Silence

Silence
Bab 24



*Happy reading 📖📖 ya guys*


“Hai!” Disela-sela obrolanku bersama kedua sahabatku, tiba-tiba terdengar suara menyapa dari seorang pria.


Deon berjalan melangkah sambil menyunggingkan senyuman hingga memperlihatkan gigi-giginya yang tampak putih dan terawat. Agatha dan Bella memandang Deon dengan mata melebar dan mulut terbuka.


Ya, kuakui Deon memang pria yang penampilan fisiknya memiliki kriteria tipe idaman para wanita.


Aku mendeham keras agar kedua sahabatku kembali tersadar karena wajah mereka terlihat amat jelas sedang terpukau melihat wajah Deon.


“Guys! Kenalin, namanya Deon. Rekan kerja gue,” ucapku memperkenalkan. “Deon, mereka sahabat gue. Agatha dan Bella.”


Deon menarik kursi kosong yang berada di sebelahku dan duduk. “Ralat. Yang benar gue adalah calon kekasihnya Rayla,” ucapnya dengan penuh percaya diri.


Aku hampir tersedak ketika mendengar ucapannya itu. Aku langsung melayangkan pandangan tajam padanya. “Siapa juga yang bersedia jadi kekasih lo?!” tukasku sengit.


“Lambat laun kamu akan menerimaku, Sayang,” jawab Deon santai.


“In your dream!” balasku mendengus kencang.


Deon menopang wajahnya dengan sebelah tangan bertumpu pada meja. Sebuah senyuman terukir lebar dibibirnya. “Kamu boleh terus mengelak, Rayla, tapi tubuhmu tidak bisa dibohongi.”


Wajahku terasa panas mendengar ucapannya. Malu dan emosi bercampur jadi satu. “Gue tidak sudi melabuhkan hati gue kepada seorang Playboy. Masih ingat ucapan gue sebelumnya, kan? Gue lebih milih menjadi perawan tua daripada menjadi kekasih lo.”


“Itu sebelum kita saling berbagi sentuhan, La. Akui saja kalau kamu juga menikmatinya, bukan? Bahkan, satu ronde pun tidak cukup.” Deon mengerling jahil kepadaku. Ingin sekali aku mencungkil matanya itu.


“Jadi, selain tampang ok, body menggiurkan, permainan ranjang pun sama hot seperti Christian Grey-nya Fifty Shades?” sela Bella.


Aku baru sadar kedua sahabatku masih berada di sini. Kututup wajah meronaku dengan tangan. Sungguh memalukan! Deon hanya terkekeh geli.


“Berapa umur lo, Deon?” tanya Agatha ketika Deon sedang menyantap spaghetti buatanku.


“Dua puluh delapan tahun,” jawab Deon seraya memasukkan spaghetti ke dalam mulutnya.


Agatha melirik ke arahku sambil tersenyum. “Hanya beda empat tahun, La. Lebih baik daripada Erik.”


Aku balas mendelik padanya. Apa maksudnya, coba?


“Hebat juga lo, Deon! Berhasil membuat seorang Rayla melanggar aturan yang dibuatnya. Padahal, dengan kekasih sebelumnya hanya sampai sebatas bercumbu. Mereka hanya bisa bersabar menahan gairah yang tidak bisa tersalurkan karena perlakuan Rayla yang setengah-setengah itu,” ungkap Bella terkikik geli.


“Perlukah gue sumpelin jaring ke dalam mulut lo, Bel?” tanyaku sinis.


Sungguh, aku tidak habis berpikir, mengapa aku bersahabat dengan orang yang mulutnya tidak beretika seperti Bella ini?


Deon tertawa kecil mendengar pernyataan dari Bella. “Berarti gue hanya tinggal menunggu waktunya saja diakui oleh Rayla bahwa kami berdua memang cocok menjadi sepasang kekasih.”


“Sudah gue katakan berulang kali! Gue tidak tertarik kepada Playboy!” teriakku frustasi.


Aku tidak mau membiarkan hatiku kembali berdarah karena patah hati lagi.


“Kan, Playboy bisa insaf juga, La,” ucap Bella membela Deon.


Aku mencoba berkomunikasi dengan Bella lewat tatapan tajamku padanya, ‘lo seharusnya membela sahabat lo, bukan pria berhidung belang ini’.


Akan tetapi, dahinya malah berkerut, menandakan dirinya tidak paham. Atau lebih tepatnya pura-pura tidak mengerti. Sahabat macam apa, sih, dia?


