Silence

Silence
Bab 64



Happy reading 📖📖guys


Beberapa hari menjelang acara ulang tahun perusahaan, Deon semakin tenggelam dengan kesibukan mengikuti rapat dan mempelajari data perusahaan lebih mendalam.


Oleh sebab itu, Deon tidak memiliki waktu untuk makan siang dan makan malam bersamaku. Namun, dia selalu mengusahakan setiap pagi sarapan di rumah.


Rekan kerja bagian divisiku mulai berbondong-bondong mencari informasi terkait seringnya Deon menghilang dari meja kerjanya, ada hubungannya dengan kenaikan jabatan yang akan diumumkan pada saat acara ulang tahun perusahaan nanti.


“Ulang tahun perusahaan kurang dari tiga hari lagi. Nanti juga kalian tahu sendiri.”


Aku menjawab pertanyaan mereka sampai merasa bosan. Akhirnya, aku mendelik tajam setiap kali mereka hendak mendekati mejaku. Nyali mereka untuk bertanya pun menciut.


Mengapa sih, orang-orang suka sekali bergosip? Bukankah mulut diciptakan oleh Tuhan untuk makan dan membicarakan hal yang berguna?


******


Hari ini adalah hari terakhirku menjabat sebagai Staff Accounting. Pelaksanaan proses handover alias serah terima


pekerjaan berjalan dengan baik.


Pak Gunawan, Ibu Rita, Aku dan karyawan penggantiku melakukan meeting bersama untuk memastikan prosedur handover ini tidak ada yang terlewat sekaligus memastikan apakah karyawan penggantiku sudah memahami peran dan tanggung jawabnya di tempat kerja tersebut.


“Rayla! Siang ini lo traktir kita makan, ya!” ucap Bram tiba-tiba ketika aku baru saja kembali ke meja kerja setelah meeting selesai.


“Lo malak atau lagi kere?” balasku sinis.


Bram menggaruk dagunya sambil terkekeh-kekeh. “Kan, hari ini lo terakhir menjabat sebagai Staff Accounting. Senin depan lo pindah ke lantai 20 sebagai Asisten CEO baru. Kapan lagi kita bisa makan siang bersama?”


“Tidak usah traktir yang mahal-mahal, La. Soto Ayam saja di kantin. Tunggu lo sudah tajir dengan gaji jabatan baru, lo baru traktir kita yang lebih elite,” tutur Andi sambil memasang wajah cengir.


“Kalau gue sih, tidak usah ditraktir makanan elite, La. Lo cukup beliin tas LV yang asli saja, ya,” imbuh Nina tanpa tahu malu.


“Permintaan lo itu namanya pemerasan, Nina Bobo,” ejek Bram.


“Berhenti memanggil gue dengan nama itu!” sontak Nina berkacak pinggang dan melotot tajam pada Bram, yang dibalas Bram dengan senyum jahil.


Entah sudah berapa kali mereka berdua sering berdebat karena Bram suka memanggil Nina dengan sebutan itu.


“Beli lewat shopee saja, La. Toh, Nina tidak bisa membedakan barang asli dengan palsu,” kata Sheila sembari tertawa mengejek.


“Siapa bilang gue tidak bisa membedakan? Tinggal tanya pak Google, apa susahnya?” balas Nina tidak mau kalah.


Mereka terus berdebat hingga lim menit pun berlalu, masih belum ada tanda-tanda akan selesai. Aku melirik jam pada layar ponsel. Waktu istirahat makan siang tiba.


Aku membuang napas lelah. “Mau gue traktir atau tidak, nih?” tanyaku menginterupsi.


Bram, Andi, Sheila, dan Nina menoleh ke arahku. “Mau, dong!” jawab mereka serempak.


Aku menggeleng-geleng kepala melihat sikap mereka. Kalau sudah menyangkut urusan makan, mereka sangat kompak. Oh ya, masih ada satu hal lagi, yaitu bergosip.


Aku pun segera berjalan melangkah keluar. “Cepat! Gue makin lapar mendengar suara kalian yang berisik!” tukasku.


