih dahulu melanjutkan ucapannya. “Mencintai seseorang tidak pernah ada dalam rencanaku. Apalagi memikirkan tentang menikah. Hingga suatu hari aku baru menyadari bahwa aku terlalu mencintaimu. Tidak ingin melepaskanmu. Bagiku bersamamu adalah tempatku untuk pulang. Pernikahan hanya sebagai penyempuranaan saja. Aku yakin suatu hari nanti kamu bisa menghadapi ketakutanmu itu. Berapa lama waktu yang kamu butuhkan, aku akan tetap menunggu.”


“Bagaimana dengan keluargamu? Mereka pasti berharap kamu menikah dan membangun keluarga bahagia.”


“Keluargaku memiliki pandangan yang berbeda. Selama ini mereka tidak pernah ikut campur dalam urusanku. Mereka mempercayakan setiap keputusan yang kuambil. Jadi, kurasa tidak ada masalah.”


“Kamu memiliki keluarga yang pengertian, Deon. Bersyukurlah! Jangan mengecewakan mereka!” ucapku. Pandanganku mulai kabur. Kelopak mata terasa panas. Setetes air mata jatuh dari pelupuk mataku.


Deon membantu menyeka air mataku. “Keluargaku juga adalah keluargamu, La. Aku yakin mereka juga pasti akan menerimamu dengan baik.”


“Tentang tante Restin, kalian berdua perlu mencari waktu dan membahas masalah kalian dari hati ke hati. Sebelum itu, aku akan berusaha menarik perhatiannya. Kalau tante sudah terpikat rayuanku, kalian ingin memperbaiki hubungan pun juga akan mudah. Percaya kepadaku! Aku akan membantumu,” ucap Deon lagi.


Aku hanya menganggukkan kepala. Setelah berbagi cerita kepadanya, beban yang menghimpit di dadaku menjadi ringan.


Komunikasi. Terbuka. Jujur. Ternyata tidak seburuk apa yang kutakutkan selama ini.


“Aku merasa mubazir sudah menyewa kost, tapi aku lebih sering tidur di Apartemenmu.”


Dengan tatapan jahilnya dia menjawab, “Kalau begitu tinggal saja denganku di sini. Aku akan menghubungi temanku untuk membatalkan kontrak penyewaannya.”


“Kalau kamu bersedia menanggung biaya denda pemutusan kontrak lebih awal, tidak masalah untukku.”


Mulut Deon terbuka lebar. Terkejut mendengar jawabanku. “Beneran nih, La?”


Aku mengangguk. “Satu lagi, ranjang ini hanya diperbolehkan untukku. Tidak boleh ada wanita lain yang berbagi denganku. Kalau sampai terjadi, aku akan memberikan pelajaran kepadamu!”


Deon langsung memelukku dan memberi ciuman bertubi-tubi pada seluruh wajahku hingga berakhir pada bibirku.


“Aku tidak pernah membawa wanita lain ke Apartemenku, La. Biasanya aku hanya membawa mereka langsung ke Hotel atau meminjam Apartemen temanku. Hanya kamu, wanita yang pertama kali kubawa ke Apartemen ini.”


“Tidak peduli di Hotel atau tempat temanmu, yang jelas aku tidak suka berbagi. Terutama aku benci dikhianati.” ucapku dengan ketus.


“Tenang, Sayang. Playboy satu di hadapanmu ini sudah insaf, kok!” tangan Deon mulai bergerilya ke mana-mana pada tubuh polosku. Tanpa sadar aku mendesah saat jarinya menyentuh pada bagian titik sensitif.


“Jadi? Mulai sekarang kita sudah resmi sepasang kekasih, kan, La?”


“Segelku sudah di buka karena kamu. Tentu saja kamu harus bertanggung jawab. Kalau tidak apa aku harus meminta pria lain yang bertanggung jawab?” cecarku.


“Tidak boleh ada pria lain yang mengambil tanggung jawab itu! Kamu milikku!” Kemudian Deon kembali membuatku merasakan kenikmatan menuju surga.


Padahal, sudah kesekian kalinya dia menyentuhku, tetapi reaksi pada tubuhku seolah-olah baru merasakannya untuk pertama kali.


Aku sudah telanjur terperangkap pada pesonanya. Aku berharap Deon adalah tempat sandaran yang terbaik setelah Jason.


Sejak malam peresmian hubungan kami menjadi sepasang kekasih, hari-hariku menjadi lebih berwarna.


Hampir setiap hari ada saja yang dilakukan Deon untuk membuatku tertawa. Hingga rekan kerjaku mengatakan kalau wajahku sekarang terlihat lebih berekspresi. Agatha dan Bella juga berpendapat sama.


“Gue turut senang melihat wajah lo yang sekarang lebih berseri-seri,” ucap Agatha.


