
*Happy reading đđguys*
Saat membuka mata, aku menyadari berada di kamar yang asing. Di mana ini? Bukankah seharusnya aku berada di tengah acara ulang tahun kantor?
Aku menegakkan tubuh, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Kamar yang sangat luas dengan warna perabotan cokelat keemasan.
Di atas nakas samping ranjang terdapat sebuah key card yang pada bagian tengahnya bersimbol singa, di bawahnya tertulis The R-C. Ternyata aku berada di salah satu kamar Hotel, tempat acara di selenggarakan.
Aku beranjak berdiri dan berjalan menuju tertutupnya gorden blackout polos hijau, lalu menyibaknya. Sekejap kemudian, cahaya matahari bersinar terang menembus jendela. Pemandangan kota Jakarta terlihat begitu jelas dari banyaknya gedung-gedung pencakar langit.
Terik cuaca matahari yang menyengat terasa hangat. Namun, kehangatannya tidak dapat tembus masuk sampai ke hati.
Sinar matahari kerap menyimbolkan pengharapan, menjadi penegas bahwa setelah hujan dan badai, pada akhirnya akan muncul hari yang cerah. Matahari akan bersinar, mengusir kegelapan dengan sinarnya. Aku tahu harus berpikir positif dalam setiap keadaan, tetapi hati dan pikiran seringkali tidak sejalan.
Kupejamkan mata. Pikiranku melayang ke satu orang yang selalu berada dibayang-bayang masa lalu. Pria yang kubenci sekaligus kurindukan setengah mati. Pria yang rela berkorban dan berjuang keras demi bisa membuatku tersenyum sekaligus membuatku kecewa. Seolah-olah dia lupa akan perjuangan dan rasa bahagia di awal-awal kebersamaan kami.
Pernahkah kamu kecewa kepada ayahmu? Banyak janji manis yang dia umbar, tapi dia pergi tanpa bicara. Memberi perhatian yang lebih, tetapi pada akhirnya meninggalkan dirimu. Bukan kebahagiaan, tapi hanya rasa sakit yang didapatkan.
Tanpa kukehendaki, mataku pun basah bersamaan dengan nyeri di dadaku yang kembali terasa. Pertemuan yang harusnya penuh tawa rupanya hanya tersimpan dalam angan-angan.
Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Begitu juga perasaan anak pada ayahnya.
*****
Awalnya, tujuanku ke kamar mandi hanya ingin membersihkan badan karena tubuhku terasa lengket. Aku lihat ada obat paracetamol di atas nakas, yang berarti semalam kemungkinan aku mengalami demam.
Aku menemukan sabun dengan wangi aromaterapi lavender di dalam kamar mandi. Akhirnya, kuputuskan berendam selama lima belas menit untuk menenangkan otot yang lelah dan melepaskan diri dari stres.
Setelah tiga puluh menit, aku berjalan keluar dari kamar menggunakan bathrobe, mencari keberadaan Deon. Kamar Hotel ini ternyata sangat luas. Biaya menginap per malam-nya pasti tidak murah.
Di ruang makan, aku tidak menemukannya. Lalu, aku melangkahkan kakiku ke ruang perlengkapan kopi atau teh, Deon juga tidak ada di sana. Kulihat ada mesin coffee maker. Aku pun menggunakan mesin itu untuk membuat espresso.
Sambil menunggu espresso keluar dari cerat, aku kembali berjalan keliling mencari Deon. Hingga sampai sebuah pintu yang tidak tertutup rapat, sayup-sayup aku mendengar suara orang di dalam sedang mengobrol.
Aku membuka pintu tersebut dengan penasaran. Sepertinya ruangan ini adalah connecting room. Aku berjalan masuk pelan.
Suara Deon yang kukenal mulai terdengar. Ternyata dia berada di sini. Kamar Hotel ini sudah seperti Apartemen saja luasnya.
