
*Happy reading 📖📖 guys*
Setiap orang pasti pernah mengalami pikiran dan suasana hati yang gelisah, ketika dihadapkan dengan kondisi sulit. Perasaan itu sedang melanda diriku saat ini. Padahal kemarin aku sudah bertekad untuk hadapi dan jangan lari lagi dari masalah.
Kenyataannya, jantungku kini berdegup dua kali lebih cepat. Tanganku gemetaran. Kaki terasa berat dan sulit berjalan menuju ruang Direktur Utama, pemilik perusahaan ini. Kondisiku sedang tidak baik-baik saja.
“Tarik napas panjang, lalu embuskan lewat mulut perlahan,” bisik Deon tiba-tiba di telingaku. Refleks aku mengikuti aba-aba darinya.
“Sudah lebih baikan?” tanyanya, pelan. Aku balas mengangguk. “Tenanglah, aku di sampingmu,” katanya lagi.
Deon tersenyum hangat, lalu mengulurkan tangan kepadaku, kemudian menggenggamnya dengan erat. Sentuhannya memberikan energi hangat ke seluruh tubuhku yang dingin. Perasaan gelisah dan takut pun pelan-pelan menghilang.
“Terima kasih,” balasku dengan senyum merekah di bibir.
Tidak berapa lama kemudian, kami pun telah sampai pada lantai ruangan Direksi Utama. Seorang Sekretaris mempersilahkan kami berdua masuk ke dalam. Sang pemilik perusahaan sedang berdiri menyambut kedatangan kami diiringi senyum lebar di wajahnya. “Silahkan duduk, Deonartus. Saya memanggil namamu tidak apa-apa, kan?”
“Tidak masalah, Pak Osborn,” Deon berjabat tangan dengan Pak Osborn.
Pandangan mata Pak Osborn kemudian beralih ke arahku. Seketika raut wajahnya menjadi tegang, tetapi hanya sesaat. Kini, hanya terlihat wajah yang tampak tenang. “Nona Rayla Pramanta, kekasih sekaligus calon istri Deonartus,” ucapnya yang mengajakku berjabat tangan.
Aku membalas jabat tangannya. “Suatu kehormatan bagi saya dapat bertemu dengan Pak Osborn yang di kenal sebagai raja bisnis,” balasku dengan nada sedikit menyindir.
Pak Osborn menatap mataku dalam. Dengan cepat aku melirik ke sisi lain, berpura-pura menatap sekeliling ruangan.
“Kami akan segera bertunangan, Pak Osborn,” tutur Deon, memberitahu.
“Benarkah? Selamat!” Pak Osborn berpaling menatap Deon sambil tidak berhenti menyunggingkan senyuman.
“Terima kasih. Keluarga kami segera membahas acara pertunangannya,” kata Deon lagi.
“Saya turut bahagia mendengar berita ini. Ngomong-ngomong, kamu mencari saya karena ingin membahas sesuatu yang penting. Masalah apakah itu?”
Atas perintah Deon, aku menyerahkan kontrak kerja sama antara PT. SA dengan PT. XJ kepada Pak Osborn yang langsung di baca beliau dengan teliti. “Ini ….” Pak Osborn menggantungkan kalimatnya, lalu memperhatikan raut wajah Deon yang terlihat tenang.
“Kami ingin memutus hubungan kerja sama dengan PT. XJ. Berdasarkan isi persetujuan kontraknya, ada lima wilayah tanah yang harus diserahkan ke PT. XJ sedangkan Pak Osborn telah menginvestasikan tiga di antara kelima tanah tersebut. Oleh karena itu, saya datang mencari Anda untuk membahas mengenai masalah tanah ini,” ucap Deon menerangkan.
“Mengapa kalian ingin kerja sama ini putus?” tanya Pak Osborn penuh selidik.
Aku menoleh menatap Deon yang diam. Bagaimana dia mengutarakan alasannya?
“Melihat kondisi usaha PT. SA yang semakin berkembang pesat, saya rasa jelas tidak mungkin alasannya dikarenakan untuk divestasi. Bisa dijelaskan alasannya, Deonartus?” tanya Pak Osborn dengan serius menatap Deon.
“Keputusan tersebut dibuat atas alasan pribadi, Pak Osborn.” Suara Deon terdengar tenang saat mengucapkannya.
“Setiap keputusan yang diambil dapat berimbas pada keefektifan rencana perusahaan, sehingga harus dilakukan dengan banyak pertimbangan, Deonartus. Apalagi kamu berprofesi sebagai CEO, keputusan yang kamu ambil menyangkut goals dari perusahaan. Kemampuan untuk mengambil keputusan yang baik adalah hal yang harus kamu miliki.”
“Saya paham atas semua itu, Pak Osborn. Namun, ini menyangkut kenyamanan calon istri saya,” tukas Deon.
“Seorang pemimpin tidak seharusnya mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Maaf, saya menolak tanah ini diserahkan kepada pihak lain. Bagaimanapun juga saya seorang pengusaha yang menginginkan keuntungan semakin banyak. Bukan sebaliknya.” Pak Osborn mengembalikan dokumen tadi kepada Deon.
“Anda bisa mengajukan sesuatu sebagai ganti rugi tanah ini, Pak Osborn. Apapun itu, saya akan menyanggupinya.” Deon mencoba melakukan penawaran untuk mencapai kesepakatan dari Pak Osborn.
Pak Osborn menggeleng kepala. “Saya memiliki target dan target inilah yang membuat saya bisa berhasil sampai sekarang. Pesan saya, jangan karena urusan pribadimu, membuat saya menyesal telah menjadi penyandang dana terbesar di perusahaan papamu selama hampir dua puluh tahun ini, Deonartus.”
