Silence

Silence
Bab 41



Happy reading 📖📖


“If you want something in your life you’ve never had, You’ll have to do something you’ve never done. Seseorang membuat perubahan pada diriku. Dia lah yang memberiku kekuatan untuk terus melangkah ke depan dan membuatku semakin berani menghalangi batasan-batasan yang seringkali kubuat sendiri,” ucapku.


Jason diam, tidak memberikan respon apa-apa. Aku memberinya waktu untuk memahami ucapanku tadi.


Aku tahu telah menyakiti hatinya, tapi lebih baik aku jujur padanya agar dia tidak menaruh banyak harapan padaku.


Waiter datang membawa pesanan kami. Aku mulai menyantap hidangan makanan tersebut. Namun, aku lihat Jason tidak menyentuh makanannya sama sekali.


“Makanlah dulu, Jason. Setelah itu kita lanjutkan lagi obrolannya.”


“Siapa pria itu, Ayla? Sudah berapa lama kalian menjalani hubungan?” tanyanya dengan suara serak.


Jason tidak mengindahkan perkataanku. Matanya menatap pada makanan yang ada di hadapannya, tapi tatapannya terlihat kosong.


Aku menaruh kembali sendok dan garpu, lalu mengelap bibir dengan tissue. Kemudian kuteguk minumanku sebelum menjawab pertanyaannya. Kurasa saat ini yang kami butuhkan bukanlah makan siang.


“Kami sudah kenal lama. Dia rekan kerjaku, tapi baru mulai menjalani hubungan sebagai kekasih beberapa bulan terakhir ini.”


Jason menengadahkan kepalanya, menatap ke arahku. “Tidak lama setelah kamu datang ke rumahku begitu tahu alasan dibalik kepergianku itu?”


Aku menggeleng kepala dengan cepat. “Aku sempat ragu karena yang kutahu, aku menaruh perasaan kepadamu. Butuh waktu beberapa lama hingga akhirnya aku memutuskan untuk menerimanya.”


“Kamu bersedia memberikan kesempatan padanya, tapi tidak padaku?” tanya Jason dengan cepat.


“Bukan masalah memberi kesempatan atau tidak! Masalahnya aku sudah memiliki kekasih!”


“Kamu mencintainya?” tanya Jason lagi.


Aku terdiam sesaat. Kemudian dengan mantap aku menganggukkan kepala.


“Apa kamu masih mencintaiku?”


“Apa?” Pertanyaan Jason barusan membuatku terkejut.


Jason tertawa, tetapi matanya menyiratkan kesedihan. “Ayla, aku rasa kamu harus memikirkannya kembali. Jangan sampai menyesal dengan keputusanmu ini. Kamu masih mencintaiku. Aku masih memiliki posisi penting di dalam hatimu.”


“Jason, aku-”


“Jika kamu bisa memberikan kesempatan pada pria yang belum lama hadir dalam kehidupanmu, kenapa kamu tidak bisa memberikan kesempatan padaku yang masih menempati ruang di hatimu hampir dari separuh hidupmu?” serunya. Terlihat amarah terpancar jelas dari kedua matanya


“Dia tidak mendapatkan restu dari tante Restin, kan?” tanyanya lagi.


“Apa?” Lagi-lagi aku hanya bisa terkejut mendengar pertanyaannya tanpa bisa menjawabnya.


“Tante Restin sudah memberikan restu kepadaku. Mengapa kamu tidak mau memulai hubungan yang baru di antara kita?” tutur Jason.


“Jason, aku sudah-”


“Demi Tuhan, Ayla! Kalian baru berpacaran! Tentu saja kalian masih bisa berpisah. Yang sudah menikah saja bisa bercerai. Apalagi hanya berpacaran?” Suara Jason terdengar mulai lebih keras. Rahangnya mengetat. Sikap yang selama ini belum pernah kulihat.


Dengan kasar dia beranjak dari kursi hingga terdengar suara decitan pada kursi tersebut.


“Maafkan aku, Ayla. Aku tahu sudah pernah menyakiti hatimu, meninggalkanmu begitu saja tanpa penjelasan apa-apa. Namun, sekarang kamu sudah tahu alasan dibaliknya. Aku terpaksa melakukannya, Ayla. Akan tetapi, sekarang tante Restin sudah memberi restu kepadaku. Kali ini aku ingin bersikap egois. Aku tidak akan melepaskanmu.”


“Jas-”


“Aku sangsi apakah pria itu mampu bertahan sampai tante bisa menerimanya. Selama tante tidak memberikan restu, dia mau melamarmu pun juga sulit. Pulanglah, Ayla! Pikirkan baik-baik ucapanku ini. Maaf, aku masih ada keperluan. Lain waktu kita makan siang. Aku ke kasir dulu bayar pesanan kita ini. Kamu pulang sendiri tidak apa-apa kan?” Jason tidak memberiku kesempatan untuk berbicara sedikit pun.


“Tidak apa-apa. Aku bawa mobil sendiri,” jawabku.


“Ok, kalau begitu aku duluan, ya! See you next time!” Kemudian Jason melangkah pergi.


Aku hanya bisa menghela napas panjang sambil memandang punggung belakangnya.


Senin pagi ini Pak Gunawan mengadakan rapat bersama seluruh karyawan di lantai ini. Beliau membahas mengenai masalah laporan keuangan bulanan. Kemudian dilanjutkan membahas tentang acara ulang tahun kantor.


“Tentunya kalian semua sudah tahu kalau dua bulan lagi adalah acara ulang tahun perusahaan ini. Kali ini acaranya akan diselenggarakan lebih meriah karena pak Surbakti akan mengumumkan CEO baru,” ucap Pak Gunawan.


