Silence

Silence
Bab 53



Happy reading 📖📖 guys


Tanganku tidak berhenti keringatan sedari tadi. Padahal AC mobil sudah di buka sampai maksimal, tetapi tubuhku tidak merasakan udara dinginnya. Mungkin karena aku benar-benar merasa sangat gugup.


Deon memindahkan tuas perseneling, ketika mobilnya sudah terparkir dengan baik di pekarangan rumah orang tuanya. Jantungku berdegup lebih cepat.


“Kamu yakin penampilanku tidak ada yang kurang?” Sejak kami masih di Apartemen, entah sudah berapa kali aku menanyakan pertanyaan ini kepada Deon.


Deon mengulas senyumnya dengan lebar. “Kamu terlihat *p*erfect di mataku, Sayang.”


“Bagaimana kalau orang tuamu tidak beranggapan demikian?” tanyaku lagi dengan nada khawatir.


Aku kembali teringat saat datang ke rumah orang tuanya Erik, tante Rose menatapku dengan tatapan ‘Bagaimana bisa putraku membawa wanita seperti ini ke dalam rumah?’.


Saat itu aku tidak terlalu peduli dengan anggapan tante Rose karena aku tidak bersungguh-sungguh mencintai Erik.


Namun, untuk kali ini situasinya berbeda. Aku mencintai Deon. Penilaian dari orang tuanya sangat berarti untukku.


“Kita tidak akan pernah bisa memuaskan keinginan orang lain, Rayla. Apa pentingnya pendapat mereka dan penilaian mereka? Yang menjalaninya bukan mereka, melainkan dirimu sendiri. Oleh karena itu, jadilah dirimu apa adanya, Rayla. Jangan mengubah dirimu hanya untuk orang lain,” jawab Deon.


Dia menarik punggung tanganku pada bibirnya, kemudian mengecupnya dengan lembut. “Bagiku, kamu selalu terlihat sempurna, kapan pun dan di mana pun.”


Jantungku berdebar dua kali lebih cepat. Bukan karena rasa gugupku semakin menjadi, melainkan karena ucapan Deon barusan membuatku semakin jatuh terperangkap dalam pesonanya.


“Ayo turun!” Deon melepaskan seatbelt-nya, lalu turun dari mobilnya.


Aku masih terdiam di dalam mobil karena masih terpengaruh dengan efek yang diberikan Deon tadi.


Deon membuka pintu mobil dan mengulurkan tangannya padaku. “May I, My lady?”


Tatapan matanya yang terasa hangat, membuatku terhipnotis. Aku menerima uluran tangannya sambil terus menatap lekat padanya.


“Jangan lupa bernapas, Sayang. Aku tidak ingin kamu pingsan sebelum sampai di dalam karena kehilangan oksigen,” gumamnya.


“Jika hal itu sampai terjadi, maka kamu yang harus memberiku oksigen,” balasku.


Deon tertawa pelan. “Kita lakukan nanti setelah sampai di Apartemen. Aku tidak ingin membuat lipstikmu sekarang


berantakan,” ucapnya disertai seringai jahil, dan aku membalasnya dengan senyuman lebar.


Deon menutup pintu mobil, kemudian menguncinya dengan remote. Setelah itu, kami berdua berjalan masuk halaman depan yang luas ini sampai akhirnya kami berada di pintu depan rumah besar itu.


Saat Deon bersiap memencet bel, pintu rumah itu lebih dulu terbuka. Seorang wanita paruh baya muncul. Senyum lebar merekah di bibirnya.


“Mama baru saja berpikir untuk menyusul ke Apartemen kamu kalau dalam satu jam lagi kalian masih belum juga muncul.”


“Macet, Ma,” jawab Deon. “Ini Rayla, Ma.” Deon melingkarkan tangannya ke pinggangku dengan erat.


“Se- selamat malam, Tante,” sapaku sambil tersenyum kaku. “Nama saya, Rayla Pramanta.”


Mamanya Deon menatapku, masih dengan senyum di bibirnya. “Halo, Rayla. Panggil saja Tante Amanda. Akhirnya kita bisa bertemu.” Kemudian beliau memelukku dan mencium pipi kiri dan kanan. Aku membalasnya dengan gugup.