“Aku sudah tidak memiliki kekasih lagi, La. Sejak kita menghabiskan malam pertama saat itu, isi pikiranku semuanya tentang kamu. Aku tidak bisa melupakannya dan menjadi mati rasa terhadap wanita lain,” tutur Deon menatapku dalam. Nada suaranya terdengar serius.


“D- dasar gombal! Rayuan gombalan receh lo tetap tidak mempan buat gue!” ucapku ketus demi menutupi rasa gugup yang sedang kurasakan karena debaran pada jantungku berdetak dua kali lebih cepat.


Deon sialan! Beraninya dia merayuku di depan sahabatku. Urat malunya benar-benar sudah putus.


“So sweet banget. Sayangnya, Rayla bukan tipe wanita yang akan klepek-klepek hanya karena dirayu. Lo butuh banyak persediaan api agar hatinya yang terbuat dari es dapat mencair,” ucap Bella.


Senyum jahil Bella mengembang menatapku. Aku menghela napas frustasi. Sepertinya di sini tidak ada yang berpihak kepadaku.


“Tenang saja. Kalau persediaan api banyak. Mau bertempur seharian full di atas ranjang pun gue sanggup, kok! Rayla saja sampai ketagihan,” jawab Deon santai.


Aku bangun dari tempatku duduk. Berjalan menuju ruang tengah dan mengambil bantal kecil yang berada di atas sofa.


Kemudian berjalan kembali ke dapur lalu membabi muta memukul Deon dengan bantal yang berada di tanganku.


“Dasar Playboy kadal! Narsis! Otak mesum! Yang diingat hanya seputar selanngkangann! Makan, nih, bantal!”


Deon bukannya meminta ampun, malah tertawa terbahak-bahak. Pukulanku sepertinya tidak cukup keras membuatnya merasakan sakit.


“Mesra banget, sih! Mirip pasangan suami istri yang baru menikah sedang bertengkar. Gue jadi iri,” ucap Bella menopang pipinya dengan jari telunjuk terangkat ke atas.


Aku mendengus kencang sebelum melempar bantal ke wajah Bella yang tidak sempat menghindar karena tidak menyangka dirinya menjadi sasaran berikutnya, hingga bantal tersebut berhasil mendarat di wajahnya.


*****


Deon berpamitan pulang ketika jam menunjukkan pukul delapan malam. Aku mengantarnya sampai ke depan pintu.


“Besok apakah kamu mau pulang ke rumah mengambil barang? Mumpung ada sahabatmu. Mereka pasti bersedia menemanimu pulang sebentar,” tanya Deon.


“Tidak. Mungkin untuk beberapa minggu ke depan, gue tidak akan pulang. Besok gue pergi shopping ke Mall bersama Agatha dan Bella.”


Aku masih belum siap pulang ke rumah. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimanakah jika bertemu dengan mama, setelah luka yang dia goreskan ke dalam hatiku semakin dalam.


Jika bertemu mama, aku juga takut akan kembali teringat pada waktu pertengkaran malam itu dan membuat luka yang menganga dalam hati semakin terbuka lebar.


Aku menengadahkan kepala ketika kurasakan sentuhan lembut pada wajahku. Kedua mata kami pun bertemu.


“Suatu hari nanti, jika kamu sudah siap, kamu bisa menceritakannya kepadaku. Aku pendengar yang baik. Untuk saat ini, yang terpenting adalah belajar untuk berdamai dengan lukamu, Rayla. I will be your saving grace. You can keep my promise.”


Dadaku berdesir hangat. Aku tidak pernah menceritakan kepadanya perihal masalah keluargaku yang begitu rumit.


Namun, entah bagaimana dia dapat mengerti perasaanku. Dia tahu apa yang sedang kupikirkan. Padahal, kedekatan kami baru berjalan beberapa bulan.


Wajah Deon semakin dekat ke arahku. Hembusan napasnya terasa di wajahku. Refleks kupejamkan kedua mata.


Sejurus kemudian bibirnya mel umat bibirku dengan penuh kelembutan. Membuat perasaanku tenang dan nyaman.


Setelah beberapa saat, Deon menghentikan pagutan kami. Tatapan matanya terlihat sangat tulus. Senyumannya merekah di bibirnya. “So? Would you give me a chance to be your saving grace?” tanyanya.


