Silence

Silence
Bab 38



Happy reading 📖📖 guys


Jason terus menekan bibirnya pada bibirku dan menghisap bibir atas dan bawahku secara bergantian. Napasnya perlahan terdengar lebih berat.


Satu tangannya menahan tengkukku, tangan lainnya menyentuh tubuhku dengan lembut. Dari bahu, lengan dan akhirnya pinggang.


Tanpa kusadari, aku sudah terlena dalam ciuman ini. Kuangkat kedua tanganku dan menyandarkannya di atas bahunya.


Mendapat respons dariku, Jason pun mel umat bibirku lebih dalam. Lidahnya menyeruak masuk, menjelajahi rongga mulutku. Sesekali dia menggigit bibir bawahku dan menggeram karena mendengar erangan pelanku.


Kepalaku mulai terasa pusing dan tubuhku semakin melemah. Jason tidak terlihat akan berhenti. Sedikit lagi aku akan kekurangan oksigen karena napasku terasa sudah akan habis.


Namun, tiba-tiba sebuah suara menggema kencang dalam otakku.


“I will be your saving grace, Rayla. You can keep my promise”


Kalimat itu bagaikan petir menyambar ke seluruh organ tubuhku hingga refleks aku mendorong tubuh Jason dengan kuat. Gerakan impulsifku ini membuat Jason terkejut.


Aku menghirup udara dalam-dalam agar masuk ke dalam paru-paru yang hampir saja kosong. Wajahku rasanya begitu panas. Aku yakin warnanya sangat merah saat ini.


Aku tidak berani menatap Jason. Tubuhku merinding mendapati kesadaran apa yang baru saja terjadi di antara kami. Dan mungkin akan berlanjut lebih jauh jika saja kalimat itu tidak muncul menyadarkan diriku.


Sungguh aku merasa jijik pada diriku sendiri saat ini. Aku sadar, aku salah. Ini semua seharusnya tidak boleh terjadi. Demi Tuhan! Aku sudah memiliki kekasih!


“Maaf, aku ....” Suaraku mendadak parau. Aku menatap Jason dengan mata yang sudah mengabur oleh air mata.


Sekuat apa pun aku berusaha menahan tangisku, semuanya sia-sia. Aku telah menyakiti hati Jason. Aku telah mengkhianati Deon. Rasa sesak menusuk dadaku.


Jason terdiam menatapku sejenak, sebelum kembali bersuara, “Tidak apa-apa. Salahku karena tiba-tiba melakukannya tanpa seizinmu.”


Aku menggeleng kepala dengan cepat. “Bukan salahmu! Aku yang seharusnya menolak!”


“Aku minta maaf karena melakukannya dengan tiba-tiba, tapi aku tidak menyesal, Ayla. Sudah kukatakan padamu, kali ini aku tidak akan melepaskanmu,” tutur Jason tersenyum kecil.


Aku ingin membalas ucapannya, tetapi tiba-tiba Jason bangkit berdiri dari tempatnya dan berkata, “Yuk, aku antar ke rumah Agatha! Mobil teman kamu masih di sana, kan? Nanti biar aku yang antar Bella pulang. Kamu bisa segera pulang ke rumah untuk mempersiapkan acara lamaran Maylin nanti malam.”


“Dari mana kamu tahu itu?” tanyaku dengan nada heran.


“Tante Restin yang memberitahuku tadi saat aku menghubunginya. Dia bilang jangan terlalu malam mengantarmu pulang karena ada acara.”


Aku diam, tidak berkata apa-apa lagi. Sesampainya di rumah, jika masih ada waktu, aku harus membahas masalah ini pada mama.


Apa maksudnya tiba-tiba menghubungi Jason dan mengizinkan Jason kembali hadir dalam kehidupanku? Apa artinya mama tidak sudi memberi restu kepada Deon?


Mengingat Deon, aku merasakan penyesalan besar. Bodohnya aku. Seharusnya, aku tidak boleh semudah itu terlarut dalam perasaan. Bagaimanapun keadaanku saat ini sudah memiliki kekasih.


“Oh ya, sekarang kamu tinggal di mana? Tante bilang kalau kamu sudah tidak tinggal di rumah. Kamu memilih kost dekat daerah kantormu,” tanya Jason ketika kami sudah masuk ke dalam mobilnya.


“A- aku ... teman kantorku yang menawarkannya tinggal di tempatnya ... jadi ... kami bisa patungan keluar biayanya,” jawabku gugup.


“Oh, sayang sekali. Kalau begitu pasti tidak efektif kalau aku mau berkunjung ke sana,” ucap Jason memasang wajah kecewa.


“Ya. Kita bisa membuat janji ketemu di luar.” Aku berusaha mengontrol rasa khawatirku.


Hebat Rayla! Selain naif, kamu juga pintar berbohong. Dari mana kamu mempelajarinya, hah?


“Tidak masalah. Nomor ponsel kamu tidak pernah ganti, kan? Mulai saat ini, aku akan sering-sering menghubungimu.” Jason melirikku sekilas sambil tersenyum, lalu tangannya menggenggam tanganku.


Aku berusaha untuk melepaskannya, tapi sepertinya Jason menggenggamnya terlalu erat. Dia juga terlihat tidak mempedulikan penolakanku.


Akhirnya aku memilih mengalah. Membiarkan dirinya terus menggenggam tanganku selama perjalanan menuju rumah Agatha.


Maafkan aku, Deon. Aku belum bisa mengatakan pada Jason kalau aku sudah memiliki kekasih. Berikan aku waktu! Aku akan menjelaskan padanya.


Mama memanggil penata rias agar datang ke rumah untuk membantuku dan Maylin berias. Aku tidak menyukai segala berurusan dengan make up. Jadi, aku meminta penata rias untuk mendandaniku senatural mungkin.


