
Happy reading 📖📖 guys
“Titip salam buat Agatha, ya. Aku tidak bisa ikut kesana mampir,” ujar Deon sambil melepaskan seatbelt.
“Ok. Tidak apa-apa. Dia akan mengerti. Nanti malam aku jemput!”
Deon mengecup bibirku. “Hati-hati nyetirnya!” Kemudian dia turun dari mobil.
Sekarang rutinitasku dan Deon setiap hari Sabtu dan Minggu adalah mengantar jemputnya ke Restoran mama. Sambil menunggunya selesai bekerja, aku menghabiskan waktu di rumah bersama tante Fifi dan Maylin.
Seminggu yang lalu Agatha melahirkan putri mereka dengan lancar. Sekarang dia sudah pulang ke rumah menjalani masa nifas.
Saat Agatha melahirkan, aku tidak bisa berkunjung menengoknya karena sibuk bekerja. Jadi, hari ini aku sudah berjanji padanya akan berkunjung ke rumahnya.
Aku mampir ke tempat Bella terlebih dahulu. Mobilnya sedang diperbaiki. Oleh sebab itu, dia memintaku untuk menjemputnya.
“So? Jadi, setiap weekend Deon sibuk parttime sebagai Waiter di Restoran tante Restin?” tanya Bella begitu masuk ke dalam mobil.
Aku segera melajukan mobil kembali ke jalanan menuju rumah Agatha.
“Apa boleh buat? Mama kasih dia pilihan ini dan Deon ingin mengambil hati mama. Jadi, mama menyuruhnya apa, ya dia nurut saja,” jawabku.
Bella tertawa mendengar jawabanku. “Mantan Playboy sedang berusaha mengambil hati calon mertua. Mungkin ini juga yang dinamakan karma buat dia kali, ya? Karena pernah mematahkan banyak hati wanita.”
Aku hanya bergumam.
“Kalau dibandingkan dengan Jason ... posisi Deon seperti apa bagimu?” tanya bella tiba-tiba.
“Entahlah, aku tidak pernah memikirkan hal itu. Yang kutahu, selama bersama Deon, aku merasa lebih bebas. Bisa menjadi diriku sendiri dan dia selalu menemukan cara membuatku tertawa. Menghabiskan waktu bersamanya seperti menemukan tempat yang cocok untuk bersandar.”
“Ikuti saja apa kata hati lo, La! Kata hati tidak pernah berbohong. Terlepas dari masa lalunya seorang Playboy, dia sekarang benar-benar sudah insaf. Kalau tidak, buat apa dia capek-capek menjadi Waiter tanpa digaji sama tante Restin?” ucap Bella.
Aku menghela napas kencang. “Semoga mama bisa luluh,” ucapku penuh harap.
“Gue bantu doa buat kalian semoga berhasil,” ucap Bella dengan tulus.
“Thank’s, Bel.”
“Kalau sudah dapat restu, langsung nikah saja, La. Tidak usah nunggu lama-lama lagi. Mendapat restu dari tante Restin susah, loh! Selama ini yang dia kasih restu, semuanya pria yang bukan pilihan lo. Kalau kali ini berhasil, jangan buang-buang waktu. Langsung ajak Deon nikah,” ucap Bella sambil tertawa kecil.
Aku tidak membalas ucapannya. Untungnya Bella tidak membahas lagi soal pernikahan.
Jujur, aku tidak nyaman jika harus membahas masalah itu. Bayang-bayang masa lalu saat papa dan mama sering bertengkar, lalu memutuskan untuk berpisah, masih lekat dalam ingatanku.
*****
Peter menyambut kedatangan kami dengan senyum penuh lebar. Dari raut wajahnya, terlihat jelas pria itu sangat bahagia.
Kedua tangannya sedang menggendong seorang bayi mungil. Bella mendekati bayi itu dan meminta izin pada Peter untuk menggendong bayinya sementara aku menyerahkan kado pemberian dariku dan Bella kepada Peter.
“Terima kasih! Kalian sudah mau datang kesini pun sudah cukup bagi kami,” ucapnya.
“Vivi lucu banget, Pet. Gue jadi ingin bawa dia pulang ke Apartemen gue,” ucap Bella sambil menggoyangkan hidungnya ke hidung Vivi dengan lembut.
“Enak saja, Bel. Kalau kamu mau ya, kamu lahirin satu, sana!” jawab Peter sambil meletakkan kado dari kami pada sebuah meja yang sudah penuh dengan berbagai macam kado.
Bella cemberut ke arah Peter. “Lo kira lahirin anak seperti bikin telur dadar? Tinggal dikocok langsung jadi?”
