
*Happy reading 📖📖guys*
“Lo tidak punya impian, La?” tanya Maylin.
Karena aku tidak menemukan jawabannya, aku pun menjawab, “Tidak ada.”
“Apakah karena pria itu?” tanya Maylin lagi pelan.
Aku menoleh ke samping, menemukan kedua mata Maylin sedang menatapku dengan tatapan sendu. “Gue kira, kita tidak akan pernah membahas orang itu lagi. Terakhir, ketika lo menangis karena salah satu teman sekelas meledeki lo tidak punya papa.”
Maylin mengalihkan tatapannya dariku. Dirinya mencoba untuk tertawa, tetapi usahanya tidak membuahkan hasil. Sebulir air mata menetes keluar.
“Gue benci pria itu, La. Gue tidak pernah bisa memaafkan orang itu. Saat ada orang bertanya, papa lo bekerja di mana? Gue menjawab papa sudah meninggal,” ungkapnya. Tersirat emosi dalam tatapan tajamnya.
Sekelebat bayangan masa lalu menari-nari di benakku. Dimana kami berdua saling menghibur dan menyemangati satu sama lain setelah papa pergi meninggalkan kami, sedangkan mama terpuruk dalam kesedihannya dan membenamkan diri dengan kesibukan-kesibukan hingga tidak memiliki waktu untuk kami berdua.
Suatu hari, saat aku menjemput Maylin pulang sekolah, aku mendengar salah satu teman sekelas Maylin menertawakan dan mengatakan bahwa kami dibuang oleh papa sendiri.
Kemudian Maylin menerjang dan memukul temannya itu karena rasa marah sudah menguasai dirinya hingga berakhir di ruangan Kepala Sekolah.
Aku menegur orang tua dari anak itu yang membenarkan ucapan anaknya.
“Apakah karena orang tua kami bercerai, lantas di mata kalian, kami tidak lagi memiliki harga diri sehingga kalian dapat seenaknya menghina kami, begitu? Apakah tidak memiliki ayah, berarti kami menjadi anak terhina? Andai saja jika kami bisa memilih, kami juga tidak mau dilahirkan dalam keluarga seperti ini!”
ketika itu aku berumur tiga belas tahun dan Maylin berumur sebelas tahun. Sejak peristiwa itu, kami berdua tidak pernah lagi membahas tentang pria itu.
“Kalau gue hanya diam saja. Tidak berniat menjawab pertanyaan mereka,” ucapku.
Hal yang terjadi pada Maylin, terkadang juga terjadi padaku. Hanya saja, aku memilih tidak mempedulikan perkataan mereka.
“Lo memang menjadi pendiam sejak pria itu meninggalkan kita, La. Lo memendam semua perasaan dan masalah yang lo hadapi sendirian. Gue paham lo tidak mau berbagi masalah dengan gue karena lo khawatir gue terbeban. Lo memang kakak terhebat di dunia ini, La.” Maylin menggenggam tanganku, lalu bibirnya pun menyunggingkan senyuman lebar.
“Tapi, sekarang lo sudah tidak sendirian lagi dan gue turut senang karena lo menemukan pria seperti kak Deon. Dia mengembalikan sikap periang diri lo dulu ketika masih kecil. Walaupun belum sepenuhnya, tapi sosok lo yang sekarang ini jauh lebih baik dan terlihat lebih bahagia, La,” lanjut Maylin. Aku membalasnya dengan senyum.
“Semoga kalian segera menikah,” ucap Maylin tulus.
Aku tertawa kecil. Hidupku dulu memang membosankan. Ketika masih sekolah, aku menghabiskan waktu dengan belajar.
Setelah memiliki pekerjaan, aku lebih memilih lembur sampai malam di kantor. Bahkan, walaupun weekend, aku sampai membawa pekerjaan ke rumah untuk dikerjakan.
Tentu saja terkadang aku berkumpul bersama Agatha, Bella dan Maylin, tapi tetap saja hati terasa ada yang kosong.
Aku menjalani kegiatan sehari-hari hanya karena aku masih bernapas. Namun, semuanya berubah sejak aku mulai mengenal Deon.
Dia membuat diriku perlahan-lahan berubah. Aku senang atas keberadaannya di sampingku. Walau terkadang sikap narsisnya menyebalkan, tapi aku dapat menerima segala yang ada pada dirinya.