Tante Amanda yang menyadari kegugupanku, tertawa kecil. Beliau menatapku semakin intens. “Jadi … bagaimana caranya kamu bisa membuat Playboy kadal ini insaf dari kegemarannya mematahkan banyak hati wanita? Untung saja tidak ada salah satu dari mantannya yang datang ke sini meminta pertanggung jawaban atas kehamilannya.”


“What? Playboy kadal? Hamil? Really?” seru Deon sambil menyipitkan mata.


“Lalu apa namanya kalau bukan Playboy kadal? Playboy cap kapak, begitu?” Tante Amanda berbalik tanya.


“Aku putra kesayangan Mama satu-satunya. Apa Mama tega mengumbar aib putra Mama ini di hadapan kekasihnya?” Deon memasang wajah memelasnya.


“Tidak usah di sembunyikan, Rayla juga sudah tahu kok, aib kamu itu,” balas Tante Amanda dengan cuek.


Deon menghela napas kencang. Aku tersenyum melihat interaksi antara Ibu dan Anak ini.


“Masuk, yuk, Rayla!” Tante Amanda merangkul bahuku dengan lembut. Beliau menuntunku berjalan masuk ke dalam. Deon mengikuti dari belakang.


“Rayla! Sudah lama kita tidak bertemu. Senang akhirnya melihat kamu datang,” sapa Kak Sarah sambil memelukku.


Aku membalas pelukannya dan terkejut ketika merasakan bagian perutnya yang menonjol. “Kak Sarah hamil?”


Kak Sarah mengangguk dengan senyumnya yang terlihat bahagia. “Sudah tiga bulan.”


“Selamat ya, Kak.”


Seorang pria muda tiba-tiba berdiri di samping Kak Sarah. Tangannya meraih pinggang Kak Sarah. Aku langsung mengenalinya sebagai Direktur pada perusahaan tempatku bekerja.


“P- pak Denis … selamat malam, Pak!” sapaku gugup.


“Hai, Rayla.” Pak Denis mengulurkan tangannya kepadaku. “Panggil Kak Denis saja.”


Aku lupa bahwa Kak Sarah adalah kakaknya Deon, yang berarti mereka juga akan hadir di acara makan malam ini.


“Santai saja, Sayang. Tidak usah terlalu gugup. Sebentar lagi kamu juga akan menjadi calon istri dari CEO yang tampan ini.” Deon merangkul bahuku dengan wajah usilnya.


Aku mendelik kesal padanya. Kelihatannya dia sangat menikmati kegugupanku di hadapan keluarganya.


“Kamu belum meminta izin dari orang tuamu, Deon. Bagaimana bisa kamu langsung memutuskan dia adalah calon istrimu?” tegur Pak Surbakti dari kejauhan.


Beliau berjalan semakin mendekat ke arah kami. Aku hendak menyapanya, tetapi Pak Surbakti lebih dulu menyapa. “Selamat datang, Rayla. Panggil saja Om. Kita sedang tidak berada di kantor.”


Aku mengangguk menurut. “Malam, Om.”


Bos besar kamu ternyata ayah dari kekasihmu. Kamu berpacaran dengan calon CEO di tempat perusahaanmu bekerja. Direktur yang ada di hadapan kamu ini ternyata kakak iparnya kekasihmu.


Astaga, bagaimana caranya kamu mendapatkan keberuntungan ini, Rayla? Bahkan. sekadar bermimpi pun tidak berani.


“Pada saat kunjungan kami yang kedua, pastikan Papa dan Mama langsung mengabulkan permintaanku demi coming soon calon cucu kalian.” Deon dengan tidak tahu malunya mengatakan kalimat seperti itu.


Aku mencubit pinggangnya dari belakang hingga dia meringis kesakitan.


“Kamu kira bioskop, coming soon?” ejek Tante Amanda.


“Jangan menghamili Rayla dulu, Deon. Setidaknya tunggu sampai kamu sudah resmi menjadi CEO dan Rayla juga sudah terbiasa dengan pekerjaan barunya sebagai Asisten kamu,” ucap Om Surbakti.