Peter hanya balas tertawa.
Aku mendekati bayi mungil yang bernama Violetta Wales ini. Wajah dan matanya mewarisi gen Peter. Sedangkan bibir mungilnya mewarisi Agatha. Perpaduan yang cantik.
“Mau coba gendong?” Bella menawarkan padaku.
Aku langsung menggeleng kepala dengan cepat. “Gue belum pernah gendong bayi. Tunggu sudah besaran baru gue gendong. Sekarang gue takut. Nanti tidak sengaja tangan atau kakinya kepelintir bagaimana? Tidak, Tidak! Gue tidak mau ambil resiko!”
“Hitung-hitung buat latihan, La. Kalau lo sudah lahiran tidak perlu takut lagi, kan,” tukas Bella memasang wajah jahilnya.
“Lo kira besok gue langsung lahiran?” dengusku kesal.
Bella tertawa terbahak-bahak sehingga menyebabkan Vivi tiba-tiba menangis dengan kencang. Bella langsung menimang-nimang, mencoba menenangkan Vivi. Namun, tidak berhasil.
Akhirnya Peter mengambil alih bayinya masuk ke dalam rangkulannya. Tangisan Vivi pun berhenti.
“Lo sih, ketawa sekencang itu sampai Vivi kaget,” gerutuku.
“Sorry ….” Bella balas menyengirr.
“Kalian masuk ke kamar saja dulu. Agatha sudah menunggu kalian di dalam. Aku masih harus menunggu tamu. Masih ada yang mau datang,” ucap Peter.
Aku dan Bella menganggukkan kepala. Tidak ingin mengganggu Peter lebih lama lagi, kami berdua segera melangkah ke arah kamar Agatha.
“Congrats ya, Say. Sudah jadi Mommy!” ucap Bella sambil memeluk Agatha.
“Thank’s, Bel.”
“Thank you. Siapa dulu orang tuanya, dong?” canda Agatha dan kami bertiga pun serempak tertawa.
“Deon?” tanya Agatha ketika dia tidak melihat sosok Deon.
“Kalau mau dikasih restu, misi calon mertua harus dilaksanakan, Tha,” jawab Bella.
“Deon titip salam. Sorry, dia tidak bisa ikut datang,” ungkapku menjelaskan.
“Tidak apa-apa. Deon dan tante lancar-lancar saja, kan?” tanya Agatha tanpa menutupi rasa cemasnya.
“Untuk saat ini kelihatannya baik-baik saja. Mama masih bersikap ketus padanya, tapi Deon sepertinya tidak mempermasalahkan.”
Agatha mengangguk-angguk. “Dia beneran serius sama lo, La. Tidak usah diragukan lagi.”
Aku segera paham arti dari ucapan Agatha. Dia tahu ketakutanku tentang pernikahan.
“Gue sudah bilang sama dia tadi di dalam mobil. Kalau sudah dikasih restu, langsung cepat-cepat ajak Deon nikah,” tukas Bella menambahkan.
“Seharusnya Deon yang ajak nikah duluan dong, Bel. Masa Rayla, sih?” protes Agatha.
“Zaman sekarang sudah berbeda, Tha. Tidak semua hal harus pria duluan yang bertindak. Wanita juga boleh gerak duluan, kok! Siapa yang cepat, dia yang dapat. Nanti kalau kelamaan, Deon bisa direbut sama wanita lain. Kan, susah banget minta restu sama tante Restin,” kilah Bella dengan enteng.
Agatha memutar matanya dengan malas. “Kalau lo sih, gue percaya bakal gerak duluan, berhubung urat malu lo sudah putus.”
Bella hanya terkekeh geli merespons ucapan Agatha. Mereka berdua kalau sudah bertemu, pasti ada saja yang diributkan karena perbedaan dari sudut pandang.
Tapi itulah yang membuat persahabatan kami bisa berjalan dengan baik hingga sekarang. Saling melengkapi kekurangan masing-masing.
“Ngomong-ngomong, Maylin dan Darwan kapan nikah?” tanya Agatha mengganti topik pembicaraan.
“Malam ini orang tua Darwan akan datang ke rumah untuk melamar Maylin secara resmi. Jadi, nanti sore gue pulang ke rumah. Maylin mewajibkan gue harus hadir.”
“Jelas, dong! Lo kan, Kakaknya! Masa acara paling penting begitu, lo sebagai Kakak tidak hadir?” tukas Bella.
“Gue takut nanti acaranya malah jadi berantakan karena gue suka tidak sabar menghadapi mama yang kadang keterlaluan.”