Mataku menatap belakang punggung pria yang sedang kucari sedari tadi. Aku hendak memanggilnya, tetapi terdengar sebuah suara asing berkata, ââŚsebelum Rayla lahir, Frans Pramanta berstatus sudah memiliki istri, Auristela Allisya Osborn dan anak pertama mereka, Vlora Lovata Osborn.â
Mendengar nama itu disebut, sontak membuat seluruh tubuhku menegang. Mataku kembali memanas. Sebulir air mata lolos dari sudut mata. Aku segera mengusapnya kasar. Cukup! Aku tidak ingin mendengar kelanjutannya lagi. Aku terlalu takut.
Aku membuang napas kencang dan menguatkan diri sebisaku. Berpura-pura tidak mendengar apa yang baru saja kudengar.
âAda apa, Deon? Kenapa kamu berteriak seperti itu?â tanyaku datar sambil berjalan mendekatinya yang sedang duduk bersama pria asing.
Deon tersentak karena terkejut. Lantas berdiri dari tempatnya duduk, lalu bergegas menghampiriku dan berkata, âSayang, kamu sudah bangun?â
Aku melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya, memeluknya erat dan seketika merasa tenang. Aku merasa hangat.
âSebelum keluar kamar, aku sempat cek suhu tubuh kamu sudah normal. Apakah kamu demam lagi, Sayang? Atau ada bagian lain yang sakit? Perlu aku panggil Dokter Haldis?â Deon bertanya tanpa jeda. Nada suaranya sarat akan rasa khawatir.
Aku menggeleng-geleng kepala. âAku sudah sehat. Tidak demam lagi. Hanya sedikit lemas,â jawabku. Andai saja kamu tahu, Deon. Yang sakit bukan tubuhku, melainkan hatiku.
âBagaimana kalau kamu istirahat kembali ke kamar? Aku sudah memesan sarapan di Room Service. Mungkin sebentar lagi mereka datang mengantar,â ucap Deon lagi.
âAku sudah cukup tidur, Deon. Ngomong-ngomong, siapa pria ini? Aku belum pernah melihatnya.â Aku sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
Kulihat pria asing itu baru selesai memasukkan lembaran kertas ke dalam amplop map. Aku menduga di dalamnya terdapat informasi tentang pria yang baru saja mereka bicarakan.
Apakah Deon sedang mencari tahu perihal mengenai Frans Pramanta?
âHai, Rayla. Senang bisa berkenalan dengan lo.â Leonel mengulurkan tangan untuk bersalaman. Aku balas menyalamnya sambil menyunggingkan senyum di bibir.
âRupanya kecantikan alami tanpa makeup jauh lebih mempesona dan memukau siapapun yang melihat. Sekarang gue tahu kenapa Deon menyembunyikan lo rapat-rapat dari kami.â Leonel mengedipkan mata genit padaku.
Deon menarik tanganku hingga tubuhku berada di belakangnya. âLo mau keluar dari sini dengan kondisi bola mata hilang satu? Ingat tunangan lo!â tukas Deon dengan tatapan seakan ingin memutilasi sahabatnya itu.
Leonel terkekeh geli. âCalm down, Bro! Gue lebih memilih keluar dari kamar ini setelah menerima bayaran yang sudah kita sepakati.â
âBayaran?â Alisku berkerut, tidak mengerti arti pembicaraan mereka.
âJangan pedulikan orang gila ini, Sayang. Dia memang suka asal bicara,â ucap Deon, memandangku lembut.
Kemudian dia mengalihkan tatapannya pada Leonel. âLo boleh keluar sekarang, Leon. Bagian personalia akan menghubungi lo, membahas tentang pekerjaan dan gaji buat lo.â
âLeonel akan bekerja di kantor kita?â tanyaku.
âIya. Dia datang ke sini karena mau melamar kerja di kantorku, Sayang. Setelah dia mendengar berita tentangku sekarang sudah menjadi CEO, dia meminta bantuanku agar memberinya pekerjaan yang cocok untuknya.â
âLo memang sahabat paling baik yang gue punya!â Leonel mendelik sinis.
âTadinya gue pikir posisi OB cocok buat lo, tapi karena lo menganggap gue sahabat paling baik, gue berubah pikiran menempati posisi lo sebagai *S*ecurity.â
âEmang bang satt, ya, lo!â umpat Leonel. Deon tertawa terbahak-bahak. Aku tersenyum menyaksikan interaksi mereka berdua yang membuatku sedikit terhibur.