“Lo yakin, karena suara kita yang berisik, La? Atau jangan-jangan karena lo sedang bunting?” celetuk Bram.


“Gue pesanin bakso beranak khusus buat lo, Bram. Nanti makannya tidak perlu pakai garpu dan sendok. Langsung gue sumpelin ke mulut lo,” jawabku ketus.


“Lo sadis banget, La!” balas Bram menyeringai.


“Itu masih belum apa-apanya kalau mulut lo tidak bisa dijaga!” sinisku.


Andi, Sheila, dan Nina tertawa terbahak-bahak. Bram diam tidak berkutik.


*****


Waktu menunjukkan pukul sebelas siang saat Deon menjemput dan mengantarku ke rumah orang tuanya.


Tante Amanda tidak tanggung-tanggung memanggil penata rias dan terapis kuku yang profesional ke rumahnya untuk merias kami para wanita sekaligus melakukan perawatan meni pedi.


Kupandangi wajah yang sudah full make up melalui cermin. Kuku jari yang telah dibentuk hingga terlihat lentik dan cantik. Malam ini adalah acara ulang tahun perusahaan sekaligus peresmian jabatan baru Deon.


Perusahaan meminta salah satu *F*ashion designer yang handal untuk merancang dress code sesuai dengan konsep acara ulang tahun perusahaan yang elegan.


Aku dengar penjelasan dari Deon, setelah proses brainstrorming bersama direksi dan dengan pihak EO, mereka memutuskan memilih black tie sebagai *d*ress code nya.


Untuk pria, menggunakan tuxedo, celana hitam, kemeja pria warna putih, lengkap dengan dasi kupu-kupu hitam. Sementara untuk wanita, mengenakan gaun malam yang panjangnya hingga sebatas mata kaki, berbahan sifon dengan *v-neck silhouette, a*-line elegant built-in bra dan lengan sedikit pendek.


Khusu untuk wanita, gaun malam disediakan dalam dua warna, yaitu ungu amethyst yang dikenal pula sebagai warna lavender yang pekat, dan biru safir, salah satu warna biru dengan tingkat saturasi yang tinggi.


Adapun maksud dari perbedaan warna gaun yang dipakai adalah untuk menandakan pegawai manakah yang akan dipindah bagian dan naik jabatan dengan mengenakan gaun berwarna biru safir.


Hal tersebut masih dirahasiakan oleh perusahaan untuk menghindari terjadinya konflik sebelum acara ulang tahun perusahaan digelar.


“Cantik banget, masih single atau sudah taken, nih?” sebuah suara familiar terdengar. Aku menoleh dan melihat Deon sedang nyengir.


Deonartus Surbakti yang memiliki wajah tampan, dengan tuxedo yang dikenakannya, membuat ketampanannya berlipat-lipat.


Namun, jangan sampai dia tahu aku memujinya. Kepalanya akan semakin membesar.


Bibirku mengembangkan sebuah senyum. Aku menempatkan kedua tanganku di atas bahunya. “Single. Kamu belum lihat cincin yang melingkar di salah satu jariku, kan?”


Wajah Deon tampak masam setelah mendengar ucapanku barusan. Tangannya merangkul pinggangku erat, lalu suara beratnya terdengar. “Kalau aku sematkan cincinnya sekarang juga, apakah kamu bersedia ditaken?”


Aku tertawa pelan melihat raut wajahnya yang serius. “Aku sedang bercanda, Yang.”


“Aku serius. Apakah kehadiranku sudah berhasil mengatasi traumamu itu?” Deon menatap mataku dalam, seakan-akan tembus sampai ke dasar hati. Aku terdiam dalam kebimbangan.


“Lupakan pertanyaanku tadi. Aku akan terus menunggu sampai dirimu sudah siap,” katanya sambil mencubit ujung hidungku, tetapi aku menangkap ada perasaan kecewa yang terselip dalam suaranya.


