Silence

Silence
Bab 51



Happy reading 📖📖 guys


“Jason?” tanyaku, memastikan sekali lagi nama yang barusan diucapkan Deon. Kami baru saja selesai sarapan pagi.


“Iya. Semalaman pria itu menelepon ke ponselmu berulang kali. Kamu sudah tidur. Aku tidak ingin membangunkanmu juga tidak berniat mengangkat teleponnya.”


Deon menyerahkan ponsel kepadaku. Aku langsung melihat dan benar saja, ada 17 missed call dari Jason.


Dia menelepon pada saat waktu sudah menunjukkan lewat dari tengah malam. Untuk apa dia menghubungiku selarut itu?


“Coba kamu telepon balik. Mungkin ada sesuatu hal penting yang ingin dia bicarakan,” gumam Deon pelan.


“Lebih baik aku tidak menghubungi atau bertemu dengannya sampai dia telah menerima keputusanku kemarin.”


Deon mengusap puncak kepalaku dengan lembut. “Jika dia masih ingin bertemu denganmu, bicarakan baik-baik dengannya. Kamu tidak bisa terus-menerus melarikan diri. Bagaimanapun juga, dia salah satu korban dari keegoisan tante Restin.”


Aku menoleh ke samping, menatapnya. “Kamu tidak cemburu kalau aku masih bertemu dengannya?”


“Tentu saja aku cemburu, Rayla. Namun, aku percaya padamu. Kamu tidak akan mengkhianati cinta kita. Tentang Jason, sebenarnya aku merasa iba padanya. Takdir seolah-olah mempermainkan perasaannya,” ucapnya.


Jika seandainya, saat itu mama tidak menyuruhnya pergi dari kehidupanku, entah hubungan seperti apakah yang akan dijalani antara aku, Jason, dan Deon. Apakah yang berada di sebelahku saat ini adalah Jason?


“Anyway, bagaimana kalau Sabtu depan kita makan malam di rumah orang tuaku?” Deon tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan.


Sepertinya dia tidak ingin membahas lagi perihal tentang Jason karena dia tahu hanya akan membuka luka lama dan mengingatkanku akan sakit hati terberat yang pernah kurasakan.


“Boleh. Kan, sekarang kamu tidak perlu sibuk part time lagi di Restoran mama,” jawabku sambil mengangguk-angguk.


“Siapa yang bilang?”


Aku menatapnya bingung. “Loh, bukannya mama menyuruhmu tidak perlu datang lagi ke Restorannya?”


Deon tertawa kecil. “Kalau aku tidak sering-sering mengunjunginya, bagaimana aku bisa membuktikan kepadanya kalau aku serius dengan putri sulungnya?”


Mataku terbuka lebar karena terkejut. “Jadi, kamu masih mau part time lagi di sana?”


Deon menggelengkan kepala. Aku semakin tidak mengerti maksud ucapannya.


“Bukan, Sayang. Setiap minggu aku tetap pergi ke Restoran, mengunjungi tante. Jika sedang banyak pengunjung, aku ikut bantu,” ucap Deon menjelaskan.


Melihat dia begitu gigih, ingin membuktikan kesungguhannya kepada mama, membuatku tersentuh.


“Kalau begitu, aku ikut menemanimu ke sana,” tuturku sambil tersenyum senang.


*****


“Please, Rayla. Masa lo tega sama adik satu-satunya, sih?” terdengar suara Maylin yang sedang merajuk dari sambungan telepon.


Aku dan Deon sedang dalam perjalanan menuju rumah Peter-Agatha. Hari ini mereka mengadakan acara satu bulan kelahiran Violetta Wales, putri mereka, yang disebut Man Yue, salah satu tradisi keturunan Tionghoa. Keluarga Peter masih mengikuti tradisi tersebut.


Barusan Maylin memintaku untuk menjadi Bridesmaid-nya karena Angela, sahabatnya, baru mendapatkan kabar kalau dirinya hamil. Angela tidak dapat melanjutkan perannya sebagai Bridesmaid karena dia pun harus menyibukkan diri untuk persiapan menikah.


“Tidak harus wanita single yang menjadi Bridesmaid, Lin. Yang terpenting adalah teman wanita yang membuatmu merasa comfortable dihari pernikahan lo,” jawabku menolak permintaannya.


“Kan, lo masih bisa minta tolong Aril atau Siska.” Aku menyebut dua nama sahabatnya yang lain.


“Siska sudah memiliki dua anak. Sedangkan Aril sedang hamil tiga bulan. Bridesmaid harus yang masih single, La. Gue percaya mitos itu.” Maylin masih keras kepala atas kepercayaannya itu.


“Gue sibuk, Lin. Sabtu depan Deon mengajak gue dinner di rumah orang tuanya.”


“Malam kan, acaranya? Fittingnya bisa dilakukan pada siang hari, kok! Atau sekarang arti dinner berubah menjadi makan siang?”


