
*Happy reading 📖📖 guys*
Aku bangkit berdiri dari tempat duduk dan berkata, “Ayo, Deon! Kita pergi!”
Tante Fifi menarik tanganku agar kembali duduk. Namun, aku tidak menurutinya.
Deon tidak beranjak dari tempatnya. Dia menatap Mama dengan serius. “Saya memilih untuk jujur kepada Tante. Padahal, saya tahu resiko untuk ditolak Tante sangat besar jika saya mengakui masa lalu saya yang tidak baik itu. Apakah sebuah kejujuran tidak bisa menambah nilai untuk saya di mata Tante?”
Mama tertawa kecil sambil memandang remeh pada Deon dan berkata, “Kalau kamu memiliki gaji setara dengan CEO, baru Tante berikan restu untukmu. Bahkan, masa lalu kamu seperti apa juga tidak jadi masalah untuk Tante.”
Cukup! Aku tidak sanggup bertahan lebih lama di ruangan ini jika aku tidak mau kena karma karena akan mengeluarkan sumpah serapah di hadapan Mama.
Dengan cepat aku menarik lengan Deon untuk berdiri, lalu melangkah pergi. Namun, tenagaku tidak cukup kuat karena Deon berhenti melangkah tepat di samping Mama.
Lalu tiba-tiba saja aku melihat Deon mendaratkan bibirnya ke pipi mama dan dia berkata, “Saya tidak akan menyerah, Tante. Saya akan datang ke sini lagi, lagi, dan lagi sampai Tante mau menerima saya seutuhnya menjadi calon menantu Tante.”
Semua orang terpana melihat perbuatan Deon yang begitu nekat. Mama juga terpaku menatap Deon, terkejut karena tiba-tiba mendapatkan perlakuan seperti itu.
“Well, terima kasih atas makan siangnya ya, Tante. Sampai bertemu kembali. Bye, Tante Fifi!” Deon melambaikan tangan ke semua orang sambil mengulas senyum dengan lebar. Kali ini giliran dia yang menarik tanganku dan melangkah pergi.
Sesampainya kami di dalam mobil, aku langsung memarahinya. “Gila kamu, Deon! Bagaimana kalau perbuatanmu tadi membuat mama semakin tidak menyukaimu?”
Deon tertawa terbahak-bahak melihat wajahku yang sudah memerah karena amarah yang sudah berada di ubun kepala. “Tenang saja, Sayang. Aku sudah bilang, tidak ada wanita yang tidak bisa aku taklukan. Kecuali kamu,” ucapnya sambil mengerling jahil padaku.
“Mama tidak suka dipermainkan, Deon! Selama ini tidak ada yang berani bercanda dengannya. Bahkan, aku dan Maylin sekali pun. Aku tidak habis berpikir, bagaimana bisa kamu tadi nekat berbuat seperti itu?” gerutuku.
“Bukannya bagus, Sayang? Berarti aku orang pertama yang berhasil memberikan kesan istimewa pada pertemuan pertama kami.”
Aku menghela napas pasrah. Deon benar-benar tidak mengerti sifat mama.
“Aku pasti berhasil mengambil hati tante Restin, Sayang. Aku akan segera masuk ke dalam list kandidat calon menantunya. Percaya padaku!” ucap Deon lagi sambil menggenggam jariku dengan lembut.
Aku tahu Deon ahlinya mengambil hati orang. Hampir semua orang yang mengenalnya, tidak ada yang tidak menyukainya. Entah itu teman pria maupun wanita, Orang tua atau pun anak muda. Aku hanya bisa berharap semoga Deon berhasil diterima oleh mama.
*****
“Tidak mau!” tolakku sambil menaruh botol spray ke meja.
Aku memutuskan menaruh bunga Baby Breath di beranda agar mendapatkan sinar matahari yang cukup.
Aku melangkahkan kaki ke ruang dapur untuk mengambil minum.
Deon mengatakan ingin mengunjungi Restoran mama dan minta aku menemaninya. Tentu saja aku menolaknya sedari tadi, tapi Deon masih pantang menyerah. Dia terus membujukku.
“Ayolah, Sayang! Aku harus sering-sering bertemu dengan tante kalau ingin cepat-cepat diterima oleh beliau,” ucap Deon memelas. Entah sudah keberapa kalinya sejak kami melakukan sarapan pagi.
Aku meneguk air minum hingga tandas. Kemudian berjalan ke ruang tengah dan duduk di sofa. Deon mengikutiku dari belakang.
“Aku masih kesal atas sikap mama kemarin, Deon. Apa kamu tidak kesal? Kamu tuh, memang sudah kebal dipandang remeh orang atau memang kamu tidak tahu malu? Mamaku tidak menyetujui hubungan kita karena kamu tidak masuk daftar pilihannya. Dia secara terang-terangan menyindir jabatan pekerjaan kamu. Hari ini kamu balik ketemu mama buat apa? Sama saja hasilnya, Deon!” ucapku sambil mengatur deru napasku karena emosi.
Deon bertekuk lutut di hadapanku dan menggenggam kedua jari tanganku. “Aku ingin berusaha mendapat restu darinya, Sayang. Dan caranya dengan sesering mungkin melakukan kontak dengannya. Percayalah, sekuat apa pun gunung es, akan mencair juga."