“Ada saat di mana diam itu emas. Namun di saat lain, diam hanyalah warna kuning biasa. Kita perlu menyesuaikannya berdasarkan kondisi tertentu, apakah lebih baik tetap diam atau bersuara.”
Perkataan yang pernah diucapkan Deon kembali terngiang di benak. Ya, aku harus berubah. Waktu tidak bisa diputar kembali, tapi dapat diperbaiki. Aku ingin memperbaiki hubungan komunikasi keluarga kami yang renggang.
Maka kuputuskan untuk saling terbuka, berbagi beban dan menemukan jalan keluar bersama. Jika kamu ingin membangun keterbukaan di sekitarmu, kamu harus lebih dulu membuka sikap tertutupmu. Benar, kan?
Aku membalas genggaman tangan Maylin erat. “Gue takut terbuka karena takut terluka, Maylin. Kepergian papa menoreh luka yang amat dalam di hati gue. Kemudian Jason juga tiba-tiba ikut meninggalkan gue. Hati gue semakin hancur. Gue semakin menutup diri karena gue takut kehilangan lagi,” tuturku setelah mengambil napas dalam-dalam.
“Kita berdua hidup di dalam keluarga broken home, tapi kenyataan ini tidak membuat lo takut untuk membangun sebuah keluarga lengkap yang bahagia dan harmonis. Lain halnya dengan gue.” Sesaat aku menoleh Maylin yang sedang menatap langit-langit kamar.
“Gue takut menikah, Maylin. Gue takut membina keluarga. Gue takut anak-anak gue mengalami hal yang sama seperti gue, karena cinta itu bullshit. Sekarang dia mengatakan cinta pada lo, tapi suatu hari cinta itu akan pergi. Lantas apa yang tersisa ketika cinta itu sudah tidak lagi ada?”
“Jangan menyalahkan diri sendiri, Lin. Gue tidak memberitahu trauma ini kepada siapa pun. Bahkan, beberapa waktu yang lalu, mama baru mengetahuinya karena kami sedang membahas tentang Deon,” tukasku menjelaskan.
“Cinta tidak seperti matematika yang memiliki kepastian dan langkah-langkah pemahaman yang jelas, alurnya tidak dapat di bolak balik seenaknya. Cinta tidak begitu. Gue tidak mau menganggung resiko dengan membangun rumah tangga sedangkan cinta bisa berubah tanpa diduga seperti cuaca,” ungkapku sambil menitiskan air mata.
“Bagaimana dengan sekarang? Apakah lo juga takut cinta Deon suatu hari akan pergi? Apakah lo tidak bersedia memberi Deon kesempatan untuk membuktikan bahwa tidak semua rumah tangga berakhir pahit?” tukas Maylin memberi pertanyaan padaku.
“Bohong kalau gue bilang tidak takut. Gue sangat mencintai Deon. Gue tidak mau kehilangan dirinya. Namun, di sisi lain rasa takut itu tetap ada. Meskipun begitu, gue sedang berusaha mengatasi ketakutan tersebut.”
“Ya. Lo memang harus berusaha, La. Dapat dilihat dengan jelas, lo lebih mencintai Deon daripada Jason. Kalau lo tidak mau kehilangan dia, lo harus bisa berubah. Kebahagiaan datang karena kita berusaha,” ucap Maylin memberiku semangat.
Aku mengubah posisi tubuh menyamping demi bertatapan langsung dengan Maylin. Dia pun mengikuti gerakanku. Dengan tangan kiriku, aku mengusap rambutnya lembut.
“Batin kita berdua sama-sama terluka juga tersakiti, Lin. Gue memiliki trauma sendiri. Lo juga memiliki kesulitan sendiri. Gue berjanji akan mengatasi rasa takut itu. Demikian halnya pada lo, berjanjilah kekurangan lo yang tidak bisa lagi memiliki seorang anak, tidak akan menghalangi diri lo untuk mencari kebahagiaan baru.”
Maylin diam menatapku.
“Tidak ada perjalanan hidup yang mudah. Namun, membuka tangan dengan hati yang ikhlas demi meraih masa depan yang akan datang pada saat masa-masa sulit juga tidak gampang dilakukan. Jika kehidupan membuat kita menangis, ingat ada ribuan kenangan indah yang membuat kita tersenyum.”