“Ya, Pak!” jawab kami serentak.


“Saya dengar dari desas desus kalau anaknya pak Surbakti sudah lama masuk bekerja di perusahaan ini. Hanya saja dirahasiakan. Apa betul, Pak?” tanya Bram dengan rasa ingin tahu.


“Kalau saya menjawab pertanyaan kamu, bukan rahasia lagi namanya, Bram.”


Bram tertawa. “Yah kan, kita ingin menuntaskan rasa ingin tahu kita, Pak! Lagipula, kita jamin rahasia aman, Pak!”


“Mulut lo mana bisa dipegang sih, Bram? Bocor ke mana-mana!” sahut Nina.


Ruangan menjadi ramai karena mereka menggunakan situasi saat ini untuk menjahili Bram.


“Pertanyaan Bram tidak usah digubris, Pak! Mulutnya mengalahkan mulut wanita. Paling suka bergosip,” tukas Andi yang berada duduk di sebelah kanan Deon.


“Kalian juga penasaran, kan?” elak Bram.


“Penasaran sih, penasaran, Bram. Hanya saja lo bilang rahasia tetap aman sama lo? Mulut lo itu mirip comberan. Aman dari mana coba?” jawab Sheila.


Kemudian Pak Gunawan dan seluruh pegawai pun tertawa terbahak-bahak. Bram hanya cemberut, merasa tidak ada yang memihaknya.


Pak Gunawan mulai bersuara ketika karyawan kembali fokus pada pembicaraan. “Acara ini kalian semua harus hadir. Karena selain akan memperkenalkan CEO baru, juga akan mengumumkan kenaikan pangkat dan pemindahan bagian pada beberapa pegawai. Salah satunya, Rayla.”


Mataku membulat lebar ketika Pak gunawan menyebutkan namaku. Seluruh rekan kerja di ruangan rapat ini serempak menoleh ke arahku.


“Ma- maksud Bapak?” tanyaku dengan gugup.


“Kamu akan dipindahkan sebagai asisten CEO baru kita, nanti,” Jawab Pak Gunawan sambil memasang senyum lebar.


“Apa? Tapi, Pak! Basic saya bagian Accounting. Saya tidak bisa menjadi asisten CEO baru kita, Pak!” jawabku berusaha untuk menolaknya dengan lembut.


“CEO baru kita meminta kita mencarikan Asisten yang teliti dan bersedia bekerja keras karena pastinya akan ikut sibuk dengan CEO. Selama ini kamu bersedia menghabiskan waktu untuk perusahaan. Hampir setiap malam kamu lembur untuk menuntaskan pekerjaan. Perusahaan merasa kalau posisi Asisten CEO cocok untukmu yang sangat teliti dalam mengerjakan pekerjaan. Karena itu kamu akan dipindah bagian sebagai Asisten CEO,” ucap Pak Gunawan menjelaskan.


“Tapi, Pak … Bapak belum bertanya kepada saya apakah saya setuju atau tidak?” elakku.


Asisten CEO? Pekerjaanku selama ini berkutat pada laporan, benda mati. Mana bisa disamakan dengan menghadapi benda hidup seperti CEO? Apalagi aku tidak pintar dalam bersosialisasi. Seperti apa sifat CEO baru nanti pun, aku tidak tahu.


“Kamu sudah pernah menolak penawaran sekali saat merekrutmu sebagai Kepala Divisi Accounting, Rayla. Apa kali ini kamu juga mau menolak? Kalau kamu khawatir dengan Deon, dia tidak masalah, kok! Deon malah setuju.” Pak Gunawan menatapku dan Deon secara bergantian sambil memasang senyum.


Aku menatap ke arah Deon dengan perasaan khawatir, tapi dia sibuk membaca kertas yang ada di tangannya. What the hell! Apa yang sedang dia pikirkan?


Apa kertas di tangannya itu saat ini lebih penting ketimbang masalah pemindahanku? Apakah dia tidak khawatir jika aku jatuh cinta kepada CEO baru itu?


“Well … ini sudah keputusan langsung dari perusahaan, Rayla. Sayangnya kamu tidak mempunyai pilihan lain selain menerimanya,” ucap Pak Gunawan lagi.


Perusahaan mengambil keputusan sepihak tanpa kompromi dulu denganku, kalau sudah begitu aku bisa apa? Aku hanya seorang pegawai biasa.


“B- baiklah, Pak!” jawabku tanpa semangat.


“Kalau begitu Deon dan Rayla berpisah, dong!” tukas Bram tiba-tiba.


“Bram, mulut lo itu kalau ngomong disusun dulu kalimatnya yang lengkap. Deon dan Rayla hanya dalam pekerjaan saja beda bagian. Pulang kerja, kan masih bisa kencan. Betul tidak, Deon?” ucap Andi sambil mendorong lengan Deon dan mengulas senyum mengejek. Deon hanya balas tertawa kecil.


Hanya tertawa kecil? Ok, pulang kerja nanti, aku akan memberi perhitungan padanya. Bisa-bisanya dia masih terlihat tenang, sedangkan aku merasakan panik luar biasa


Oh My God! Asisten CEO? Mencari teman baru saja susah, apalagi menghadapi CEO?


Belum mulai saja sudah membuatku takut dan berkeringat dingin. Mengapa perusahaan memilihku, sih? Masih ada pegawai lain yang prestasi kerjanya jauh di atasku.


Mohon maaf kepada para readers atau authors yang ingin saling dukung, usahakan jangan boomlike ya. Mari kita saling menghargai 🤗 Semoga cerita ini kalian suka. Tolong kasih ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ 5stars sebagai dukungan semangat buat aku ya. Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, Vote, Like dan Hadiahnya ya guys. Terima kasih 🙏