
Happy reading 📖📖 guys
Deon pergi meninggalkanku. Rasa sesak menusuk dadaku. Rasa sakit ini selamanya tidak akan pernah bisa disembuhkan.
“Playboy berengsek! Kalau pada akhirnya kamu meninggalkanku, untuk apa kamu mengatakan padaku akan menjadi pelindungku? Untuk apa kamu memberiku harapan jika akhirnya mengecewakanku?” teriakku sambil menangis meraung-raung.
“Hey, Hey, Rayla!”
Samar-samar aku mendengar sebuah suara sedang memanggilku. Pemilik suara itu mengguncang bahuku beberapa kali. Kubuka kelopak mataku dengan pelan. Pandangan kami bertemu.
“Aku masih di sini, Rayla,” ucapnya pelan. Dengan lembut, dia membelai rambutku.
Aku menggigit bibir bawah sambil sesenggukan. “Kamu … tidak … pergi?”
“Aku tidak pergi ke mana-mana.”
“Tidak nanti? Tidak besok? Tidak sampai kapan pun?” tanyaku memastikan.
Deon tertawa pelan. “Aku di sini. Aku tidak akan ke mana-mana, Sayang. Tenanglah!”
Aku menaruh kedua tanganku pada bahunya dan memeluknya dengan erat. Air mataku kembali mengalir dengan deras. Aku bahkan, kesulitan bicara karena air mata sialan ini tidak bisa berhenti mengalir.
Deon membalas memelukku dan mengelus punggungku sambil menenangkanku. Sentuhan hangatnya membuatku merasakan ini adalah kenyataan. Bukan mimpi. Deon tidak pergi meninggalkanku.
*****
Mataku bengkak. Hidungku merah dan tersumbat. Wajahku terlihat kucel. Semua karena aku tidak berhenti menangis seperti keran air yang rusak.
Deon terus tersenyum memandangku. Aku memukul bahunya kencang berkali-kali.
“Aku kira kamu pergi meninggalkanku. Jantungku sampai berhenti berdetak. Duniaku terasa runtuh seketika. Senang banget ya, melihatku konyol begini?” sungutku kesal.
Deon menangkap tanganku. Lalu dia merengkuh tubuhku hingga menempel pada tubuhnya. “Aku tadi memang mau pergi. Tapi, mendengar pernyataan cinta dari bibirmu, mana bisa aku pergi meninggalkanmu, Rayla.”
Beberapa bulir air mata kembali siap menetes dari kedua sudut mata. Kenapa aku menjadi cengeng begini, sih?
Dengan perlahan, Deon mengecup kedua mataku, hidungku, lalu bibirku.
“Aku tidak akan meninggalkanmu, Sayang. Tidak akan pernah! Aku sudah berhasil membuatmu jatuh cinta kepadaku. Mana mungkin aku menyerahkanmu pada pria lain?” ucapnya dengan lembut sambil menghapus air mata di pipiku.
“Aku cinta kamu, Deon. Sangat, sangat mencintaimu,” tuturku sambil terisak.
Aku mengecup pipinya, mencium setiap jengkal wajahnya, mengatakan betapa aku sangat mencintainya, dan betapa bahagianya diriku mengetahui dia masih tetap bersamaku.
“Maafkan aku. Maaf karena sudah mengecewakanmu. Aku menyesal,” lirihku dengan mata yang masih menitikkan air mata.
Deon menghela napas panjang. “Jujur, aku merasa marah mendengar pernyataan darimu kalau pria itu menciummu. Pria mana yang bisa menerima kekasihnya dicium pria lain? Tapi aku lebih marah lagi tentang kamu yang membalas ciumannya. Bukankah itu menandakan kalau kamu masih memiliki perasaan padanya?”
Mendengar ucapannya, rasa sakit itu kembali muncul, menutupi rasa bahagia yang kurasakan sebelumnya.
“Hey, listen to me!” Deon menangkup wajahku, menatapku hangat. “Setiap orang punya masa lalu. Kita tidak bisa mengubahnya. Yang terpenting adalah saat ini. Kamu mencintaiku. Kamu menginginkanku.”
Deon menghapus air mataku dengan jarinya. “Mendengar pengungkapan cinta darimu, membuatku sangat bahagia. Selama ini kamu tidak pernah mengatakan tiga kata itu kepadaku. Aku pikir, aku masih belum berhasil masuk ke dalam hatimu.”
“Aku sudah terbiasa memendam perasaan. Aku tidak bisa mengumbarnya dengan kata-kata,” gumamku.
“Ada saat di mana diam itu emas. Namun, di saat lain, diam hanyalah warna kuning biasa. Kita perlu menyesuaikannya berdasarkan kondisi tertentu, apakah lebih baik tetap diam atau bersuara. Aku bukan cenayang. Kalau kamu tidak mengatakannya, aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan dan rasakan.”
“Tapi aku sudah memberikan tubuhku seutuhnya padamu. Apakah itu belum cukup dijadikan bukti?” kelitku.
Deon tersenyum menatapku. “Siapapun bisa bercinta, Sayang. Tidak perlu bercinta untuk membuktikan cinta. Ketika ada orang yang meminta bukti itu, kemungkinan dia tidak cinta. Yang harus dibuktikan adalah apakah kita bisa menjadi individu yang bertanggung jawab atau tidak.”