Maylin benar-benar sangat menyebalkan kalau sudah keras kepala seperti ini.


“Lin, kan, lo tahu kalau gue tidak pernah menggunakan 5-inch stiletto heels. Apa lo tidak khawatir, gue akan mengacaukan pesta pernikahan lo karena kaki gue terkilir pada saat sedang melangkah dikarpet merah dengan sepatu heel setinggi itu?” Aku mulai mencoba menakut nakutinya. Deon yang sedang menyetir, tertawa mendengar perkataanku.


Aku tidak pernah suka menggunakan sepatu high heels atau semacam itu, karena saat memakainya, secara tidak langsung kaki dipaksa melakukan posisi jinjit. Sehingga bertumpu pada bagian ujung depan telapak kaki. Dan jika dilakukan dalam waktu yang lama, akan terasa nyeri di area persendian kaki.


Untuk apa menganiaya diri sendiri dengan menggunakan sepatu seperti itu? Orang yang menciptakan sepatu itu pastilah seorang pria yang memiliki dendam pada wanita.


“Gue bisa meminta Bridelnya mengatur gaun lo dibuat menjadi long dress sampai menutupi mata kaki. Jadi, lo bebas menggunakan sepatu apa saja yang lo suka dan para tamu juga tidak akan tahu sepatu apa yang lo gunakan pada hari itu,” jawab Maylin dengan santainya.


Aku menghela napas frustasi. Aku harus mengarang alasan apalagi agar Maylin mau menyerah?


“Gue yakin lo pasti bisa menjalankan peran sebagai Bridesmaid gue dengan baik. Tidak mungkin lo mau mempermalukan kak Deon, kan?” kata Maylin lagi.


“Maksud lo?” dahiku mengernyit.


“Lo kira gue membiarkan lo berpasangan dengan pria lain? kalau sampai itu terjadi, kak Deon akan mencoret nama gue dari list calon adik iparnya.”


“Ya, iyalah, La. Kak Deon juga setuju, kok! Kak Deon dan Darwan sudah saling kenal. Darwan juga tidak keberatan.”


“Jadi, lo sudah menghubungi Deon terlebih dahulu?” Aku menoleh ke arah Deon yang sedang fokus menyetir.


“Iya,” jawab Maylin.


“Sorry, Sayang. Kemarin saat aku sedang dalam perjalanan pulang setelah dari Restoran tante restin, Maylin menghubungiku, memintaku menjadi Groomsmen di pernikahannya, dan aku menyanggupinya. Aku lupa mengatakannya padamu,” ucap Deon menjelaskan.


Aku memijat kening yang tiba-tiba terasa pusing. Menghadapi Maylin benar-benar menguji kesabaranku.


Apalagi sejak dia hamil, kalau ada satu hal saja yang tidak dituruti, maka dia akan menganggapmu sebagai musuhnya hingga berhari-hari.


“Pokoknya Lo tidak punya alasan apa pun untuk menolak karena gue sudah meminta persetujuan terlebih dahulu pada kak Deon. Jadi, Sabtu siang jam sebelas jemput gue di rumah. Kita berangkat bersama-sama. Kalian berdua harus cepat-cepat fitting. Big day-nya tinggal dua minggu lagi.” Lalu Maylin memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Aku menghela napas kencang. Kalau begitu, untuk apa dia masih meminta jawaban dariku kalau dia tidak menerima penolakan?


Sungguh menyebalkan. Apakah semua ibu hamil seperti itu? Kemauannya harus dituruti?


*****


Rumah Peter-Agatha sudah ramai didatangi para tamu saat kami sudah sampai. Mereka hanya mengundang sanak saudara dan teman terdekat saja.


Tadinya aku khawatir akan bertemu dengan Jason di sini. Namun, Bella mengatakan Jason tidak bisa hadir karena sedang tidak enak badan.


Entah apakah dia benar-benar tidak enak badan atau karena ingin menghindariku? Aku sendiri sesungguhnya juga masih belum siap jika bertemu dengannya setelah apa yang kami bicarakan kemarin.


Peter dan Agatha terlihat sangat sibuk mempersiapkan acara sekaligus menyambut para tamu yang datang, sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk mengobrol dengan kami.


Sedikit penjelasan tentang tradisi keturunan Tionghoa dalam perayaan acara Man Yue ini, yaitu dimana orang tua membagikan bingkisan telur merah untuk para tamu.


Telur dipercaya sebagai lambang tahapan kehidupan baru untuk bayi, sedangkan warna merah melambangkan keberuntungan. Telur dengan jumlah angka jamak adalah untuk bayi laki-laki, sementara telur dengan jumlah angka ganjil adalah untuk bayi perempuan.


Kemudian, dilanjutkan dengan memotong rambut bayi dan rambutnya akan dibungkus dengan kain merah dan dijahit pada bantal bayi. Menurut kepercayaan masyarakat Tiongkok, hal ini akan membuat bayi tumbuh menjadi anak yang pemberani.


