
Happy reading 📖📖 guys
Aku menutup pintu kamar Mama dengan pelan saat masuk paling terakhir. Mama duduk disalah satu kursi yang ada di dalam kamarnya.
Mama membeli satu set meja dan kursi dan meletakkannya di samping jendela. Mungkin tujuan Mama untuk menikmati pemandangan langit malam dari jendela.
“Mama cuma punya waktu lima belas menit. Mama masih harus berias. Cepat katakan apa yang ingin kamu bicarakan,” tutur Mama tanpa basa basi.
Aku duduk di hadapannya. Mama menatap luar jendela. Satu hal yang kusadari, Mama tidak pernah mau menatapku jika bukan untuk membahas sesuatu. Apakah kehadiranku seperti kuman baginya?
Aku menghela napas kencang, kemudian mulai bersuara, “Apa maksud Mama menghubungi Jason dan mengizinkannya untuk kembali ke dalam kehidupanku? Bukannya Mama melarang keras aku bersamanya?”
Mama menoleh kepalanya dan menatapku dengan tatapan tajam. “Bukankah itu yang kamu inginkan? Sekarang Mama mengabulkannya, seharusnya kamu senang, kan?”
“Kenapa sekarang, Ma? Kenapa tidak sebelum aku menjalani hubungan dengan Deon?”
“Kalau mau jujur dari Mama, Jason ataupun Deon, dua-duanya Mama tidak setuju. Mereka tidak bisa memberikan kamu kebahagiaan yang lengkap. Namun, dibanding Deon yang seorang Playboy, Mama lebih memilih Jason,” jawab Mama sambil melipat kedua tangannya di atas dada.
“Deon sebelumnya memang Playboy, Ma. Akan tetapi, sekarang dia sudah berubah. Bukannya Mama bisa melihatnya sendiri selama dia parttime di Restoran Mama?”
“Dia sedang meminta restu sama Mama. Tentu saja dia tidak akan berani di hadapan Mama, Rayla,” jawab Mama keras kepala.
“Lalu? Kalau Mama tidak menyetujui hubunganku dengannya, kenapa Mama menyuruhnya menjadi Waiter di sana?” Aku mencoba mengontrol perasaan emosi yang mulai muncul. Bicara dengan Mama sungguh menguji kesabaran.
“Dia sendiri yang ngotot bersedia membantu Mama. Kenapa Mama yang disalahkan, sih?” jawab Mama dengan emosi.
“Akhiri hubunganmu dengan Deon. Dia tidak perlu tersiksa bekerja di Restoran Mama lagi. Kamu juga bisa kembali pada Jason. Itu keinginan kamu, kan?”
Aku menggeleng kepala. “Mama tidak pernah benar-benar mengerti apa yang sebenarnya kuinginkan. Dari dulu, semuanya dari segi pemikiran Mama sendiri. Tidak pernah mempertimbangkan kebahagiaanku.”
“Kamu sendiri tidak pernah merasa kalau kamu selalu membangkang apa yang Mama ucapkan?” balas Mama sambil menatapku dengan sinis.
“Aku tahu, Ma. Itu juga karena Mama selalu egois. Tidak pernah bertanya dulu padaku atau setidaknya kompromi dulu denganku,” jawabku.
Mama sudah membuka mulutnya, tetapi dengan cepat aku kembali melanjutkan ucapanku. “Mama tahu apa makanan kesukaanku? Mama tahu apa cita-citaku dulu? Mama tahu apa warna favoritku?”
Sederet pertanyaanku ini membuat Mama terkesiap. Mama hanya menatapku dengan tatapan … sedih?
Entahlah, aku tidak ingin berharap. Namun, aku mesti coba menjebol tembok kasat mata di antara kami berdua.
“Ma, aku mencintai Jason. Aku akui itu. Dia satu-satunya laki-laki yang berhasil menarik hatiku, tapi ternyata Mama dengan teganya menyuruhnya untuk pergi dari kehidupanku. Pada saat itu aku sangat terpukul. Rasa kehilangan dua kali lipat lebih sakitnya seperti pada saat papa memutuskan meninggalkanku. Aku tidak perlu menjelaskannya, Mama pasti tahu rasanya seperti apa, kan?”