Pertanyaan yang baru saja Deon lontarkan, membuatku terkesiap. “Deon …,” panggilku.
Deon menoleh dan menatapku. “Aku harus mengatakan yang sebenarnya, Rayla.”
Pak Osborn mengernyit, tetapi beliau menanggapi pertanyaan itu dengan cara yang sama seperti ketika dia menolak penawaran Deon tadi. “Keamanan calon istrimu tidak ada hubungannya dengan relasi bisnis kita, Deonartus.”
“Apakah Anda masih bersedia melakukan kerja sama dengan relasi bisnis Anda yang hampir memperkosa putri Anda?” Pertanyaan Deon seketika membuat mata Pak Osborn terbelalak karena terkejut.
“Putra Xavier Jadison melakukan pelecehan, bahkan hampir memperkosa Rayla Pramanta, calon istri saya. Jika saya terlambat satu menit saja … saya tidak akan pernah bisa memaafkan diri saya.” Sorot mata Deon terlihat menyala saat mengatakannya.
Aku segera mengusap punggung tangannya. Berharap dapat menenangkan amarahnya yang mulai membara.
“Inilah alasan pribadi saya, mengapa saya ingin putus kerja sama dengan mereka. Jika Rayla Pramanta adalah putri Anda, apakah Anda masih dapat bersikap profesional setelah apa yang dilakukan putranya Xavier Jadison?” Deon sekali lagi memberi pertanyaan yang terlalu pribadi untuk dijawab Pak Osborn.
“Maaf jika saya telah bersikap lancang, Pak Osborn. Anda memiliki anak perempuan. Tidak ada orang tua yang bisa menerima putrinya dilecehkan. Begitu pun juga dengan saya. Tidak ada calon suami menoleransi orang yang hampir memperkosa calon istrinya. Saya yakin, Anda pasti mengerti posisi saya,” ucap Deon dengan suara rendah, tapi terdengar penuh penekanan saat dia mengatakan kata putri anda.
Aku tidak mengerti, mengapa Deon harus berkata seperti itu di depan Frans Osborn? Apa gunanya? Pria ini tidak akan mengerti karena bukan putrinya yang dilecehkan.
Aku terpaku saat tanpa sengaja mataku bertemu mata pria itu. Dadaku terasa nyeri, menyadari bahwa aku mewarisi iris matanya yang cokelat. Aku segera memutus kontak mata dengan menatap lantai. Aku tidak sanggup berlama-lama menatap pria itu, karena aku takut semakin merindukan sosoknya.
“Maafkan kata-kata egois saya tadi,” ucap Pak Osborn kemudian, setelah beberapa saat hening sejenak. “Apakah dia … telah menyakitimu?” tanyanya dengan mata menatapku. Ekspresi wajahnya terlihat jelas penuh penyesalan.
Aku terperanjat begitu menyadari pertanyaan itu ditunjukkan kepadaku. “Eh, sa- saya … baik-baik saja,” jawabku dengan gugup.
“Hmm…,” Pak Osborn bergumam pelan. Matanya menutup sebentar sebelum berkata, “Saya mengerti, Deonartus. Saya terima keputusanmu. Untuk masalah tanah, saya akan berpikir dahulu dengan cara apa kamu harus menggantinya. Saya akan menghubungimu lagi.”
Deon memasang wajah gembira sambil kemudian mengucapkan kata, “Terima kasih banyak, Pak Osborn! Saya berjanji untuk menyanggupi apapun keinginan Anda sebagai gantinya.”
“Saya yang harus berterima kasih kepadamu karena sudah menyadarkan saya dari sikap egois saya tadi,” tukas Pak Osborn sambil tersenyum tulus kemudian tertawa bersama Deon.
“Baiklah, saya harus kembali ke kantor. Terima kasih banyak atas waktunya, Pak Osborn.” Deon beranjak berdiri dari tempatnya duduk, lalu menyodorkan tangan untuk berjabat tangan sebelum meninggalkan tempat.
Aku menghela napas lega karena pertemuan ini lebih cepat berakhir dari perkiraanku. Namun, perasaan lega itu berubah menjadi ketegangan ketika Pak Osborn tanpa merasa sungkan bertanya kepada Deon, “Bolehkah saya bicara sebentar dengan Rayla?”
“Saya tidak masalah, tetapi ….” Deon tidak melanjutkan ucapannya. Dia menatapku minta persetujuan.
Aku mengambil napas panjang demi mengurangi perasaan panik. “Maaf, Pak Osborn. Saya rasa tidak ada hal lain yang perlu dibicarakan. Urusan Anda hanya dengan Pak Deonartus.”
“Saya ingin mengatakan sesuatu yang tidak sempat saya ucapkan tiga belas tahun yang lalu. Tolong, berikan saya waktu sebentar. Lima belas menit. Hanya lima belas menit,” pinta Pak Osborn.
“Tiga belas tahun yang lalu? Bukankah kita baru saling mengenal saat acara ulang tahun PT. SA beberapa waktu yang lalu, Pak Osborn?” tanyaku datar.
Pak Osborn terdiam beberapa saat, sebelum kembali berucap, “Saya ingin bicara denganmu sebagai Frans Pramanta.”
“Aku tunggu di luar. Lepaskanlah semua bebanmu. Setelah ini, kamu bisa menjalani hidup dengan hati lebih ringan,” bisik Deon di telingaku.
Kemudian Deon melangkah keluar dari ruangan ini, meninggalkan aku bersama pria yang selama tiga belas tahun ini tidak pernah hadir dalam hidupku.
*Jangan lupa tinggalkan Komentar, berikan Vote, like Hadiahnya supaya aku semakin semangat menulis ya guys. Terima kasih**🙏Tambahkan juga ke Favorite supaya tidak ketinggalan up-nya🤗Loph you all😘*