Sedangkan tamu yang datang juga akan memberikan kado untuk bayi. Umumnya mereka akan memberikan angpao untuk bayi laki-laki dan berbagai perhiasan untuk bayi perempuan.


Tradisi ini berawal karena angka kematian bayi sebelum berusia satu bulan di Tiongkok pada zaman dulu cukup tinggi. Sehingga, masyarakat saat itu percaya bahwa bayi yang sudah bertahan hingga satu bulan akan hidup dengan usia yang panjang. Karena itu, mereka mengadakan pesta sebagai bentuk rasa syukur apabila bayi mereka berusia satu bulan.


Pendapat lain mengatakan, ketika seorang bayi sudah bisa melewati 1 siklus gelap dan terang atau tanggal 1 dan 15 pada penanggalan Imlek, maka dipercaya bayi itu cukup kuat untuk tumbuh hingga usia dewasa.


Perayaan Man Yue juga menjadi momen kembalinya ibu ke lingkungan sosial setelah beristirahat total selama satu bulan usai melahirkan. Masyarakat setempat percaya, wanita akan berada pada kondisi tubuh paling lemah sepanjang hidupnya setelah melahirkan.


Awalnya, tradisi ini hanya dilakukan untuk bayi laki-laki saja. Mengingat, pentingnya anak laki-laki dalam tradisi Tionghoa sebagai penerus marga keluarganya. Namun, perayaan tersebut kini kerap diadakan baik untuk bayi laki-laki maupun perempuan.


Mengingat zaman sekarang yang telah mengalami banyak perubahan, ada orang tua lebih memilih untuk merayakan pesta tersebut di sebuah Restoran sambil membawa telur rebus berwarna merah. Ada juga mereka memilih mengirimkan sepaket telur merah dan kue kepada sanak saudara atau kerabat yang memberikan kado kelahiran untuk sang bayi.


Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Apa pun cara yang dilakukan untuk selamatan satu bulan kelahiran bayi, tujuannya sama, yaitu berharap kelak anaknya dapat terus tumbuh dengan sehat dan akan menjadi pribadi yang senang bersosialisasi juga sebagai bentuk rasa bersyukur atas berkat dan keselamatan yang diberikan oleh Tuhan kepada sang bayi dan juga ibunya.


“Sorry, gue baru sempat sekarang. Thank’s ya, kalian bersedia hadir di acara ini. Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat,” ucap Agatha dengan perasaan bahagia.


Vivi yang berada dalam gendongannya terlihat sangat menggemaskan dengan ruffled lace dress berwarna pink dan bando berpita di tengahnya pada kepalanya.


“Acara sepenting ini mana mungkin gue lewatkan? Kalau gue sibuk pun, gue akan mengutamakan hadir di acara lo ini. Kita bukan sekadar sahabat lagi, tapi sudah seperti saudara sendiri,” balasku sambil mengelus pipi putrinya yang sedang tidur.


“Kita bertiga cari waktu pergi shopping, yuk! Gue sudah bosan banget di dalam rumah.” Mata Agatha terlihat berbinar-binar seperti menemukan harta karun. Akibat satu bulan terkurung di dalam rumah, tidak bisa ke mana-mana.


“Boleh. Bagaimana kalau hari Minggu depan? Hari Sabtu jadwal gue full. Maylin meminta gue jadi Bridesmaid-nya. Lalu malamnya acara dinner bersama orang tua Deon,” jawabku.


“Cie, cie, sudah mau masuk tahap serius, nih? Undangannya untuk gue jangan lupa, loh!” ucap Agatha dengan nada mengejek. Aku hanya membalasnya dengan senyum.


Agatha menoleh ke arah Bella yang tidak bersuara apa-apa sedari tadi. “Lo kenapa, Bel? Ada masalah?”


“Iya, Bel. Lo hari ini terlihat muram. Juga tidak banyak bicara. Biasanya kan, lo paling bersemangat saat mendengar kata shopping,” tuturku menambahkan.


“Tidak ada apa-apa,” jawab Bella, pendek.


Wajahnya menunjukkan ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya. Tidak biasanya Bella murung seperti ini.


“Ada masalah katakan saja, Bel. Siapa tahu kita bisa membantu menangani masalah lo,” ucapku.


Bella tertawa parau. “Apa lo yakin bisa membantu gue, La?”


“Tentu. Gue sahabat lo. Gue pasti berusaha membantu lo sebisa gue,” balasku.


“Kalau begitu, ... kalau gue meminta lo meninggalkan Deon, dan kembali pada Jason, apa lo bisa melakukannya?” tanya Bella dengan suaranya yang terdengar parau.


Mohon maaf kepada para Authors yang ingin saling dukung, usahakan jangan boomlike ya. Mari kita saling menghargai 🤗 Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