“Lebih tepatnya Asisten Pribadi, Pa,” jawab Deon hingga membuat semua orang tertawa, dan aku hanya bisa menunduk, berusaha menyembunyikan wajahku yang bersemu merah.


Sepanjang suasana makan malam ini terasa meriah dan penuh kehangatan. Aku terkejut mendapati kemiripan antara Om Surbakti dengan Deon. Kecerewetan mereka berdua mengundang tawa bagi orang-orang di sekitarnya.


Mengingat Om Surbakti yang biasanya terlihat sangat tenang dan berwibawa saat berada di kantor, sangat berbeda ketika beliau sedang berkumpul bersama keluarganya.


Aku pikir keluarga Deon selain Kak Sarah, yang lainnya akan menyambutku dengan tatapan sinis. Seperti orang kaya lainnya. Tante Rose, misalnya. Namun, malah sebaliknya. Mereka menyambutku dengan begitu baik.


Setelah makan malam, Tante Amanda dan Kak Sarah ingin menyiapkan buah dan puding, juga teh hangat untuk kami semua.


Aku merasa tidak enak jika hanya duduk menunggu di ruang tamu. Oleh karena itu, aku pergi ke dapur untuk membantu. Sedangkan para pria lainnya, asyik mengobrol di ruang tamu.


“Tante penasaran, Rayla. Bagaimana caranya kamu bisa membuat Deon berhenti menjadi Playboy?” tanya Tante Amanda sambil memotong buah.


Aku menatap Tante Amanda dengan alis berkerut. “Tidak ada, Tante.”


Kak Sarah terkikik geli, dan berkata, “Coba kalau Mama melihat sendiri bagaimana wajah Deon saat Rayla masuk ke Rumah Sakit. Ketika itu wajahnya yang sedang ketakutan seperti anak-anak takut dimarahi orang tuanya karena sudah berbuat nakal.”


“Kenapa kamu tidak merekamnya, Sar? Mama jadi kehilangan kesempatan menonton adegan langka adikmu itu,” ucap Tante Amanda sambil mengerucutkan bibirnya.


Beberapa detik kemudian, Ibu dan Anak itu tertawa terbahak-bahak. Seolah-olah orang yang sedang mereka bicarakan tidak ada di sampingnya.


“Kami sudah terbiasa membiarkan Deon melakukan apa yang disukainya. Karena itu, kalau Deon bersikap seperti anak-anak, harap maklum ya, Rayla.” Tante Amanda sudah berdiri di sampingku yang sedang menyiapkan peralatan teapot set. Beliau menarik salah satu tanganku, dan menepuk punggung tanganku dengan bibir tersenyum.


“Deon malah mengajariku banyak hal, Tante. Dengan sikap bijaknya, dia membantu saya mengatasi masalah dalam hidup saya. Dia juga bersedia menerima semua kekurangan saya. Terkadang sikap jahilnya memang menyebalkan. Namun, saya mengerti kalau dia melakukannya semata-mata untuk menghibur saya. Saya beruntung bisa bertemu dengannya.”


Aku tertawa saat teringat perbuatan konyolnya. Aku tersenyum saat teringat caranya menghiburku. Wajahku bersemu merah, saat aku teringat setiap sentuhannya pada tubuhku.


“Saya semakin mencintainya karena dia mencintai diri saya apa adanya dan bukan karena hal yang lain,” gumamku tanpa sadar.


Sebuah tangan mengusap kepalaku dengan lembut. Membuatku tersadar atas ucapanku barusan.


Tante Amanda tersenyum padaku. “Terima kasih sudah membuat Deon menjadi pria yang dewasa, Rayla. Tante berharap hubungan kalian selalu lancar. Jika Deon mengecewakanmu, beri tahu Tante. Tante akan memberikan pelajaran pada anak itu.”


“Jangan lupa, aku juga mendukungmu!” Kak Sarah menepuk bahuku.


Aku mengangguk kepala dan tersenyum lebar. Setitik air mata menetes jatuh dari pelupuk mata.


Mendengar mereka dapat menerima diriku, membuatku merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Semoga kebahagiaan ini terus berlanjut dalam hidupku.


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