“Diri lo yang sekarang lebih kelihatan hidup. Tubuh lo juga terlihat lebih terbentuk. Hasil dari aktifitas ranjang kalian yang lebih efektif daripada senamaerobic,” ucap Bella dengan santai. Aku memberikan pelototan tajam padanya.


“Kenapa? Gue salah ngomong?” tanyanya cuek.


Aku menghela napas. Tidak berniat meladeni ucapannya yang lebih sering tidak ada saringannya itu.


Namun, aku tahu dia peduli dan turut senang atas perubahanku.


Aku juga sudah mengenalkan Deon kepada tante Fifi pada saat aku membuat janji bertemu dengan beliau dan Maylin.


Tante Fifi terlihat sangat menyukai Deon. “Akhirnya kamu bisa menemukan kebahagiaanmu, Rayla. Tante ikut bahagia,” ucap tante Fifi sambil menyunggingkan senyuman.


“Tante tenang saja. Setiap hari saya akan memberikan keponakan cantik Tante ini kebahagiaan. Baik secara lahir maupun batin,” ucap Deon tanpa rasa malu yang kemudian disusul teriakan dari bibirnya karena aku mencubit pinggangnya dengan sekuat tenaga.


“Aduh, duh, duh, sakit, Sayang. Memangnya aku salah bicara?” Deon memasang wajah pura-pura tidak mengerti. Aku hanya memberikan pelototan tajam padanya.


“Kelihatan jelas, kok, kalau Rayla setiap hari mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin.” Maylin mengedipkan mata ke arahku.


Wajahku memerah. Aku mengambil minuman dan meneguknya dengan cepat. Tingkahku ini membuat Maylin terkekeh geli.


“Kapan kamu mau mengajak Deon ke rumah, La?” tanya tante Fifi.


“Kalau saya sudah siap, Tante,” jawab Deon. Tangannya menggenggam erat jariku. Seakan-akan dia ingin memberikan kekuatan untukku karena aku merasa gelisah setelah mendengar pertanyaan Tante Fifi barusan.


“Saya dengar dari Rayla kalau tante Restin lebih menyukai calon menantu dari anak pengusaha. Sedangkan saya hanya seorang Staff Accounting.”


Tante Fifi menatap serius kepada Deon. “Kenapa harus menunggu siap kalau ingin bertemu dengan mamanya Rayla? Kalian sudah dewasa. Umur kalian sudah tidak cocok lagi hanya berpacaran. Tentang status pekerjaanmu, Staff Accounting jauh lebih baik daripada pengangguran. Kalau kamu serius dengan Rayla, mamanya juga bisa melihat.”


“Hubungan kami masih baru, Tante. Kami masih ingin pacaran dulu sebelum punya anak. Kan, nanti kalau sudah punya anak, tidak bisa pacaran lagi, Tan. Mengenai bertemu dengan tante Restin, saya bukannya menghindar. Saya pasti akan mencari waktu untuk bertemu dengan beliau. Cuma … saya harus pintar-pintar mengatur strategi, Tante.”


“Strategi?” Tante Fifi mengernyitkan alisnya. Menatap Deon dengan bingung.


“Iya, Tante. Menghadapi calon mertua pasti seperti di medan perang. Harus mempersiapkan peralatan yang lengkap supaya menang. Kalau saya datang dengan tangan kosong, bukan hanya kalah di medan perang, saya juga bisa kehilangan Rayla. Selama tiga tahun lebih ini saya berusaha mengambil hatinya. Saya tidak mau kehilangan Rayla, setelah akhirnya perjuangan saya ini membuahkan hasil, Tante.”


Tante Fifi dan Maylin terdiam. Sedangkan aku? Jangan tanya seperti apa perasaanku saat ini.


Mengetahui dia mempunyai pikiran seperti itu tentang aku, tentu saja membuatku sangat bahagia, tetapi yang dimaksud dengan selama tiga tahun … bukannya pada saat itu dia hanya merayuku?


Maylin tiba-tiba memberikan tepuk tangan. “Wow! Aku kagum sama semangat Kak Deon. Aku yakin mama pasti bisa Kakak taklukan!”


Tante Fifi mengangkat jari jempolnya kepada Deon. “Jangan ragu-ragu cari Tante kalau ada kesulitan. Tante berada dipihakmu.”


“Aku juga berpihak Kak Deon,” tukas Maylin.


Deon menyengir, lalu mengedipkan matanya ke arahku. Aku hanya menggeleng-geleng kepala. Entah mengapa aku merasa kalau mama sepertinya bisa ditaklukan olehnya.


Deon menautkan jarinya pada jariku sambil tersenyum lembut kepadaku. Sentuhannya terasa hangat. Hal ini membuatku semakin tersenyum lebar.


People fall in love without reason, without even wanting to. You can’t predict it. That’s love.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