Mama diam. Dia mengalihkan pandangan ke luar jendela.
Aku kembali melanjutkan kalimatku. “Sedangkan Deon, dia muncul ketika hatiku sudah terluka sangat dalam. Ketika aku sudah kehilangan arah. Ketika aku … memutuskan untuk … mengakhiri hidupku.”
Kalimat terakhirku membuat Mama kembali menoleh ke arahku, menatapku dengan terkejut.
“Aku sempat dua kali ingin mengakhiri hidupku, Ma. Pertama kali, aku berdiri di tengah jalanan. Menantikan sebuah mobil menabrak tubuhku, tetapi Deon berhasil menyelamatkanku. Kedua kalinya, aku menggores urat nadi pergelangan tangan. Hampir saja aku kekurangan darah. Deon juga yang menyelamatkanku. Dia … malaikat penyelamatku, Ma.”
“Apakah … Fifi dan Maylin … tahu?” tanya Mama dengan pelan.
Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban.
“Jadi, karena kamu merasa berhutang budi padanya, kamu memutuskan untuk menjadi kekasihnya?”
Sekali lagi aku menggeleng kepala. Mama menatapku dengan pandangan tidak mengerti.
“Butuh waktu beberapa lama sampai akhirnya aku memutuskan untuk menerima perasaannya, Ma. Deon berhasil masuk,” jawabku sambil memegang dadaku.
“Jason dan Deon. Dua-duanya menempati ruang di hatimu. Begitu?” tanya Mama dan kubalas dengan anggukan kepala. “Mama tetap pada pendirian. Akhiri hubunganmu dengan Deon.”
“Tapi, Ma-”
“Rayla, kamu harus mengerti, berumah tangga hanya cinta saja tidak cukup. Deon punya reputasi bergonta ganti pasangan setiap hari. Bahkan, menjalani hubungan dengan dua sampai tiga wanita sekaligus. Sekarang memang dia telah berubah, karena mendapatkan hatimu tidak mudah. Playboy itu punya jiwa petualang. Karena merasa tertantang, makanya dia begitu serius ingin mendapatkanmu. Setelah itu, dia akan merasa bosan dan meninggalkanmu.”
“Aku tidak akan menikah, Ma.” ucapku cepat.
“Apa?” Mama terpekikik keras, terkejut dengan apa yang barusan kuucapkan.
“Pertengkaran yang terjadi antara papa dan mama, juga keputusan kalian untuk berpisah, membuatku takut menjalani pernikahan. Bayangan kenangan saat itu, terus menghantuiku, Ma. Oleh sebab itu, pria yang pernah menjadi kekasihku, saat mereka melamarku, aku menolak mereka dan akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan,” jawabku dengan tenang.
“Tidak ada yang tahu tentang ketakutanku ini, Ma. Hanya Agatha dan Deon yang tahu. Aku juga sampai berkonsultasi ke psikiater, kakaknya Deon. Maka dari itu, Ma … bukan Mama saja yang tersakiti karena ditinggal papa. Aku pun juga ….”
Kami berdua terhanyut dalam keheningan beberapa saat. Tidak ada tanda-tanda Mama ingin mengucapkan sesuatu.
Aku mengambil ponsel dari saku celana dan melihat jam dilayar menunjukkan pukul 17:18.
“Sudah lewat dari lima belas menit. Sebaiknya Mama bersiap-siap. Kita lanjutkan pembicaraan ini saat Mama sudah siap ingin bicara lagi denganku.” Lalu aku melangkah keluar dari kamar Mama.
Mencoba terbuka dengan Mama, ternyata hal yang seharusnya kulakukan sejak dulu. Hatiku sekarang terasa lebih ringan.
Walau masih ada beberapa hal yang masih berkecamuk dalam benakku, tapi untuk saat ini sudah cukup. Setidaknya kali ini kami bisa bicara tanpa perlu bertengkar.