Aku menundukkan kepala. Merasa malu karena pemikiran bodohku ini. Deon tersenyum geli melihat tingkahku.
“Jika seandainya, saat itu kamu dan Jason sama-sama jujur pada diri sendiri dan berusaha untuk mempertahankan cinta kalian, kisah kalian tidak akan seperti ini. Karena itu pentingnya komunikasi dalam suatu hubungan,” ucap Deon menambahkan.
Aku tidak mampu berkata-kata, aku pun hanya menganggukkan kepala. “Aku mencintaimu, Deonartus Surbakti.”
“Aku lebih mencintaimu, Rayla Pramanta,” balasnya.
“Kamu mirip anak kecil yang permennya dihabiskan orang saat nangis tadi. Seharusnya aku rekam untuk kenang-kenangan.” Deon tertawa dan aku balas mencubit pinggangnya.
Kemudian aku merebahkan kepalaku ke bahunya, menenggelamkan wajahku ke ceruk lehernya. Aroma segar yang tercium dari tubuhnya, membuatku tenang. I’m home.
“Tante masih belum memberi restu untuk hubungan kita?” tanyanya.
“Mama tidak menjawab iya, juga tidak menjawab tidak. Kali ini mama membiarkan aku memutuskannya sendiri.”
“Kalau begitu, berjuang bersamaku, Sayang. Kamu mau, kan?” bisiknya di telingaku. Aku mengangguk sambil mengulas senyum lebar.
“Satu hal lagi, ada masalah apa, ceritakan padaku. Jangan dipendam sendirian. Aku ingin kamu membaginya denganku.”
Aku mengangguk kepala sekali lagi. Kupeluk pinggangnya lebih erat. Aku beruntung bisa kenal bahkan, sampai memiliki kamu di hidupku, Deonartus Surbakti.
*****
Saat membuka mata dan tersadar sepenuhnya, aku terkejut mendapati diriku berada di kamar sendirian. Tidak ada Deon di sebelahku. Apakah semalam hanya sebuah mimpi?
Rasa panik muncul. Aku bergegas bangun dari tempat tidur, lalu berlari keluar, mencari keberadaannya. Kuharap semalam bukan mimpi. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan dirinya.
Saat kakiku sudah sampai di pantri dapur, terlihat sosok punggung kokoh yang sangat kukenal sedang bersenandung sambil sibuk melakukan entah apa karena mataku hanya terpusat pada punggung tersebut.
Pemilik punggung itu kemudian membalikkan tubuhnya hingga pandangan kami bertemu. Senyuman manis menghiasi bibirnya. “Sudah bangun?”
Air mataku kembali mengalir. Sial! Sampai kapan persediaan air mataku ini habis?
Aku mengulurkan tanganku dan menyentuh pipi Deon. Aku ingin memastikan apakah aku sedang berimajinasi atau bermimpi saat ini.
Namun, pipi yang kusentuh ini terasa sangat nyata. Karena aku masih belum percaya, aku mencubit pipinya dengan kencang.
“Aww, sakit, Sayang!” teriak Deon mengaduh kesakitan.
Kemudian aku melepaskan tanganku dari pipinya. Dia mengelus pipinya yang memerah karena cubitanku.
“Ternyata ini nyata. Bukan mimpi. Juga bukan halusinasiku,” gumamku pelan.
“Astaga, Sayang. Kamu masih mengira aku pergi meninggalkan dirimu? Semalaman kamu tidur sambil memelukku dengan erat. Aku hampir kehilangan napas,” ucap Deon frustasi.
Ibu jarinya mengusap air mata yang masih terus mengalir dari kedua mataku. “Stop crying, ok? I don’t want to see you cry. I promise that I’ll be by your side through good and bad times. I’ll be there for you no matter what. Do you believe me?”
Lalu dia mengecup dahiku cukup lama. Kupejamkan mata, menikmati sentuhannya yang penuh kasih sayang. Kemudian aku mengangguk kepala. “Aku percaya kamu.”
Deon menghela napas lega. Dia menatapku kembali dengan penuh cinta sambil tersenyum simpul. “Aku ingin cium kamu, tapi kamu belum sikat gigi dari semalam. Nanti aku kena penyakit mulut lagi,” ledeknya sambil tertawa kencang.
“Kamu kali yang punya penyakit mulut karena cium banyak wanita!” ketusku.
“Aku tidak pernah mencium wanita lain setelah bersamamu, Rayla. Playboy satu ini sudah lama tobat,” ucapnya sambil terkekeh-kekeh.
Pria satu ini masih bisanya membuatku jengkel, tetapi aku mencintainya.
“Cepat mandi, lalu sikat gigi. Aku sudah mau selesai membuat sarapan pagi untuk kita,” tukas Deon. Dia mendorong tubuhku ke arah kamar.
Aku menurut sambil tersenyum bahagia melangkah masuk ke dalam kamar untuk mandi. Untuk pertama kalinya, aku tak perlu mencoba untuk bahagia. Karena saat bersamamu, hal itu terjadi begitu saja.
Hai readers, terima kasih ya sampai saat ini kalian masih terus mendukung karya abal-abal ku ini. Mohon di maklumi kalau ada kesalahan penggunaan kata. Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