
*Happy reading 📖📖 guys*
Suasana di ruang tamu terasa tegang karena tatapan menusuk dari Mama. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan di antara kami. Bahkan, Deon yang biasanya banyak bicara, kali ini diam seribu bahasa.
Aku menyenggol lengannya. Saat kedua mata kami bertemu, aku memutar bola mata ke arah bunga yang ada ditangannya.
Sesaat kemudian dia baru sadar. “Eh, maaf, Tante. Ini bunga untuk Tante. Saya hampir saja lupa karena saking tegangnya bertemu dengan Tante.” Deon mengarahkan rangkaian bunga kepada Mama.
Mama menatap bunga itu sebentar seolah sedang menimbang-nimbang antara menerima atau tidak. Namun, pada akhirnya Mama mengambilnya dan dengan nada dingin menjawab, “Terima kasih! Sayangnya saya tidak suka bunga. Kecuali bunga yang ada di bank.”
“Ma!” tegurku.
“Kalau itu semua orang juga suka, Tante. Termasuk juga saya,” jawab Deon cengir.
Mama tidak menanggapi ucapan Deon. Malah menatap Tante Fifi, Maylin dan Darwan secara bergantian. “Jadi, kalian menyembunyikan hal ini dari saya?”
“Bukan menyembunyikan. Kami hanya mencari waktu yang tepat untuk datang ke sini dan mengenalkan Deon kepada Mama,” jawabku.
Mama memberikan pandangan menusuk kepadaku. “Kalau Mama tidak salah ingat, pria ini yang mengantarmu pulang larut malam ketika Erik sedang berada di Aussie, kan? Dan dia bilang adalah teman kerjamu?”
“Ya, benar. Namanya Deon. Kami rekan kerja dan satu divisi,” jawabku cepat. Aku berusaha untuk tidak terintimidasi oleh tatapan Mama.
“Putus dari Erik, lalu kamu mencari penggantinya yang seperti ini? Mama mau ngomong bagaimana lagi biar kamu mengerti omongan Mama, sih?” sungut Mama emosi.
“Tidak ada yang salah dengan keputusanku. Pikiran Mama itu yang bermasalah!” seruku cepat.
Lama tidak bertemu dengannya ternyata tetap tidak bisa berubah. Mama masih kukuh dengan pemikirannya itu.
“Kalau kamu pulang hanya untuk memberontak, untuk apa pulang? Kamu senang melihat Mama jadi darah tinggi, ya?”
Deon segera menarik lenganku ketika aku sudah siap untuk berdiri meninggalkan tempat ini. “Kenalkan Tante, nama saya Deon. Saya juga bekerja dibagian Accounting, tapi sekarang pindah mengurus bagian pajak.”
Deon mulai memperkenalkan dirinya. Seolah-olah tidak mempedulikan ketegangan yang terjadi antara aku dan Mama. Nada bicaranya pun terdengar tenang.
“Rayla bercerita banyak tentang keluarganya. Termasuk juga Tante Restin. Maka dari itu hari ini saya datang dengan membawa bunga Morning Glory ini. Tante tahu arti dari bunga itu?”
Aku mendelik ke arahnya, tapi Deon tidak menggubris. Aku dan mama sedang bertengkar, dan dia masih punya mood untuk menjelaskan arti bunga yang dibelinya itu? What the hell! Apa yang sedang dipikirkannya?
“Bunga itu merepresentasikan kasih sayang. Saya sering mendengar cerita dari Rayla tentang Tante, dan saya ikut merasakan apa yang dirasakan Rayla juga Tante. Sebenarnya Tante menyayangi Rayla, bukan? Hanya saja Tante menutupinya lewat kalimat-kalimat yang pedas dan tuntutan padanya. Saya tidak mengerti mengapa Tante harus menutupinya, tapi saya tahu kalau sesungguhnya Tante mengkhawatirkan Rayla,” Deon melanjutkan ucapannya.
Mata Mama membelalak lebar menatap Deon. Entah apakah karena ucapan Deon tepat atau terkejut karena tidak menyangka Deon berani mengatakan seperti itu kepada Mama? Sebelumnya tidak ada pria lain yang pernah mengucapkan hal seperti itu padanya.
“Oleh karena itu, saya bawa bunga itu untuk Tante. Percayalah, Tante! Rayla juga menyayangi Tante. Tidak ada orang tua yang tidak mencintai anaknya. Begitu juga sebaliknya. Tidak ada anak yang tidak menyayangi orang tuanya. Yah, kecuali kalau anak itu anak durhaka. Akan tetapi, Rayla bukan anak yang seperti itu kan, Tante?” Deon mengakhiri kalimatnya dengan senyuman lebar.
Mama hanya diam menatap Deon dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan. Tante Fifi, Maylin dan Darwan hanya tersenyum. Sedangkan aku berusaha menahan air mata yang ingin merebak keluar.
“Bagaimana kalau kita lanjutkan sambil makan siang? Makanannya sudah siap dari tadi. Nanti keburu dingin,” ucap Tante Fifi menginterupsi tiba-tiba.
“Yuk, Kak Deon!” Maylin bangun dari tempat duduknya, lalu menggandeng lengan Deon hingga Deon ikut berdiri di sebelahnya. Kemudian beranjak dari ruang tamu melangkah ke ruang makan.
Aku hanya menggeleng-geleng melihat tingkah Maylin. Darwan mengikuti langkahku dari samping. “Harap maklum ya, Wan. Dia belum pernah merasakan punya Kakak laki-laki,” ucapku.
Darwan terkekeh geli. “Baru kali ini gue lihat kekasih lo diterima dengan baik oleh Tante Fifi dan Maylin. Kalau Tante Restin, gue rasa hanya butuh waktu saja,” bisiknya agar Mama tidak mendengar.
