Silence

Silence
Bab 72



*Happy reading 📖📖guys*


Aku dan Deon melangkah masuk ke dalam Restoran mama yang selalu ramai dikunjungi orang pada hari weekend seperti ini.


Alice yang melihat kedatangan kami pun langsung menyambut kami. “Wah, senangnya bertemu dengan sepasang kekasih yang sedang menjadi gossip panas.”


“Gossip?” tanyaku sambil memasang raut wajah bingung.


Deon merengkuh pinggangku hingga membuat tubuhku menempel pada tubuhnya. “Apakah kamu lupa, Sayang? Wartawan mengambil foto kita saat acara semalam. Aku juga mengumumkan pada mereka kalau kamu adalah calon istriku. Jadi, berita tentang kita pasti sudah tersebar luas di surat kabar maupun media sosial.”


“Benarkah?” Aku menatapnya tidak percaya.


Alice mengeluarkan ponselnya dari saku apron yang dikenakannya. Kemudian dia mengutak-atik sesuatu lalu mengarahkan ponselnya di hadapanku.


Terlihat subjek berita dengan tulisan besar disertai foto Deon bersamaku dengan posisi Deon mengecup pipiku dan memeluk pinggangku mesra.


‘Peresmian pengangkatan jabatan CEO PT. SA, Deonartus Surbakti, anak bungsu dari pemilik perusahaan digelar penuh kemewahan sekaligus pamer sang calon istri yang akan melepas masa lajang’.


“Kalian terlihat cocok, loh! Selamat untuk kalian berdua. Jangan lupa undang aku dipernikahan kalian.” Alice memasang senyum lebar dan mengucapkannya dengan tulus.


“Apakah mama sudah tahu?” tanyaku.


Kepala Alice bergeleng-geleng menandakan tidak tahu. “Mungkin Ibu sudah tahu karena berita kalian sudah tersebar di surat kabar. Ibu berada di ruangannya.”


“Temuilah tante. Biar aku di sini membantu mereka,” ucap Deon.


Aku mengangguk kepala, lalu melanjutkan langkah menuju ruang kerja mama dengan tangan memegang sebuah map amplop.


Aku menarik napas dalam-dalam untuk mengurangi perasaan tegang sebelum tanganku mengetuk pintu yang berada di depanku. “Masuk!” Terdengar suara perintah Mama dari dalam.


“Mama …,” panggilku dengan suara bergetar. Rasa takut dan cemas membuat jantungku berdebar cepat.


“Kebetulan kamu datang, Rayla. Baru saja Mama mau menghubungimu, menanyakan kondisimu. Deon memberitahu Mama kalau kamu demam. Karena itu dia tidak membawamu pulang ke rumah. Sekarang sudah sehat?”


Aku menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan Mama. “Aku sudah sehat, Ma.”


“Oh, ya, Mama mau memperlihatkan sesuatu padamu.” Kemudian Mama menyodorkan surat kabar kepadaku. “Jadi, sekarang posisimu bukan sebagai kekasih lagi, melainkan sebagai calon istrinya. Apakah itu berarti trauma kamu sudah hilang?”


Aku memberikan gelengan kepala sebagai jawaban. Mama menatapku dengan kening berkerut. “Tapi isi di-“


“Deon yang memperkenalkan diriku sebagai calon istri kepada seluruh tamu juga wartawan yang hadir. Mama tahu sendiri, Deon memang suka sembarang bicara,” tukasku memotong ucapan Mama.


Sebuah senyuman tersungging di bibir Mama. “Ternyata kekasih kamu tipe posesif. Menegaskan kepada orang-orang bahwa dialah pemilikmu,” ucap Mama sambil tertawa kecil.


Seharusnya aku bahagia melihat respons Mama saat membahas Deon. Namun, perasaan sedih yang berkecamuk saat ini lebih mendominasi.


“Wajahmu terlihat muram. Ada apa, Rayla?” tanya Mama dengan nada khawatir.