*****
Setelah menyelesaikan sarapan pagi, Leonel pun berpamitan pergi. Deon mengatakan ingin mengantar sahabatnya sampai ke Lobby.
Mereka berdua pergi sambil membawa tiga buah amplop map cokelat. Aku tahu mereka hanya berdalih sebab obrolan mereka tadi sempat terputus karena kehadiranku.
Aku menyalakan TV yang berukuran 55-inch LED Screen. Ada banyak saluran international movie channel juga memiliki akses internet.
Dengan didorong perasaan kuat ingin tahu, aku menggunakan fasilitas dari TV tersebut untuk mencari tahu tentang Frans Osborn.
Hasil pencarian dari internet mengenai Frans Osborn rupanya sangat banyak dengan berbagai macam berita subjek. â3 wirausahawan sukses dan inspiratifâ. âInovasi bisnis yang dilakoninya membawanya pada kesuksesanâ. âKeberhasilan Frans Osborn, mampu bertahan di krisis ekonomi duniaâ.
Aku tertawa parau. Di balik dari kesuksesan pria ini, tidak ada yang tahu bahwa dia telah menghancurkan hati darah dagingnya sendiri. Namanya sebagai pebisnis boleh besar, tetapi busuk sebagai ayah.
Mataku berhenti ketika melihat berita subjek âBiografi Terbaru Frans Osbornâ. Sesaat aku bergeming. Menimbang-nimbang apakah aku dapat bertahan mengatasi rasa sakit yang muncul setelah melihat apa saja yang tertera di dalamnya?
Otakku belum sempat memberi jawaban, tanganku sudah bergerak terlebih dahulu. Aku pun membaca tulisan-tulisan yang dimuat dalam berita tersebut.
Dimana berisi penjelasan perjalanan hidup dari seorang Frans Osborn secara detail mulai dari kelahiran, hal-hal penting dalam hidupnya yang membuatnya terkenal baik melalui prestasi atau pemikirannya. Juga berisi tentang kehidupan rumah tangganya yang mempunyai dampak secara luas pada keberhasilannya.
âTentunya kesuksesan yang saya miliki ini atas dukungan yang diberikan oleh istri tercinta saya, Auristela Allisya Osborn. Juga putri sulung kesayangan saya, Vlora Lovata Osborn, 28 tahun serta putra saya, Adam Bailey Osborn yang baru saja menginjak umur 8 tahun. Tanpa kehadiran mereka bertiga dalam hidup saya, semua kesuksesan ini tidak ada artinya.â
Pernyataan ini sontak menghujam ulu hatiku. Aku berusaha menahan sudut mata yang mulai digenangi air mata agar tidak mengalir. Namun, itu membuat hatiku terasa lebih nyeri.
âSayang âŚ.â Sebuah suara disertai kedua tangan yang merengkuh tubuhku dari belakang, membuat pertahananku luluh lantah.
âMenjadi utuh lagi adalah impianku yang broken home, Deon. Namun, sayangnya sudah terlalu rusak untuk disatukan, juga terlalu hancur untuk diperbaiki,â ucapku dengan suara bergetar.
âMenangislah sepuasmu. Lepaskan semua perasaanmu. Aku berada di sini, menemanimu,â ucapnya di telingaku. Sedetik kemudian, suara tangisanku pun pecah.
Your children need your presence more than your presents - Anak-anak Anda membutuhkan kehadiran Anda lebih dari sekadar hadiah.
Terima kasih untuk para readers yang setia mendukungku sampai saat ini. Semoga cerita ini dapat menghibur kalian. Tanpa dukungan dari kalian semua, karya abal-abalanku ini mungkin bakal stuck ditengah jalan karena gak ada yang kasih semangat đĽ°Â Yuk, dukung aku terus ya, guys đ Berikanâď¸âď¸âď¸âď¸âď¸Â 5stars, Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih đđ¤ Loph you all đ Oh ya, Sekadar informasi, cerita ini ada sebagian alurnya berdasarkan kisah nyata. Seorang anak yang selalu merindukan kasih sayang dari Ayahnya, tetapi sayangnya impian hanya sekadar angan-angan, tidak akan pernah menjadi kenyataanâšď¸đ