Agatha menggenggam tanganku dengan erat. “Lo mesti cari waktu untuk mengobrol secara terbuka dengan tante Restin, La. Kalian seperti ini karena kurangnya komunikasi.”
“Jujur saja, selama gue hamil dan saat gue melahirkan Vivi, gue baru sadar kalau proses menjadi orang tua ternyata tidak mudah. Saat menjalani masa-masa kehamilan, gue sempat kehilangan nafsu makan karena setiap makanan yang masuk pasti dimuntahkan lagi keluar. Indra penciuman juga jadi lebih sensitif, terkadang mencium aroma sedikit saja bikin gue mual.“
“Belum lagi karena hormon, mood gue naik turun seperti roller coster. Hal kecil saja bisa bikin emosi gue meledak atau tiba-tiba menangis tidak jelas. Peter jadi sasarannya. Setiap malam susah tidur, berbaring dalam posisi mana pun serba salah rasanya.” Agatha memberi jeda sesaat, mengenang kembali masa-masa saat itu.
“Lalu sampai akhirnya masa persalinan, munculnya kontraksi yang bervariasi dari ringan hingga akhirnya rasa sakit yang menggerogoti sampai ke seluruh tulang selama berjam-jam. Sampai dinyatakan sudah pembukaan ke-10 tandanya sudah siap menjalani proses melahirkan dan itu sakitnya sangat luar biasa. Gue baru mengerti, beginilah proses menjadi seorang ibu,” lanjut Agatha.
Aku dan Bella diam mendengarkan.
Agatha menatap mataku dalam, kemudian bertanya, “Menurut lo, apakah seorang ibu yang pernah melewati masa-masa sulitnya selama mengandung dan melahirkan anaknya, tega menyakiti hati anaknya begitu saja?”
Aku diam, tidak dapat menjawab pertanyaannya.
“Pada saat gue melihat anak gue lahir, gue merasa sepadan dengan apa yang sudah gue jalani. Rasa bahagia yang amat sangat. Juga ada perasaan yang sangat kuat untuk melindungi anak gue. Tidak boleh ada orang yang menyakitinya. Gue rasa tante Restin juga melakukan hal yang sama seperti pemikiran gue ini. Hanya saja kita salah mengartikan karena kurangnya komunikasi,” tutur Agatha.
Aku menundukkan kepala. Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata. Satu tetes, dua tetes, hingga akhirnya mengalir keluar dengan deras.
Dadaku bergemuruh dengan hebat. Hatiku kembali terasa sakit saat kenangan pertengkaran antara aku dan mama kembali muncul dalam benakku.
“Jika memang apa yang selama ini dia lakukan terhadap gue dan Maylin sebagai bukti salah satu cinta kasihnya kepada kami, mengapa terasa begitu sakit?” tanyaku sambil terisak menangis.
“La, tante Restin ditinggalin suaminya begitu saja! Dia terluka! Sakit hati! Dia pasti mengalami masa yang paling sulit saat itu dan tidak tahu harus ke mana dia bersandar? Tidak mungkin dia curhat kepada kalian, kan?” tukas agatha dengan nada sedikit keras.
Dan perkataannya itu membuatku terasa seperti ditampar. Agatha menarik tanganku dan menggenggamnya lebih erat.
“Saat ini Deon sedang berusaha mengambil hati tante Restin demi lo. Dan gue rasa lo pun juga ikut berusaha memperbaiki hubungan antara lo dan tante. Akar dari permasalahan di antara kalian adalah miss communication. Cobalah, La! Setiap ibu pasti ada sisi egoisnya, tapi itu karena mereka ingin melindungi anaknya. Tidak ada ibu yang tidak mencintai anaknya!”
Aku menatap Agatha dengan pandangan berurai air mata. Bella menepuk bahuku dengan pelan. Seolah-olah memberiku kekuatan.
“Apa yang dikatakan Agatha benar, La. Benang yang kusut, cari cara agar lurus kembali. Kalau tidak, selamanya lo tidak bisa melanjutkan dengan benang yang baru.”
“Gue ... gue ....” Hatiku bimbang. Perasaanku kacau balau.
Tentu saja aku ingin memperbaiki hubungan dengan mama. Namun, perasaan takut mendengar pengakuan darinya kalau aku lahir karena sebuah kesalahan, jauh lebih kuat. Aku tidak akan sanggup mendengarnya.
“Lo pasti bisa, La. Percaya sama diri lo sendiri,” ucap Agatha mencoba memberiku semangat.
Aku masih berkecamuk dengan pikiranku, ketika tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sudah lama sekali tidak kudengar, berdiri di belakang kami, membuatku terkesiap.
“Halo, ladies! Long time no see. Bagaimana kabar kalian selama ini?”
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