Aku menghela napas kemudian menatap Mama dengan sayu. “Aku bertemu dengan pria itu semalam saat acara sedang digelar, Ma,” ucapku lirih.


Alis mama berkerut. Aku menyerahkan amplop map pada mama. Mama tidak langsung membukanya. Beliau memandangku dengan tatapan penuh tanya.


Sampai ketika Mama membuka dan membaca tulisan yang tertera di atas kertas tersebut, pupil matanya melebar, napasnya tercekat.


“Dia membuang nama belakangnya lalu menggantinya dengan nama keluarga istrinya. Sebegitu bencinyakah dia pada nama keluarganya? Nama yang juga dia cantumkan pada kedua putrinya yang lain. Atau karena dia tidak mau mengakui kehadiran kita? Karena itu dia membuang nama Pramanta menjadi Osborn?” tanyaku lirih.


Sudut mataku mulai digenangi air mata, tetapi aku berusah menahannya. “Dia boleh menghapus nama belakangnya dan menggantinya, tetapi dia tidak bisa mengubah masa lalunya.”


Sebuah keheningan yang menyesakkan dada. Entah sudah berapa lama kami berdua bergelut dalam pikiran masing-masing. Juga entah sudah berapa kali Mama menghembuskan napas seperti memikul beban yang begitu berat.


Aku menunggu Mama memulai pembicaraan. Aku yakin, Mama sudah tahu sejak lama.


Mama mengangkat kepala melihat ke atas dengan pungung bersandar pada kursi. “Kecelakaan yang menimpa kedua orang tua Frans sehingga menyebabkan mereka meninggal dunia, Frans menjadi yatim piatu dan tinggal di panti asuhan saat berumur lima tahun. Kebetulan tuan Osborn adalah donatur terbesar di tempat panti asuhan yang ditinggalinya.”


Mama menghela napas, sebelum kembali melanjutkan ceritanya. “Frans yang memiliki kecerdasan otak lebih tinggi daripada anak lain pada umumnya, membuat tuan Osborn menyukainya. Merasa menemukan calon penerusnya, tuan Osborn pun membiayai semua pendidikan untuk Frans sekaligus memberi pendidikan yang terbaik untuknya.”


“Jadi, pria itu menikahi putri Osborn karena untuk balas budi?” tanyaku ketus.


Mama menurunkan pandangan ke arahku. “Banyak orang akan beranggapan seperti itu, tetapi kenyataan berkata lain. Mereka menikah karena cinta. Frans jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu Auristela pertama kalinya. Saat itu Frans berumur lima belas tahun sedangkan Auristela berusia sebelas tahun.”


“Dia sudah mencintai wanita itu sejak dini tetapi bisa selingkuh dengan sekretarisnya?" tanyaku sarkas. “Aku sangsi pria itu menikah dengan putri Osborn hanya karena untuk balas budi.”


Mama kembali menghela napas. Bibir Mama menampilkan senyuman, tetapi tatapan matanya terlihat sedih. “Mama yang bodoh karena tidak bisa membedakan cinta dengan tempat pelarian. Pada akhirnya, dia memilih kembali kepada wanita yang dicintainya.”


“Tapi aku ingat dengan jelas bahwa kalian pernah tertawa bersama. Kita pernah merasakan kebahagiaan itu. Bahkan, Mama hamil lagi dan melahirkan Maylin.”


Mama tertawa parau, tawa yang tidak sampai ke matanya. “Mama sudah pernah mengatakan padamu, bagaimanapun pria memiliki libido yang butuh di lepaskan. Bercinta tanpa cinta, siapapun bisa melakukannya, Rayla.”


Aku menekap mulut. Seluruh tubuhku bergetar. Dadaku mendadak sesak. Mataku mulai memanas. Apakah aku dan Maylin lahir bukan dari hasil buah cinta mereka berdua?