“Oh ya, Kak Deon. Arti bunga buatku dan Tante Fifi apa, dong?” tanya Maylin.
Kami semua sudah duduk dikursi meja makan. Aku memilih duduk di samping kanan Tante Fifi dan Deon berada di sebelahku.
Sedangkan Maylin dan Darwan duduk di seberang kami. Mama duduk dikursi tengah sebagai kepala keluarga di rumah ini.
Mata Maylin terlihat berbinar-binar. Menatap kagum pada Deon. “Kak Deon so sweet banget, sih!” terangnya memberi pujian.
“Lin, Darwan bisa cemburu, loh kalau lo terang-terangan menatap kagum pria lain seperti itu,” ucapku mengingatkan.
“Darwan atau lo yang cemburu?” tanya Maylin sambil mengerling jahil.
“Babe, sekadar mengingatkan. Aku ada di samping kamu dari tadi, loh,” ucap Darwan sambil memasang wajah sedihnya yang dibalas Maylin dengan tertawa terbahak-bahak.
“Berapa umurmu?” Ketika kami sedang bersenda gurau, tiba-tiba terdengar suara pertanyaan dari Mama.
Deon menoleh ke arah Mama dan menjawab, “Dua puluh delapan tahun, Tante.”
“Kerja dibidang Accounting ini sudah berapa lama?” tanya Mama lagi.
“Lima tahun, Tante.”
Mama mengernyit alis. “Sudah bekerja selama itu, tapi masih sebagai Staff?”
Pertanyaan Mama membuatku teringat kembali pada saat tante Rose juga memberiku pertanyaan yang sama.
“Begitulah, Tante. Tidak ada yang salah sebagai Staff Accounting, kan? Gajinya halal kok, Tante.”
Aku yakin Deon pasti merasakan tidak nyaman atas pertanyaan Mama tadi karena begitulah yang kurasakan pada saat tante Rose bertanya seperti itu.
“Ma, tolong! Jangan membuat suasana baik menjadi buruk!” ucapku memperingati. Namun, Mama tetaplah Mama. Kami berdua tidak pernah bisa mencapai kesepakatan. Sepertinya kami ditakdirkan untuk selalu bertentangan.
Mama tidak menggubris peringatanku. Malah semakin memberikan pertanyaan yang menyudutkan Deon.
“Memang tidak ada yang salah sebagai Staff Accounting, tapi kamu adalah seorang pria. Dengan jabatan seperti itu, apa kamu bisa jamin memberikan nafkah yang cukup untuk istri dan anak-anak kamu kelak?”
Aku membanting garpu dan sendok dengan keras. “Please deh, Ma! Mama tidak berhak menilai kemampuan seseorang dari jabatan yang dia kerjakan!” seruku dengan nada naik satu oktaf. Aku sudah hampir tidak bisa mengontrol emosiku.
Deon menggenggam tanganku dengan lembut. “It’s ok, Sayang.” Dia mengusap jari tanganku dengan jarinya, mencoba menenangkan emosiku.
“Mama hanya ingin anak-anak Mama memiliki masa depan yang terjamin. Seperti yang pernah Mama katakan, berumah tangga hanya bermodalkan cinta, apa bisa mengenyangkan perut? Hanya dengan cinta, apa kalian bisa membeli susu atau popok untuk bayi kalian? Mungkin Mama terdengar materialistis, tetapi kenyataan hidup butuh uang memang seperti itu!” ucap Mama panjang lebar.
“Benar kan, Darwan?” tiba-tiba Mama melontarkan pertanyaan kepada Darwan.
Seketika wajah Darwan menjadi tegang dan hanya menundukkan kepalanya tanpa bisa menjawab ucapan Mama.
“Papa Darwan memiliki usaha percetakkan. Cepat atau lambat usaha itu akan diwariskan padanya!” balas Maylin dengan ketus.
“Ucapan Tante Restin memang benar. Hidup itu butuh uang. Tanpa uang tidak bisa bertahan hidup. Saya mengerti dan saya juga tidak mau membuat banyak janji manis. Namun, satu hal yang saya tahu. Saya butuh Rayla dalam hidup saya. Dia satu-satunya yang berhasil membuat saya untuk berani berkomitmen.” Jawaban dari Deon membuat semua orang di dalam ruangan ini mengernyitkan dahi.
“Saya dulu seorang Playboy, Tante,” aku Deon.
“What?” pekik Maylin terkejut.
Aku menarik kaos Deon. Dia memutar kepalanya menghadapku. Aku memberikan gelengan kepala kepadanya. Berharap dia tidak melanjutkan pengakuannya itu. Mama pasti makin tidak menyukainya.
“Rayla! Sudah cukup Mama membiarkan kamu memutuskan berpisah dengan Erik dan meninggalkan rumah ini. Akan tetapi, sekarang kamu malah memilih seorang Playboy menjadi kekasih baru kamu? Mama tidak setuju! Pantas saja dia pintar bicara dan merayu,” sengit Mama. Matanya melotot tajam padaku dan Deon.
“Tapi itu sebelum saya sadar kalau saya mencintai Rayla, Tante. Sekarang hati saya, pikiran saya, semuanya terfokus pada Rayla. Tidak ada wanita lain lagi, Tante. Lalu kalimat-kalimat yang saya ucapkan tadi, semuanya murni dari lubuk hati saya, Tante,” ucap Deon menjelaskan.
“Sekali Playboy, tetap saja Playboy! Tidak ada yang bisa menjamin apakah nanti hati kamu akan berubah atau tidak! Akhiri hubungan kalian sekarang juga!” perintah Mama dengan tegas.
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