Tinggal menunggu waktu, apakah mama akan berinisiatif melanjutkan obrolan kami yang belum selesai tadi?
*****
“Usaha tante Restin benar-benar ramai. Sudah tiga minggu di hari Sabtu dan Minggu berturut-turut aku bekerja di sini, pengunjungnya selalu ramai dari jam makan siang. Kamu bilang usahanya sudah berjalan berapa tahun?” tanya Deon.
Aku baru menjemputnya setelah acara makan malam bersama keluarga Darwan selesai dan waktu sudah menunjukkan jam setengah sembilan malam. Jadi, aku menyuruhnya untuk makan terlebih dahulu di Restoran mama.
“Hmm … kalau aku tidak salah ingat, sejak aku masih SMP.”
“Mempertahankan usaha kuliner dalam jangka waktu lama seperti ini tidak mudah, La. Aku salut dengan kegigihan tante. Selama tiga minggu ini, aku perhatikan tante tipe kompetitif dan pekerja keras. Aku melihat bayanganmu pada diri tante,” ucap Deon sambil menatapku.
Aku melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali menatap jalanan sambil terus menyetir. “Maksudmu?” alisku berkerut.
“Mungkin kamu tidak merasakannya, tetapi sifat tante Restin mirip denganmu. Pekerja keras, kompetitif dan juga keras kepala,” ungkap Deon jujur.
“Keras kepala?” tanyaku. Nadaku naik satu oktaf.
Deon tertawa terbahak-bahak. “Sorry, Sayang. Namun, begitulah kenyataannya. Satu paket dengan tante Restin.”
Aku memanyunkan bibir. “So? Usahamu ini sudah ada perkembangan?”
“Mengambil hati anaknya saja butuh tiga tahun lebih, apalagi mendapat restu dari ibunya?” cengir Deon.
“Jadi? Mau menyerah?” tanyaku lagi.
“Kamu ingin aku menyerah?” ucap Deon berbalik tanya.
“Kamu sendiri bilang kalau mama tipe keras kepala.”
Deon menggenggam tangan kananku dengan erat. “Aku sudah bilang tidak akan menyerah, La. Butuh waktu berapa lama pun tidak masalah bagiku. Asal kamu tetap berada di sampingku, itu sudah cukup sebagai penyuntik semangat untukku.”
Hatiku berdenyut sakit. Kejadian tadi siang kembali berputar dan membuatku semakin merasa bersalah kepada Deon.
Wanita macam apa aku ini? Sudah memiliki kekasih, tetapi masih bisa berciuman dengan pria lain? Kalau begitu, aku dengan wanita murahan tidak ada bedanya.
“Bagaimana acara makan malamnya? Lancar?” Suara Deon membuatku kembali sadar dari lamunan.
“Mereka memutuskan satu setengah bulan lagi menikah. Maylin ingin menggelar pernikahannya dengan sempurna.”
Deon mengangguk. “Itu impian semua wanita. Aku turut senang mendengarnya.”
Kami pun sudah sampai di tempat parkiran Apartemen. Aku mengunci pintu mobil, lalu memberikan kunci mobilnya kepada Deon.
“Ngomong-ngomong mobil kamu benar tidak bisa diperbaiki lagi? Mau aku cari bengkel langganan temanku? Siapa tahu mereka bisa memperbaiki mobil kamu,” tanyaku sambil menatap mobil Lexus di hadapanku.
“Tidak perlu. Bengkel itu juga langgananku, kok,” jawab Deon dengan cepat.
“Teman kamu juga baik banget, sih! Mau menjual mobil mewah ini dengan harga murah dan boleh dicicil semaunya kamu?”
Deon menarik pinggangku, lalu menuntunku berjalan masuk. “Temanku semuanya royal dan kami bersahabat sudah lama. Itulah gunanya sahabat, bukan?”
Aku hanya balas mengedikkan bahu. Persahabatan antara aku, Agatha dan Bella tidak seperti persahabatan antara pria. Apa iya semua persahabatan antara pria seroyal itu?
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