Deon benar. Aku bisa saja berkilah tidak mengakui perasaanku, tapi setiap reaksi tubuhku terhadap sentuhannya tidak bisa berbohong. Apakah aku patut mencoba memberinya kesempatan?


Playboy paling mengerti bagaimana cara menarik perhatian wanita. Apakah hatiku siap untuk menerima kembali sebuah luka baru nantinya?


“Beri aku waktu untuk berpikir, Deon. Aku baru saja mengakhiri hubunganku dengan kekasihku,” jawabku setelah diam beberapa saat.


“You don’t love him, La. I know. I just know.”


“Beri aku waktu, please?” pintaku.


Selama ini aku cepat berganti pasangan karena memang sesungguhnya aku tidak mencintai mereka, tetapi lain hal nya terhadap Deon.


Aku mulai sadar bahwa sepertinya aku mulai menyukainya, tetapi dalam hatiku masih ada cinta untuk Jason. Aku tidak ingin gegabah mengambil keputusan hingga salah memilih dan berakhir dengan penyesalan.


Deon menganggukkan kepalanya. “Aku mengerti. Santai saja, La. Aku menunggu jawabanmu kapan saja jika kamu sudah siap. Meskipun begitu, aku tetap selalu berada di sisimu, melindungimu.”


Aku menarik bibir, tersenyum lebar untuknya. “Thank’s for everything.”


Deon melambaikan tangannya, kemudian membuka pintu dan menutupnya kembali setelah dirinya melangkah keluar.


Aku memutarbalik tubuh, berjalan menuju ruang tengah. Agatha dan Bella sedang asyik menonton salah satu drama Korea yang ditayangkan IndiHome TV.


“Deon pria yang baik. Meskipun dia terlihat mesum, suka bercanda dan sikapnya yang Playboy, tapi gue bisa merasakan kalau dia tulus terhadap lo, La,” ucap Agatha memberi pendapat.


“Gue sependapat dengan Agatha. Gue lihat interaksi antara lo dan Deon seperti lo dan Jason dulu. Ekspresi lo lebih terlihat lepas dan bebas,” imbuh Bella.


“Gue masih belum yakin. Urusan Jason juga belum selesai. Dia masih menempati ruang khusus di hati gue. Mana mungkin gue menerima orang lain sedangkan di dalam hati gue masih tersimpan perasaan untuk Jason?”


Aku diam menatap Agatha dan Bella sejenak, sebelum kembali bersuara, “Lagi pula, gue juga takut patah hati lagi. Deon seorang Playboy. Tidak ada yang bisa menjamin apakah dia serius atau tidak terhadap gue. Gue hanyalah seorang wanita yang membawa banyak luka dalam hidup gue.”


“Jangan cuma berandai-andai atau membayangkan sesuatu, La. Lakukan saja dulu. Mungkin apa yang lo lakukan itu akan berakhir bahagia. Kita tidak akan pernah tahu hasilnya sebelum kita melakukannya,” ucap Agatha.


“Orang bilang, Playboy yang sudah insaf lebih bisa menghormati dan menghargai wanita yang dicintainya daripada pria umum lainnya. Gue bisa lihat karena dia bisa membuat lo tertawa dengan tulus,” tutur Bella.


“Jason adalah masa lalu, La. Sudah saatnya lo buka lembaran baru. Buka hati lo untuk pria lain. Terus terang gue kecewa atas kepengecutan Jason. Seharusnya dia berjuang mempertahankan lo dan membuktikan kepada tante Restin kalau pemikiran tante itu salah,” ucap Agatha lagi.


“Jason tidak mau karena dirinya, membuat hubungan Rayla dan mamanya semakin memburuk,” tukas Bella membela Jason.


“Jason sempat curhat sama gue,” imbuhnya.


Aku menghela napas pasrah. Bagaimanapun juga, semuanya sudah telanjur terjadi.


Andai saja waktu dapat diputar kembali, pada saat Jason mengirim pesan terakhir berisi perpisahan, aku akan langsung minta penjelasan darinya. Mungkin saat itu aku maih bisa memperbaiki hubungan kami berdua.


Tentang Deon, menghabiskan waktu dengannya kuakui sangat menyenangkan. Dia memiliki segala macam cara untuk menghiburku dan membuatku lupa terhadap masalah-masalah dalam hidupku. Sikapnya ini sama persis seperti yang dilakukan Jason dulu padaku.


Bagaimana aku dapat menerima Deon, ketika mengingat semua perlakuannya kepadaku, bayangan Jason pun turut hadir?


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