“Maafkan Mama, Rayla. Mata Mama telah dibutakan oleh cinta sehingga tidak dapat melihat jelas bahwa Frans tidak pernah mencintai Mama. Auristela Allisya Osborn adalah satu-satunya wanita yang dicintainya.”


Tidak membutuhkan waktu lama, cairan bening jatuh dari kedua mata. Luka yang menganga dalam hati semakin terbuka lebar.


Dadaku bergemuruh kuat menahan amarah dan kecewa pada mereka berdua, orang yang membuat diriku hadir ke dunia ini.


“Jadi, karena itu dia dengan mudahnya membuang nama keluarganya? Baginya nama Pramanta sudah tidak berarti lagi?” tanyaku dengan suara serak. Bibirku bergetar karena isak tangis.


“Tuan Osborn mengidap penyakit jantung koroner dan sudah masuk akut. Dikarenakan umurnya tidak lama lagi, tuan Osborn pun menemui Frans. Beliau bersedia memaafkan semua kesalahan yang kami lakukan juga mencabut ultimatum pada perusahaan lain dan meminta Frans untuk kembali bersama putrinya dengan syarat mengganti nama Pramanta menjadi Osborn. Walau bagaimanapun juga, tuan Osborn pernah kecewa atas kesalahan Frans. Maka itu, beliau tidak ingin Frans menggunakan nama Pramanta lagi demi menghapus masa lalu yang telah terjadi,” ungkap Mama.


Tanganku yang berada di bawah meja terkepal erat. Orang yang berilmu tanpa menyempurnakan akhlaknya adalah suatu hal yang percuma. Demi kepentingan diri sendiri lantas mengorbankan kebahagiaan orang lain? Bedebah!


“Rayla ….” Tangan Mama mengelus lembut punggungku yang bergetar. Aku menoleh menatapnya dengan tatapan sendu.


Mama berpindah duduk di sebelahku. “Frans memang tidak mencintai Mama, tetapi dia tulus mencintai kalian. Setahun setelah dia kembali bersama istrinya, dia datang mencari Mama dan memberi Mama uang untuk biaya pendidikan kalian.”


“Apa?” Aku terkesiap mendengar penuturan Mama. “Apakah Mama menerima uang pemberian dia?”


“Tentu saja Mama menolaknya, tapi dia bilang itu adalah simpanan uang pribadinya. Bukan dari keluarga Osborn. Dia ingin menepati janji pada kalian, memenuhi kebutuhan dasar juga pendidikan yang belum sempat dia berikan kepada kalian karena sulitnya mencari pekerjaan dengan gaji yang cukup.”


“Lalu? Mama terima begitu saja uang itu?” tanyaku dengan suara sedikit meninggi.


Sesaat Mama terlihat ragu. Tidak lama kemudian, Mama menganguk. “Mama menggunakan uang itu untuk membuka Restoran ini dan sisanya digunakan untuk biaya sekolah kalian.”


Penyataan Mama sontak membuat emosiku meledak. Bagaimana bisa Mama menerima uluran bantuan pria itu setelah menorehkan luka yang terlampau dalam di hati anak-anaknya?


“Bukankah Mama bilang kalau usaha Restoran ini bergabung dengan teman Mama?” tanyaku penuh emosi.


“Mama terpaksa berbohong. Mama yang menjadi ibu tunggal harus berjuang keras mencari uang. Dengan penghasilan bekerja sebagai asisten dapur tidak cukup untuk membiayai kalian. Maka dari itu, ketika Frans datang memberi segepok uang, Mama membuang ego Mama lalu menerima uang itu. Lagipula dia adalah papamu. Sudah seharusnya dia turut andil dalam menafkahi kalian,” tukas Mama berapi-api.


Aku sudah bersiap mengemukakan rasa sakit dan kecewaku pada Mama, tiba-tiba pintu terbuka kasar disertai suara dengan penuh amarah. “Berapa uang yang di beri bajingan itu kepada Mama? Kembalikan semua uang itu padanya!”


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