Maylin menggigit bibir bawahnya. Aku menyeka air matanya yang jatuh dengan jariku. Sambil mengulas senyum, aku kembali berkata, “Tidak peduli seberapa sulitnya cobaan dalam hidup ini, jangan pernah menyerah. Lo tidak sendirian, Lin. Gue selalu berada di samping lo. It might be stormy now, but rain doesn’t last forever.”
Maylin memelukku erat dan menenggelamkan kepalanya di dadaku. “Thank’s to be my sister. I know, I’m not alone,” ucapnya disela-sela isak tangis.
If you can’t fly, then run. If you can’t run, then walk. If you can’t walk, then crawl. But whatever you do you have to keep moving forward. - Jika kamu tidak bisa terbang, maka berlarilah. Jika kamu tidak bisa lari, maka berjalanlah. Jika kamu tidak bisa jalan, maka merangkaklah. Apapun itu yang bisa kamu lakukan, tetaplah terus melangkah ke depan.
*****
Menjauh sejenak dari hiruk pikuk dan menikmati suasana tenang di pantai adalah alternatif terbaik untuk melepas penat. Pantai merupakan tempat yang cocok untuk me-refreshing pikiran. Perpaduan antara ombak dan pasir memberikan ketenangan bagi hati.
Memandang laut biru, mendengar suara deburan ombak yang menghantam batu-batu karang di pantai juga semilir angin yang bercampur keriuhan pengunjung pantai, berjalan telanjang kaki di atas hamparan pasir putih yang membentang luas, dan melihat keindahan sunset yang menyelipkan momen romantis. Tidak akan ada yang bisa menolak semua keindahan dan pesona pantai yang luar biasa.
Aku berdiri di atas hamparan pasir di pinggir pantai sambil bergandengan tangan bersama Deon. Ketika ombak datang, kubiarkan kakiku dihempas air. Sesaat air meredam kakiku sebagian. Sesaat juga hilang lenyap dan menjauh.
Saat ombak datang menghempas kakimu, awalnya akan terasa perih karena gelombang yang kuat dari ombak tersebut. Namun, ketika deburan ombak berubah menjadi rembesan air laut, sebuah rasa hangat yang menghampiri.
Begitupun juga dengan masalah hidup yang bagaikan ombak. Ia datang membawa kepahitan, tapi akan berubah menjadi manis ketika ia pergi.
Kedua mataku memandang lurus ke arah pantai yang tak berujung, membuat diriku merasakan bahwa masalah di hidup ini singkat. Setiap permasalahan pasti akan menemukan ujungnya. Kesadaran dari pemikiran ini membuat diri lebih tenang.
“Saat aku berusia delapan tahun dan Maylin berusia enam tahun, hampir setiap bulan kami berempat meluangkan waktu datang ke pantai. Papa dan mama mencari kerang di pinggir pantai untuk dibuat lauk saat makan malam di rumah. Sedangkan aku dan Maylin bermain ayunan dan pasir di pantai,” ucapku mulai bercerita sambil menyisir rambut akibat angin yang berhembus kencang.
“Tidak pernah terpikir sekalipun, kebahagiaan saat itu ternyata hanya berlangsung beberapa bulan saja. Mereka berdua pun mulai sering bertengkar. Sedangkan aku dan Maylin hanya dapat berdiri diam. Mendengar pertengkaran mereka tanpa bisa berbuat apa-apa,” lanjutku lagi setelah jeda beberapa saat.
Kenangan masa lalu berputar dalam benak. Deon semakin menggenggam tanganku lebih erat. Aku menghembuskan napas kuat-kuat. Setiap kali mengingat kenangan tersebut, rasanya seperti baru kemarin terjadi.
“Semalam Maylin mengatakan padaku bahwa dia membenci pria itu.”
“Bagaimana denganmu?”
Pertanyaan Deon membuatku bungkam. Kenangan saat papa memelukku, tertawa bersamaku, tersenyum untukku, memuji prestasiku, semua itu berputar kembali seperti rol film.
“Aku ingin membencinya, tapi aku merindukannya lebih dari rasa kecewaku terhadapnya. Meskipun menyebut kata papa, malah sebuah perasaan asing yang terasa. Sampai kapan aku berputar-putar terus dalam kenangan masa lalu? Aku ingin sekali merelakan keputusan pria itu dan bebas dari perasaan menyakitkan ini.”
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