“Meskipun demikian, siapa pun yang bertanya padamu seperti itu, kamu harus menjawab kalau kamu sudah memiliki calon suami. Ingat itu,” timpal Deon setelah berhenti sejenak, tanpa menutupi rasa cemburunya.


“Iya, Iya. Aku pasti jawab kalau hatiku sudah terikat oleh pria yang bernama Deonartus Surbakti.” Aku menarik wajah Deon, lalu mengecup bibirnya sekilas.


Deon mengerucutkan bibir. “Kalau mau cium jangan setengah-setengah, Sayang. Harus maksimal biar hasilnya memuaskan.”


Sejurus kemudian kami mulai berciuman dengan begitu bergairah. Lidahnya terus menjelajahi setiap penjuru mulutku. Menyecap, menggigit, dan mengisap lidahku dengan intens.


Tiba-tiba terdengar suara berdeham. Sontak aku tersadar dan langsung mendorong tubuh Deon sedikit keras.


Om Surbakti dan Tante Amanda sedang berdiri berdampingan tidak jauh dari tempat kami. “O- Om. Tan … te,” sapaku gugup.


“Please deh, Pa, Ma. Apa harus sekarang kalian muncul?” tukas Deon sambil menarik napas kencang.


“Kalau cucu Papa sudah lahir, kalian mau berbuat adegan dua puluh tahun ke atas mesti lihat tempat dulu. Papa tidak mau cucu Papa yang masih kecil, matanya ternodai karena ulah mesum Om nya,” jawab Om Surbakti.


Tante Amanda berjalan cepat menghampiri kami. Lalu matanya menatap wajahku dengan teliti. “Kamu sudah merusak lipstik Rayla, Deon!” tukas Tante Amanda bergidik ngeri.


Deon memutar mata jengah. “Lipstik memang dibuat untuk dirusak saat momen yang tepat, kan, Ma?”


“Gundulmu! Lipstik dipakai untuk menyempurnakan penampilan riasan wajah.”


“Siapa suruh penata rias Mama mendandani kekasihku sehingga membuat penampilannya semakin menawan? Sampai-sampai daya tarik pada dirinya membuat putra mama ini sulit mengalihkan perhatian,” ucap Deon lugas.


“Tahan hawa nafssu kamu sampai acara selesai. Kita adalah pemeran utama acara malam ini. Jangan sampai karena kamu melakukan olahraga sore bersama Rayla, kita semua jadi terlambat!” Tante Amanda mendelik sinis pada Deon.


“Ih, Mama kayak belum pernah muda saja! Lagi pula, lisptik berantakan tinggal poles ulang lagi yang rapi apa susahnya?” protes Deon.


Wajahku terasa panas sampai ke bagian leher dan telinga. Semburat rona merah pun muncul. Kepalaku semakin menunduk demi menyembunyikan rasa malu pada wajahku.


“Masalahnya memoleskan lipstik oleh penata rias hasilnya lebih memuaskan karena mereka lebih profesional. Kalian para pria yang hanya tahu merusak listik, mana mungkin mengerti?” Tante Amanda memberengut kesal.


“Yuk, Rayla! Kita cari penata riasnya lagi. Untung mereka belum Tante izinkan pulang. Kali ini Tante suruh mereka gunakan lipstik yang lebih tahan lama. Berjaga-jaga kalau anak mesum itu mengincar bibirmu lagi pada saat acara masih sedang berlangsung.” Tante Amanda menarik pergelangan tanganku, lalu aku mengikuti langkahnya pergi mencari penata rias.


“Mama memang paling mengerti anak Mama yang satu ini!” ucap Deon kemudian tertawa keras-keras.


Aku mencuri pandang melirik ke arah Om Surbakti yang sedang terkikik geli. Tiba-tiba aku memiliki keinginan untuk menghilang sesaat dari muka bumi. Ya ampun, mau ditaruh mana mukaku sekarang?


Jangan lupa tambahkan ke Favorite lalu tinggalkan Komentar, berikan Vote, Like dan Dukungannya ya guys. Terima kasih 🙏🤗 Loph you all 😘