Aku menatap manik mata Deon dalam. Hatiku berkecamuk antara menyetujui idenya atau menolaknya.
Sungguh, aku tidak ingin mama menyakiti hatinya. Deon pria terbaik di antara pria lain yang pernah kukencan selama ini.
Deon menangkup jariku, lalu mengecup tanganku. “Terima kasih mau mengkhawatirkanku, tapi tenang saja, Sayang. Kamu tahu kalau aku ini tidak tahu malu. Apa yang tante Restin ucapkan nanti, tidak akan mempengaruhi tekatku.”
Aku menarik napas berat. Kemudian aku mulai mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiranku saat ini.
“Mantanku yang sebelumnya, Erik, dia pernah mengajakku datang ke acara keluarganya. Mamanya tidak menyukaiku karena latar belakang keluargaku juga jabatan pekerjaanku ini. Pertanyaan yang dilontarkannya saat itu sama persis seperti apa yang mama tanyakan padamu semalam. Pada saat itu, walau aku tidak bersungguh-sungguh mencintai Erik, tapi mendengar penilaian dan keremehan dari mamanya membuat hatiku sakit.”
“Apakah kamu bisa berpura-pura tidak mendengar ucapan mamaku yang keterlaluan? Apakah kamu bisa bersabar menghadapi sifat mama yang keras kepala? Aku yang sebagai anaknya pun tidak bisa melakukannya. Apalagi kamu yang sebagai orang luar?” tanyaku dengan suara serak.
Setitik air mata menetes keluar dari kelopak mataku. Deon menyekanya dengan jari tangannya. “Jangan menangis, Sayang. Jangan menganggap dirimu begitu buruk. Kalian hanya karena kehilangan waktu saat seharusnya ibu dan anak menghabiskan waktu bersama untuk saling mengerti. Tante Restin begitu keras kepala juga karena tuntutannya sebagai ibu tunggal.”
“Dia tidak pernah mengerti kalau tidak semua hal bisa dibeli dengan uang. Salah satunya itu adalah waktu.”
Ya, aku dan mama sudah kehilangan waktu dimana seharusnya kami menjalani hubungan yang normal antara seorang ibu dengan anak. Waktu tidak dapat berputar kembali. Mama sampai sekarang masih belum mengerti apa yang telah kami lewatkan.
“Maka dari itu, aku akan membantumu untuk mengubah pikiran tante Restin. Percayalah, aku pasti berhasil. Tidak ada yang tidak mungkin dalam kamusku. Ingat setiap kali pak Gunawan mengajakku ikut rapat penting pada saat pak Direktur tidak bisa hadir? Aku selalu bisa mengambil hati mereka dan hasilnya mereka setuju untuk melakukan investasi,” tukas Deon dengan nada penuh percaya diri.
Aku mendengus mendengar ucapannya. “Jangan samakan dengan pekerjaan, Deon! Mereka itu hanya orang luar. Kalian hanya bertemu sekali saat hari rapat itu saja. Sedangkan mamaku? kamu harus sering-sering menghadapinya!”
Deon terkekeh geli. Entah bagian mana ucapanku yang menurutnya lucu. Apakah dia selalu bersikap sesantai ini dalam menghadapi kesulitan?
“Buktinya aku berhasil membuatmu jatuh dalam pesonaku setelah selama tiga tahun terus berusaha merayumu,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata.
Aku menarik napas dalam. Ok! Aku mengaku kalah. Dia selalu bisa membuat orang-orang di sekitarnya berhasil melakukan apa yang diinginkannya.
Aku menatap jam dinding menunjukkan pukul 10:30. Aku bangkit dari tempat duduk dan melangkah ke meja dapur untuk mengambil ponsel.
Kemudian aku mencari kontak Whats App-nya Maylin, lalu menghubunginya. Deon memeluk pinggangku dari belakang.
“Ada apa, La?”
“Lo lagi di mana?” tanyaku.
“Di rumah. Kenapa?”
“Sekarang gue ke sana. Nanti lo yang menemani Deon ke Restoran mama, ya.”
“Kenapa bukan lo saja?” tanya Maylin dengan keheranan.
“Kalau gue yang ke sana, Restoran itu bisa kebakaran. Lo saja yang ke sana sama Deon. Dia ngotot mau ketemu mama,” jawabku.
Maylin tertawa keras hingga membuat telingaku sempat berdenging. “Gue tunggu di rumah. Ada Darwan juga di sini. Kami bisa menemani kak Deon.”
“Ok! Bye!” Kemudian aku mengakhiri sambungan telepon.
Aku membalikkan tubuh menghadap Deon. Sebuah seringai kemenangan terpancar jelas pada wajahnya.
“Jangan salahkan aku kalau kamu diperlakukan mama dengan ketus dan kasar! Aku sudah memperingatimu!” Aku melipat kedua tanganku di depan dada.
“Tenang saja, Sayang. Aku suka tantangan dan aku tipe tahan banting, kok! Maju terus pantang mundur. Pantang menyerah,” jawabnya dengan santai.
Aku menatap malas ke arahnya. Dasar narsis! Selalu membanggakan diri sendiri. Heran! Kenapa aku bisa jatuh ke dalam perangkapnya?
Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