Maylin terlihat sangat antusias sekaligus bahagia. Dia terus berceloteh sedari tadi. Namun, aku tidak dapat fokus mendengar ucapannya.


Otakku memutar kembali kejadian ciuman antara diriku dengan Jason, juga percakapan antara Agatha dan Bella saat Jason sedang mengobrol dengan Peter.


“Jujur, La. Kali ini gue sangat kecewa sama lo. Deon kurang baik apa lagi, sih? Dia sedang berusaha mengambil hati tante, lo malah terbuai sama ciumannya Jason? Holly Shiitt! Lo sudah punya kekasih, Rayla!” Agatha mendelik kesal ke arahku.


“Gue tahu sudah berbuat salah, Tha. Gue juga merasa jijik sama diri gue sekarang. Entah gue harus bersikap bagaimana nanti saat gue ketemu Deon.” jawabku pasrah.


“Jangan sampai Deon tahu tentang kejadian tadi! Dia bakal kecewa sama lo! Terus, kenapa lo tidak beritahu Jason mengenai Deon?” ketus Agatha.


“Gue ….” Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Agatha. Perasaanku sangat kacau pada saat itu. Hatiku mengatakan agar aku memberitahu Jason perihal tentang Deon, tapi bibirku mengatup rapat.


“Gue rasa tante Restin sengaja menghubungi Jason karena tante mungkin tidak menyetujui hubungan lo dengan Deon. Entah apa pun itu alasannya, lo mesti tanya langsung sama tante, lalu lo mesti milih, La! Tidak mungkin lo mau menduakan mereka, kan?” tanya Bella. Aku hanya diam, menundukkan kepala.


“Kebanyakan orang baru mengerti apa yang mereka inginkan setelah mereka kehilangan. Gue tidak mau lo menyesalinya. Jadi, tanyakan sama isi hati lo, apakah masa lalu itu sudah tidak ada lagi atau masih ada hanya saja sudah tidak lagi berguna? Tidak apa-apa untuk melihat kembali masa lalu lo. Hanya saja, jangan menatap terlalu lama,” ucap Agatha memperingatiku.


“Pastikan segala kenangan pada masa itu sudah menjadi dulu, La. Jika lo masih belum rela, sudah pasti lo tetap akan tertinggal di dalamnya. Tidak adil untuk Deon,” ucap Bella menambahkan.


“RAYLA!” tiba-tiba Maylin meneriakkan namaku dengan keras sehingga aku kembali sadar dari pikiranku.


“Ada apa, sih? Jangan teriak begitu, dong! Gue jadi kaget!” ketusku tidak senang.


“Dari tadi gue panggil lo tidak direspons. Lo mikir apa, sih? Masih khawatir tentang Deon? Tenang saja! Gue sudah minta tolong Alice untuk mengawasi Deon kalau-kalau ada pelanggan wanita yang mencoba merayunya. Alice juga bersedia membantu Deon kalau dia membutuhkan bantuan,” gerutu Maylin panjang lebar.


Aku diam, tidak berniat menjawabnya. Aku belum siap memberitahu pada Maylin kalau Jason hari ini kembali muncul dalam kehidupanku.


“Apa make up lo tidak terlalu tebal, Lin? Gue dengar kata orang kalau sedang hamil, sebisa mungkin jangan menyentuh bahan kimia. Tidak bagus untuk janin,” tanyaku mengalihkan pembicaraan.


“Malam ini gue adalah pemeran utamanya. Jadi, harus terlihat cantik, dong!” tukasnya dengan nada puas.


“Tidak perlu make up setebal itu, Darwan sudah menganggap lo cantik, Lin,” tuturku sambil tersenyum kecil.


“Sehari-hari memang sudah cantik, La. Namun, khusus malam ini, gue harus terlihat lebih istimewa. Nanti kalau giliran lo mau dilamar Deon, lo pasti ngerti perasaan gue sekarang, deh.” Senyum dibibir Maylin mengembang dengan lebar.


Aku memperhatikan Maylin yang sedang memasang wajah tersenyum bahagianya. Dia terlihat sangat manis.


Kami memang bersaudara, tapi memiliki sifat yang berbeda. Maylin tipe wanita yang ceria dan itu membuatku sedikit iri.


Seandainya saja aku bisa berbicara lepas seperti dia, pasti aku bisa memiliki banyak teman. Tidak heran juga mama mempercayakan pilihan pada Maylin sepenuhnya.


Aku menatap jam dinding menunjukkan jam lima sore. Keluarga Darwan akan datang jam enam sore. Masih tersisa satu jam.


Aku bangun dari tempat dudukku. Maylin menatapku dengan pandangan bertanya. “Mau kemana?”


“Gue mau cari mama dulu. Ada yang mau gue obrolin sama mama,” jawabku.


“Please untuk malam ini, jaga sikap lo sama mama. Ok?” pinta Maylin penuh harap.


Aku mengangguk kepala mengerti. Kemudian aku melangkah keluar dari kamar dan mencari mama.


Aku menemukan Mama sedang sibuk di dapur, menata hidangan makanan buatannya sendiri di meja makan. Tante Fifi memberi tahu kalau Mama sudah sejak dari pagi sibuk di dapur.


Pertama kali ini aku melihatnya berperan sebagai seorang ibu yang sedang sibuk menyambut acara lamaran putrinya. Sebersit perasaan iri muncul dalam benakku.


Apakah Mama juga akan melakukan hal yang sama untukku ketika ada pria yang akan melamarku?


Pada saat Mama memutar balik tubuhnya, tatapan kami bertemu. Aku mencoba memberanikan diri, memajukan tubuhku lebih dekat ke arah Mama. “Mama masih sibuk? Ada yang ingin aku bicarakan.”


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